KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman, Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kitab Suci Yang Ternoda

 
ROHANI

Kitab Suci Yang Ternoda
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 01-Feb-2019, 14:04:52 WIB

KabarIndonesia - Pengaruh lingkungan sangatlah kuat terhadap apa yang masuk ke dalam lingkungan tersebut. Sedingin-dinginnya bongkahan es, bila mendekati kobaran api pasti akan meleleh.  Sebaliknya, sepanas-panas air mendidih bila dibawa ke kutub utara, kelak akan membeku oleh dinginnya udara kutub.

Orang-orang yang bekerja di ruangan yang udaranya dipenuhi aroma parfum, biasanya pakaian mereka pun akan tercium aroma harum yang mirip.  Sebaliknya, orang-orang yang bekerja keras di atas gunungan sampah di TPA, biasanya aroma mereka tidak akan jauh dari aroma udara yang berbaur dengan berbagai sampah di sana.

Mereka yang terus menerus bergaul dengan orang-orang baik, suatu saat akan terimbas oleh sifat-sifat kebaikan mereka.  Berbalik dengan mereka yang sering bergaul dengan para penjahat, akan terpengaruh secara fenotif hingga mengalami perubahan sifat menjadi serupa kaum pergaulan mereka, meski secara genetik ia terlahir dari keluarga pendeta.

Dari semua fakta-fakta sederhana itu, dengan mudah kita bisa yakin bahwa mereka yang sering bergaul dengan para guru suci, orang-orang suci, setidaknya kelak akan bisa bertumbuh dalam kesucian pikiran, kata-kata dan tindakan.  Senada dengan mereka yang banyak membaca kitab-kitab suci, semestinya secara alami akan menjadi semakin suci dalam kepribadian dan kesehariannya.

Sebab, sebuah kitab suci tentu terlahir dari kesucian hati penulisnya.  Kesucian hati yang bebas dari muatan kepentingan ego, sehingga ia hanya berisi kebenaran-kebenaran dari bisikan hati nurani ataupun datang sebagai pewahyuan. Bukan berupa kitab yang berisi pembenaran-pembenaran dari dorongan dan emosi ego semata.  Mereka yang dekat dan selalu bermandikan curahan cahaya pengetahuan dari kitab suci, yang dinyanyikan merdu dengan kelembutan dan kesungguhan hati, biasanya akan lebih mudah bertumbuh menjadi dewasa dan bijak oleh tuntunan cahaya hati atau nuraninya yang juga suci.

Ketika pikiran dan hati seseorang selalu disirami kesejukan bahasa-bahasa suci dalam kitab suci, ia akan seperti pohon bunga yang dengan mudah mekar dalam keindahan dan mengundang keindahan lain untuk datang mendekatinya, serupa kupu-kupu indah mendekati mawar.  Hukum tarik menarik yang sangat mudah dipahami kebenarannya.

Logika sederhana lainnya bertutur tentang hasil produksi dari sebuah pabrik.  Bila pabriknya baik, diikuti dengan proses yang baik, maka hasil produksinya tentu juga baik.  Demikian halnya dengan mereka yang belajar dari kebenaran dalam kitab suci.  Bila sumbernya saja sudah penuh dengan ajaran-ajaran kebenaran yang suci, dijalani dan dilaksanakan dengan penuh ketulusan dan kesucian hati, tentu hasilnya adalah juga pribadi-pribadi yang suci.

Namun kenapa fakta berbeda justru banyak kita jumpai dalam kehidupan saat ini?  Mereka yang kesehariannya seakan begitu dekat dengan kitab suci dan hidupnya dipenuhi kata-kata yang disitir dari kitab suci, justru seringkali terlihat jauh dari perilaku kesucian.  Tak jarang bahkan mereka tampil sebagai pribadi yang lebih menyukai kekerasan, jauh dari pikiran, kata-kata, sikap maupun tindakan suci.  Kenapa hasil produksi ini menjauh dari kondisi pabriknya?  Apakah pabriknya yang keliru, atau bahan-bahan produksinya yang salah?

Kita tahu semua bahwa setiap manusia bisa hidup karena di dalamnya ada percikan Tuhan sebagai Sang Jiwa, ada Ruh suci yang dihembuskan ke dalam tubuh manusia itu.  Otak manusia adalah komputer super canggih yang mampu menghasilkan pikiran dan proses berpikir yang mengagumkan.  Tubuh manusia juga sangat luar biasa keajaibannya.  Jadi, setiap manusia sesungguhnya adalah sekumpulan bahan baku yang sangat potensial untuk tumbuh menjadi hasil produksi yang suci sebagaimana kitab-kitab suci yang dibacanya.

Sedangkan kitab suci sebagai pabriknya tentu juga memiliki potensi besar untuk memproduksi manusia-manusia berhati suci dan dipenuhi sifat kebajikan.  Sebab kitab suci dibangun oleh para pemikir-pemikir berbudi pekerti luhur dan suci di masa lalu.  Kekuatan pengaruh ajaran mereka sangat besar hingga melampaui berabad-abad bahkan ribuan tahun perjalanan generasi manusia.  Namun di sisi lain, ternyata pengaruh kitab suci mereka tidak mampu dengan mudah mengubah sifat para pengikut dan pembaca kitab suci itu.

Tampaknya sumber utama dari bias produksi ini terletak pada prosesnya.  Para pekerja yang memproses bahan baku berkualitas utama yang masuk ke dalam pabrik tersebut sepertinya telah menciptakan kekacauan dalam prosesnya.  Sistem telah dikacaukan oleh muatan-muatan kepentingan ego mereka sendiri.  Akibatnya, ajaran-ajaran kebenaran para guru suci di masa lalu yang termuat dalam kita suci tersebut, menjadi ternoda oleh ajaran-ajaran pembenaran yang mereka sertakan ke dalamnya.

Maka betapa pun baiknya sebuah pabrik, betapa pun canggihnya mesin-mesin di dalamnya, ketika sistem telah diubah demi kepentingan para pekerja di dalamnya, hasil produksi akan menyimpang dari target utama.  Kini dengan mudah kita tahu betapa berbahayanya muatan ego manusia dalam menodai kesucian kitab suci itu sendiri. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sebuah kitab suci telah ternoda oleh kepentingan ego dan emosi negatif para pekerja di dalamnya?  Sederhana.  Kesucian semestinya akan menghasilkan kesucian, kekotoran menghasilkan kekotoran. 

Bila diibaratkan agama adalah mesin cuci dan kitab suci adalah buku manual atau petunjuk penggunaannya, maka mesin cuci yang baik akan menghasilkan pakaian yang bersih.  Bila pakaian bersih yang masuk ke dalam mesin cuci tersebut justru keluar menjadi pakaian kotor, penuh noda atau bahkan robek tercabik-cabik keutuhannya, layak diperiksa apakah ada bahan-bahan kotor telah dimasukkan ke dalam mesin tersebut, atau buku petunjuknya belum digunakan sesuai ketentuan yang benar.

Manusia adalah benih kesucian.  Jiwanya suci, pikiran dan hatinya suci, seperti saat pertama kali mereka terlahir ke dunia ini.  Seperti bayi yang suci, setiap kata-katanya akan terdengar menyenangkan, meski baru sepatah dua patah kata.  Kehadirannya membahagiakan dan disambut dengan senyum.  Begitulah kehadiran orang-orang suci, serupa mawar yang warna dan aromanya sungguh membuat rindu para pemuja.

Bila seseorang justru menjadi berperilaku negatif, menyukai kekerasan, jauh dari sifat cinta kasih dan welas asih, lebih mudah menunjukkan sifat emosional dan gejolak ego dalam dirinya, bisa jadi ini pertanda ia telah belajar pada kita suci yang telah ternoda oleh kepentingan ego.  Sebaiknya ia memeriksa kembali isi kitab suci itu dan menemukan ajaran hakikat kesucian yang tertulis di dalamnya.

Sebab pada dasarnya setiap kitab suci pasti memiliki ajaran-ajaran dasar yang berisi kebenaran, kesucian dan kebajikan.  Kitab suci ditulis oleh para suci masa lalu sebagai petunjuk bagi setiap orang dalam menggunakan tubuh dan pikiran manusia ini.  Hasil yang diharapkan oleh setiap kitab suci tentu saja orang-orang yang dalam hidup kesehariannya akan lebih mampu mengendalikan dorongan ego dan emosi negatif yang sering disebut sebagai setan dalam diri.

Bila kesucian hati nurani telah mekar dalam diri seseorang, ia akan didekati oleh Jiwa-Jiwa yang rindu keindahan, kebajikan dan kedamaian. Ia memancarkan sifat-sifat malaikat dalam dirinya, karena ia telah menjadikan kitab suci sebagai petunjuk dalam menjalani hidup keseharian.

Sebaliknya, mereka yang kegelapan emosi dan ego negatif dalam dirinya lebih tebal menyelubungi cahaya nuraninya, cenderung akan dijauhi oleh orang-orang bajik dan bijak.  Sebab mereka telah menebarkan aroma ketakutan dan wajah-wajah seram setan dalam dirinya.  Bisa jadi karena mereka membaca kitab suci dengan mata hati yang masih tertutup, atau membaca kitab suci yang telah ternoda oleh kepentingan ego manusia.

Sucikan mata hati dengan pengetahuan spiritualitas yang universal, maka akan lebih mudah menemukan kebenaran dan ajaran-ajaran kesucian yang tersembunyi dalam sebuah kitab suci, sekalipun kitab suci itu telah ternoda oleh kepentingan ego dan emosi para penyebarnya.

Pilihan kembali kepada kecerdasan pikiran dan Jiwa kita masing-masing.  Mereka yang akal pikirannya lemah, critical factor (faktor kritis) yang menjaga nuraninya akan mudah runtuh dan gampang tertipu oleh kepalsuan.  Itu alasannya beberapa kitab suci selalu mengajarkan kita untuk menguatkan akal pikiran, agar sifat dan sikap kritis selalu kuat menjaga hati.  Sebab berbagai bentuk kepalsuan selalu mengintai dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya juga palsu (maya) ini.(*)
Kuta, 1 Pebruari 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museumoleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museum Asia Society and Museum berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia