KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pentingnya Memahami Budaya dan Agama

 
ROHANI

Pentingnya Memahami Budaya dan Agama
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 06-Mar-2019, 16:02:12 WIB

Kabar Indonesia -  "Lenyapkan segala macam ritual dan budaya dalam kegiatan agama.  Sebab semua itu hanya akan mengembalikan manusia ke jaman batu, menyembah Tuhan dengan cara animisme dinamisme yang tidak masuk akal." teriak seorang lelaki remaja di tengah kerumunan orang-orang di pasar.

Orang-orang menoleh dengan pandangan aneh. Mereka sama sekali tidak mengenal anak muda itu, karena sepertinya ia berasal dari luar kampung.  Lalu terdengar bisik-bisik di sebuah warung kecil di bawah pohon perindang pinggir jalan.

"Apa betul seperti itu Nasrudin? Apakah budaya warisan leluhur kita memang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran agama? Apakah agama tidak memerlukan budaya?" . Suara lelaki paruh baya itu mewakili rasa penasaran dalam dirinya.  Nasrudin hanya tersenyum mendengarnya.

"Begini kawan, memisahkan agama dan budaya tidak berbeda halnya dengan memisahkan agama dan ilmu pengetahuan (sains). Banyak yang masih memiliki pandangan sempit seperti itu.  Baginya agama hanya berisi hal-hal yang harus diyakini tanpa banyak bertanya.  Setiap bentuk pertanyaan dalam belajar agama dianggap hanya akan menurunkan keimanan atau keyakinan.  Sebab biasanya mereka tidak mampu menjelaskan dengan akal pikiran tentang hal-hal yang berkenaan dengan keberadaan Tuhan."  

"Padahal agama itu seharusnya berperan dalam meningkatkan kualitas kecerdasan emosional dan spiritual seseorang, sedangkan ilmu pengetahuan dan sains berperan dalam meningkatkan kecerdasan intelektualnya.  Agama dan sains adalah sepasang alat yang saling bekerja sama dalam perannya untuk memanusiakan manusia. Bukan alat yang saling bertentangan."

"Begitu pun halnya antara agama dan budaya.  Sebab budaya sering dianggap berasal dari kata budi dan daya.  Budaya adalah hasil dari pemanfaatan kemampuan akal pikiran. Budaya juga berasal dari kata buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari Budhi yang artinya akal.  Dengan demikian, apa pun bentuk budaya luhur yang diwariskan sebagai karya cipta dari akal pikiran, sesungguhnya mengandung suatu gabungan kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual manusia."

Lelaki muda itu mengernyitkan alis pertanda ada yang belum ia pahami dari pemikiran Nasrudin. "Lalu bagaimana dengan budaya-budaya yang justru menimbulkan kerusakan pada kehidupan ini serta menghancurkan berbagai sisi kemanusiaan?"

Nasrudin tertawa renyah mendengar pertanyaannya. "Berarti sesungguhnya itu bukan sebuah hasil budaya, kawan.  Sesuatu yang tidak benar-benar dihasilkan dari kecerdasan akal budi, bukanlah sebuah wujud budi pekerti dalam bentuk budaya.  Itu hanya kebiasaan buruk yang dianggap sebuah budaya.  Kebiasaan seperti itu seringkali muncul dari kegelapan ego, bukan kecemerlangan akal budi."

"Jika sesuatu yang disebut budaya itu kau kupas dengan mendalam, kau akan menemukan kekayaan pengetahuan di dalamnya.  Ada pelajaran-pelajaran kehidupan yang sangat luhur dapat kau petik tersirat di baliknya.  Berbeda dengan ‘budaya-budaya' palsu yang sering dikira sebagai budaya itu. Bila kau mengupasnya, kau hanya akan menemukan benih-benih pertikaian antara berbagai pembenaran ego."

"Tapi masalahnya, tidaklah mudah bagiku untuk mengupas dan memahami pesanpesan luhur di balik budaya-budaya warisan leluhur di negeri ini." Tukas lelaki itu pada Nasrudin yang selalu saja tersenyum membalas pertanyaannya.

"Jika buah kelapa tak mampu kau kupas dengan tanganmu seperti kau mengupas kulit pisang, jangan salahkan pohon kelapa karena menghasilkan buah dengan berlapis-lapis kulit tebal itu.  Temukanlah alat untuk membantumu mengupasnya. Begitu pun bila kau tidak mampu mengupas dan menemukan makna luhur dalam budaya warisan leluhurmu, tajamkan saja kecerdasan akal budimu agar bisa mengupasnya.  Sebab budaya luhur itu sendiri lahir dari ketajaman akal budi para leluhur masa lalu."

"Ada budaya yang seakan memuja pohon-pohon besar, padahal itu hanya sebuah bentuk penghormatan dan pelestarian pohon besar lewat upaya sakralisasi, agar orang-orang tidak sembarangan menebang pohon-pohon yang bermanfaat bagi kehidupan."

"Di masa lalu para tetua menjadikan gunung, bukit, hutan, danau sebagai tempat sakral dan kiblat memuja Tuhan sebagai wujud rasa syukur, karena gunung-hutan-danau itulah yang memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat yang harus dijaga kelestariannya."
Pelan-pelan lelaki muda itu mengangguk tanda pemahamannya mulai terbuka.  Nasrudin meneruskan,

"Agama mengajarkan orang-orang untuk menjaga kelestarian alam, menjaga hubungan harmonis antar manusia dan mahluk hidup lain.  Sedangkan budaya adalah implementasi dari ajaran luhur dalam agama itu sendiri."

"Itulah sebabnya agama tanpa budaya ibarat seorang yang mengalami kelumpuhan.  Sebaliknya, budaya yang tidak didasari ajaran-ajaran luhur seperti yang juga diajarkan dalam agama, sama dengan orang buta yang tidak mampu melihat kebenaran."

Percakapan mereka terhenti.  Nasrudin membiarkan sahabatnya diam dalam perenungan.  Ia menyadari betapa banyak orang mulai kehilangan akar budaya leluhurnya dalam menjalankan ajaran agama, karena menyangka agama dan budaya adalah dua jalan yang bertentangan.  Padahal bila diibaratkan sebutir telur, budaya dan ritual adalah kulit pelindungnya.  Etika dalam ajaran agama adalah putih telurnya, sedangkan ajaran inti agama yang berisi pengetahuan mendalam tentang diri sejati manusia adalah kuning telurnya.

Agama yang kehilangan budaya luhurnya ibarat telur yang kehilangan kulit pelindungnya, akan mudah busuk dan sia-sia.  Budaya tanpa diwarnai keluhuran ajaran agama ibarat telur yang tidak berisi kuningnya.  Tidak akan menghasilkan individu yang sesuai dengan induknya.  Tidak akan membawa Jiwa seseorang bertumbuh menjadi Jiwa Agung yang merupakan asal dari dirinya.
   Kuta, 8 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia