KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiSenior Living D’Khayangan - Five Star Service with Three Star Price oleh : Kabarindonesia
13-Mei-2019, 17:47 WIB


 
 
KabarIndonesia - Tidak bisa dipungkiri bahwa d‘Khayangan bagi saya merupakan Senior Living Bintang Lima dan ini bukan sekedar katanya saja, melainkan berdasarkan pengalaman saya pribadi sendiri yang sering datang berkujung ke d'Khayangan.

Kesan pertama yang saya dapatkan adalah lokasinya
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

Harapan 08 Mei 2019 06:04 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
24 Tahun Tenggelamnya KMP Gurita 18 Mei 2019 04:40 WIB


 

WAHYU (2)

 
ROHANI

WAHYU (2)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 01-Mar-2019, 17:19:29 WIB

Kabar Indonesia - Joko Kendal terkesima dengan penjelasan dari Nasrudin bahwa setiap orang bisa mendapatkan wahyu, bahkan seringkali mendapatkan wahyu tanpa mereka sadari dan pahami artinya.  Ia sungguh tak menyangka akan hal itu. Sebab selama ini baginya hanya orang-orang suci dan nabi yang bisa mendapatkan wahyu dari Tuhan.

"Begitulah ketika Tuhan hanya dipahami sebagai sesuatu yang Maha Besar dan berdiam di tempat yang maha tinggi, sehingga manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan sanggup mencapai tahap mendapatkan wahyu itu. Padahal pesan Tuhan ada di mana-mana, wahyu Tuhan ada di mana-mana untuk menuntun kita.  Hanya kitalah yang tidak mau sungguh-sungguh mendengar dengan telinga batin dan melihatnya dengan mata hati." Nasrudin menambahkan.

"Bila kita memang tidak punya kemampuan untuk mendengar pesan-pesan-Nya agar menjadi tuntunan dalam kehidupan kita, bukankah dengan segala kemahakuasaan-Nya di semesta ini Dia selalu punya cara untuk menjumpai kita? Namun sayangnya, kita pun selalu punya cara dan alasan untuk mengabaikan pesan-pesan-Nya." Sesal Nasrudin pada sahabatnya.

"Baiklah, aku mengerti kini semua penjelasanmu, Nasrudin.  Namun bagaimana bisa meyakini bahwa suatu bisikan dalam hati itu adalah wahyu dari-Nya dan bukan dari yang lainnya?" Tanya Joko Kendal semakin penasaran

Nasrudin memegang bahu Joko Kendal dan mulai bicara dengan lebih pelan.

"Ketika Jiwa mengalirkan bisikan ke dalam pemahaman pikiranmu, isinya adalah kebenaran. Sebaliknya, bila bisikan itu datang dari egomu, maka isinya adalah pembenaran. Suatu kebenaran tidak akan bisa didebat lagi, karena itu adalah keniscayaan.  Namun pembenaran akan selalu menimbulkan perdebatan, karena ia datang dari bisikan satu sisi ego dalam diri manusia. Ia akan didebat oleh pandangan sisi ego yang berlawanan."

Joko Kendal tampak semakin bingung.  "Berikan saja aku contoh yang mudah kumengerti, Nasrudin." Katanya.

"Bayangkan bila kau melihat seorang pengemis di jalanan. Tepat saat kau menoleh pada pengemis itu, amatilah dengan baik rasa apa yang muncul pertama kali.  Kadang muncul rasa iba yang sangat mendalam, meski pengemis itu tampak sehat walafiat. Atau kadang tidak ada sedikit pun rasa iba, meski pengemis itu tampak tertatih-tatih berjalan dalam kesulitan. Nah, ada atau tidaknya rasa awal itu adalah kebenaran. Rasa itu tidak dipengaruhi oleh apa pun."

"Namun bila setelah kau mulai memikirkan keadaan pengemis itu, lalu muncul rasa iba ataupun malah rasa risih, serta diiringi oleh berbagai alasan pembenar atas rasa yang muncul, itulah pembenaran. Kadang kau membenarkan rasa kasihanmu, lalu tergerak memberi sedekah karena merasa bahwa tindakan itu adalah sebuah amal kebajikan, apalagi teringat bahwa setiap amal akan mendapatkan pahala, itu bukanlah bisikan hati nurani melainkan bisikan ego."

Joko Kendal tersentak kaget dengan pemahaman baru yang diungkap Nasrudin. "Bagaimana bisa sebuah tindakan kebajikan pun kau katakan sebagai tindakan dari pembenaran ego?"

Nasrudin tersenyum pada sahabatnya.

"Begini, kawan. Kebajikan sejati itu adalah kebajikan yang tulus ikhlas.  Tulus dalam tindakan, tanpa pamerih atau tanpa harapan akan pahala apapun, lalu ikhlas menerima setiap hasilnya, apapun bentuk hasil itu. Bila kebajikan dilakukan untuk sebuah harapan akan hasil, kau bahkan akan merasa sakit hati hanya ketika kau tidak mendapat ucapan terima kasih atas kebaikanmu itu. Sebab di situ ada muatan ego untuk dihargai atas kebaikanmu."

"itu hanyalah contoh sederhana dari kilasan pesan Jiwa lewat rasa dalam tindakan sehari-hari.  Selain bisa hadir dalam bentuk kilasan rasa, pesan Tuhan atau Jiwa dalam diri bisa pula hadir sebagai pengetahuan untuk memberi pemahaman bagi pikiran sadarmu. Bila pesan itu hadir dalam pengetahuan, ia adalah pengetahuan yang berisi kebenaran."

"Ciri pengetahuan yang berisi kebenaran itu bebas dari penghakiman dan penghukuman. Ia adalah pengetahuan murni yang mampu melihat sesuatu dari segala sudut pandang.  Sehingga ia tidak menilai benar atau salah atas suatu keadaan. Ia mampu melihat bencana di balik berkah dan melihat berkah di balik bencana. Dengan demikian ia selalu netral memandang suatu keadaan."

"Bila bisikan pengetahuan itu datang dari pembenaran ego dalam diri, ia akan didorong oleh muatan kepentingannya sendiri. Maka suatu keadaan bisa terlihat salah atau benar sesuai kepentingan yang dianutnya."

Joko Kendal mengernyitkan alis ke atas. "Berikan lagi contohnya agar bisa kupahami kata-katamu itu, Nasrudin."

"Hujan yang turun pada musimnya adalah sebuah kebenaran nyata. Namun ketika kau berharap agar hujan tidak turun saat itu karena sedang mengadakan acara yang memerlukan langit terang, bahkan kau bisa menganggap hujan itu salah dan menyebutnya sebagai bencana. Atau sebaliknya bila kau memang sangat memerlukan hujan itu turun, kau akan bersujud penuh syukur atas peristiwa yang sesungguhnya sama."

"Begitulah beda bisikan kebenaran dan pembenaran dalam diri. Serupa halnya dengan apa yang selama ini dipahami sebagai sebuah wahyu dari Tuhan, Sang Sumber Kebenaran.  Bila wahyu itu hanya berisi muatan kepentingan, berisi keberpihakan, dipenuhi penilaian benar salah dan penghakiman-penghakiman, cobalah kau pelajari lebih mendalam isinya. Teliti kembali apakah itu wahyu dari Sang Sumber Kebenaran, ataukah bisikan dari pembenaran-pembenaran ego dalam diri."

"Wahyu pengetahuan dari Sang Sumber Kebenaran hanya akan datang saat pikiran bebas dari kepentingan ego. Inilah yang disebut pikiran suci, bebas dari noda pembenaran dan kepentingan ego.  Itu sebabnya wahyu pengetahuan sejati hanya akan mudah turun pada mereka yang telah mampu mendiamkan gejolak egonya.  Sebab jika wahyu pengetahuan sejati turun pada orang yang masih ternoda oleh kepentingan ego, seketika ajaran kebenaran-Nya akan berubah menjadi ajaran pembenaran." 

"Ketika ajaran kebenaran sejati telah dimuati pembenaran ego, sejak itulah ajaran tersebut berubah menjadi ajaran yang menciptakan kehancuran dalam kehidupan.  Ia lebih banyak menyisakan permusuhan daripada persahabatan. Menyisakan pertikaian daripada perdamaian. Membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat ketika ajaran itu dilaksanakan."

Joko Kendal menunduk.  Pemahaman selintas itu telah membuka sedikit tabir keraguannya selama ini.  Namun ia tahu, ia mesti bicara lebih mendalam lagi dengan Nasrudin bila ingin memahami lebih banyak lagi.  Nasrudin hanya mengiyakan, lalu meninggalkan Joko Kendal dalam kesendirian perenungan dirinya. (*)

    Kuta, 1 Maret 2019  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia