KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nasib dan Takdir (3)

 
ROHANI

Nasib dan Takdir (3)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 03-Apr-2019, 15:52:26 WIB

KabarIndonesia  - Kalimat terakhir yang menutup percakapannya dengan Nasrudin tentang nasib dan takdir sungguh lama tergiang dalam pikiran Joko Kendal.  Ia mengingat kembali saat Nasrudin bicara. "Satu lagi untuk kau renungkan, setiap isi pikiran, kata-kata, sikap dan tindakan kita di kehidupan ini, akan menjadi bahan-bahan penulisan takdir kita di kehidupan masa depan, bahkan di kehidupan kita berikutnya."

Bahan-bahan penulisan takdir? Kehidupan berikutnya?  Dua poin itu sungguh mengusik rasa ingin tahunya. Selama ini yang ia dengar dari orang-orang, bahwa hanya kuasa Tuhanlah yang berwenang menentukan dan menciptakan garis takdir seseorang.  Namun bila isi pikiran, kata-kata, sikap dan perbuatan manusia akan menjadi bahan penulisan takdirnya di masa depan, berarti manusia juga turut andil dalam penciptaan takdirnya sendiri.

Lalu kehidupan masa depan, bagaimana bisa meyakini kebenaran ini? Bagaimana kita bisa percaya bahwa akan ada kehidupan berikutnya bagi seseorang? Sedangkan kenyataan yang terjadi di kehidupan saat ini pun masih sering memunculkan rasa tak percaya bahwa itu adalah kenyataan.  Entah itu kenyataan yang buruk, bencana ataupun kenyataan yang baik, berkah dan mukjizat kehidupan.

Namun Nasrudin yang kembali ia temui, selalu saja hanya tersenyum ringan seakan tanpa beban dengan semua pemahaman itu.

"Memang begitu, kawanku Joko Kendal.  Ada tidaknya kehidupan berikutnya ataupun kehidupan masa lalu pada Jiwa atau Ruh seseorang tidak memerlukan ada tidaknya kepercayaanmu akan kebenaran itu.  Sama seperti kenyataan yang kau hadapi saat ini, entah kau percaya atau tidak, kenyataan itu akan tetap demikian adanya.

Pengetahuan tentang kehidupan masa lalu dan kehidupan berikutnya bagi setiap Ruh atau Jiwa, hanyalah pengetahuan. Kau boleh mempercayainya sebagai kebenaran, ataupun tidak mempercayainya, ia akan tetap demikian adanya.  Namun mereka yang mau membuka batinnya untuk mempelajari pengetahuan baru, sesungguhnya mereka adalah orang yang tidak lagi kafir atau tertutup. 

Dan aku sendiri akan menyarankan padamu, jangan selalu percaya begitu saja dengan suatu pengetahuan sebelum kau membuktikan sendiri kebenarannya.  Sebab pengetahuan adalah sumber pemahaman yang terus berkembang.  Ia bisa tampak benar saat ini, namun bisa saja salah di kemudian hari saat kau bisa membuktikan sebaliknya." tutur Nasrudin.

Joko Kendal tersipu malu mendengar sentilan Nasrudin. "Baiklah. Aku memilih untuk membuka diri terhadap pengetahuan. Jadi, tolong jelaskan padaku bagaimana pikiran, kata-kata, sikap dan perbuatan seseorang di masa kini bisa menjadi bahan untuk penulisan skenario takdirnya di masa depan?"

Nasrudin menatap matanya tajam, mencoba mencari kesungguhan di balik sorot mata Joko Kendal. Lalu ia pun bicara.

"Sederhananya begini, kawan. Jika kau selalu memikirkan hal-hal yang positif, maka kehidupan yang positif akan disiapkan bagimu di masa depan.  Mirip seseorang yang selalu memikirkan suatu bentuk bangunan rumah di lahan kosong miliknya, maka suatu ketika ia akan memiliki wujud rumah sesuai yang ia inginkan.  Inilah hukum rahasia kekuatan pikiran.  Komponen-komponen alam semesta akan digerakkan untuk mewujudkan impian dan harapanmu, kecuali kau selalu mengubah-ubah isi pikiran di kepalamu.

Untuk setiap isi pikiran, kata-kata, sikap dan tindakanmu saat ini, semuanya adalah kumpulan aksi atau Karma.  Kelak aksi itu akan mendatangkan re-aksi atau pahala atas Karma.  Nah, kumpulan reaksi-reaksi atau pahala Karma yang akan terjadi padamu di kehidupan masa depan itulah yang menjadi bahan-bahan penulisan skenario cerita masa depan.  Inilah disebut takdir.

Bila kau pernah menyakiti seseorang di masa kini, maka semesta akan menyusun kisah takdir masa depanmu, di mana batinmu akan mengalami perasaan yang sama seperti rasa yang pernah kau sebabkan pada batin seseorang.  Semesta akan menyusun pertemuanmu di masa depan dengan seseorang yang akan menimbulkan pengalaman rasa yang sama seperti yang pernah kau berikan pada orang lain.

Itu baru satu contoh reaksi yang disiapkan semesta sebagai pelajaran rasa atas aksi yang pernah kau lakukan.  Kini bayangkan berapa banyak aksi telah kau lakukan selama satu kehidupan ini lewat pikiran, kata-kata, sikap dan tindakanmu.  Maka sebanyak itulah alur skenario semesta telah disiapkan untuk mempertemukanmu dengan reaksi-reaksi atau pahala atas Karmamu itu. 

Seluruh rangkaian reaksi yang terlibat dalam penulisan skenario takdir masa depanmu itu, akan melibatkan banyak Jiwa-Jiwa dan mahluk lain dalam kehidupanmu nanti.  Inilah disebut pertautan Karma dalam kehidupan. Setiap rancangan reaksi Karma itu akan tersisip ke dalam suatu peristiwa kehidupanmu nanti, agar dengan peristiwa itu kau mengalami rasa dan memetik hikmah pelajaran rasa di dalamnya." jelas Nasrudin.

Lalu Nasrudin terdiam. Joko Kendal memijit-mijit kepalanya.  Ia mulai kebingungan saat mencoba mencerna kata-kata Nasrudin.  Meski pada dasarnya ia bisa menangkap sekilas maksud penjelasan Nasrudin, namun semakin ia coba untuk memahami kedalamannya, semakin terseret ia dalam arus kebingungan.  Sepertinya percakapan tentang nasib dan takdir ini tidak akan mudah mencapai titik akhirnya.

"Tidak apa-apa kawan.  Kau tidak akan mudah memahami pengetahuan ini dalam satu kali percakapan kita.  Sebab kau sedang mencoba memahami rahasia takdir dan nasib yang biasanya hanya kau anggap pemahaman yang sama sekali tak terjangkau. Renungkan saja selintas pemahaman awal ini.  Aku bersedia melanjutkan kembali nanti, saat kau telah mampu mencerna pemahaman terakhir ini."

Nasrudin menepuk bahu Joko Kendal, mencoba menguatkan semangatnya dalam perjalanan pendakian menuju puncak pemahaman nasib dan takdir.(Bersambung).
Kuta, 5 April 2019.(*)      

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia