KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Pakaian Kesucian
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 04-Apr-2019, 15:08:23 WIB

KabarIndonesia - Terkadang Joko Kendal begitu mengagumi Nasrudin, sahabat masa kecilnya yang selalu saja bisa memberinya jawaban yang menenangkan dalam kegundahan.  Baginya, Nasrudin ibarat guru kehidupan, meski usia mereka sebaya.  Ia selalu menjadi mudah mengerti tentang kerumitan hidup, karena Nasrudin selalu mampu menjelaskannya secara sederhana.

Baginya Nasrudin sudah termasuk orang tercerahkan.  Namun anehnya, tak pernah sekali pun ia melihat Nasrudin mengubah penampilan dirinya.  Nasrudin tetap tampil apa adanya.  Bahkan di tengah maraknya orang-orang mengubah tampilan pakaian dengan berbagai atribut yang menandakan diri sebagai Jiwa yang telah tercerahkan, Nasrudin tetap berpakaian biasa sembari memanggul pacul ke ladangnya.

"Nasrudin, kawanku.  Maafkan pertanyaanku ini mungkin menyinggung perasaanmu.  Tapi bagiku ini sangat penting.  Menurutku kau adalah pribadi yang luar biasa.  Kau berbicara layaknya seorang pertapa suci.  Tapi kenapa kau tidak pernah memakai pakaian yang mewakili kesucian Jiwamu seperti orang lainnya?"  Akhirnya Joko Kendal memberanikan diri bertanya pada sahabatnya.

Mendengar pertanyaan dengan getar ragu-ragu itu, ternyata Nasrudin malah tertawa terbahak-bahak.  Sama sekali tidak tampak raut muka tersinggung di wajahnya.  Usai terhenti gelinya, Nasrudin menyahut.

"Joko Kendal, terima kasih kau telah begitu perhatian padaku.  Kukira pertanyaanmu tidak salah, karena seperti itulah yang disuguhkan jaman ini pada matamu.  Setiap orang memiliki cara dan alasan sendiri untuk memilih pakaian apa yang ingin mereka pakai dalam keseharian."

"Ada orang yang suka memakai pakaian yang menandai dirinya telah suci, ingin tampil suci, atau sekadar ingin mengingatkan dirinya untuk selalu menampilkan kesucian diri.  Itu semua baik-baik saja.  Aku sendiri memilih untuk tidak memakai pakaian seperti itu, selain karena aku belum merasa itu hal yang begitu penting bagiku, juga karena aku memiliki pemikiran yang lain tentang pakaian kesucian diri."

Joko Kendal menarik napas lega, karena ternyata pertanyaan itu tidak menyinggung perasaan sahabatnya. "Lalu bolehkah aku tahu pandanganmu sendiri tentang pakaian kesucian itu?", tanyanya kembali.

"Begini kawan.  Pakaian bersih dan indah, entah dari kain biasa ataupun dari sutra, adalah pakaian luar yang layak menemani tampilan tubuh saat tubuh telah bersih.  Namun ia bukan pakaian dari pikiran apalagi dari Jiwa seseorang.  Kecerdasan, kepintaran, sikap dan pemahaman yang keluar lewat kata-kata, adalah sebagian wujud pakaian dari pikiran seseorang.  Sedangkan kesabaran, kebijaksanaan, ketenangan, kedamaian, adalah sebagian wujud pakaian dari Jiwa seseorang."

"Seindah-indah dan sebersih-bersih pakaian dari kain mewah dan sehalus sutra, bahkan tidak akan bisa menutupi tubuh yang masih kotor dan berbau karena belum mandi.  Apalagi untuk menutupi kebersihan pikiran dan kesucian Jiwa seseorang.  Begitupun sebaliknya, pakaian yang sederhana tidak akan bisa menghilangkan tingkat kebersihan, kecerdasan pikiran dan kesucian Jiwa seseorang.  Sebab semua itu terpancar dari kata-kata, sifat, sikap dan prilaku kesehariannya."

"Nah, sekarang lihatlah padaku.  Aku hanya seorang peladang yang selalu berlumur kotoran, debu dan lumpur.  Bagaimana mungkin aku memakai pakaian bersih dan mewah atau yang menandakan kebersihan tubuh?  Apalagi pikiranku sendiri belum memahami apa-apa dan Jiwaku belum mencapai kesadaran yang semestinya."

"Oh ya, kawanku Joko Kendal.  Apakah kau pernah mendengar kisah seorang guru suci bernama Osho?"

Joko Kendal menggeleng. Namun hasratnya untuk mengetahui kisah itu jelas terbaca oleh Nasrudin.

"Konon murid-murid Osho begitu mengkultuskan Sang Guru, sehingga apa pun yang dilakukan gurunya akan dijadikan contoh dan panutan, termasuk dalam cara berpakaian.  Semua murid selalu mengikuti cara Osho berpakaian.  Sebab murid-muridnya berpikir bahwa dengan mengikuti cara berpakaian orang suci, mereka akan tertular oleh vibrasi kesucian Sang Guru.

"Namun pada suatu pagi, saat semua murid berkumpul menunggu Osho yang akan keluar dari kamarnya, tiba-tiba semua terkejut melihat Sang Guru keluar kamar tanpa berpakaian selembar pun.  Semua menoleh dan saling menatap dengan perasaan yang aneh. Bingung dengan apa yang pertama kalinya mereka lihat saat itu. "

"Lalu Osho tertawa menatap mereka.  Kenapa kalian menatapku dengan pandangan mata aneh? Bukankah kalian selalu mengikuti apa pun yang kulakukan? Kalian mengikuti caraku berpakaian dan melekat pada penampilan luarku.  Sekarang aku melepas semua tampilan luar itu, kenapa kalian tidak segera mengikutinya dan malah menatapku dengan aneh?"

Joko Kendal tersenyum mendengar cerita Nasrudin. Ia menangkap maksud ceritanya.

"Nah, kau pasti sudah mengerti kawan.  Coba renungkan pula nilai sebuah kertas.  Bukan karena besar atau warna-warni lukisannya yang membuat selembar kertas menjadi berharga.  Namun karena banyaknya angka nol (0) yang tertulis di sanalah yang membuat nilainya makin tinggi.  Semakin banyak angka nol mengikuti angka satu, semakin tinggi nilai tukarnya."

"Begitulah, semakin banyak kesadaranmu akan kekosongan diri, semakin kau merasa dirimu belum apa-apa, bukan siapa-siapa, meski kau telah jauh dalam perjalanan pemahaman pikiran dan pencapaian kesadaran Jiwa, di situ kau akan semakin bernilai bagi kehidupan ini.  Di situlah vibrasi cahaya pengetahuan pikiran dan kebijaksanaan Jiwamu akan menjadi pakaian berkilauan yang terlihat oleh kejernihan mata batin mereka yang peka.  Itulah pakaian kesucian Jiwa seseorang."

Joko Kendal menundukkan kepala, tak kuasa menatap wajah Nasrudin yang tiba-tiba ronanya berubah.(*)

Kuta, 6 April 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia