KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Tepat 45 tahun lalu, Argopandoyo Tri Hanggono dilahirkan di Kota Jakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan W. Sudaryo dan Martha Beetje.

Ayah dua anak ini memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik sejak mengikuti kegiatan penerbitan Warta Yohanes
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Merayakan 162 Tahun Missionaris Ottow dan Geissler

 
ROHANI

Merayakan 162 Tahun Missionaris Ottow dan Geissler
Oleh : Emanuel Bamulki | 11-Feb-2017, 18:14:09 WIB

KabarIndonesia - Sebelum tahun 1855, Papua disebut sebagai Pulau Neraka, Pulau Terkutuk.  Pulau yang masih "perawan" baik  kehidupan manusianya, alamnya, bahkan letak keberadaannya tak diketahui oleh  mata dunia. Keberadaan Pulau Papua hanya misteri dan teka-teki dalam pandangan kaca mata dunia pada masa itu. Kehidupan manusia Papua pada saat itu boleh dikatakan berada dalam Zaman Kegelapan. Manusia Papua tidak mengetahui apa yang ada serta segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia luar.

Lebih memprihatinkan pada waktu itu adalah manusia Papua disebut manusia kanibal, setan dan manusia iblis. Mereka tidak saling mengenal antara satu daerah dengan daerah lain, satu suku dengan suku Lain.  Dalam kehidupan manusia Papua zaman itu hanya ada peperangan antar manusia Papua sendiri, perang antar suku  dan antar wilayah.

Selain perang, perampokan, pembunuhan, dan kejahatan lainnya masih merajalela.  Manusia Papua saat Itu hanya tahu berburu dan mengumpulkan makanan, hanya sedikit dari manusia Papua yang mengenal sistim bercocok tanam. Di sisi Spiritualnya, manusia Papua lebih mempercayai Roh nenek moyang, penunggu di berbagai tempat, jin dan sebangsanya. Maka kehidupan orang Papua pada zaman itu adalah Kehidupan dalam Kegelapan.

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 5 Februari 1855 tepatnya hari Minggu, pagi pukul 06:00, sebuah kapal yang membawa dua Misionaris dari Belanda, Ottow dan Geissler berlabuh di kampung Mansinam, pelabuhan Doreh di Tanah Papua. Kemudian tanggal itulah  yang menjadi awal mula dan cikal-bakal lahirnya "Pelita" bagi Orang Papua. Cahaya yang terang dan menjadi era baru bagi manusia Papua. Kemudian Geissler menulis kepada bapak Gossner, sebagai ucapan rasa suka citanya, "Anda tak dapat membayangkan, betapa besarnya rasa suka cita kami. Bahwa pada akhirnya tanah tujuan terlihat, matahari terbit dengan indah, Ya, Semoga matahari yang sebenarnya menyinari kami dan orang-orang kafir itu, yang telah sekian lamanya merana dalam kegelapan, semoga sang Gembala setia mengumpulkan mereka di bawah tongkat GembalaNya yang Lembut".  

Hal pertama yang kedua Misionaris itu lakukan saat menginjakan kaki di tanah yang saat itu dikenal dengan nama Pulau Neraka adalah mengucapkan sebuah pernyataan " Dengan Nama Tuhan, kami menginjakan kaki di tanah ini ". Pulau Neraka, demikian diberi nama oleh orang-orang dari Kesultanan Tidore,  karena pada masa itu pulau itu dihuninya oleh orang-orang atau bangsa kanibalis, dengan kehidupan suka peperangan, perampokan, pembunuhan, dan berbagai hal yang tidak baik.  Hingga kedatangan Ottow dan Geissler, pulau itu masih disebut sebagai pulau terkutuk, pulau angker, pulau neraka sehingga orang luar takut masuk ke pulau itu.

Atas nama Tuhan yang menyertai dengan berani, Ottow dan Geissler menginjakan kaki di tanah terkutuk itu, dan mereka berdua mengucapkan kata yang menjadi sumpah dan ramalan yang sampai hari ini menyentuh bagi manusia Papua.  "Di atas batu Karang Ini, Aku letakan Peradaban Orang Papua, Dan orang Sekuat Apapun Dia, Tak Bisa Menguasai Bangsa Ini, Bangsa Ini akan Berdiri Dengan Kekuatannya Sendiri ". Ucapan tersebut menjadi "duri" dalam daging, yang tiap saat menusuk urat nadi Orang Papua. Air mata kerinduan keluar karena ucapan itu, agar menjadi nyata. Terus saja mengalir deras, memohon kepada Tuhan agar dijadikan nyata ucapan tersebut. Masyarakat Papua akan terus bersuara dan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya, menunggu hingga ramalan itu menjadi nyata.

Sekilas Mengenai Ottow dan GeisslerOttow, bernama lengkap Carl Williem Ottow, lahir tahun 1825. Pada Umur 18 tahun Ia telah mulai tertarik menjadi Pekabar Injil, karena Ia termotivasi dengan khotbah dari seorang Pendeta di Jemaatnya. Pada usia 30 Ottow menginjakkan kaki di pulau Neraka atau kini kita kenal dengan Pulau Papua.  Lalu Geissler, dengan nama lengkap Johan Gottlod Geissler, lahir pada tanggal 18 Februari 1830 di Langen-Reichenbanckta (Jerman), Sejak berumur 14 tahun Ia sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja sebagai anggota gereja Lutheran Jerman, Lalu pindah ke Berlin dan pada umur 25 tahun Geissler menginjakkan kaki di tanah Papua bersama Ottow.  


Sejak Ottow dan Geissler menginjakkan kaki di tanah Papua pada tanggal 5 februari 1855, maka sejak saat itulah Cahaya Terang,Cahaya Kebenaran mulai masuk ke Papua. Manusia liar mulai dijinakan, Orang-orang yang pada saat itu dalam kekafiran digembalakan, hingga manusia Papua mulai mengenal satu sama lain sebagai saudara, teman, kawan dan keluarga. Lalu mereka mulai mengenal Pendidikan, Kesehatan, Agama, Ekonomi maupun Pemerintahan dan lainnya. Mulai saat itu manusia Papua lahir sebagai manusia baru, manusia yang beradab, berakal, pintar dan berpengetahuan luas.  

Atas dasar itu, wajarlah kita warga Papua, kepada seluruh Umat Kristiani di tanah Papua, mengucapkan Selamat memperingati Ulang Tahun Kedatangan Ottow dan Geissler memasuki tanah Papua di pulau mansinam. Kini kehadiran kedua Missionaris telah genap berumur 162 tahun. Saya sebagai manusia Papua yang kini berada di era-modern, mengucapkan banyak terimakasih kepada Tuhan yang telah mengutus Ottow dan Geissler untuk membawa Cahaya Terang,  perubahan besar,  penerangan dan kelahiran yang baru. Mereka berdua berhasil menghadirkan manusia Papua yang baru, orang Papua di tanah Cenderawasih.(*)

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB


 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia