KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniUrgensi Mengemballikan Pelajaran PMP di Sekolah oleh : Adolf Roben Lanapu
17-Feb-2019, 21:19 WIB


 
  KabarIndonesia - Dalam satu dekade ini terjadi perubahan besar pada lingkungan budaya di masyarakat, yang dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan persaingan industri elektronik. Murah dan mudahnya memiliki gadget canggih seperti smartphone berperan merubah perilaku masyarakat yang awalnya lebih
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Diam Dalam Rasa 18 Feb 2019 13:56 WIB

Hujan Lakukan Padaku 16 Feb 2019 12:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Ternyata Aku Memang Kafir

 
ROHANI

Ternyata Aku Memang Kafir
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 08-Feb-2019, 16:53:47 WIB

KabarIndonesia - Entah kenapa setiap mendengar kata kafir apalagi mendapat sebutan kafir, dengan segera banyak orang yang dituju oleh kata itu akan merasakan ketidak nyamanan, rasa batin terpukul, terluka, bahkan gejolak emosi.  Mengagumkan.  Sebuah kata saja sudah bisa menciptakan berbagai dampak negatif.  Tidak saja dampak pada perasaan, bahkan bisa menimbulkan gejolak di dalam dan di luar diri manusia.

Apakah karena penggunaan kata itu seringkali terasa memuat kesan merendahkan orang yang ditujunya?  Atau konsekuensi di balik penandaan seseorang dengan kata kafir tersebut bisa menyisakan kesan yang sangat buruk?  Atau karena orang-orang terlalu sering menggunakan kata itu dengan semena-mena dalam kehidupan dan pergaulan sosial?  Entahlah.  Dalam kenyataannya, sebuah kata yang hanya dibentuk oleh 5 huruf itu bisa menciptakan berbagai suasana yang tidak menyenangkan dalam kehidupan sosial manusia.

Kata kafir  sendiri memang sering dibenturkan dengan kata iman.  Ia sering disematkan pada orang-orang yang tidak mau ikut meng­imani apa yang diimani oleh suatu komunitas.  Secara sederhana, mereka yang berada di luar suatu kelompok keimanan tertentu, akan dianggap sebagai bagian dari kelompok kafir.  Barangkali dampak pemisahan seseorang dari suatu kelompok dengan menyisakan kesan negatif pada mereka yang diberi "julukan" kafir tersebut, akhirnya menciptakan vibrasi ketidak harmonisan.  Seakan dengan satu kata itu tercipta suatu tembok pembatas yang membangun ruang "permusuhan" antara yang kafir  dan non kafir.

Padahal dari sudut etimologi, kata kafir memiliki akar kata K-F-R yang berasal dari kata kufur, artinya menutup.  Konon pada jaman sebelum datangnya agama, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, kemudian menutup atau mengubur benih itu dengan tanah.  Akhirnya kata kafir diimplikasikan menjadi seseorang yang bersembunyi atau menutup diri.

Bila merujuk kembali ke asal kata tersebut, atau pun menggunakannya dengan makna yang sederhana tanpa muatan apa pun, tampaknya kata kafir hanyalah sebuah istilah biasa dalam pergaulan dan kehidupan sosial.  Kafir hanyalah sebuah kata lazim, tidak saja dalam kehidupan beragama yang berkenaan dengan penyangkalan atas suatu keimanan. Kata ini terdengar mirip dengan kata cover dalam bahasa Inggris yang juga berarti penutup.

"Ah, kalau kata kafir itu mau digunakan secara sederhana sebagaimana makna dan maksud awalnya, maka sesungguhnya semua orang adalah kafir."  
Demikian lelaki tua yang tampaknya sudah kenyang pengalaman hidup itu menyahut saat diajak berdialog tentang kata yang fenomenal ini.  Terasa ada yang menarik untuk didengarkan lebih jauh tentang apa yang ia maksudkan dengan jawaban itu.  Maka saat dipancing dan diberi telinga, ia pun meneruskan dengan penuh semangat tanpa tedeng aling-aling lagi.
"Bila kata kafir dimaknai sebagai sikap seseorang yang tidak mau mengakui apa yang diimani atau diyakini oleh orang lain, bukankah mereka yang lebih memercayai bahwa bumi ini datar, sesungguhnya adalah kaum kafir bagi penganut bumi bulat?  Demikian juga sebaliknya,  penganut bumi bulat adalah kaum kafir bagi penganut bumi datar."

"Di masa lalu, penganut heliosentris yang tidak mau mengakui bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta ini, akan disebut kafir oleh kaum geosentris.  Sebaliknya di saat ini, kaum geosentris yang tidak mengakui bahwa matahari adalah pusat tata surya kita, akan disebut sebagai kaum kafir. Lalu, siapakah kaum kafir yang sebenarnya?"

"Di sebuah negara yang menganut sebuah hukum negara, maka mereka yang tidak mengakui berlakunya hukum di negara tersebut akan dianggap kaum kafir.  Mereka yang tidak mau mengakui dasar negaranya sendiri, sesungguhnya adalah kaum kafir bagi negara tersebut.  Mereka yang tidak memercayai dunia mistik akan dianggap kafir oleh kaum mistikus.  Bahkan mereka yang tidak percaya dan mengakui pentingnya logika dan akal budi, yang menutup diri dari upaya penelaahan segala sesuatu dengan akal budi, akan dianggap kafir oleh kaum terpelajar.  Jadi, bukankah semua orang adalah kafir bagi kaum lain yang berbeda pandangan dengannya?"

"Jika kata kafir diartikan secara sederhana sebagai sebuah sikap ketertutupan terhadap apa yang diakui dan dijalani oleh banyak orang lain, maka orang-orang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu tertutup terhadap lingkungan sosialnya atau memiliki sifat anti-sosial, bukankah bisa disebut bahwa mereka juga termasuk kafir?  Orang-orang suka yang menyakiti orang lain, sementara hampir sebagian besar orang meyakini bahwa kehidupan ini tidak untuk saling menyakiti, juga bisa disebut kafir.  Jadi, bukankan orang-orang yang suka memfitnah, menipu, mencaci maki, membenci, merusak alam, merusak kehidupan, semua itu bisa digolongkan sebagai kaum kafir oleh kaum pencinta kebajikan, perindu kedamaian?"

Tiba-tiba sesuatu menyergap di tengah derasnya aliran pertanyaan dan jawaban dalam monolog lelaki tua itu.  Ada sebuah sudut batin yang mengiyakan dari dalam.  Menyetujui bahwa sesungguhnya kita ini sering menjadi kafir di sisi lain dalam kehidupan ini.  Setiap kali kita menyebut orang lain sebagai kaum kafir, di saat yang sama kita pun sedang menyebut diri kita sebagai kaum kafir bagi orang tersebut.

Sebab, begitu kita menutup mata hati untuk mencoba memahami orang lain, saat itu pula kita termasuk kaum tertutup (kafir).  Begitu kita antipati terhadap apa yang dilakukan orang lain, saat itu pula kita menutup diri untuk mencoba menerima perbedaan pada diri seseorang.  Kita menjadi kafir oleh pilihan ego kita sendiri yang menutup diri terhadap orang lain yang berbeda.

Hanya saat kita mulai membuka pikiran dan hati, kita akan mulai bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran seseorang.  Saat itu kita mulai bisa merasakan simpati pada isi pikiran orang lain, saat itu pula kita bukan lagi orang kafir.  Apalagi bila kita bisa merasakan empati pada apa yang dirasakan oleh Jiwa seseorang, karena mata qalbu sudah terbuka kepekaannya, di situ kita pun berhenti menjadi pribadi yang kafir (tertutup) terhadap perasaan orang lain.

Dari semua ini, sungguh mudah menyadari kapan kita mulai menjadi kafir dalam kehidupan ini, yakni tepat saat kita merasakan antipati terhadap sesuatu di luar diri kita.  Antipati muncul karena penolakan, penolakan muncul karena ketertutupan diri untuk mencoba mengetahui, mengenali, memahami dan menyadari perbedaan.  Ketertutupan adalah tanda-tanda kekafiran itu sendiri. 
Ah, kata-kata lelaki tua itu telah memantik kesadaran diri untuk segera memasuki perenungan.  Ternyata, kebiasaan menghakimi orang lain tanpa usaha untuk membuka diri demi mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi atau dialami orang tersebut, sesungguhnya adalah juga sifat-sifat tertutup (kafir). Kepala ini kian tertunduk malu oleh cermin jernih yang dibawa lelaki tua yang sudah sedari tadi berjalan menjauh, entah kemana.(*)    
Kuta, 8 Pebruari 2019

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Marc Marques Juara Dunia MotoGP 09 Feb 2019 02:01 WIB


 

 
 

 
 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia