KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiJababeka Senior Living Luxury Retirement Home oleh : Kabarindonesia
08-Des-2019, 09:41 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jababeka Senior Living mempersembahkan Luxury Retirement Home, suatu konsep konsep layanan hunian bagi Senior (lansia) dengan standar hotel bintang empt tetapi perhatian dan kepeduian team Care sebagaiman layaknya tinggal di rumah sendiri yg penuh kasih sayang. Home Sweet
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Opera Afeksi 08 Des 2019 14:27 WIB

Perih Paling Parah 26 Nov 2019 19:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Memahami Agama Secara Logika (3): Iman Itu Adalah Percaya yang Bisa Dipertangungjawabkan

 
ROHANI

Memahami Agama Secara Logika (3): Iman Itu Adalah Percaya yang Bisa Dipertangungjawabkan
Oleh : Tonny Djayalaksana | 08-Apr-2019, 14:56:34 WIB

KabarIndonesia Setelah pada tulisan "Memahami Agama Secara Logika (1) dan (2)" sebelumnya, saya sudah memaparkan unsur logika dalam rukun Islam kesatu hingga keempat, maka di bagian ke (3) ini kita lanjutkan pembahasan kita mengenai rukun Islam yang terakhir.

Rukun Islam ke-5 sebagai rukun Islam yang terakhir yaitu: Menunaikan Haji. Berhaji ke rumah Allah itu hukumnya wajib bagi semua manusia sesuai dengan surat Al-Quran Al Hajj ayat 28 dimana Allah berfirman "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka..." Adapun arti ayat ini, haji adalah tamu. Maka berhaji itu artinya berkunjung ke rumah Allah. Lalu pertanyaannya, "Dimana hakekatnya rumah Allah itu?"  

Menurut riwayat sebuah Hadits Qudsy: LANGIT DAN BUMI NISCAYA TIDAK MAMPU MENAMPUNG DZATKU (ALLAH), AKAN TETAPI QOLBUNYA ORANG IMAN ITULAH SEBENAR-BENARNYA RUMAHKU (ALLAH).      
  
Dan ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa: ALLAH ITU DEKAT, BAHKAN LEBIH DEKAT DARI URAT NADI LEHERMU (QS 50 : 16). DAN APABILA HAMBA-HAMBAKU BERTANYA TENTANG AKU, MAKA JAWABLAH BAHWASANYA AKU ADALAH DEKAT (QS 2 : 186) DAN (INGATLAH) KETIKA KAMI WAHYUKAN KEPADAMU: "SESUNGGUHNYA TUHANMU MELIPUTI SEGALA MANUSIA" (QS 17 : 60)

 Jadi setiap manusia itu wajib berkunjung ke rumah-Nya Allah yang berada di dalam Qolbunya masing-masing. Karena sesungguhnya pada Qolbunya setiap manusia itulah sebenar-benarnya rumah Allah. (Sangat logis). 


Jika firman Allah dalam ayat-ayatnya sudah jelas mengatakan bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi leher setiap manusia, maka timbullah pertanyaan, mungkinkah jika Allah itu dekat bersama kita, namun rumahnya jauh berada di Mekkah Saudi Arabia? 

Menurut saya, hal ini tentunya sangat Tidak Koheren/Tidak Nyambung. Ditambah lagi dalam Al-Quran surat Al-Quraisy ayat 3, Allah berfirman: MAKA SEMBAHLAH TUHAN YANG PUNYA RUMAH INI. Bukankah itu artinya sembahlah Tuhannya? Bukan malah menyembah rumahnya. 


Namun yang dipraktekkan oleh mayoritas umat Islam saat ini, termasuk juga diri saya sendiri sebelum ini, semuanya menyembah rumahnya bukan menyembah Tuhannya. Karenanya memunculkan pertanyaan lagi, "Kalau begitu apa bedanya dengan yang dilakukan di zaman Jahiliyah dulu yang menyembah Berhala dalam rupa Patung yang terbuat dari Batu? Bukankan Ka'bah juga buatan manusia dan bahannya juga terbuat dari batu?         



Kita beralih ke rukun Iman. Karena hakekat dari keenam rukun Iman itu adalah PERCAYA, maka menurut saya inti pembahasannya cukup dengan mendefinisikan hakekat makna Iman secara LOGIKA, dan cukup itu saja.         
Bagi saya, Iman itu bukan hanya sekedar percaya. Apalagi asal percaya secara taklid buta tanpa ada proses menyaksikan, mengenali, dan memahaminya. Bukankah menurut salah satu yang diriwayatkan Hadits, Rasullulah SAW bersabda: Adapun definisi kata IMAN itu harus melalui 3 tahapan yaitu: 
1. Pembenaran oleh Qolbu, 
2. Diucapkan dengan Lisan, dan 
3. Diamalkan dengan Perbuatan. Ini diperkuat lagi dengan satu lagi sabda Rasullulah SAW yang berbunyi: MAN LAM YADZUG LAM YA'RIF=BARANG SIAPA TIDAK MENGALAMI TIDAK AKAN MEMAHAMI.         
Dengan demikian, maka hakekat makna kata IMAN itu adalan PERCAYA YANG BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN. (Sangat logis).    

     
Sementara selama ini, mayoritas orang-orang muslim, termasuk juga saya dulu, hanya memahami kata IMAN itu dengan arti asal percaya saja.         Setelah menyadari, barulah terasa sekali bagaimana sebelumnya saya mempraktekkan semua rukun IMAN tersebut. Ternyata saya percaya kepada semua yang belum saya saksikan dan juga belum pernah saya alami. Itu semua semata-mata hanya karena mempercayai bahwa semua ajaran dan cerita yang ada dalam Al-Quran dan Hadits itu semuanya benar, walaupun tanpa menyaksikan dan mengalaminya.   

       
Sungguh tidak bisa dibayangkan, jikalau sebuah peristiwa yang diceritakan di dalam kitab suci sebuah agama itu, hanya berdasarkan ilmu "KATANYA" saja. Kemudian, secara terus menerus dan dalam waktu yang sangat panjang, hal tersebut diulang-ulang dengan hanya "KATANYA". 


Lalu diceritakan lagi dengan "KATANYA" secara berantai hingga ribuan tahun lamanya. Maka yang terjadi, peristiwa yang merupakan sebuah "KEBOHONGAN PUN" akhirnya bisa menjadi sebuah "KEBENARAN". 
Banyak peristiwa sejarah yang diceritakan dalam kitab suci saat itu hanya berdasarkan kepentingan sang penguasa saja. Akibatnya, nilai "KEBENARANNYA" sangat sedikit, bahkan sama sekali sudah tidak ada.

Dari semuanya yang tertinggal hanya sebuah "KEBOHONGAN" belaka. Sebuah kebenaran yang sudah direkayasa. Akibatnya adalah menjadi banyak sekali cerita sejarah dalam tafsir kitab suci yang tidak "KOHEREN", "KONTRADIKTIF", DAN "TIDAK LOGIS".              


Menurut pemahaman saya, satu-satunya yang bisa mengetahui sebuah kebenaran hanyalah diri kita sendiri dan Allah SWT. Karenanya, untuk memahami sebuah hakekat peristiwa agama yang diceritakan dalam kitab suci, hanya bisa dilakukan oleh individu itu sendiri dengan cara spiritualitas. Yaitu menggunakan akal pikiran yang sehat dan yang masuk LOGIKA.     

     
Sebagai kata penutup saya akan mengutip sebuah kata-kata bijak dari seorang Filsuf India bernama Osho yang lahir pada tahun 1930. Ia mengatakan hal berikut ini:         
 
SEMUA AGAMA-AGAMAMU HANYALAH KEKUASAAN POLITIK, PENIPUAN TERBESAR DAN EKSPLOITASI KEMANUSIAAN ATAS NAMA AGAMA, AKU INGIN MEMBEBASKANMU ATAS KERUMUNAN, DI KERUMUNAN MANAPUN ENGKAU BERADA.       

   
AKU MENGHORMATI INDIVIDU KARENA HANYA INDIVIDU YANG MENGETAHUI APA ITU MEDITASI DAN HANYA INDIVIDU YANG DAPAT MENGETAHUI KEINDAHAN, SUKA CITA PENUH, TARIAN SEMESTA YANG PENUH KEINDAHAN INI.              

KERUMUNAN-KERUMUNAN TIDAK PERNAH MENJADI TERCERAHKAN, ITU SELALU TERJADI PADA INDIVIDU.         

AKU MENCIPTAKAN INDIVIDU.    

         
SEMUA AGAMA IBARAT SEORANG SAHABAT YANG MENEMANI  PERJALANAN. HINGGA SAATNYA TIBA UNTUK BERPISAH DAN MENYELAM KEDASAR LAUTAN HAKEKAT. MENANGGALKAN SEMUA ILMU DAN MENYATU, ~ (OSHO). (*)       


Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com       

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia