KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Memilih Pemimpin

 
ROHANI

Memilih Pemimpin
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 13-Apr-2019, 04:16:21 WIB

KabarIndonesia - Hiruk pikuk dalam pemilihan ketua kampung tahun ini membuat Joko Kendal terseret dalam pusaran arus pergolakan yang menenggelamkan.  Suasana perdebatan yang kian memanas, perpecahan antar teman dan sahabat, bahkan kedekatan persaudaraan yang perlahan menjauh, sungguh terasa olehnya.  Ia tidak mungkin mengambil sikap tak acuh terhadap perhelatan besar ini.  Sebab ia tidak ingin ketidakpeduliannya justru membuka ruang gelap kehidupan baginya sendiri.

Namun memilih satu di antara para calon pemimpin tidaklah mudah.  Sebab masing-masing memiliki tujuan dan cita-cita besar yang sama apabila mereka terpilih.  Entah mereka mengungkap kebenaran atau hanya pembenaran, semua harapan-harapan yang mereka bangun sebagai janji-janji kehidupan bagi pemilihnya sungguh terasa menarik untuk direnungkan.

Ketika semua janji terasa manis di tengah kepahitan hidup yang dirasakan, Joko Kendal malah terjebak dalam kebingungan.  Bila semuanya adalah calon pemimpin yang baik, maka ia terbingung untuk memilih yang terbaik di antara yang baik.  Bahkan jika semua calon itu buruk, ia tidak ingin kelak dirinya dipimpin oleh pemimpin terburuk di antara yang buruk.  Setidaknya ia bisa memilih pemimpin yang keburukannya lebih sedikit dibanding kebaikannya yang tersisa.

Maka ia menemui kembali Nasrudin yang selalu mampu menenangkan dan memberi uraian terang bagi kebingungannya.  Ini bukan hanya tentang memilih pemimpin dalam tatanan masyarakat, juga menyangkut memilih pemimpin agama.  Sebab keduanya saling berkaitan. 

Ketika mengungkapkan sumber kebingungannya dalam memilih pemimpin terbaik dalam pemerintahan dan agama, Nasrudin dengan tegas membuka hatinya.

"Kawanku, Joko Kendal.  Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk memilih seorang pemimpin di antara para calon pemimpin.  Justru lebih sulit pada saat menemukan para calon pemimpin yang pantas untuk dipilih salah satunya.  Sebab memilih satu di antara dua atau lebih calon, hanya dibutuhkan kecermatan kita melihat perbandingan di antara mereka."

"Sedangkan untuk menemukan para calon pemimpin yang layak dijadikan pemimpin, kita perlu mengenali seluruh bagian dari diri sang calon pemimpin itu. Kita harus mencocokkan berbagai syarat yang baik yang mesti dimiliki seorang calon pemimpin."

"Jika kita sudah menemukan beberapa calon pemimpin, kita tinggal melihat mana yang lebih baik di antara mereka.  Sebab para calon itu telah melewati saringan syarat-syarat yang cukup layak untuk diterima sebagai calon pemimpin.  Sekarang tinggal memilih pemimpin yang layak untuk dimenangkan.  Syaratnya hanya satu, pilihlah pemimpin yang akan menang."

Mendengar syarat terakhir yang disampaikan Nasrudin, Joko Kendal tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha... kamu lucu Nasrudin.  Bagaimana mungkin kita memilih pemimpin yang akan menang, sementara kemenangan seorang calon pemimpin baru terlihat nyata setelah ia dipilih dengan suara terbanyak."

Nasrudin tersenyum. "Begitulah jika kamu tidak waspada dengan setiap kata-kata, kawanku.  Pilihlah pemimpin yang akan menang dalam penilaianmu terhadap kebaikan-kebaikan yang kau harapkan dari seorang pemimpin.  Pilih dia yang mampu memenangkan hatimu, memenangkan cintamu, mampu memenangkan hati dan cinta rakyat banyak."

"Pilih pemimpin yang bahkan telah mampu menang dalam pertempuran kepentingan ego dalam dirinya.  Sebab apabila seorang calon pemimpin masih kalah melawan egonya sendiri, kelak ia akan memimpin dalam kuasa kendali kegelapan egonya.  Negeri yang bangsanya dipimpin oleh pemimpin yang dikuasai kegelapan ego, akan memberi teladan yang sama kepada bangsanya.  Di situlah sebuah negeri akan hancur oleh kegelapan ego seluruh bangsanya.  Pertikaian ego antar sesama anak bangsa akan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara,"

"Pilih pemimpin yang akan memenangkan kesejahteran seluruh rakyatnya, memenangkan keadilan dan kedamaian di negerinya.  Pilih pemimpin yang akan mampu menjaga kekayaan tanah, air, budaya dan segala warisan luhur para pendahulunya.  Bila seorang pemimpin gagal menjaga warisan budaya leluhurnya, di situ negeri itu akan hancur.  Sebab kehancuran sebuah negeri dimulai oleh kehancuran budaya yang dimiliki oleh bangsa tersebut.  Sejarah telah membuktikan kebenaran ini, kawanku."

"Begitupun jika kau memilih seorang pemimpin agama, kau hanya perlu memilih dia yang mampu membawamu pada tujuan hadirnya agama di muka bumi ini.  Tujuan agama adalah menjadikan Jiwa manusia kembali penuh cinta kasih, hidup dalam kedamaian, tenteram dalam kebersamaan dan keberagaman, menemukan kebahagiaan sorga dalam kehidupan. Dan masih banyak tujuan kebaikan lain yang diajarkan agama."

"Maka temukan calon pemimpin agama yang banyak menebar kesejukan dan bukan menebar bara api panas yang membakar ego.  Pilih dia yang menenangkan dan bukan menggelisahkan batinmu, menerangi kegelapan batinmu dan bukan justru menyelubunginya dengan kebencian, kemarahan dan kegelapan ego lainnya."

"Jika kau menemukan calon pemimpin agama atau bahkan dia yang sudah menjadi pemimpin agama, namun ajaran dan ajakannya justru mengantarmu menjadi pribadi yang penuh kekerasan, menciptakan kehancuran di muka bumi, menjadikanmu pribadi yang jauh dari sifat kedamaian dan cinta kasih, mengajakmu menciptakan neraka penderitaan di kehidupan bumi, segeralah menjauh dan jangan memilihnya."

"Ah, sebenarnya aku bahkan tidak perlu menjelaskan hal ini panjang lebar kepadamu, Joko Kendal.  Sebab ini adalah perkara kecil dan sudah biasa.  Semua syarat memilih pemimpin yang baik itu sudah pasti kau pahami.  Kau hanya tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, ketika kau masih menutup mata hatimu untuk melihat dan membedakan mana kebaikan dan mana keburukan dalam sifat diri seorang calon pemimpin."

"Bukalah mata hatimu agar setan tidak menutupinya.  Lalu biarkan cahaya malaikat dalam dirimu menuntunmu melihat dengan jelas mana kebenaran dan mana pembenaran yang disampaikan dan ditunjukkan para calon pemimpin itu.  Niscaya setelah itu kau tidak akan kesulitan menentukan pilihan."

Joko Kendal sejak tadi terdiam.  Ia membenarkan kata-kata Nasrudin. Ia sadar, kegelapan dan kebingungan ini berasal dari dirinya sendiri yang belum benar-benar menggunakan mata hati untuk melihat yang bajik di antara yang batil, melihat malaikat sejati di antara para setan yang berjubah malaikat.(*) Kuta, 13 April 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia