KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniICTUS Kalung Emas Menjalani Waktu Kehidupan Tahun 2019 oleh : Danny Melani Butarbutar
19-Jan-2019, 15:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, esok adalah harapan. Ketiganya akan berjalan terus menerus tanpa dapat dihentikanm bergulir seiring perjalanan hidup jagad raya. Manusia menyebut ketiganya sebagai zona waktu, kemarin telah berlalu, hari ini sedang bergerak dan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Filosofi Kopi 20 Jan 2019 01:57 WIB

Senja Kan Berlalu 19 Jan 2019 14:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 

Mengenal Tuhan (Bagian 3)

 
ROHANI

Mengenal Tuhan (Bagian 3)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 11-Jan-2019, 15:09:57 WIB

Kabar Indonesia - Dalam dua tulisan sebelum ini, kita telah mencoba mengenali aspek Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang abstrak namun ada mengisi segenap kekosongan di seluruh semesta tak terbatas ini.  Juga mengenali aspek-Nya yang lain yakni sebagai Energi Semesta, di mana Energi Semesta itu adalah ‘kemampuan-Nya melakukan usaha' penciptaan, pemeliharan dan peleburan alam semesta ini.  Energi tersebut ada yang bisa dirasakan dan ada yang bisa dilihat berupa Energi Cahaya (foton, Nur, Div).

Kali ini kita akan mengenali aspek-Nya yang lain, yakni ketika Energi Semesta itu memampat (memadat) menjadi Materi Semesta.  Kita ketahui bahwa atom sebagai materi terkecil di semesta ini (walaupun ada bagian lagi yang lebih kecil dari atom) adalah pemampatan dari suatu energi. Ketika inti atom itu ditembakkan, maka bisa menghasilkan energi maha dahsyat yang disebut energi nuklir (inti).  

Hal ini sejalan dengan temuan bahwa di alam semesta ini, atom-atom pertama yang merupakan pemampatan energi di antaranya adalah Helium, Lithium, Deuterium dan beberapa sebagai Berilium dan Boron. Barangkali hal ini akan mudah dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang fisika.  
Sedangkan untuk kita yang awam, memahami bahwa setiap rerumputan yang merupakan sumber energi bagi hewan-hewan pemakan rumput, berwujud dedaunan yang pada dasarnya merupakan sekumpulan atom-atom.  

Begitu pun semua sumber energi yang kebanyakan kita makan di kehidupan ini adalah bahan-bahan material yang disebut zat karbohidrat yang dibentuk oleh atom Karbon, Hidrogen dan Oksigen. Dalam setiap atom itu terdapat energi yang membentuk atom itu sendiri. Sedangkan setiap atom, menurut para ahli sesungguhnya hampir 99,99% dibentuk oleh ruang kosong. Dari uraian sederhana ini kita dengan mudah memahami bahwa materi (atom) itu adalah wujud dari energi itu sendiri yang bisa dilihat, diraba, dirasakan.    Dengan demikian, setiap Materi Semesta adalah wujud dari Energi Semesta yang memampat, atau wujud dari ‘kemampuan' Sang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu sendiri.  Materi atau matter sering disebut mother atau Ibu.  Sehingga alam semesta disebut sebagai Mother Nature (Ibu Semesta) dan kita menyebutnya Ibu Pertiwi (untuk bumi).  

Jadi, ketika sampai pada pemahaman akan aspek Tuhan terakhir ini, maka sesungguhnya ke mana pun kita memandang, itulah wujud Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu sendiri. Kelak, ketika wujud material atau Materi Semesta hancur dan seluruhnya kembali menjadi kosong (dari awalnya 99,99% ruang kosong), di situ semua materi semesta kembali menjadi energi (kemampuan) dari Kecerdasan Semesta itu sendiri.  

Semua kembali terserap ke dalam diri-Nya, menjadi bagian dari diri semesta-Nya. Memahami aspek diri semesta Tuhan sebagai Materi Semesta, semestinya membuat kita menghormati segala yang ada sebagai wujud ciptaan-Nya di alam semesta ini.  Sebab semua itu adalah diri semesta-Nya sendiri yang memampat dari kemampuan atau energi semesta-Nya.  Bahwa ajaran para suci dulu yang menyatakan "tak ada sesuatu pun di semesta ini yang bukan diri-Nya", kini lebih mudah dipahami saat mengenal aspek diri-Nya sebagai materi semesta. 
Dengan cara yang sama pula kita akan lebih mudah mengerti kenapa para leluhur-leluhur masa lalu sangat menghormati dan memuja alam semesta yang berwujud material ini.  Sebab hanya alam semesta ini : bumi, bulan, bintang, matahari, planet-planet dan segala wujud di alam semesta ini adalah wujud yang Dia ciptakan sendiri.  

Orang-orang bijaksana masa lalu itu tidak saja memuja wujud Tuhan yang mereka ciptakan dari materi-materi alam semesta, namun mereka lebih hormat lagi pada wujud-wujud alam yang diciptakan oleh Tuhan (Kecerdasan Semesta) itu sendiri. Maka lahirlah aliran-aliran animisme dan dinamisme yang meyakini ada sesuatu yang maha agung di setiap wujud: gunung, hutan, pophon besar, batu besar dan sebagainya.  

Mereka memuja dan menghormati semua wujud ciptaan Tuhan itu berdasarkan keyakinan, meski tidak benar-benar mengetahui bahwa di dalam setiap wujud yang dibentuk oleh materi-materi semesta itu sesungguhnya ada Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang mengisi setiap ruang kosong (99,99%) dari setiap atom penyusun benda-benda tersebut. 

Sungguh, ketika pemahaman sampai di sini, tidaklah lagi ada alasan untuk menyakiti setiap wujud mahluk hidup, bahkan benda-benda lain di alam semesta ini.  Sebab di sana ada Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas.  Itu pula alasan bahwa kita harus bersyukur pada setiap makanan yang kita makan.  

Bukankah dalam setiap makanan ada materi, energi dan Kecerdasan Semesta yang mengisi setiap atomnya?  Sehingga dengan setiap makanan itu kita menyadari ada benih-benih kecerdasan semesta yang memasuki diri kita untuk memberi kehidupan dan kemampuan menjalani kehidupan. 

Lebih dari semua itu, memahami Tuhan dalam aspeknya sebagai Materi Semesta semestinya membuat kita memaklumi kenapa ada banyak umat beragama memilih mewujudkan kehadiran Tuhan lewat benda-benda material.  Sebab kita maklum bahwa tanpa mewujudkan kehadiran Sang Kecerdasan Semesta itu dalam benda-benda material semesta, sangatlah sulit memusatkan pikiran pada Dia sebagai Kecerdasan Semesta yang tak berwujud. 

Memusatkan pikiran pada ruang kosong saja begitu sulit, apalagi memusatkan pikiran kepada Kecerdasan yang mengisi ruang kosong itu pada saat berdoa. Namun demikian, ada juga bahayanya ketika orang-orang hanya meyakini Tuhan sebagai apa yang mereka wujudkan dengan kecerdasan akal budi (budaya) itu.  Karena seringkali ketika sesuatu yang abstrak mulai diwujudkan, maka akan mudah terjadi saling klaim akan kebenaran dari-Nya yang tak berwujud itu.  

Mungkin itu alasan kenapa Guru Suci masa lalu ada juga yang menyarankan untuk tidak mewujudkan Tuhan dan memuja-Nya dalam sebuah wujud tertentu.  Sebab hal itu sering menimbulkan perbedaan, perdebatan bahkan pertikaian ketika masing-masing merasa wujud yang mereka buat itu adalah wujud yang paling benar. Mirip cerita tentang anak-anak kecil yang semuanya mengerti tentang apa itu pemandangan indah.  

Semuanya menyenangi apa yang disebut sebagai pemandangan indah.  Namun ketika diminta untuk melukiskan pemandangan indah tersebut, dari sinilah mulai terjadi perbedaan. Mulai muncul penilaian mana yang lebih baik dari yang lainnya.  

Apalagi bila kemudian gurunya memberikan nilai yang lebih besar dari lukisan pemandangan lainnya.  Persaingan yang berat bisa berkembang menjadi pertikaian.  Begitu pun ketika Tuhan yang tak berwujud mulai diwujudkan, maka bisa jadi akan muncul saling klaim tentang mana wujud Tuhan yang paling layak dipuja.  Wujud Tuhan pun akhirnya menjadi sumber konflik kehidupan.  

Berbeda bila upaya mewujudkan Tuhan oleh umatnya masing-masing menimbulkan permakluman akan perbedaan taraf kemampuan untuk mengenali-Nya, memusatkan pikiran pada-Nya, maka apa pun bentuk, wujud, rupa atau nama yang diberikan kepada-Nya yang tak terbatas itu tidak akan menimbulkan perdebatan apa pun.  Sebab semua saling memaklumi keterbatasan masing-masing.  

Kita tidak akan saling menyalahkan, karena kita memang terbatas dalam mengenal diri semesta-Nya yang tak terbatas.  Seperti Pak Tino Sidin memberi nilai bagus pada setiap gambar yang dibuat anak-anak, begitulah orang-orang tercerahkan tentang kebenaran Tuhan hanya akan memberi nilai bagus pada apa pun cara yang dipilih umat untuk mencoba mewujudkan Tuhannya, selama itu tidak menimbulkan saling klaim kebenaran. 

Orang-orang tercerahkan akan mudah pula memaklumi bila ada umat yang memilih mendekati Tuhan lewat energi-energi semesta.  Mereka suka pada benda-beda yang mengandung kekuatan atau medan energi tertentu, atau pun benda-benda yang mampu membuat mereka merasa bersemangat dan berenergi.  

Semua itu terasa biasa saja baginya, sama dengan ketika ia melihat ada banyak orang yang merasa lebih percaya diri dan bersemangat hidup ketika memakai berbagai perhiasan mahal atau mendapatkan tahta dan jabatan.  Semua itu hanya pendekatan pada-Nya dalam aspek-Nya sebagai energi. 

Namun bila akhirnya terjebak apalagi melekat dan menggantungkan kepercayaan atau keyakinan diri pada semua benda-benda yang dianggap berenergi itu, keadaan ini pun bisa menyisakan kerugian pada orang tersebut.  Dia menjadi lupa bahwa sumber energi dan semangat terbesar sudah ada dalam dirinya sendiri sebagai manusia dengan kekuatan pikiran dan keyakinan hati.  

Seseorang yang lebih percaya pada benda-benda mistik yang dianggap berenergi itu akan kehilangan kesadaran bahwa dirinya sendiri sesungguhnya adalah benda penuh energi hidup yang diciptakan oleh Kecerdasan Semesta itu sendiri. Itu alasan para Guru Suci suci masa lalu mengajak umat beragama untuk tidak hanya terjebak pada wujud material atau pun energi dalam mendekati Tuhan.  Sebab semua itu hanya akan membatasi diri-Nya yang sesungguhnya tak terbatas.  Bila telah mengenal-Nya sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, kita akan melihat-Nya di mana-mana, dalam setiap perwujudan energi dan ciptaan cerdas di alam semesta ini.  

Semoga mengenal ketiga aspek Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, sebagai Energi dan Materi Semesta, membuat kita lebih memaklumi pilihan masing-masing orang dalam mendekati atau merasa dekat dengan Tuhan-nya.  

Sekaligus mengingatkan diri sendiri agar tidak terjebak hanya pada perwujudan material atau pun hanya pada energi-energi semesta-Nya yang ada dalam keterbatasan di semesta ini.  Apalagi hanya terjebak pada wujud yang kita ciptakan sendiri dengan akal budi (budaya) kita untuk menyatakan kehadiran-Nya, lalu merasa hasil karya cipta kita adalah yang terbaik dan menyalahkan orang lain.   

Biarlah kedewasaan pikiran dan Jiwa kita terus bertumbuh untuk memahami kesemestaan-Nya yang tak terbatas itu, melalui berbagai pengetahuan yang diajarkan para Guru Suci dari masa lalu, masa kini  dan di masa depan.  (*)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia