KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalBocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu? oleh : Wahyu Ari Wicaksono
24-Okt-2014, 15:46 WIB


 
 
Bocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu?
KabarIndonesia - Jakarta, Pengumuman nama-nama yang akan segera mengisi beberapa kursi kementerian adalah peristiwa yang paling ditunggu oleh masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi kabar santer bahwa Jokowi akan segera mengumumkan nama-nama pembantunya tersebut secara unik di teriminal 3 Pelabuhan Tanjung
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tak Datang 23 Okt 2014 17:37 WIB

Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Pulau Jawa di Antara Banjir dan Kekeringan
Oleh : Sadarudin | 20-Feb-2008, 21:39:30 WIB

KabarIndonesia - Kondisi lingkungan alam Pulau Jawa benar-benar mengalami kerusakan, saat musim kemarau berlangsung hampir segalanya menjadi kering kerontang. Tapi begitu musim hujan tiba, banjir menghancurkan segalanya, sebenarnya permasalahan ini bisa diprediksi dan diantisipasi sekaligus melakukan langkah-langkah dan program  mitigasi  yang sistimatis yang bisa dipertangungjawabkan secara ilmiah untuk mencegah eskalasi kerugian yang lebih besar.           

Sekarang ini hampir tiap hari kita mendengar dan melihat melalui media elektronika dan membaca melalui media cetak tentang bencana banjir yang menyapu pantai utara pulau Jawa. Saat musim kemarau yang lalu kita juga hampir tiap hari disuguhi oleh berita-berita tentang kekeringan yang membuat masyarakat sangat kesulitan dalam mendapatkan air baik itu untuk kepentingan irigasi bahkan untuk kebutuhan sanitasi dan air minum.
 
Masyarakat harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan sepikul dua pikul air yang memenuhi syarat untuk kebutuhan sanitasi dan air minum mereka. Setiap anggota masyarakat hanya memperoleh sedikit air karena terbatasnya sumber-sumber air yang harus dibagi dengan sesama mereka.

Gambaran ini telah terjadi di hampir pelosok pulau Jawa. Saat musim kering sejauh mata memandang kita bisa melihat kawasan sepanjang pantai utara pulau Jawa benar-benar kering kerontang, puhon-pohon di hutan bagaikan pilar-pilar kontstruksi, lahan pesawahan menjadi bongkahan tanah-tanah kering, kaum tani mengalami gagal panen. Kekeringan tidak hanya menyapu kawasan pedesaan tapi juga menghantam lingkungan perkotaan, suplai air bersih di Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya menjadi sangat terbatas dan distribusinya tersendat-sendat tapi mereka masih beruntung karena mereka mempunyai akses pada air minum dalam kemasan dan air isi ulang yang ditawarkan di kota-kota besar meskipun dengan harga yang lebih tinggi. Tapi bagaimana dengan kaum miskin yang jauh dari jangkauan suplai air bersih?           

Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga, itulah nasib sial yang dialami oleh sebagian penduduk di pulau Jawa khususnya  yang berdomisili di sepanjang pantai Utara. Mulai dari Jawa bagian Barat sampai ke Timur, setelah kekeringan berlalu maka muncul musim hujan, tapi dasar memang nasib, musim hujan ini bukanlah membawa berkah yang turun dari langit tapi justru menjadi bencana yang jauh lebih parah dari musim kering sebelumnya. Dari ketersediaan air yang serba terbatas menjadi bencana banjir yang menebar penderitaan dan kerugian di mana-mana. Ironisnya banjir datang setiap tahun dengan luas areal lahan yang semakin tahun semakin meluas dengan eskalasi kerugian yang semakin meningkat. Sedangkan langkah-langkah dan  program mitigasi baik itu terhadap bencana banjir maupun kekeringan sepertinya tidak ada sama sekali. Akibatnya bencana banjir dan kekeringan adalah peristiwa rutin yang harus kita hadapi setiap tahunnya.
 
Kekeringan yang menghantam kawasan di Pulau Jawa sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Berdasar hasil  perhitungan keseimbangan air atau keseimbangan air berbanding dengan permintaan air atas ketersediaan air yang dilakukan oleh Direktorat Sumber Daya Air dan Irigasi Bappenas pada tahun 2003 menunjukkan bahwa total permintaan air di Pulau Jawa dan Bali 38,4 milyar meter kubik selama musim kering. Permintaan hanya dicukupi sekitar 25,3 milyar kubik atau sekitar 66 persen dan diperkirakan akan jau lebih tinggi pada tahun 2020 sebagai akibat pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi. permintaan air ini meliputi kebutuhan rumah tangga, aktivitas industri, pertanian, perikanan dan peternakan.           

Kekeringan  secara umum disebabkan oleh faktor perubahan iklim global yang dinyatakan melalui penyimpangan musim hujan dan kemarau dari pola yang biasanya, faktor lainnya adalah kerusakan kondisi lingkungan serta infrastruktur dan manajemen sumber daya air, seperti; kerusakan kawasan tangkapan air yang berakibat pada berkurangnya  atau menghilangnya kapasitas tangkapan dan penyimpanan air; kwalitas infrastruktur air yang rendah; ekspolitasi cadangan air bawa tanah yang berlebihan yang menyebabkan penurunan permukaan tanah yang berakibat intrusi air laut  dan mencemari air bawa tanah; dan  terjadinya salah urus dalam menejemen hidrologi.            

Ketika musim hujan tiba diharapkan menjadi bulan-bulan yang penuh berkah yang membawah kehidupan menjadi lebih baik, tanah yang tadinya kering mulai menjadi subur dan roda ekonomi masyarakat pedesaan mulai berputar dan petani mulai menanam di tanah pertanian yang semula dibiarkan menganggur. Tapi tiba-tiba banjir mulai membuat Pak Tani cemas dan frustasi khususnya di kawasan yang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. Para ahli mengatakan bahwa penyebab banjir adalah bervariasi dari kawasan yang satu dengan kawasan lainnya. Faktor-faktor yang menyebabkan banjir adalah adanya pendangkalan dasar sungai akibat sedimentasi; buruknya sistem drainase; adanya arus balik;  dan akibat dari fasilitas kendali banjir yang buruk dan tidak efektif.           

Hampir semua sungai di Jawa membawahi beban sedimen dalam jumlah yang amat besar yang dialirkan mulai dari hulu sampai menuju laut. Akibatnya sedimen yang mengendap mendangkalkan sungai yang selanjutnya menurunkan kapasitas daya muat aliran air, penambangan pasir juga membuat kerusakan dasar sungai, yang semuanya berakibat pada gagalnya badan sungai dalam mengalirkan air dalam jumlah yang sangat besar, air selanjutnya meluap melewati atau menghancurkan tanggul-tanggul menuju lahan pertanian, jalan raya  dan perumahan. Tanggul-tanggul yang dibangun di sepanjang tepi sungai hanya melindungi kawasan yang lebih tinggi dari ancaman banjir tapi tidak cukup untuk melindungi  bahkan menjadi ancaman yang serius pada kawasan yang lebih rendah karena membuat sistem drainase menjadi tidak efektif sebagai akibat terjadinya arus balik yang menyebabkan air mengalir  menuju kawasan yang lebih rendah.            
Banjir bisa juga terjadi jika kawasan tangkapan air menghilang, hutan yang gundul sebagai akibat eksploitasi dan penebangan hutan secara berlebihan memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap bencana banjir. Dengan menghilangnya sumber-sumber tangkapan air maka air dalam jumlah besar akan langsung menuju aliran sungai, kondisi ini menyebabkan meluapnya aliran sungai menuju kawasan hilir sedangkan kapasitas daya tampung pada kawasan hilir seperti kota-kota yang ada di pantai utara  sebelum air mengalir ke laut jauh dari mencukupi maka banjir tak bisa dihindari.

Berdasarkan laporan Departemen PU, banjir di Jawa seringkali melanda kawasan pantai Utara dan Selatan, daerah cekungan dan kota-kota besar. Tahun 2002 ada 74 kejadian banjir yang merendam 81,9 ribu hektar kawasan perumahan dan lahan pertanian, tahun 2003 menjadi 91,3 ribu hektar sedangkan banjir yang terjadi pada akhir 2007 menenggelamkan 12 kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan banjir yang terburuk yang terjadi di Pulau Jawa sepanjang 60 tahun terakhir sebagai akibat meluapnya sungai Bengawan solo yang kemudian disusul dengan terjadinya banjir di Indramayu dan Pasuruan pada bulan Januari dan Pebruari ini Kabupaten  Situbondo disapu oleh banjir bandang dengan total angka kerugian masih belum jelas. Yang jelas ratusan ribu hektar bahkan jutaan hektar kawasan sepanjang Pulau Jawa ditenggelamkan oleh banjir bandang ini.             

Pengendalian banjir melalui pendekatan infrastruktur yang diterapkan oleh Pemerintah  sama sekali tidak ada manfaatnya dalam mencegah meluasnya eskalasi banjir dan menghindari kerugian yang lebih besar. Ada banyak proyek pengendalian banjir di pulau Jawa ini, yang meliputi; Proyek pengendalian banjir Jawa bagian Selatan di Jawa Tengah; Proyek pengendalian Banijir Citarum di Bandung Selatan; Proyek Pengendalian Banjir Ciliwung-Cisadane dan Proyek Banjir Kanal Timur di Jakarta; serta proyek pembangunan perkotaan seperti Proyek Pembangunan Perkotaan Bandung (BUDP) dan Proyek Pembangunan Perkotaan Surabaya (SUDP) dan proyek-proyek pengendalian banjir lainnya seperti Brantas dan Pekalen Sampean di JawaTimur yang menelan total dana tidak hanya ratusan milyar rupiah tapi trilyunan  rupiah.

Pertanyaannya, apakah ini sebagai akibat kualitas infrastruktur kendali banjir yang buruk, ataukah percepatan pembangunan infrastruktur tidak mampu mengimbangi frekuensi terjadinya banjir yang semakin memburuk setiap tahunnya, ataukah sebagai akibat gagalnya penegakan aturan hukum di bidang lingkungan dan kehutanan, ataukah ketiga-tiganya?  Belum lagi program mitigasi yang seharusnya dilaksanakan di daerah-daerah rawan banjir atau di kawasan yang secara potensial menghadapi ancaman banjir sepertinya tidak pernah dilaksanakan.    



    Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Korban Lapindo Tagih Janji Jokowi 23 Okt 2014 20:21 WIB

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 
Papua Kalahkan Sumut 24 Okt 2014 11:23 WIB


 

 

 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia