KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniICTUS Kalung Emas Menjalani Waktu Kehidupan Tahun 2019 oleh : Danny Melani Butarbutar
19-Jan-2019, 15:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, esok adalah harapan. Ketiganya akan berjalan terus menerus tanpa dapat dihentikanm bergulir seiring perjalanan hidup jagad raya. Manusia menyebut ketiganya sebagai zona waktu, kemarin telah berlalu, hari ini sedang bergerak dan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Filosofi Kopi 20 Jan 2019 01:57 WIB

Senja Kan Berlalu 19 Jan 2019 14:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 
 
ROHANI

Mengenal Tuhan (1)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 08-Jan-2019, 12:30:06 WIB

KabarIndonesia - Sejak kecil saya telah "diperkenalkan" tentang keberadaan Tuhan dengan segala sifatnya yang MAHA, oleh agama yang dianutkan kepada saya oleh orang tua saya.  Tentu saja saya tidak punya kuasa untuk memilih agama apa yang harus saya anut.  Ketika "diperkenalkan" tentang Tuhan (bukan kepada Tuhan), sampai usia 30an tahun saya masih belum benar-benar mengenal-Nya.

Orang tua yang "mengenalkan" saya tentang Tuhan hanya mengajak saya meyakini bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Mereka bilang bahwa Tuhan itu ada di mana-mana, namun tak sekali pun mereka menunjukkan kepada saya yang mana Tuhan yang mereka maksudkan itu.  Saya hanya diceritakan tentang sifat-sifat-Nya yang sungguh membuat masa kecil saya dipenuhi imajinasi liar tentang-Nya.  Masa kanak-kanak yang selalu mengidolakan tokoh Superman, Batman, Spiderman dan berbagai wujud superhero lainnya, membuat saya mencari-cari seperti apa kiranya wujud superhero semesta yang luar biasa di kalangan umat beragama itu. 

Dikatakan, Dia tak terlukai oleh senjata.  Saya membayangkan Dia lebih hebat dari Bhisma yang tak mampu tertembus oleh panah-panah Arjuna kecuali oleh panah Srikandi.  Atau seperti Superman yang tak terlukai oleh berbagai senjata apa pun, kecuali oleh batu dari planet Krypton.  Membayangkan Dia bisa ada di mana-mana seperti The Invisible Man, mampu memasuki setiap ruang bahkan ruang terkecil, bagaikan The Ant Man. 

Imajinasi tersulit yang saya bentuk adalah ketika Dia dikatakan tak terbasahkan oleh air sekaligus tak terkeringkan oleh angin.  Sebab bila Dia tak terbasahkan oleh air, berarti Dia selalu kering.  Namun katanya pula, Dia tak terkeringkan oleh angin, berarti selalu basah.  Dua sifat berbeda dalam satu sosok agung itu sungguh membuat pintu imajinasi saya tertutup, tak sanggup membayangkan tentang sosok-Nya. 

Belum lagi dikatakan Dia itu maha mencipta, namun tak satu pun mampu menunjukkan pada saya bagaimana Dia menciptakan.  Sebab bunga-bunga, kupu-kupu, berbagai kehidupan ini tampak nyata tercipta dengan sendirinya, tanpa terlihat jelas campur tangan Tuhan di dalam proses itu.  Rasanya lebih mudah melihat campur tangan seorang arsitek dalam proses penciptaan sebuah bangunan megah menakjubkan di dunia ini. 

Ketika rasa penasaran tentang Tuhan dan hasrat untuk mengenali-Nya lebih jauh tak lagi terbendung, saya selalu mencoba menanyakan lebih mendalam tentang identitas Sang Kuasa itu pada banyak orang suci, pada buku-buku dan kitab suci, pada ceramah-ceramah berbagai agama.  Namun sayang perjuangan panjang sejak tahun 1980-an itu tak juga terpenuhi oleh hadirnya jawaban yang mampu memuaskan akal sehat saya. Setiap jawaban selalu menyisakan celah untuk diperdebatkan, karena tidak konsisten dengan jawaban lainnya. 

Pikiran saya yang selalu haus akan jawaban-jawaban yang masuk akal, membuat saya terus mencari pengetahuan tentang-Nya yang mampu memenuhi akal saya.  Meski banyak orang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak bisa dicari dengan pikiran, karena Dia itu tak terpikirkan, sedang pikiran kita sungguh terbatas, saya selalu yakin bahwa Dia Maha Mengetahui dan pasti mampu serta memiliki jawaban yang bisa memenuhi akal saya yang terbatas ini.  Bila Dia pun tidak tahu bagaimana memberi jawaban yang masuk akal kepada saya tentang siapa diri-Nya, bagaimana Dia akan dinyatakan Maha Tahu oleh para "penemu" Tuhan di masa lalu. 

Maka seiring waktu, saya terus mencari meskipun tidak selalu fokus seperti sebelumnya.  Saya membiarkan Sang Waktu memilih kapan saat yang menurut-Nya tepat bagi saya untuk mulai mengenal diri-Nya sesuai kapasitas akal saya yang terbatas ini.  Saya percaya, bila murid tidak mampu menemukan gurunya, maka pasti guru itu sendiri yang akan menemukan muridnya.  Bila kita tidak bisa mengenal dan melihat wujud-Nya, maka pasti Dia mampu mengenalkan dan menunjukkan wujud-Nya kepada kita. 

Dan begitulah waktu terus berlalu.  Kuliah di fakultas kedokteran pun tetap tidak mampu memberikan jawaban tentang siapa dan di mana Dia berada.  Katanya Dia ada di dalam diri setiap manusia, ternyata dalam setiap pembedahan mayat di ruang forensik pun saya tidak menemukan sebuah ruangan bekas tempat-Nya pernah berdiam dalam diri manusia.  Sebab untuk setiap ruang yang saya kira adalah tempat Dia pernah ada dalam diri manusia, maka itu seketika membalikkan sifat-Nya yang lain yang ada di mana-mana.  Berarti semestinya Dia ada di seluruh bagian tubuh kita, karena diyakini Dia ada di mana-mana dan tidak ada tempat di mana Dia tidak ada. 

Hingga akhirnya, di bulan Pebruari tahun 2001, di usia 31 tahun, saya mengalami sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya.  Tengah malam itu, ketika tiba-tiba semua pertanyaan sejak kecil tentang-Nya, tentang kehidupan dan kematian, tentang siapa diri kita, kenapa kita ada di kehidupan bumi, kemana nanti setelah kematian, dan berbagai pertanyaan lama itu kembali muncul, saya memutuskan untuk menuliskan semua pertanyaan itu dan menyimpannya dalam sebuah file di komputer.  Berharap kelak apabila akhirnya bertemu dengan Sang Guru, maka semua pertanyaan itu akan ditumpahkan kepadanya. 

Di luar harapan, saat menulis pertanyaan awal "Untuk apa sesungguhnya kehidupan ini?", entah dari mana datangnya jawaban, tiba-tiba tangan seperti digerakkan untuk menulis jawaban; "Kenapa kau tanyakan hal itu?".  Tidak sempat tenggelam dalam kekagetan oleh hadirnya jawaban yang justru kembali bertanya itu, maka tangan ini terus mengalirkan pertanyaan yang terpendam lama.  Dan terjadilah percakapan dalam hening semalam suntuk yang tak menyuntukkan itu.  Jawaban-jawaban yang memuaskan akal saya selalu lebih cepat mengalir dibanding pertanyaan yang dituliskan.  Bahkan sebelum tuntas menuliskan satu kalimat pertanyaan, jawabannya sudah lebih dulu terlintas.  Dialog dalam diam itu pun akhirnya terkumpul menjadi buku Dialog Spiritual. 

Jawaban terindah yang saya dapatkan ketika bertanya, "Siapakah sesungguhnya Engkau, Tuhan?",  sungguh membuat akal saya terasa dipenuhi saat itu.  Serupa seteguk air yang membasahi kerongkongan seseorang yang lama kehausan di tengah perjalanan di gurun pasir.  Jawaban itu hanya mengalir sederhana; "Kupaslah seluruh materi alam semesta ini sampai kau menemukan kekosongan.  Dan Aku adalah yang mengisi kekosongan itu." Ini mungkin jawaban yang belum tuntas, seperti seteguk air yang belum mampu membasahi seluruh sel tubuh yang lama kekeringan, namun rasanya seperti seluruh air samudra merendam tubuh dalam kesejukan. 

Saat itu saya memang belum tahu seperti apa wujud Dia yang mengisi segala kekosongan di dalam materi alam semesta ini.  Namun itu sudah terasa memuaskan.  Mirip seorang anak kecil di kampung terpencil yang puas diberikan mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk.  Imajinasi liar seakan sudah cukup riang terpenuhi hasratnya.  Bila saja ada yang bertanya, "Lalu apa itu yang mengisi segenap kekosongan di alam semesta ini?", saya pasti akan menjawab; "Dia. Tuhan itulah yang mengisi segenap ruang kosong di alam semesta ini." Bila ditanya lagi, "Lalu siapakah Dia atau Tuhan itu?",  saya akan menjawab kembali; "Dia adalah yang mengisi setiap ruang kosong di alam semesta ini."  Saya tidak akan mampu menjawab lebih dari sekadar kata-kata yang dibolak-balik itu, karena hanya itu yang diajarkan dan cukup memuaskan  akal saya saat itu.  Namun di balik jawaban itu, saya diberikan sebuah rasa pemahaman yang tak sanggup diuraikan lagi dengan kata-kata. 

Bersyukur, 13 tahun kemudian, tahun 2014 akhirnya saya mengalami kembali kejadian yang semakin mengisi celah akal saya.  Bila diibaratkan, jawaban tahun 2001 itu serupa batu-batu berukuran lebih besar yang dimasukkan ke dalam stoples kaca dan cukup banyak untuk memenuhi wadah saat itu. Meskipun masih ada celah-celah kecil yang belum terisi.  Maka tahun 2014 itu adalah momen di mana wadah itu dimasukkan kembali dengan butiran-butiran pasir yang mengisi sisa celah yang tertinggal. 

Ketika itu saya sedang berada di rumah seorang teman.  Dia sedang menyapu halaman di mana untuk beberapa saat ada bunga alamanda kuning terjatuh dari pohonnya.  Ketika bunga ketiga terjatuh, tiba-tiba ada sesuatu yang mengalir bersamaan dengan jatuhnya bunga tersebut ke tanah.  "Inilah Aku, Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang mengisi ruang kosong itu". Seketika kata-kata yang mengalir tak terduga itu seakan membawa begitu banyak pengetahuan dan pemahaman.  Persis seperti sebuah judul film yang membawa seluruh kisah di balik judul tersebut, yang kebetulan filmnya pun pernah kita tonton.  

Maka saya memanggil teman saya untuk berhenti menyapu dan mendengarkan penjelasan singkat dari apa yang baru saja saya dapatkan.  Dia membawakan kertas kosong dan pulpen, karena saya harus menggambarkan ilustrasi sebuah atom untuk menunjukkan padanya ruang kosong dalam atom serta Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang ada dalam materi terkecil di alam semesta ini.  Kini aliran pengetahuan itu telah tertuang dalam buku Tuhan Segala Agama. 

Sejak dikenalkan oleh semesta ini tentang aspek Dia sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, dari sanalah seluruh sifat-sifat Tuhan yang pernah diajarkan kepada saya sejak kecil, perlahan bisa saya pahami.  Saya mulai kagum dan berterima kasih pada para "penemu" Tuhan di masa lalu, yang membuat saya menjadi lebih mudah mengenal-Nya melalui setiap petunjuk yang mereka ajarkan itu.  Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas membuat saya mengerti banyak hal tentang sifat MAHA yang disematkan pada-Nya. 

Bahwa Kecerdasan Semesta itu tak terlukai oleh senjata, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, tak terbakar oleh api, ada di mana-mana, meresap ke segala ruang dan waktu, tidak pernah tidur, bahkan tidak berwujud laki-laki atau pun perempuan, tak diciptakan, tak dilahirkan, atau segala sifat-sifat Tuhan lainnya, sungguh tiba-tiba menjadi masuk akal.  Sebab Kecerdasan Semesta itu adalah sesuatu yang ada namun tak berwujud.  Abstrak namun "senyata-Nya" ada di segenap alam semesta tak terbatas ini. 

Dengan memahami-Nya sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, saya dengan mudah mengetahui bagaimana Dia terus mencipta tanpa henti.  Bagaimana rantai DNA yang merupakan kumpulan kode-kode cerdas dalam diri setiap mahluk hidup bisa terbentuk hanya dari 5 jenis atom berbeda (Karbon, Nitrogen, Phospor, Hidrogen, Oksigen) dan tidak pernah sama antara satu individu lainnya.  Saya jadi mengerti bagaimana pohon-pohon mawar yang hidup dari tanah yang sama, sinar matahari yang sama, udara dan air siraman yang sama, bisa menghasilkan berbagai bentuk dan warna bunga yang indah.  Seluruh keindahan ciptaan di kehidupan ini benar-benar mampu menunjukkan "kehadiran"Nya di sana sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang ada di mana-mana, dalam ruang kosong setiap atom pembentuk DNA cerdas dari mahluk-mahluk ciptaan-Nya itu. 

Dari situ, kemana pun saya menoleh dan melihat keindahan ciptaan ini, yang terlihat adalah "wujud" kehadiran-Nya.  Persis kehadiran seorang penyanyi dalam setiap alunan suara yang terdengar pada lagu ciptaannya.  Atau kehadiran seorang pelukis pada setiap goresan garis dan warna di setiap lukisannya. 

Dengan mengenali-Nya dalam aspek ini pula, saya mulai mengerti kenapa Tuhan disebut Maha Esa, karena Dia adalah Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang menjadi Pencipta, Pemelihara dan Pelebur dari alam semesta ini.  Seluruh alam semesta beserta isi dan kehidupan di dalamnya, tidak mungkin tercipta tanpa kehadiran Sang Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu.  Sebagai seorang dokter yang mempelajari berbagai kehebatan sel-sel, jaringan, organ serta sistem organ dalam tubuh manusia dengan kerjanya yang mengagumkan, saya sangat terbantu memahami kehadiran Tuhan dalam diri manusia sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas itu. 

Bahkan Kazuo Murakami, seorang ilmuwan Jepang yang meneliti DNA selama 40-an tahun mengambil kesimpulan menarik setelah mengamati DNA. "Ada Sesuatu yang maha agung berperan dalam penciptaan DNA ini, karena manusia tidak akan sanggup menuliskan kode-kode itu dengan begitu hebatnya." Dan saya dikenalkan pada Sesuatu Yang Maha Agung itu dengan sebutan yang lain: Kecerdasan Semesta Tak Terbatas. 

Tidak terlalu penting apa pun sebutan yang disematkan bagi Sesuatu yang disebut Tuhan dalam berbagai nama-Nya oleh orang-orang beragama, selama itu membuat kita menyadari kehadiran-Nya yang mutlak di alam semesta ini sebagai Sang Maha Pencipta,Sang Maha Pemelihara dan Sang Maha Pelebur, yang menjaga keabadian siklus di alam semesta tak terbatas ini, sesungguhnya hanyalah sebuah cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa ke-esa-an diri-Nya benar-benar tak bisa dibatasi hanya oleh sebuah nama.  Semoga semua umat manusia bersatu dalam ke-esaan-Nya, meski dalam berbagai nama dan rupa berbeda yang diwujudkan bagi-Nya yang tak berwujud.(Bersambung).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia