KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
24 Tahun Tenggelamnya KMP Gurita 18 Mei 2019 04:40 WIB

 

Menapaki Jalan Beragam Agama (2): Menuju Kesadaran Semesta dan Semesta Kesadaran

 
ROHANI

Menapaki Jalan Beragam Agama (2): Menuju Kesadaran Semesta dan Semesta Kesadaran
Oleh : Tonny Djayalaksana | 10-Mar-2019, 14:51:08 WIB

KabarIndonesia - Dalam tulisan "Menapaki Jalan Beragam Agama (1)" telah saya ungkapkan bahwa untuk menjadi beriman atau bergama itu orang harus kenal dulu atau mengenal dengan Tuhannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Nabi Muhamnad SAW yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits, sebagai berikut: AWALUDDIN  MARIFATTULLAH=AWALNYA BERAGAMA ITU HARUS KENAL ALLAH DULUAN.

Dan ironisnya, yang dipraktekan sekarang adalah beragama atau menjalankan syariat agama dulu. Kenal dengan Allahnya nanti di akhirat. Setelah kita meninggal dunia. Akibatnya banyak praktek-praktek ritual agama yang belum benar. 

Begitu juga tatkala menafsirkan dan mengamalkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, banyak yang belum sesuai dengan hakekat maknanya. Karena sesungguhnya semua Nabi dan Rasul sebelum beragama, mereka-mereka itu berjumpa dengan Tuhan/Allah dulu, setelah itu, baru mengamalkan.       
Penjelasan-penjelasan di atas tadi adalah mengenai Agama atau Spiritualitas, yang sifatnya Gaib/Tidak Nyata. Namun kehidupan yang sedang kita jalankan sekarang ini adalah sebuah kenyataan. Menurut pemahaman saya, justru kita harus mengacu kepada yang nyata terlebih dahulu. Alasannya, yang nyata inilah yang mudah dipahami, dianalisa dan di buktikan kebenarannya.     

   
Mengacu kehidupan umat beragama saat ini, menurut saya sudah ada pada titik kesadaran yang sangat rendah. Pemeluk beragam agama yang ada di semesta ini merasa agama merekalah yang paling benar. Sebut saja agama Islam, Nasrani, yahudi, Hindu, Budha dan seterusnya. Masing-masing mereka mengklaim bahwa agama merekalah yang paling benar. Karenanya timbul pertanyaan dalam diri saya, adakah jalan atau cara untuk bisa menyatukan semua agama ke dalam satu kesepahaman? 


Jawabannya mungkin sulit untuk sampai bisa terwujud. Pasalnya, masing pemahaman tersebut sudah mengakar selama berabad-abad. Lalu saya berpikir, sesulit apapun harus dicoba agar kita tahu sampai dimana tingkat kesulitannya dan apa penyebab utamanya?       

Untuk mengurai semua pemahaman yang sudah sedemikian ribetnya, yang pertama harus dicari sumber permasalahannya. Menurut pemahaman saya, adanya hari ini tentu tidak terlepas dengan hari-hari sebelumnya. Adanya saya di semesta saat ini, tentu juga tidak terlepas dengan adanya ayah, ibu saya, kakek, nenek saya, eyang, uyut, leluhur-leluhur saya dan seterusnya. Jika dirunut terus akan sampai ke ujungnya yaitu DIA (Allah). 

Begitu juga kalau semua yang ada di semesta ini. Jika kita runut ke belakang terus ujungnya akan sampai kepada DIA (Allah) juga. Maka sering saya tulis di semesta ini yang mana yang bukan DIA (Allah)? Semuanya adalah DIA (Allah). Hal ini sesuai dengan ayat Al-Quran dalam surat Al-Hadid ayat 3, Allah berfirman: AKU YANG AWAL AKU YANG AKHIR, AKU YANG NYATA AKU YANG TIDAK NYATA DAN AKU MAHA MENGETAHUI.       

Setelah kita mengetahui bahwa di semesta ini semuanya adalah DIA, lalu pertanyaannya adalah, untuk apa DIA menciptakan Alam Semesta berikut isinya ini?        

Puluhan tahun saya mencari jawabannya. Akhirnya menemukan satu ayat yang diriwayatkan dalam Hadits Qudsy yang berbunyi sebagai berikut: AKU (ALLAH) ADALAH PERBENDAHARAAN YANG TERSEMBUNYI, AKU INGIN DIKENAL, MAKA AKU CIPTAKAN CIPTAAN-CIPTAANKU, MELALUINYA AKU DIKENAL.       

Pertama kali saya mendengar ayat ini dibacakan oleh guru saya, dalam diri saya seperti ada yang teriak, "Ini awalnya semua kejadian yang ada di alam semesta ini!" Sungguh membuat saya sangat terkejut. Setelah itu, lama saya merenungi hakekat makna dari ayat Hadits Qudsy tadi.       Setelah hampir 39 tahun saya mencari jawaban, untuk apa Tuhan/Allah meciptakan alam semesta ini? Baru kali ini saya merasakan bahwa ayat Hadits Qudsy tadi adalah sebagai jawaban yang selama ini saya cari. Menurut saya memang ayat inilah yang memang paling relevan.       

Kita bisa buktikan kebenarannya dengan realita yang terjadi dikehidupan semesta selama ini. Bermula dengan peradaban manusia di zaman purba sampai pada peradaban saat ini yang sedang saya jalani. Dari zaman ke zaman semua karya-karya bangunan, maupun kebudayaan, dari peradaban beralih keperadaban selanjutnya. Tidak ada satupun yang abadi. Semua bersifat temporer, yaitu diciptakan, dipelihara, dihancurkan dan didaur ulang, secara terus menerus dan silih berganti. Itu sudah bisa dijadikan bukti bahwa Tuhan/Allah hanya ingin dikenal dan disesuaikan dengan peradaban pada zamannya. 

Semua karya-karya yang dibangun melalui perpanjangan tangan makhluk atau manusia pada zaman perdabannya akan dipelihara sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian dihancurkan dan didaur ulang. Diganti dengan karya-karya baru yang disesuaikan zaman dan peradabannya saat itu.  Hal itu dilakukan secara terus menerus entah sampai kapan? Hanya Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas saja yang tahu.        

Setelah mengetahui alasan untuk apa Tuhan/Allah menciptakan Alam Semesta ini? Selanjutnya kewajiban kita  adalah mengetahui siapa diri sejati kita sesungguhnya? Lalu dilanjutkan lagi dengan pertanyaan, "Untuk apa kita (manusia) dihadirkan disemesta ini? Sedangkan sebagai pertanyaan pamungkas adalah, "Dari mana asal kita dan kemana kita akan kembali nanti?"       

Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban ini sudah sering saya tulis di artikel-artikel saya yang lain dan buku perdana saya yang berjudul AKU BERSAKSI ALLAH MAHA NTATA. Jadi di sini saya tidak perlu mengulang lagi.           

etelah mengetahui tujuan Allah menciptakan alam semesta ini hanya untuk dikenal, dan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hadir di semesta ini semata-mata hanya untuk mengabdi dan berkarya untuk kepentingan-Nya, sudah seharusnya kita memelihara tingkat kesadaran kita ini. Jangan sampai terkontaminasi oleh ego dan keinginan pribadi kita, agar kelak bisa kembali dengan tanpa hambatan, keharibaan-Nya.       

Sungguh saya sangat mendambakan seluruh manusia yang ada di semesta ini mempunyai tingkat kesadaran yang sama. Sehingga bisa tercipta suasana damai, sejahtera dan bahagia.       

Berbekal ilmu yang sangat minim, saya memberanikan diri untuk mulai melangkah. Ditambah bahwa usia saya yang sudah lanjut, tentu saja saya sadar akan banyak tantangan yang menghadang. Tapi spirit saya mengatakan "Never Give Up". Pasalnya saya yakin bahwa Allah tidak kenal dengan kata "Tidak". Maka saya bertekad akan mencurahkan segenap pikiran dan kemampuan saya yang sejak lahir sudah dititipkan Tuhan/Allah sebagai Sang Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, demi terwujudnya cita-cita ini.   

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now 
ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT www.djayalaksana.com       ***       

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia