KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mengancam Tuhan

 
ROHANI

Mengancam Tuhan
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 02-Mar-2019, 09:09:26 WIB

KabarIndonesia -  Wajah Nasrudin menengadah ke atas, lalu bibirnya komat-kamit dengan ekspresi yang tampak sangat serius.  Sejenak kemudian terdengar kata-katanya mengalir. Entah itu doa atau keluh kesah, agak sulit membedakannya. "Tuhan, bila terus seperti ini keadaannya, bila doaku selama ini tidak juga Engkau kabulkan, maka aku berjanji akan berhenti menyebut-Mu Sang Maha Kuasa.  Dan bila dengan berhenti menyebut-Mu maha kuasapun Kau tetap tidak memenuhi doa-doaku, maka jangan salahkan bila aku akhirnya berhenti meyakini bahwa Engkau ada. Jangan harap aku akan pernah bersujud dan menyembah-Mu lagi."

Penduduk kampung yang mendengar doa atau keluh kesahnya itu hanya saling pandang dan bertanya-tanya. Bagaimana Nasrudin sampai begitu beraninya mengancam Tuhan?  Apakah menurutnya Tuhan akan menderita bila dirinya tidak lagi mau menyembah Tuhan?  Tak ada yang bisa memahami jalan pikiran si Nasrudin. Sebab ia memang selalu terlihat aneh cara pandangnya.Maka beramai-ramailah para penduduk mendatangi seorang tua bijaksana di kampungnya. Mereka takut doa-doa Nasrudin yang mengancam Tuhan itu malah membuat Tuhan benar-benar marah dan justru berimbas buruk pada kondisi hasil panen di kampung tahun ini. 

Namun saat tetua kampung yang bijak itu mendengar cerita mereka, ia hanya tertawa geli. "Apakah yang kalian pikirkan dari kata-kata Nasrudin dalam doanya itu? Tak akan terjadi apa-apa.  Nasrudin tidak akan mendapat apa-apa, Tuhan pun tidak apa-apa.  Semua akan baik-baik saja.  Sesungguhnya Nasrudin hanya sedang mengingatkan kalian bahwa hampir semua kita pernah berdoa dengan cara seperti itu pada Tuhan." "Kadang kita bahkan berdoa seperti sedang berdagang dengan Tuhan.  Hanya akan bersyukur bila dapat berkah, hanya akan memuja bila terkabulkan doa-doa kita.  Bahkan bila harapan kita begitu besar dan Tuhan tak jua kunjung memenuhi doa kita, seringkali orang bahkan berani menyalahkan Tuhan atau bahkan mengancam-Nya seperti yang dilakukan Nasrudin."

Para penduduk tersentak. Mereka sadar bahwa sesekali mereka pun memang seperti Nasrudin. "Lalu kenapa kita sering tiba-tiba merasa begitu berani menyalahkan dan bahkan mengancam Tuhan?", tanya salah satu diantaranya dengan rasa penasaran. Lelaki tua itu tersenyum menjelaskan. "Pada dasarnya, ketika manusia mengalami sebuah masalah yang sangat berat dalam hidupnya, awalnya mereka akan menyangkal bahwa diri mereka sedang mengalami masalah yang pelik itu.  Kehilangan sesuatu yang berharga, kekalahan dalam persaingan hidup, kehilangan oleh kematian, mengalami berbagai bentuk kegagalan hidup, atau menderita suatu penyakit yang mengancam kehidupannya, akan mereka sangkal sedang terjadi pada diri mereka. Inilah yang disebut sebagai fase PENYANGKALAN."

"Pada fase pertama ini mereka akan mencoba untuk menyangkal bahwa keadaan itu benar-benar telah terjadi pada dirinya.  Mereka menolak disebut kalah, menolak dikatakan menderita suatu penyakit, menolak bahwa mereka telah kehilangan, atau menolak kematian telah terjadi pada keluarga mereka.  Mereka tetap berharap bahwa semua itu tidak benar-benar sedang terjadi dalam kenyataan hidup mereka."

"Namun ketika semua bukti-bukti dan semua keadaan menyatakan bahwa semua hal yang disangkal itu ternyata benar-benar nyata dan sedang mereka alami, di sinilah orang-orang akan memasuki fase KEMARAHAN.  Mereka akan marah pada keadaan yang sedang terjadi pada diri mereka. Lalu mereka mencari siapa atau apa yang pantas disalahkan."

"Kebanyakan orang awalnya akan berusaha mencari sumber kesalahan atau penyebab keadaan buruk itu di luar diri mereka.  Bila tidak ada yang pantas untuk disalahkan atau dijadikan kambing hitam, mereka mungkin akan beralih menyalahkan diri sendiri.  Namun biasanya orang sulit menyalahkan diri mereka sendiri, karena mereka selalu memiliki alasan pembenaran untuk menghindar dari rasa bersalah itu.  Maka mereka pun mulai menyalahkan takdir dan nasib."

"Bila kemarahan dan pengalihan kesalahan kepada segala sesuatu di luar diri, termasuk pada ketimpangan takdir pun ternyata tidak mengubah keadaan, maka mulailah orang akan mencoba melakukan tawar menawar.  Entah tawar menawar dengan orang yang dianggap berkuasa atas kesembuhan, keberhasilan atau kemenangan mereka, itu akan mereka lakukan. Bahkan mereka akan melakukan tawar menawar dengan Tuhan.  Inilah yang disebut fase TAWAR MENAWAR."

"Pada fase ini, seseorang mungkin tawar menawar dalam bahasa yang merendah. Misalnya dalam doa akan mencoba berjanji atau memanjatkan kaul, bahwa ia akan melakukan sesuatu yang berharga pada dirinya atau pada orang lain, bila Tuhan mau mengubah takdir itu sesuai harapannya. Inilah doa yang mirip berdagang dengan Tuhan."

"Kadang seseorang yang mulai putus asa karena doa-doa mereka tak juga terpenuhi oleh-Nya, akan mulai memanjatkan doa yang berisi ancaman kepada Tuhan.  Ini adalah doa-doa yang didorong oleh rasa putus asa yang kian mendekat."
"Ketika doa yang berisi ancaman pun tak membuat Tuhan tergerak untuk mengabulkan harapan mereka, dari sini batin mereka mulai putus asa.  Manakala putus asa tak tertahankan dan keadaan kian memburuk, di sini batin seseorang mulai kian tertekan dan terjadilah fase DEPRESI."

"Apabila mereka mampu melewati fase putus asa dan depresi itu dengan berbagai cara, batin mulai bisa tenang dan menerima kenyataan, mulai berhenti menyalahkan siapa pun atas apa yang sedang mereka alami, di sinilah seseorang mulai memasuki fase PENERIMAAN ikhlas atas semua hal yang tidak menyenangkan itu."

Mendengar penuturan tetua kampung itu, semua yang mendengarnya mulai mengangguk. Ada secercah pengertian mereka rasakan.  Tetua itu melanjutkan kata-katanya. "Nah, ajaran agama dan berbagai latihan di dalamnya sesungguhnya bermanfaat untuk mengantar batin setiap orang agar mudah sampai pada fase PENERIMAAN ikhlas ketika mengalami suatu masalah.  Sebab keajaiban dalam hidup justru biasanya dimulai saat pikiran dan perasaan seseorang mulai bisa ikhlas menerima kenyataan.  Inilah hakikat dan pentingnya batin yang berada dalam keikhlasan serta kepasrahan mendalam.  Sebab saat itulah Tuhan sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas akan memulai kerja semesta-Nya untuk mewujudkan doa-doa manusia menjadi kenyataan."

"Sedangkan pada fase-fase sebelumnya, doa-doa yang dipanjatkan itu tidak akan mudah menjadi kenyataan karena dikacaukan oleh pikiran yang dipenuhi emosi dan ego negatif.  Itulah alasan kenapa doa mesti diucapkan dengan pikiran dan hati yang suci, bebas dari kemarahan dan muatan ego negatif." Semua penduduk yang mendengar kata-kata terakhir tetua itu perlahan merundukkan kepala.  Mereka menyadari ada yang keliru dalam cara mereka memanjatkan doa selama ini.  Ternyata Nasrudin sedang mengajari mereka sesuatu dengan caranya.(*)

Kuta, 2 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia