KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Memahami Agama Secara Logika (2): Awal Agama Itu Adalah Mengenal Allah Dahulu

 
ROHANI

Memahami Agama Secara Logika (2): Awal Agama Itu Adalah Mengenal Allah Dahulu
Oleh : Tonny Djayalaksana | 07-Apr-2019, 17:18:03 WIB

KabarIndonesia - Jika pada tulisan "Memahami Agama Secara Logika (1)" saya sudah memaparkan makna dari rukun Islam yang pertama, maka di bagian (2) ini saya akan meneruskan membedah perkara rukun Islam yang selanjutnya.

Rukun Islam ke-Dua: Mendirikan Shalat. Kita awali pembedahan makna rukun Islam ke-Dua ini dengan pemahaman yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abu Tholib: Awaluddina Ma'rifatullah=Awalnya Ad-Diin (agama) Ma'rifatullah=mengenal Allah. Jadi artinya awalnya beragama itu harus mengenal Allah terlebih dahulu.       

Begitu juga yang dilakukan oleh para Nabi zaman dahulu. Baik itu Nabi Musa, Nabi Ibrahim maupun Nabi Muhammad. Semua dalil yang menerangkan perihal mengenal Allah keluar terlebih dahulu, barulah kemudian menyusul perihal mendirikan shalat.  

        
Dalam hadits lain, Nabi Muhammad SAW mengatakan: "Marifat adalah modalku. Akal pikiran itu sumber agamaku. Cinta dasar hidupku. Rindu adalah kendaraanku. Berdzikir kawan dekatku. Ketaatan ukuranku. Duka kawanku. Ilmu senjataku. Ketabahan pakaianku. Kerelaan sasaranku. Fakir kebanggaanku. Menahan diri pekerjaanku. Keyakinan makananku. Kejujuran perantaraku. Keteguhan perbendaharaanku. Berjihad perangaiku dan Hiburanku ada di dalam SHALAT."            

 
Adapun intisari shalat tertuang di dalam Al-Quran surat Ta-Ha : 14, dimana Allah berfirman: SESUNGGUHNYA AKU INI ADALAH ALLAH, TIDAK ADA TUHAN SELAIN AKU, MAKA SEMBAHLAH AKU DIRIKANLAH SHALAT UNTUK "MENGINGAT" AKU.

         
Pertanyaannya, "Kenapa sebelum shalat wajib mengenal Allah terlebih dahulu?" Ini dikarenakan tujuan manusia mendirikan shalat itu adalah semata-mata hanya untuk mengingat Allah. Lalu bukankah syarat untuk mengingat itu, harus ada yang diingat terlebih dahulu? Dan kalau harus ada yang diingat, sudah barang tentu harus diawali dengan proses perkenalan terlebih dahulu bukan? Karenanya semua dalil tadi menjadi sangat relevan, logis dan masuk akal.

         
Saya sering mempertanyakan tentang shalat berjamaah, yang mana diriwayatkan oleh beberapa hadits "shahih" bahwa shalat berjamaah itu paling diutamakan karena mempunyai nilai 25- 27 derajat (kali) pahalanya.          

Saya pernah merenung sambil bertanya kepada diri sendiri. "Bagaimana menghitungnya bahwa shalat berjamaah itu mempunyai nilai 25-27 derajat (kali) pahalanya?" Padahal ketika imam shalat mulai membacakan takbir, pada pikiran setiap orang yang shalat maupun imamnya sendiri, masing-masing tidak ada yang ingat kepada Allah.     

   
Pikiran masing-masing jamaah sholat plus imamnya mungkin sudah jalan kemana-mana sesuai dengan yang diingatnya. Kalau begitu adanya, pertanyaannya adalah, "Lalu apa gunanya shalat berjamaah itu?" Bukankah jika ketika shalat, kita yang tidak ingat sama Allah itu tergolong dari orang-orang munafik?       

 
Berikut ini referensi ayatnya QS 4 : 142 dimana Allah berfirman: SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG MUNAFIK ITU MENIPU ALLAH, DAN ALLAH AKAN MEMBALAS TIPUAN MEREKA, DAN APABILA MEREKA BERDIRI UNTUK SHALAT MEREKA BERDIRI DENGAN MALAS, MEREKA BERMAKSUD RIYA (DENGAN SHALAT) DI HADAPAN MANUSIA, DAN TIDAKLAH MEREKA MENGINGAT ALLAH KECUALI SEDIKIT SEKALI.  

       
Kalau menurut ayat di atas tadi, maka orang yang ketika shalat hanya mengingat Allahnya sedikit saja, ia sudah dikategorikan munafik. Lalu bagaimana dengan orang yang ketika shalat tidak ingat Allah sama sekali? Silahkan Anda simpulkan sendiri sesuai keyakinan dan pemahaman Anda.         
Kita lanjutkan ke Rukun Islam yang ke-Tiga, yaitu Puasa di bulan Ramadhan. Menurut saya, rukun Islam yang ke-3 ini, yang biasa masyarakat umum lakukan secara syariat, pada hakekatnya tidak mempunyai makna apa-apa. Kecuali hanya sebagai latihan untuk menahan lapar sekaligus untuk mendetoksifikasi tubuh agar bisa lebih sehat. Juga bisa sebagai sedikit latihan untuk menahan ego, hawa nafsu dan kepentingan diri pribadi.      

 
Adapun hakekat makna puasa (shaum) menurut Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadits Qudsy, menyatakan sebagai berikut: Ada dua kegembiraan bagi orang-orang yang berpuasa (shaum) yaitu: 1. Ketika berbuka. 2. Ketika BERJUMPA dengan Tuhannya (Allah).  

        
Dari keterangan Hadits Qudsy tersebut jelaslah bahwa hakekat makna dari shaum itu syaratnya adalah berbuka. Sejatinya yang disebut berbuka itu, bukanlah berbuka dengan makan tajil dan lain-lainnya. Adapun maksud berbuka di sini adalah membuka MATA QOLBU, sehingga ada resonansi sebagai bentuk perjumpaan dengan Allah, Sang Maha Pencipta.   

   
Jadi sangat logis jika setiap ingin terhubung dengan Allah, maka setiap manusia harus dalam keadaan hening. Tidak melihat, tidak mendengar dan tidak bicara. Itulah hakekat makna daripada puasa (shaum).     

Berdasarkan pemahaman di atas, maka pada hakekatnya untuk mengamalkan ibadah puasa (shaum) itu tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Melainkan bisa dilakukan setiap saat yang kita mau.  

        
Kita lanjut ke rukun Islam yang ke-4, yaitu Membayar Zakat. Menurut pemahaman saya, hakekat makna dari zakat adalah suci dan bersih. Karenanya, sangatlah logis sekali jika kita mau bertemu dengan Allah, maka harus suci dan bersih. Suci bisa diartikan menghilangkan rasa Ego, bebas dari Hawa Nafsu, dan tidak ada kepentingan aapapun. Adapun bersih sendiri bisa diartikan sebagai bebas dari kemelekatan terhadap apapun. Maka dengan demikian itu, kita bisa kapan saja, setiap saat untuk berjumpa dengan Tuhannya.   

       
Berbeda dengan pemahaman saya sebelumnya yang seperti mayoritas muslim pada umumnya dalam mengartikan Zakat sebagai aktivitas mengeluarkan beberapa persen bagian dari harta yang diperoleh dalam satu tahun, untuk dibagikan sebagai haknya orang yang kurang mampu dalam kehidupan sosialnya. (Bersambung)       

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now     ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT www.djayalaksana.com          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB


 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia