KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Mengenal Tuhan (2)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 08-Jan-2019, 12:30:34 WIB

KabarIndonesia - Sejak semesta sendiri mengenalkan aspek Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, yang tak berwujud namun terasa mewujud dalam setiap ciptaan-Nya sendiri di seluruh alam semesta ini, semua terasa begitu mengagumkan.  Keajaiban terlihat di mana-mana, bahkan pada rerumputan yang terhampar hijau.  Betapa tidak, daun-daun kecilnya dengan cara yang ajaib mampu menangkap energi cahaya matahari hingga berwarna hijau.  Ketika dimakan oleh hewan-hewan perumput, daun-daun kecil itu berubah menjadi otot dan energi bagi para hewan pemakannya.  Bila proses itu diamati lebih mendalam dengan teknologi mikroskopis, semakin nyatalah betapa keajaiban perpindahan energi matahari ke dalam tubuh hewan-hewan adalah sebuah ciptaan yang sangat cerdas.
 
Melihat  kupu-kupu dengan sayap simetrisnya yang indah, dengan gradasi warna mengagumkan serta begitu detail bagai lukisan seorang maestro, sungguh terasa melihat sendiri betapa cerdasnya proses semesta yang bekerja di dalam penciptaannya.  Dari sebutir telur menjadi ulat bulu yang menggelikan bahkan menakutkan, berubah menjadi petapa dalam sebuah kepompong hingga akhirnya menjelma menjadi kupu-kupu aneka warna.  Terlihat jelas peran Sang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas dalam penciptaan yang mengagumkan itu.
  
Bukan saja peran Sang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu terlihat nyata dalam segala ciptaan-Nya, dalam skenario kehidupan ini pun tampak jelas Dia tetap ada sebagai Sang Dalang di dalamnya.  Coba kita tengok kehidupan liar di padang rumput, di mana peran manusia sangat kecil.  Di sana ada para rusa, kijang, atau zebra serta pemakan rumput dan dedaunan lainnya.  Untuk menyediakan hamparan rumput yang luas, disediakanlah gajah yang bertugas mencerabut pohon-pohon besar agar di sana tidak tumbuh menjadi hutan yang menghalangi cahaya matahari memberi energi dan kehidupan pada rerumputan.  Bila mesti ada beberapa pohon besar yang harus tumbuh di sana sebagai tempat berlindung mahluk hidup lain, maka disediakanlah jerapah untuk memangkas daun-daun pada pohon yang tinggi sehingga pohon itu pun tidak terlalu menghalangi cahaya matahari.
 
Untuk menjaga jumlah hewan-hewan pemakan rumput tetap dalam jumlah yang seimbang dengan luas hamparan rerumputan, disediakanlah hewan-hewan pemangsa seperti singa, dubuk, citah, bahkan buaya.  Meski jumlah mangsa ribuan, namun para pemangsa diciptakan bukan sebagai pemangsa yang rakus.  Mereka hanya makan saat lapar. Itu pun perburuan mereka tidak selalu berhasil, meski buruan mereka berlimpah.  Mereka hanya mampu menangkap mangsa yang lemah, sakit atau tua dan menyisakan hewan-hewan yang terkuat untuk proses seleksi alam.  Selain itu, untuk menjaga jumlah pemangsa agar tidak berlimpah, diaturlah agar di antara mereka sendiri saling memangsa demi meraih kuasa atas sebuah wilayah buruan.  Bukankah skenario kehidupan di alam itu sungguh cerdas?

Skenario penciptaan, pemeliharaan, peleburan yang menjaga keseimbangan siklus kehidupan di alam sana menjadi contoh betapa mengagumkan Kecerdasan Semesta Tak Terbatas bekerja sepanjang waktu, bahkan di semesta yang tak terbatas ini.  Kini lihatlah ke langit. Di sana ada matahari yang besarnya sekitar 109 kali diameter bumi, serta bulan yang besarnya hanya 27% dari besar bumi.  Perbedaan ukuran itu sangat jauh.  Namun lihatlah, ketika terjadi gerhana matahari total, ukuran bulan yang sangat kecil bagi matahari itu mampu menutupi seluruh besarnya matahari.  Sebaliknya, ketika terjadi gerhana bulan, ukuran bumi yang jauh lebih besar dari bulan, justru mampu menutupi besarnya bulan secara tepat.  

Semua keunikan itu hanya bisa terjadi akibat penempatan jarak matahari-bumi-bulan sedemikian rupa di posisinya masing-masing di angkasa.  Manusia mungkin bisa memperkirakan jarak bumi ke bulan dan jarak bumi ke matahari. Namun siapa yang mampu menempatkan jaraknya sedemikian cerdas hingga terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan dengan begitu mengagumkan?  Ada Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang memainkan perannya lewat gaya gravitasi atau hukum-hukum lainnya di alam semesta ini.  Bukankah itu sesuatu yang mencengangkan?  Belum lagi penempatan bintang-bintang di langit menjadi pola rasi bintang sedemikian rupa, sehingga manusia bisa menjadikannya sebagai navigasi di malam hari.

Tidaklah heran bila para astronom, bahkan para pemikir cerdas di jaman kuno dulu sering tercengang oleh keajaiban benda-benda langit lain yang mereka amati. Di nusantara, bahkan para cerdas bijaksana mampu membuat kalender berdasarkan perhitungan bulan, matahari dan bintang-bintang.  Manusia memang bisa mencatat perubahan musim, perubahan iklim dan berbagai siklus alam menjadi kalender yang bermanfaat.  Namun peran Kecerdasan Semesta yang menciptakan itulah yang sesungguhnya lebih mengagumkan lagi.

Namun demikian, mengamati semua keajaiban pada segala ciptaan dan skenario kehidupan di alam semesta ini sungguh akan selalu menyisakan tanda tanya berikutnya.  Dari mana asal dari semua materi alam semesta ini?  Sebab secara akal kita tahu bahwa sesuatu yang ada pasti berasal dari yang pernah ada sebelumnya.  Lalu bila Tuhan adalah awal dari segala yang ada, bagaimana mungkin sesuatu yang abstrak bisa menjadi awal dari apa yang nyata di alam ini?  Dari mana Tuhan mengambil bahan-bahan pengisi seluruh semesta ini?

Sekali lagi saya merasa sungguh beruntung dalam kehidupan kali ini.  Sejak Dia menyatakan diri sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, segalanya makin mudah dimengerti oleh akal saya yang terbatas ini. Jawaban tentang pertanyaan itu pun akhirnya dialirkan setahun setelah catatan tentang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas tertuang menjadi buku Tuhan Segala Agama.
 
Malam itu di tahun 2015, saya dan sejumlah teman dari Jakarta, sesama pejalan yang haus akan pengetahuan tentang-Nya, sedang berdialog di rumah.   Ketika muncul kembali pertanyaan yang sama tentang dari mana asal dari semua material alam semesta ini, tiba-tiba teraliri jawaban yang cukup memuaskan akal kami saat itu.

"Dialah Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang mengisi kekosongan awal di alam semesta ini. Meski sesungguhnya alam semesta ini tiada berawal dan berakhir.  Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu lalu menunjukkan kemampuan-Nya dalam usaha mengisi kekosongan alam semesta ini.  Kemampuan-Nya dalam usaha menciptakan alam semesta itulah yang disebut sebagai Energi Semesta. Sebagian dari Energi Semesta itu lalu memampat atau memadat menjadi Materi Semesta.  Dari sinilah asal mula terwujudnya materi alam semesta.  Materi-materi kecil itu terus terwujud dari Energi Semesta hingga menjadi bahan-bahan padat yang mengisi alam semesta ini sebagai benda-benda angkasa." 

Hanya sekian yang dialirkan malam itu dan kami hanya bisa tercenung dalam keraguan. Benarkah seperti itu prosesnya?  Sebab kami semua saat itu bukanlah ahli-ahli fisika, kimia atau astronom yang mengetahui banyak hal tentang alam semesta.  Namun semesta seakan meyakinkan saya di kemudian hari, saat menonton tayangan ilmu pengetahuan yang dipandu oleh Prof. Brian Cox.  Di sana beliau bercerita tentang hal yang sama seperti jawaban yang dialirkan pada kami malam itu.  Maka lengkaplah sudah pemahaman kami tentangnya.  Ilmu pengetahuan modern dan apa yang diajarkan para penemu Tuhan di masa lalu itu ternyata saling berkaitan.  Aliran pemahaman itu pun terus berlanjut dan tertuang dalam buku Rahasiamu Rahasia-Ku.
 
Saya sungguh percaya bahwa materi semesta itu adalah energi yang memampat.  Sebab ketika inti dari atom sebagai materi semesta terkecil itu ditembak, maka hasilnya adalah energi nuklir yang sangat besar.  Kenyataan paling sederhana adalah ketika kita mendapatkan energi dari makanan yang notabene adalah sekumpulan atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen yang menyatu menjadi karhohidrat.  Energi gelombang Tsunami yang begitu menghancurkan pun dibentuk oleh gerakan atom-atom hidrogen dan oksigen yang menyatu menjadi molekul-molekul air dalam jumlah berlimpah.
 
Energilah yang menciptakan kehidupan ini.  Energilah yang menggerakkan kehidupan ini.  Energi matahari secara nyata menjadi awal bagi kehidupan di bumi.  Air samudra menjadi uap karena energi panas matahari.  Lalu terkumpul menjadi awan dan mendung karena energi dingin di angkasa.  Berhembus ke tempat yang bertekanan rendah di bumi ini karena energi gerak.  Lalu menjadi hujan karena energi gravitasi.  Lalu air mengalir ke tempat yang lebih rendah hingga sampai di samudra karena energi gravitasi di bumi.  Energi memutar siklus air dan siklus kehidupan.  Energi (kemampuan melakukan usaha) dari Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itulah yang menggerakkan segala aspek kehidupan ini. Ketika menjadi energi panas atau dingin, ia bisa dirasakan.

Ketika menjadi energi cahaya (foton), ia bisa dilihat.  Sebab tanpa hadirnya energi cahaya, mata kita tidak akan bisa melihat.  Dari sini saya akhirnya mengerti kenapa orang-orang yang mencari Tuhan seringkali bercerita tentang Dia sebagai Sang Sumber Cahaya.  Para utusan-Nya yang datang ke bumi untuk mengenalkan pengetahuan tentang keberadaan-Nya disebut sebagai Sang Pembawa Cahaya.  Cahaya yang juga disebut Nur atau Div (Sankerta) menjadi tujuan bagi pencari Tuhan yang ingin melihat-Nya sebagai Energi. 
Maka dikenallah bahwa Div (cahaya atau energi foton) adalah manifestasi dari-Nya di alam semesta ini.  Dari kata Div kemudian menjadi kata Diva atau Deva (Dewa).  Lalu diwujudkanlah ilustrasi insani terhadap manifestasi-manifestasi-Nya sebagai Energi Semesta dengan segala kekuatannya masing-masing, demi memudahkan pikiran dan panca indera manusia yang terbatas ini untuk mengenali-Nya yang tak berwujud dan tak terjangkau oleh pikiran terbatas. Pencari lainnya ada yang kemudian mencoba mencari tuntunan cahaya (Nur) itu di dalam diri sebagai cahaya qalbu atau Hati Nurani, agar perjalanan mengarungi kegelapan hidup duniawi ini selalu dalam terang pemahaman dan kesadaran.

Sebagian lagi memilih untuk tidak mencoba mencari-Nya sebagai energi cahaya, melainkan sekadar bisa merasakan kehadiran-Nya dalam rasa.  Maka ada yang terpuaskan ketika mengunjungi tempat-tempat suci yang mampu menggetarkan batinnya oleh kehadiran energi-Nya yang terasa oleh kepekaan batin yang telah terasah.  Mereka menikmati perjumpaan rasa dengan-Nya, meski tak melihat wujud-Nya yang memang tak berwujud.  Getaran batin dan sensasi rasa yang tak terjelaskan menjadi sebuah momen peneguh keyakinan akan kehadiran-Nya.

Memahami aspek Tuhan sebagai Energi Semesta ini membuat saya bisa memaklumi berbagai jalan yang dipilih orang untuk menjumpai-Nya.  Sebab semua jalan yang berhasil membantu Jiwa untuk merasakan sendiri kehadiran-Nya, tak lain adalah cara yang Dia ciptakan sendiri untuk menghadirkan diri-Nya bagi mereka yang tak mampu melihat-Nya sebagai aspek Kecerdasan Semesta tak Terbatas.  Maka saya memaklumi mereka yang merindukan kehadiran-Nya sebagai sensasi getaran rasa, merinding, kerinduan Jiwa, cinta, atau pun rasa lainnya. Saya pun bisa memaklumi bila sebagian orang memilih mencari-Nya sebagai Energi Cahaya atau Nur atau Div, para Dewa dengan segala ilustrasi dan perwujudan karya cipta akal budi (budaya) manusia.

Sebab semua itu satu juga ada-Nya.  Kecerdasan Semesta Tak Terbatas adalah diri semesta-Nya yang tak berwujud.  Energi Semesta adalah kemampuan semesta-Nya yang cerdas dalam usaha penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam semesta yang abadi, tanpa awal dan akhir ini.  Permakluman-permakluman seperti ini sungguhlah mendamaikan.  Kenyataan ini membuat semakin yakin bahwa Dia memang sungguh Maha Kuasa dan Maha Tahu.  Dia tahu bagaimana menjumpai umat-Nya yang tidak mampu melihat-Nya sebagai yang tak berwujud.  Dia hadir sebagai Energi Semesta untuk bisa dirasakan dan dilihat sebagai cahaya.

Kedua aspek Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas dan Energi Semesta yang mengisi segala ruang kosong di alam semesta ini, kembali mampu membuat kita mudah mengerti siapa atau apa yang menjadi isi dari alam semesta tak terbatas ini.  Sungguh saya akan menyesal bila kehadiran-Nya dalam kedua aspek semesta ini pun tidak mampu membuat saya bertumbuh dalam toleransi terhadap kehidupan yang beragam dalam cara menjumpai-Nya.  Tanpa toleransi terhadap keberagaman cara manusia mencari dan menjumpai-Nya, saya menjadi seperti seorang anak yang tidak percaya bahwa karbohidrat tidak harus diperoleh dengan memakan nasi, melainkan juga bisa diperoleh dengan memakan singkong, sagu, roti atau lainnya.

Sedemikian cerdas Tuhan menghadirkan diri semesta-Nya dalam kehidupan ini karena memahami keragaman kemampuan dan tingkat kesadaran kita.  Bagaimana mungkin kita mesti mengabaikan semua itu lewat sikap intoleransi di antara sesama pencari Tuhan?  
"Maafkan kami, Tuhan.  Karena kami tidak tahu apa yang sedang kami lakukan.  Semoga Engkau selalu menuntun kami dengan terang cahaya pengetahuan dari Kecerdasan Semesta-Mu yang Tak Terbatas."  Kuta, 4 Januari 2019, Dr. W. Mustika. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia