KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Internasional oleh : Tonny Djayalaksana
24-Aug-2019, 15:51 WIB


 
 
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Mati Selagi Hidup (1)

 
ROHANI

Mati Selagi Hidup (1)
Oleh : Syaiful Karim | 05-Feb-2019, 16:13:21 WIB

KabarIndonesia- Mengawali artikel ini, saya akan menyampaikan sebuah illustrasi yang sangat sederhana. Seorang anak yang umurnya kira-kira 5-6 tahun, pagi-pagi sudah dimandikan oleh Ibunya. Ibunya mengenakan baju baru, sepatu baru,  dan segala wewangian kepada anak tersebut supaya kelihatan segar dan lucu. Kemudian anak tersebut didudukan di sebuah kursi teras depan rumah supaya mendapatkan sinar matahari pagi yang hangat. 

Setelah itu Sang Ibu kembali bekerja menyelesaikan seluruh pekerjaan harian di rumah. Beberapa saat kemudian, sang Ibu merasa kaget, karena anak tersebut sudah tidak ada lagi di teras depan. Rupanya anak tersebut diajak main oleh teman-temannya ke sawah, main becek-becekan sampai seluruh tubuh dan bajunya kotor. Badannya yang tadinya wangi sudah berubah menjadi bau dan sekujur tubuhnya kotor dengan lumpur.

Menurut pembaca sekalian, kira-kira anak ini memiliki keberanian untuk pulang ke rumahnya? Dapat dipastikan anak ini "takut" untuk pulang ke rumah. Kalaupun berani, pasti tidak akan lewat pintu depan, melainkan lewat pintu belakang. Pasti tidak  akan berani langsung bertemu Ibunya, melainkan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dan menemuinya Ibunya. 

Illustrasi di atas sesungguhnya menggambarkan perjalanan hidup kita semua. Dulu ketika kita datang ke sini, seluruh bagian  tubuh, pikiran, dan jiwa kita dalam keadaan suci bersih. Ketika sudah datang di dunia ini, tak terasa main "becek-becekan" di segala sektor kehidupan. Akhirnya tubuh, pikiran, dan jiwa menjadi kotor dan bau diselimuti oleh "lumpur-lumpur duniawi" dan segala macam "bau-bau-an" yang berasal dari kotoran hawa nafsu, kemelekatan, dan keserakahan. Makanya tidak heran kalau kebanyakan manusia 'takut' pulang ke "kampung asalnya", karena tubuh, pikiran, dan jiwanya dalam keadaan kotor. 

Ketika usia sudah senja, ketika dunia secara perlahan sudah meninggalkannya, ketika pikiran masih memproduksi segala keinginan yang melampaui kebutuhan, ketika jiwa masih melekat kepada dunia dan keinginan, saat itu kebanyakan manusia akan mengalami sebuah situasi yang sangat mengkhawatirkan, yaitu TAKUT HIDUP sekaligus TAKUT MATI, yang menyebabkan sisa hidupnya menjadi HIDUP SETENGAH MATI.

Berkaca kepada Q.S 56:83-85 ; Ayat-ayat  yang telah menyebabkan saya mengalami kegoncangan spiritual dalam proses pencarian Diri Sejati Pribadi Saya sendiri. Yang telah menyebabkan saya tidak bisa tidur berbulan-bulan karena TAKUT MATI. Ayat itu  berbunyi :"Ketika Ruh sudah sampai di kerongkongan. Pada saat itu kamu seharusnya MELIHAT. Aku lebih dekat kepadamu, tetapi saat itu kamu dalam keadaan TIDAK MELIHAT."

Pertanyaan mendasar kepada diri saya saat itu: (1) Mati adalah sebuah kepastian, ketika mati nanti, apakah Saya dalam keadaan melihat? (2) Jika Saya bisa melihat, apa yang harus Saya lihat? (3) Apa yang harus saya lakukan dalam hidup ini agar saat mati nanti Saya bisa melihat? (4) Pada saat itu, dengan mata mana Saya harus melihat? Apa akibatnya bagi Saya, bagi Jiwa Saya, jika saya mati dalam keadaan tidak melihat? Perilaku apa dalam kehidupan ini yang menyebabkan saat mati nanti Saya tidak dapat melihat?   Tidak mudah bagi Saya saat itu untuk bisa keluar dari kegoncangan spiritual yang sangat menyiksa. Lebih-lebih setelah saya membaca Q.S 17:72 :"Barangsiapa yang BUTA (tidak melihat) di dunia, maka ia akan LEBIH BUTA (semakin tidak melihat) di Akhirat, dan Berjalan dalam keadaan TERSESAT." 

Setelah Saya melakukan pencarian yang panjang, Saya mendapati kesimpulan, sesungguhnya ayat ini bukan bercerita tentang kebutaan mata lahir, melainkan kebutaan mata qolbu. Lalu muncul pertanyaan baru dari kebebasan dan kejujuran pikiran Saya : (1) Apa itu Qolbu? Saya sering mendengarnya, tetapi tak ada yang dapat membantu Saya saat itu untuk menjelaskannya; (2) Untuk apa Allah menciptakan Qolbu? ; (3) Bagaimana cara memfungsikan Qolbu? Siapa yang bisa membantu Saya untuk memfungsikan Qolbu? Apalagi setelah Saya membaca Q.S 7:179, bahwa manusia yang tidak dapat memfungsikan Qolbunya setara dengan BINATANG, bahkan lebih hina dari binatang. Dan ini membuat Saya semakin TAKUT menghadapi kematian, sekaligus menghadapi kehidupan. 

Semua pertanyaan-pertanyaan di atas, perlahan dalam pencarian Saya mulai tersingkap dan menemukan jawabannya. Dan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, MUTLAK harus dibimbing oleh seorang GURU yang MURSYID. Dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman :"Bumi dan Langit tidak akan sanggup menampung ZAT-KU, tetapi Qolbunya orang beriman itulah sebenar-benarnya RumahKu." Ternyata Rumah Allah yang sesungguhnya adalah Qolbu. Qolbu adalah sebuah LOKUS pada diri manusia yang amat sangat penting. Disanalah GOD-spot berada, disanalah Nur ‘Ala Nur dapat disaksikan. Qolbu adalah Baitil ‘Atiq atau Rumah Tua (Q.S 22:29), sekaligus Rumah Awwal yang diciptakan Allah untuk manusia mengenalNya (Q.S 3:96).

Qolbu tidak sama dengan HATI. Hati dalam Bahasa Arab adalah Qobid atau Qibdah, yaitu segumpal daging dalam dada atau liver. Dan inilah kesalahpahaman yang telah mengakar dan sangat menyesatkan, karena banyak orang yang menyamakan Qolbu dengan Hati. Dalam semua Kitab Suci, yang diceritakan bukanlah hati, melainkan Qolbu (Rumah Allah). Qolbu adalah Teleskopnya manusia yang telah diciptakanNya untuk menyaksikanNya. 

Dalam Q.S 7:179, Qolbu memiliki 3 fungsi : Untuk memahami, mendengar, dan melihat. Yang tidak mengalami pasti tidak akan memahami. Untuk memahami harus mendengar dan melihat. Qolbu memiliki "pikiran" tersendiri yang akan menghasilkan kecerdasan spiritual. Berbeda dengan Pikiran biasa yang hanya menghasilkan kecerdasan intelektual. Iman itu bersumber dari Qolbu , bukan dari hati. Iman bukanlah percaya, melainkan terbukanya Mata Qolbu untuk membenarkan melalui sebuah proses penyaksian. Iman yang semacam inilah yang akan menghasilkan CINTA. Cinta akan menghasilkan PELAYANAN. Pelayanan akan menghasilkan KEDAMAIAN. Jadi, manusia yang suka menyakiti dan selalu menebarkan kebencian atas nama Tuhan dan agama, sesungguhnya BELUM BERIMAN, tetapi baru MENGAKU BERIMAN. Dan itulah DUSTA yang paling besar, namun tidak disadari (Q.S 2:6-17).

Dalam Q.S 7:172 terdapat sebuah dialog yang sangat menyentuh antara Allah dan Jiwa: Allah bertanya : "BUKANKAH AKU INI TUHANMU? ", lalu Jiwa menjawab :"YA, AKU MENYAKSIKAN". Dimana dialog ini berlangsung? Dari hasil kajian yang mendalam, saya menemukan bahwa dialog ini terjadi saat proses penciptaan manusia. Ketika Tubuh manusia sudah sempurna diciptakanNya dalam Rahim seorang Ibu, ketika RUH-KU sudah ditiupkan ke dalam tubuh yang sempurna itu. Setelah itulah terjadi dialog tersebut. Yang menarik dalam dialog itu  adalah  jawaban Jiwa :"Ya, Aku menyaksikan." Jawabannya bukan hanya "Ya". Menyaksikan berarti menggunakan PENGLIHATAN. Dapat dipastikan penglihatan yang digunakan bukan penglihatan lahir, melainkan penglihatan bathin, yaitu penglihatan Jiwa atau Mata Qolbu. 

Pada saat JANIN berenang dalam lautan ketuban dalam Rahim Seorang Ibu, ia dalam keadaan TIDAK MELIHAT, TIDAK MENDENGAR, TIDAK BERNAFAS, TIDAK BICARA, bahkan TIDAK BERPIKIR karena semua lubang itu ditutup oleh air ketuban (KAKANG KAWAH), tapi Sang Janin dalam keadaan HIDUP.   Orang mati itu cirinya ada 5 : Tidak melihat, Tidak mendengar, Tidak bernafas, Tidak Bicara, dan Tidak berpikir. Ketika Janin sedang dalam lautan ketuban, berarti ia dalam keadaan MATI tetapi HIDUP. Itulah yang sering disebut MATI SELAGI HIDUP. Dalam Bahasa leluhur kita di Tanah Jawa, sering disebut :"MATI SA'JERONING URIP." Dan yang luar biasanya, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist menyuruh ummatnya untuk Belajar Mati Sebelum Mati. Berarti dalam kehidupan yang sekarang ini, kita harus bisa mengulang pengalaman spiritual  yang pernah dialami semasa dalam Rahim Seorang Ibu, sebagaimana FirmanNya : "SETIAP DIRI HARUS MERASAKAN RASANYA MATI." (Q.S 3:185).

Merasakan rasanya mati tentu saja pada saat kita MASIH HIDUP. Karena kalau sudah mati sungguhan, kita tak akan berhasil merasakan rasanya mati.   Pelajaran tentang mati selagi hidup adalah ajaran universal yang bisa di dapat dalam banyak tradisi agama dan keyakinan. Pelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan agar dapat merasakan langsung kemanunggalan diri dengan Sang Pencipta. Bagi mereka yang telah diberi keberuntungan untuk merasakan hal ini, selanjutnya dapat menyaksikan BELIAU nyata dalam setiap keberadaan.

Dalam pepatah leluhur sering disebut "KATENJO TAPI TEU KADEULEU", yang artinya tersaksikan tapi tidak terlihat sebagai kebendaan. Maka sering dikatakan dalam istilah: "Ada tapi tidak ada, tidak ada tapi ada." Pelajaran tentang mati selagi hidup itu dinyatakan dalam pepatah leluhur :"Indit bari cicing, milampah teu ngalengkah." Yang artinya pergi sambil diam, menjelajah tanpa melangkah.  Inilah yang disebut perjalanan spiritual.(*) (Bersambung)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
DI ATAS LANGIT ADA LANGIT 23 Aug 2019 14:03 WIB


 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia