KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
24 Tahun Tenggelamnya KMP Gurita 18 Mei 2019 04:40 WIB

 

Turis Telanjang

 
ROHANI

Turis Telanjang
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 06-Mar-2019, 16:38:59 WIB

Kabar Indonesia - Joko Kendal pertama kali berkunjung ke pantai Kuta di Bali. Ia ingin melihat dan mendengar sendiri riak gelombang dan debur ombak yang digemari para peselancar manca negara.  Ia terkagum-kagum karena tak pernah melihat suasana seperti itu di kampungnya di lembah dekat perbukitan. Para peselancar meliuk-liukkan tubuh di atas papan selancar tanpa rasa takut oleh ombak-ombak yang kadang menjungkal dan menggulung tubuh mereka.

Tapi bukan itu saja yang menjadi keterkejutannya saat sore itu ia melihat sekelompok umat di Bali sedang melaksanakan suatu upacara ritual di pantai yang mereka sebut Melasti.  Upacara Melasti itu konon dilaksanakan untuk memohon air suci dari Dewa Penguasa Samudra agar bisa digunakan untuk mensucikan segala sarana upacara, termasuk umat yang akan melaksanakan upacara itu.

Selain takjub pada pernak-pernik budaya dan karya seni yang digunakan dalam rangkaian upacara itu, yang paling mengejutkan baginya adalah saat sejumlah turis asing berjemur tak jauh dari tempat upacara suci tersebut.  Para turis itu berbaring di atas pasir putih sembari bertelanjang dada, sebagian bahkan hanya menggunakan pakaian dalam.  Beberapa kali di antara wanita berbikini itu melintasi lokasi upacara untuk mencari penjual minuman, atau berjalan pulang kembali ke hotelnya.

Namun para umat yang sedang melaksanakan upacara suci itu seakan tak terusik sedikit pun oleh kehadiran mereka di sana.  Semua tetap fokus mengikuti jalannya upacara. Bahkan ketika beberapa turis itu mendekat untuk turut menyaksikan rangkaian upacara, mereka tidak terdorong untuk menoleh dan memelototi para turis.  Mereka tetap khusyuk dalam upacara, tenggelam dalam tetabuhan gambelan dan tarian persembahan.

Dengan rasa penasaran, Joko Kendal mencoba mendekati seorang lelaki berpakaian adat yang kebetulan keluar dari lokasi acara untuk membeli minuman.  Setelah memperkenalan diri, ia memberanikan diri bertanya.

"Maaf Bli, bolehkah saya bertanya? Ada hal menarik yang saya perhatikan sedari tadi dalam upacara suci ini.  Tapi mohon maaf sebelumnya, tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Saya hanya ingin tahu bagaimana orang-orang tetap khusyuk mengikuti upacara, tak tergoda atau merasa terusik sedikit pun oleh kehadiran para turis berpakaian seperti itu."  Dengan lugas ia bertanya pada lelaki yang dipanggilnya Bli. Di Bali, kata Mas atau Abang disebut dengan Bli.

Lelaki itu tersenyum lalu mengajaknya duduk di pasir dan bercerita panjang lebar padanya.  Tak sedikit pun ia terlihat tersinggung oleh pertanyaan Joko Kendal.

"Begini, Mas. Upacara Melasti ini adalah upacara untuk memohon kesucian kepada Sang Penguasa Samudra.  Kenapa kepada samudra, karena samudra adalah simbol kebijaksanaan dan kesucian yang ikhlas menerima apa pun yang datang kepada dirinya.  Entah sungai mengalirkan air jernih, membawa air keruh, air penuh sampah atau bahkan air penuh limbah, samudra tetap akan menerimanya lalu memurnikan semua perbedaan itu."

"Maka ketika kami memohon kesucian kepada Penguasa Samudra, sesungguhnya kami sedang memohon agar Jiwa, pikiran dan perasaan kami pun diberkahi kesucian, kebijaksaan dan kemampuan untuk menerima segala dualitas itu dengan cara yang sama. Menerima apa yang disebut positif dan negatif dengan keikhlasan yang sama."

"Itulah sebabnya kami sendiri harus memulai kesucian itu dari diri kami sendiri. Tidak mungkin wadah yang kotor akan layak menerima air yang suci.  Tidak mungkin batin yang masih penuh noda akan menerima berkah perasaan suci dari Sang Kuasa.  Pikiran yang belum hening dari gejolak emosi dan kekeruhan ego, juga tidak mungkin layak untuk menerima pengetahuan suci dari Sang Maha Tahu."

"Maka kami tidak terusik atau tidak merasa terganggu oleh kehadiran mereka dengan pakaian seperti itu, selama mereka tidak bermaksud mengganggu upacara kami.  Namun bila mereka melewati batas pantai yang telah disucikan untuk tempat sementara dalam upacara suci ini, biasanya mereka hanya akan disarankan menonton dari jarak yang diijinkan."

"Kami selalu belajar dan melatih diri untuk lebih fokus melihat kesucian dalam segala keadaan dan peristiwa. Bukan fokus pada hal-hal yang disebut kotor dalam kehidupan ini.  Sebab sesuatu di luar diri akan dinilai bersih ataupun kotor, sangat tergantung pada kebersihan dan kesucian hati kami sendiri.  Bila batin telah dikotori oleh penilaian buruk, maka kebajikan dan kebaikan seseorang pun akan terlihat sebagai hal yang kotor, bukan?" Lelaki itu menoleh pada Joko Kendal dengan senyum ramah.

Joko Kendal tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan terakhir itu.  "Betul, Bli. Saya setuju semua hal di luar diri akan tampak sesuai kacamata yang kita pakai," katanya mengiyakan. 

"Bagi kami, godaan di luar diri tak seberapa besar pengaruhnya dibanding kelemahan batin kita sendiri dalam pengendalian.  Bila kami sampai tergoda, itu bukan disebabkan oleh besarnya godaan di luar diri, melainkan pertanda batin kami sendiri yang belum kuat.  Para penggoda hanyalah cermin yang bercerita tentang kondisi batin kami sendiri."

Joko Kendal kian tertunduk oleh kata-kata lelaki itu.  Ia melirik turis yang masih berdiri tak jauh dari tempat upacara.  Lalu ia mengamati gejolak rasa yang terasa di dalam. Lalu ia mengurut dada, membenarkan apa yang dikatakan laki-laki itu.

"Terima kasih banyak Bli, untuk penjelasannya.", ujar Joko Kendala padanya.

"Sama-sama, Mas. Mohon ijin saya kembali ke tempat upacara," sahut lelaki itu sambil bangkit dan beranjak mendekati lokasi upacara, meninggalkan Joko Kendal dalam tatapan penuh makna.(*)
Kuta, 9 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia