KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nasib Dan Takdir (4)

 
ROHANI

Nasib Dan Takdir (4)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 04-Apr-2019, 13:32:05 WIB

KabarIndonesia - Rasa penasaran dipikirannya bagaikan ribuan kuda yang menarik kereta dirinya untuk segera kembali menemui Nasrudin.  Joko Kendal mulai menangkap kepingan-kepingan puzzle pemahaman nasib dan takdir yang selama ini begitu kosong dalam dirinya. Maka pagi-pagi sekali ia telah bertamu ke rumah Nasrudin.

"Nasrudin, sepertinya aku telah bisa melihat penyatuan kepingan-kepingan pemahaman nasib dan takdir itu sejak beberapa kali percakapan kita.  Namun aku rasa kau masih belum menjawab, bagaimana suatu keadaan di saat ini bisa menjadi bagian dari takdir yang tidak bisa kita hindari.  Kenapa seseorang ditakdirkan lahir dalam keluarga orang miskin, terlahir dalam tubuh cacat, atau buruk rupa?  Bukankah bayi-bayi yang baru lahir itu tidak memiliki pikiran, kata-kata, sikap dan tindakan yang bisa menjadi bahan guratan takdirnya saat ini?"

"Lalu isi pikiran, kata-kata, sikap atau tindakan siapa yang dijadikan bahan oleh semesta ini hingga seseorang mesti ikhlas terlahir dalam tubuh yang takdirnya tidak sesuai harapannya?  Apakah takdir kelahiran seseorang ditentukan juga oleh Karma orang lain, reaksi Karma dari keluarga atau orang tuanya? Aku ingin tahu letak keadilan Tuhan dalam keadaan seperti itu." tanya Joko Kendal.

Nasrudin tergetar mendengar pertanyaan Joko Kendal. Rupanya telah tiba saatnya ia bercerita lebih mendalam lagi tentang rahasia takdir dan nasib ini.

"Joko kawanku, bila hari ini tubuhmu mengalami suatu penyakit atau rasa sakit, apakah kau percaya bahwa sangat mungkin keadaan sakit tubuhmu itu terkait dengan apa yang kau makan atau minum sehari, dua hari atau bahkan beberapa hari lalu?  Percayakah kau bahwa ada pula penyakit yang kau derita saat ini, ternyata terkait dengan pola makanmu atau cara hidupmu sejak beberapa tahun sebelum hari ini?" Nasrudin membuka pikiran Joko Kendal dengan pertanyaan.

"Ya, tentu saja aku percaya akan hal itu.  Aku sering mendengar suatu kasus penyakit yang berkenaan dengan riwayat pola hidup sebelumnya." Joko Kendal mengiyakan.

"Nah, kawan.  Kini bayangkanlah bahwa kehidupanmu kemarin, dua hari lalu atau seminggu lalu, tak ubahnya suatu kehidupan masa lalu sebelum kehidupanmu kali ini.  Tidur tak ubahnya kematian, karena kematian tak ubahnya tidur yang abadi bagi tubuh.  Maka kehidupan-kematian-kehidupan baru dan seterusnya, adalah siklus kehidupan yang biasa bagi alam semesta ini. Ibarat kita terjaga-tidur-terjaga-tidur-lalu terjaga kembali di hari baru.  Begitulah siklus hidup-mati tak pernah memisahkan tautan Karma dari Ruh atau Jiwa dalam tubuh manusia." sebut Nasrudin.

"Bila kau telah memahami ini, maka kau akan mengerti tautan Karma antara kehidupan yang pernah kau lalui di masa lalu, dalam kehidupan sebelum ini, dengan apa pun bentuk kehidupan dan tubuh yang kini engkau (sebagai Ruh/Jiwa) tempati kali ini. Jadi, terlahir sebagai siapa, dalam tubuh apa, dalam kondisi duniawi seperti apa, maupiun semua keadaan hidupmu saat ini, adalah hasil dari kumpulan reaksi atau pahala Karmamu di kehidupan masa lalu.

Mudahnya seperti ini, Joko Kendal.  Seseorang yang di film-film sebelumnya selalu bermain peran sebagai penjahat, maka di film berikutnya dia mungkin menyenangi model peran yang sama.  Atau bila ia sudah bosan dengan peran yang sama, maka ia akan belajar memainkan peran yang berbeda, untuk melengkapi kemampuan dirinya dalam memainkan berbagai peran kehidupan.

Seperti itulah Ruh atau Jiwa memilih dan dipilihkan peran baru dalam kehidupan barunya, agar sesuai dengan tujuan penuntasan hutang pelajaran rasa atau hutang Karma yang ingin ia lunasi di kehidupan tersebut.  Takdirnya telah ditetapkan sedemikian rupa untuk berbagai tujuan kelahiran Jiwanya di kehidupan." tambah Nasrudin.

"Namun beberapa atau kebanyakan orang, justru melanggar jalur perjalanan takdirnya sendiri, hingga ia menyimpang dari tujuan kelahirannya sendiri.  Inilah makna ‘dosa' dalam perjalanan Jiwa di kehidupannya.  Dengan kuasanya mengubah nasib, ia justru memisahkan nasib dan takdirnya sendiri.  Padahal jika dengan usaha yang benar dalam memperbaiki nasibnya, bisa jadi nasib dan takdirnya akan menjadi satu kesatuan, menjadi satu titik pencapaian yang sama. 

Mereka yang mencapai perjalanan nasib yang sesuai dengan takdirnya, akan mengalami kebahagiaan yang tak terlukisan dan terjelaskan.  Sebab usaha pikiran dan tubuh fisiknya untuk mencapai nasib yang diharapkan, telah sesuai dengan takdir yang menjadi tujuan Jiwanya sendiri. Inilah saat nasib dan takdirnya melebur menjadi satu, lalu menciptakan kebahagiaan jasmani dan rohani yang utuh."

Joko Kendal gemetar mendengar aliran jawaban dari Nasrudin.  Ia tak mampu mendebat.  Batinnya seketika terkunci dan bibirnya tercekat.

"Telur burung akan menetas menjadi burung. Telur buaya akan menetas menjadi buaya. Telur ayam akan menetas menjadi ayam.  Itulah takdir dan mereka tidak akan pernah tertukar.  Namun keadaan yang disebabkan oleh campur tangan suatu tindakan sadar, bisa saja menyebabkan telur burung menetas di sarang angsa, telur buaya menetas di sarang penyu.  Itulah nasib, kawan. Dan manakala telur-telur itu menetas di sarangnya masing-masing sesuai tujuan, itulah penyatuan nasib dan takdir yang membahagiakan induknya masing-masing."

Joko Kendal berhamburan memeluk tubuh kawannya. Nasrudin yang tak menyangka, hanya terdiam dan merasakan hirupan napas lega terasa bergerak di dada sahabatnya.  Ia tahu, ia tidak mungkin menceritakan semua pengetahuan tentang nasib dan takdir itu seutuhnya.  Sebab pikiran manusia sungguh terbatas untuk memahami pengetahuan yang tak terbatas ini.  Namun ia tetap menitipkan pesan terakhir bagi sahabatnya.

"Lakukan saja dengan sebaik-baiknya segala tugas, peran, usaha dan hasratmu membangun harapan akan masa depanmu, kawan.  Sebab nasibmu itu ada dalam genggamanmu.  Bila dengan segala usaha itu nasibmu bisa bertemu dengan suratan takdir, kau akan merasakan kebahagiaan. Berusaha dan berserahlah, karena itulah kepasrahan.  Jangan diam dan menyerah, karena itu hanya sebuah keputusasaan."

Dan percakapan keduanya terhenti sampai di sini, tersisa dalam rangkulan penuh makna. Kuta, 6 April 2019.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia