KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman, Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mati Selagi Hidup (2)

 
ROHANI

Mati Selagi Hidup (2)
Oleh : Syaiful Karim | 06-Feb-2019, 13:37:51 WIB

KabarIndonesia- Ada sebuah dialog spiritual  Guru-Murid, yang sangat saya sukai, sebagai berikut : "Guru, apakah mati itu sakit atau enak?" Sang Guru berpikir sejenak dan merenung bagaimana caranya memberitahu kepada Muridnya tentang sesuatu yang belum dialaminya."Duduklah di kursi itu," Kata Sang Guru. 


"Pegang erat-erat kursi tersebut, sekuat tenagamu,  seolah-olah kamu enggak mau melepaskan kursi itu, dan Aku akan menarik kakimu lepas dari kursi itu. Semakin keras Aku menarik kakimu, maka semakin erat dan kuat peganganmu pada kursi itu." Dan setelah itu Sang Murid berteriak : "Aduuuuh....Sakit Guru....Tanganku sakit!!!"    


Sang Guru menghentikan tarikannya dan memberikan perintah yang baru kepada muridnya."Sekarang Aku akan menarik kakimu, dan tanganmu jangan memegang kursi lagi, lepaskan peganganmu kepada kursi itu!"

Pada situasi yang kedua ini, Murid tidak lagi tangannya berpegang kepada kursi, maka Sang Guru dengan mudah menarik Muridnya menjauhi kursi."Apakah ada yang sakit untuk kondisi yang kedua ini? Ketika tanganmu sudah melepaskan pegangannya kepada kursi itu?". Dan sang Murid berkata :" "Tidak, Guru... tangan saya tidak sakit lagi Guru!" Lalu sang Guru berkata :" Itulah jawaban atas pertanyaanmu. Kursi itu ibarat tubuhmu, duniamu, segala kesenanganmu, keluargamu, pasangan hidupmu, dan segala yang Kau kumpulkan semasa hidupmu. Dan yang Aku tarik adalah Jiwa dan Roh-Ku yang ada padamu." 


Menyadari bahwa semua yang ada di sekeliling kita adalah bukan kepunyaan kita, maka sangatlah mudah untuk melepaskannya. Dengan demikian, kita akan mudah melepaskannya dengan ketidakpunyaan kita itu. Sebaliknya kalau rasa kepemilikan kita begitu kuat , tentu saja melepaskannya akan sangat sulit dan menimbulkan rasa sakit. 

Kita selalu diajarkan Allah bahwa semua yang di Langit, di Bumi, dan yang ada diantara keduanya adalah MilikNya. Bahkan diri kita sendiri adalah MilikNya. Lalu yang mana yang punya kita? Sungguh sangat aneh, bahkan kita itu sering merasa kehilangan sesuatu yang sesungguhnya bukan milik kita.

Kebanyakan manusia dalam kehidupannya menghabiskan seluruh waktu hidupnya hanya untuk mengumpulkan yang akan ditinggalkannya. Mereka kebanyakan lupa mengumpulkan yang akan dibawanya pulang.   Dalam Q.S 3:102, Allah berfirman :"Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, JANGANLAH KAMU MATI KECUALI DALAM KEADAAN PASRAH". Dalam Ayat ini, kata "Islam" saya terjemahkan dengan kata "Pasrah". 

Pasrah sumerah kepada Allah, berarti sudah tidak melekat lagi kepada selainNya. Dan pasrah sumerah kepadaNya merupakan syarat mati. Itu sebabnya Iman dan Taqwa itu sesungguhnya adalah JALAN untuk manusia agar ia bisa PASRAH SUMERAH kepada Allah. Begitu seseorang sudah terbuka Mata Qolbunya (Iman), kemudian dia menjalankan LAKU TAQWA yang sebenarnya, maka ia akan sangat mudah melepaskan segala ikatan kepada selain Allah, dengan demikian ia akan dengan mudah menyatu dengan Allah (Tauhid). 


Itu sebabnya kita diajarkan ritual WUDLU dan SHOLAT. Wudlu artinya adalah PERPISAHAN dan SHOLAT artinya PENYATUAN. Ini berarti secara hakikat, kita disuruh untuk berpisah dengan selain Allah dan menyatu kepada Allah.

Apa itu TAQWA? Banyak orang yang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang mengerti hakikatnya. Merujuk kepada Q.S 2:63 , Taqwa itu adalah sebuah prosedur untuk dapat mengenalNya. Langkah pertama adalah mengambil janji (‘aqad yang kemudian menjadi ‘aqidah), yang kedua adalah diangkat "gunung"nya (kesadarannya hingga mencapai Puncak Keasadaran)), yang ketiga Allah menunjukkan "SESUATU" di dalam Puncak Kesadarannya (Sidratul Muntaha), dan Ingatlah apa yang Allah pertunjukkan di Puncak Kesadarannya itu, maka itulah yang disebut Laku Taqwa. Sangat logis, ayat ini mengajarkan keterampilan Proses Sains yang sangat luar bisa. 

Sebelum Allah menyuruh hambaNya untuk dapat mengingatNya, Dia bertajalli dulu kepada hambaNya itu di Puncak Kesadarannya. Inilah yang dialami oleh semua Nabi dan Rasul, salah satunya adalah yang dialami Nabi Musa (Q.S 7:143).   Sungguh sangat masuk akal jika ciri orang beriman itu salah satunya adalah Sholatnya khusyu (Q.S 23:2). Sholat khusyu adalah sholat yang berhasil MENGINGAT ALLAH (Q.S 2:45-46). Berarti orang yang sholatnya tidak khusyu atau tidak mengingat Allah (Baca Artikel saya di www.kabarindonesia.com yang berjudul MENGINGAT DAN MENYEBUT), dan selama sholatnya hanya sibuk mengingat yang selain Allah, tidak dapat disebut orang yang beriman. 

Itu sebabnya menjadi tidak heran kalau orang yang MENGAKU beriman, semua ritual ibadahnya tidak pernah bisa mengubah perwatak dan perilaku buruknya. Tidak mampu berdamai dengan dirinya sendiri, apalagi berdamai dengan pihak lain. Kemampuan menerima kenyataan hidup sangat rendah. Hidupnya hanya mengeluh dan protes. Rasa syukurnya nihil. Rasa kemanusiaannya hilang. Dimana-mana hanya membuat kekacauan dan perpecahan. Sulit untuk dapat menerima perbedaan. Merasa paling benar sendiri dan sangat menyepelekan dan merendahkan pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Itu sebabnya orang yang MENGAKU beriman biasanya INTOLERANSI. Berbeda dengan orang yang sungguh-sungguh beriman, biasanya mudah berdamai dengan dirinya  sendiri, penuh cinta kasih, dan bijaksana.   

Dalam falsafah Jawa, terdapat 11 fase kehidupan manusia, yaitu :(1) MASKUMAMBANG : Fase dalam kandungan. Masih mengapung atau kumambang dalam lutan ketuban. Fase dimana Jiwa menyaksikan Ruhnya. Fase Mati selagi Hidup. Inilah fase paling penting yang dilupakan manusia pada umumnya. Padahal untuk dapat pulang kepadaNya dengan sempurna, kita harus mengetahui Asal-Usul diri kita sendiri.Dari Fase ini sesungguhnya terdapat pelajaran berharga tentang CARA PULANG KEPADANYA. 

(2) MIJIL : artinya keluar. Inilah fase bayi, dimana  kita mulai mengenal kehidupan dunia. Fase adaptasi di alam baru yang dimulai dengan tangisan. Dalam tradisi Islam, inilah fase awal Thawaf yang dimulai dengan sebuah titik yang bernama HAJAR ASWAD atau BATU HITAM. Saat Tubuh Janin keluar dar Rahim Ibunya yang dimulai dengan Kepala. Itu sebabnya kepala manusia menjadi pusat kesadaran manusia. Dan di  kepala itulah diletakkan 7 lobang yang amat berharga, yaitu 2 mata sebagai penglihatan, 2 telinga sebagai pendengaran, 2 lubang hidung sebagai jalan pernafasan, dan 1 lubang mulut (Q.S 23:17). Itulah sebabnya dalam semua tradisi agama dan keyakinan ,angka 7 itu menjadi angka penting atau sering disebut angka spiritual. Dalam tradisi Islam terdapat 7 kali thawaf mengelilingi Kabah, 7 kali sa'I mondar-mandir antara Bukit Sofa dan Bukit Marwah, 7 batu untuk melempar Jumroh, dan banyak lagi symbol tentang angka 7. Bahkan leluhur kita menyatakan secara simbolik bahwa Shirotol Mustaqim itu rambut dibelah tujuh.


(3) SINOM : Fase muda, masa dimana kita tumbuh berkembang mengenal hal-hal baru dalam kehidupan dunia. Fase kebebasan berpikir. Makanya di fase ini manusia kebanyakan masih jujur pada dirinya sendiri. Bertanya apa adanya tentang yang benar-benar tidak diketahuinya. Fase dimana manusia sedang tumbuh keterampilan berpikir kritis dan kreatifnya.


(4) KINANTHI: Inilah fase pencarian jati diri dan pencarian tentang makna diri.


(5) ASMARANDHANA: Fase paling dinamik dan berapi-api dalam dalam pencarian cinta dan teman hidup.


(6) GAMBUH: Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan untuk belajar menerima dan menghargai perbedaan . fase saling memahami pasangan. Pasangan berarti berlawanan alias tidak sama. Jika di fase ini manusia gagal menerima dan menghargai perbedaan dengan pasangannya, maka dapat dipastikan dia juga akan mengalami kegagalan untuk menerima dan menghargai perbedaan di luar rumah tangganya atau di masyarakat.


(7) DHANDANG GULA: inilah fase puncak kesuksesan hidup Dunia dan Akhirat . Dimana dhandang atau bejana sudah terisi penuh gula (manis). Manusia diberikan 2 bejana oleh Allah ke dunia ini, yaitu bejana pikiran untuk menampung pengetahuan dan bejana Jiwa untuk menampung pengalaman rasa spiritual.


(8) DURMA: Fase dimana kesalehan individual yang telah dicapai kemudian ditransformasikan ke dalam kesalehan sosial dalam bentuk pelayanan untuk kedamaian kehidupan. 


(9) PANGKUR: Fase melepaskan segala keterikatan kepada selain Allah. Fase meniti ke dalam diri. Fase Muhasabah tentang perjalanan hidup.  

(10) MEGATRUH: Fase Ruh meninggalkan badan (Megat : memisahkan)atau fase Sakaratul Maut. 

(11) PUCUNG: Fase kembali kepada Allah untuk memenuhi ayat Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji'uun yang diawali menjadi Pucung atau pocong atau jenazah.Selesai. (*)

Penulis: Syaiful Karim ; Pembina perguruan Spiritual Itsbatulyaqiin  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museumoleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museum Asia Society and Museum berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia