KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Internasional oleh : Tonny Djayalaksana
24-Aug-2019, 15:51 WIB


 
 
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mengaku Beriman (2)

 
ROHANI

Mengaku Beriman (2)
Oleh : Syaiful Karim | 12-Feb-2019, 15:14:21 WIB

KabarIndonesia - Orang tua Saya seorang tokoh Agama. Kami sebelas bersudara. Sejak kecil kami telah mewarisi Agama , karena mengikuti Agamanya orang tua Kami. Sejak kecil Kami diajarkan bahwa setiap orang yang telah mengaku beragama , sekaligus juga sebagai orang beriman. 

Setelah Kami dewasa, setelah Kami berlaku jujur kepada diri Kami sendiri, setelah Kami belajar kesana-kemari, bahkan lintas keyakinan, Kami menemukan sebuah kesadaran, bahwa Kami belum beragama, melainkan MENGAKU BERAGAMA. Kami belum beriman, melainkan MENGAKU BERIMAN. Karena memang sejak kecil hanya diajarkan "MENGAKU SAJA".   
Bagi Saya,  IMAN itu lawan kata dari KAFIR. Iman artinya TERBUKAnya mata qolbu, sementara Kafir artinya TERTUTUPnya mata qolbu. Mata qolbu yang tertutup tidak bisa dibuka dengan khutbah-khutbah Agama. "Sesungguhnya orang-orang yang tertutup, sama saja bagi mereka, diberi peringatan atau tidak, tetap saja mereka tertutup" (Q.S 2:6).    
Khutbah-khutbah Agama tidak akan bisa membuat mata qolbu seseorang yang tertutup menjadi terbuka, karena untuk membukanya diperlukan sebuah kunci pembuka. "Barang siapa yang ingin berjumpa dengan Tuhannya, maka lakukanlah AMAL SHOLEH " (Q.S 18:110). Kunci Pembuka itu dalam Al-Qur'an disebut Amal Sholeh. Berarti Amal Sholeh itu adalah CARA untuk berjumpa dengan DIA.    

Sejak awal kelahirannya ke alam dunia ini, setiap manusia sudah dibekali KUNCI PEMBUKA mata qolbu yang sudah terintegrasi dengan tubuhnya yang amat sempurna. Maka Tubuh manusia adalah KITAB SUCI tertua yang ditulis sendiri oleh "TANGAN TUHAN". Tubuh manusia adalah tempat dimana "KITAB SEJATI" tentang diri diletakkan. "Bacalah KITABmu! Cukuplah hal itu sebagai JURU HISABMU" (Q.S 17:14).   

Tubuh manusia dirancang oleh Allah Sang Pencipta sesuai dengan rencanaNya, yaitu untuk MENGENAL DIA. "Dialah Allah yang telah merancang tubuhmu dalam Rahim, sebagaimana yang telah Dia rencanakan" (Q.S 3:6). Itu sebabnya kewajiban untuk berkunjung ke "RUMAHNYA", menjadi kewajiban mutlak setiap manusia. "Dan Allah mewajibkan setiap manusia untuk berkunjung ke RUMAHNYA, bagi mereka yang tahu jalannya" (Q.S 3:97)    

Iman harus dimulai dengan sebuah perjalanan spiritual ke dalam diri. Bagaimana bisa meyakini sesuatu kalau Kita belum mebuktikannya, belum menyaksikannya, belum mengalaminya. Iman adalah sebuah pengalaman spiritual. 

"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu dalam Sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak berguna. Dan orang-orang yang sealu membersihkan dirinya. Dan orang-orang yang selalu menjaga kehormatannya. Dan orang-orang yang selalu menjaga amanat dan yang dipikulkan kepadanya. Dan orang-orang yang selalu menjaga janjinya. Dan orang-orang yang selalu menjaga Sholatnya. Itulah orang-orang yang mewarisi Syurga Firdaus, dan kekal di dalamnya" (Q.S 23:1-11).   

MENGAKU BERIMAN, tidak akan pernah bisa mencapai Sholat Khusyu, yaitu Sholat yang mengingat Allah (Q.S 2:45-46). Tentu saja Syarat-sah-nya mengingat, harus tahu yang diingat. Kita tak akan pernah berhasil mengingat sesuatu yang Kita belum tahu dan belum menyaksikannya. Sholat yang tidak Khusyu tidak akan berhasil mencegah seseorang dari perbuatan KEJI dan MUNKAR.   

Makanya tidak heran kalau disana-sini kekerasan dan kejahatan masih merajalela. Menjadi tidak heran kalau disana-sini penipuan, korupsi, merampas hak orang, tindakan semena-mena tanpa perikemanusiaan, dan lain-lain masih menjadi pemandangan harian yang dapat kita saksikan. Dan semua itu dilakukan kebanyakan oleh mereka yang mengaku beriman.

 Orang yang beriman, tidak mungkin melakukan hal yang demikian.   Orang yang mengaku beriman, tidak mungkin dapat menjauhkan diri dari segala hal yang tidak berguna. Menyakiti orang lain, merusak keseimbangan alam, menyebarkan hoaks dan berita bohong, menebarkan kebencian, merusak persatuan dan terus menimbulkan perpecahan, tidak bisa menerima dan menghormati perbedaan, merasa dirinya paling benar, merasa dirinya paling hebat, merasa kelompoknya yang paling super, merendahkan derajat dan martabat orang lain yang berbeda dengan dirinya, dan lain-lain, merupakan pemandangan harian yang dilakukannya. Hal-hal yang semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beriman.   

Orang yang mengaku beriman, tidak mungkin dapat menjaga kebersihan Jiwa dan Pikirannya. Setiap saat yang dilakukannya adalah mengotori pikiran dan Jiwanya. Pikirannya mudah terlempar ke masa lalu untuk mengingat segala hal yang menyakitinya. Sulit memaafkan dan menerima kenyataan.  Selalu hidup di masa lalu dan sulit bangkit. Menyimpan dendam kesumat dan kebencian. Pikirannya mudah terlempar ke  masa depan dengan kecemasan dan kekhawatirannya. Dan tidak pernah bisa hidup di saat ini sepenuhnya. Hal-hal yang semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beriman.   

Orang yang mengaku beriman mudah tersinggung dengan hal-hal yang sepele. Bahkan hal-hal kecilpun bisa menjadi besar, karena dibesar-besarkan dengan pikiran sempit dan piciknya . Mudah menyesali keadaan. Selalu mencari kambing hitam dan menyalahkan pihak lain ketika mendapatkan yang tidak diinginkan. Selalu ingin mengontrol pihak lain agar sesuai dengan keinginan dan ambisi pribadinya. Memaksa pikiran pihak lain agar selalu sesuai dengan  pikirannya. 

Senang sekali dengan perdebatan dan meruncingkan perbedaan pendapat, menebarkan fitnah dan kebohongan. Selalu hidup dengan pembanding, dan tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Hal-hal yang semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beriman.   

Bagi orang yang mengaku beriman, ketika masalah datang benar-benar sebagai masalah. Bagi orang yang beriman, ketika masalah datang disambut dengan  senyuman. Bagi orang beriman, masalah adalah undangan untuk memasuki gerbang spiritualitas  mendalam. Dengan ketenangan dan kelembutannya, masalah bahkan diolah menjadi berkah spiritual. Bahkan puncaknya iman itu adalah boundless capacity to suffer, yaitu kemampuan untuk menderita secara tak terbatas. Kemampuan untuk berpelukan dengan penderitaan pun semakin hari semakin melebar. 

Berbeda sekali dengan orang yang mengaku beriman, selalu tidak siap menerima yang tidak diinginkan, bahkan selalu menolak penderitaan. Kemampuan untuk berpelukan dengan penderitaan, semakin hari semakin menyempit.   

Bagi orang yang mengaku beriman, rasa sakit yang datang menambah penderitaan. Bagi orang yang beriman, rasa sakit yang datang  ditempatkan sebagai amplas yang menghaluskan. Ia senantiasa memberi tempat pada apa saja dan pada siapa saja untuk bertumbuh. Orang beriman itu seperti pohon. Siapa pun yang berteduh di sana diperbolehkan, tanpa memilh-milih. Pohon terus bertumbuh mendekati cahaya.   

Pohon mengambil berkah makanan dari semesta dan mengembalikan seluruh berkah buah yang dihasilkannya kepada semesta. Pohon selalu diam dan hening, tetapi tak pernah berhenti untuk bertumbuh dan berkarya. Pohon mengubah racun karbondiaoksida menjadi oksigen yang berlimpah untuk manusia. Akarnya selalu tumbuh dalam kegelapan. Akarnya terus menyalurkan makanan dan berkah untuk dahan, ranting, daun, dan buah, tetapi tetap saja bersembunyi di dalam tanah tanpa ingin diketahui perannya.   

Orang yang mengaku beriman, selalu mengusir kegelapan dengan kegelapan. Melawan kejahatan dengan kejahatan. Berbeda dengan orang yang beriman. Ia tidak pernah mengusir kegelapan dengan kegelapan, ia mengusir kegelapan dengan mendatangkan cahaya terang yang menyejukkan. Ia mampu memberikan cinta kasihnya kepada orang-orang yang membencinya. Ia mampu menyayangi orang-orang yang memusuhi dan menjatuhkan nama baiknya. Ia mampu memaafkan tanpa syarat orang-orang yang memfitnahnya.   

Pikiran dan Jiwa orang yang mengaku beriman, selalu diliputi oleh awan kegelapan. Penuh kebingungan dan penghakiman. Pikiran dan Jiwa orang yang beriman, penuh dengan kasih sayang. Pertanyaannya : APAKAH KITA ORANG BERIMAN ATAU ORANG YANG MENGAKU BERIMAN? Tentu saja jawaban jujurnya ada pada diri kita masing-masing. (Bersambung)  

(Syaiful Karim ; Pembina Perguruan Spiritual Itsbatulyaqiin)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
DI ATAS LANGIT ADA LANGIT 23 Aug 2019 14:03 WIB


 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia