KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiJerman Bahas Larangan Berjilbab buat Anak TK dan SD oleh : Kabarindonesia
24-Mei-2019, 14:50 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jerman bergulat dengan fenomena jilbab di kalangan siswa taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Kebiasaan tersebut dinilai mempersulit proses integrasi. Tapi apakah larangan serupa di Austria adalah langkah bijak?

Perdebatan tentang larangan jilbab di sekolah dasar di Jerman
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB


 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Mengenang Peristiwa 21 Mei 1998 22 Mei 2019 14:14 WIB

 

Ketika Beragama Seperti Salah Obat

 
ROHANI

Ketika Beragama Seperti Salah Obat
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 03-Mei-2019, 13:30:24 WIB

KabarIndonesia  Joko Kendal menepuk jidatnya sendiri seperti sedang gundah oleh sesuatu. Rupanya, ia sedang heran melihat kerumitan kaum beragama di sekitarnya.

"Ada apa Joko Kendal? Sepertinya kepalamu sedang runyam memikirkan hutang?, tanya Nasrudin sembari tersenyum penuh canda.  Ia memang selalu menenangkan sahabatnya dengan cara bercanda.     

 "Iya, aku memang sedang ruwet memikirkan hutang. Setidaknya hutang jawaban pada anak-anakku kelak, bila mereka bertanya kenapa agama malah menjadi sumber pertengkaran, pertikaian dan kehancuran? Bukankah agama diturunkan untuk mendamaikan manusia?"     

Terdengar nada serius dalam suaranya. Nasrudin menyadari bahwa kali ini sahabatnya itu sedang sangat serius dan patut didengarkan. Maka ia meminta Joko Kendal melanjutkan keluhannya.     

"Coba kau pikirkan Nasrudin. Sejak agama diturunkan untuk mendamaikan hati manusia, mendamaikan kehidupan mereka, justru pertentangan dan pertikaian atas nama agama tak pernah berhenti di bumi ini. Ada apa dengan ajaran yang diyakini sebagai ajaran suci itu, justru sering menyisakan noda dalam pikiran manusia?"     

"Orang-orang seagama bertengkar karena beda aliran. Orang-orang sealiran berkelahi karena beda pemahaman. Orang-orang yang sepemahaman pun bertikai karena beda pengikut. Sebaliknya justru banyak orang yang sama-sama tidak beragama dan mengenal Tuhan, justru hidup damai dan saling tolong menolong dengan sesamanya. Lalu apa arti agama dalam hidup ini?"      

Nada suara Joko Kendal seperti air bah yang meluncur dari bendungan yang pintunya baru terbuka. Tampaknya ia tak lagi hanya prihatin dengan semua itu, melainkan sudah merasa muak oleh kenyataan.     

"Manusia mengagung-agungkan agamanya, namun menjadi nista oleh sikap dan tindakan mereka sendiri dalam beragama. Mereka menyucikan segala hal berkaitan dengan agamanya, namun menodai dirinya sendiri dengan perilaku yang lebih buruk dari mereka yang tak beragama."     

"Ini hanya sebagian hal yang kuamati dalam kehidupan beragama. Lalu bagaimana mungkin aku mengajarkan pentingnya agama kepada anak cucuku kelak, bila inilah kenyataan yang mereka temui di bumi?"     Dan Joko Kendal seketika terdiam. Ada emosi yang tercekat dalam batinnya yang tak ingin ia tumpahkan seluruhnya.     

"Tenangkan aku, Nasrudin. Tenangkan aku agar bisa jernih melihat kebenaran di balik kenyataan kontradiksi ini." Harapnya pada Nasrudin yang hanya bisa menghela napas mendengar keluh kesahnya.     

Setelah mengijinkan gejolak emosi Joko Kendal mendatar kembali, dengan pelan Nasrudin mencoba menguraikan kerumitan otaknya.     

"Kawan, agama itu seperti obat yang ditawarkan untuk menyembuhkan batin manusia yang terluka. Namun seperti halnya obat-obat untuk mengatasi penyakit di bumi ini, ada yang sangat mampu memberi kesembuhan, menurunkan panas demam, nyeri-nyeri otot, sakit kepala atau gejala lainnya. Sebagian obat ada juga yang tidak berefek apa-apa, bahkan efek sampingnya lebih kuat."     

"Ada obat yang memberi efek samping mual-mual dan gangguan asam.lambung berlebihan, persis seperti gejala saat orang mengalami stres. Begitu pun halnya dengan agama. Ada agama yang efek sampingnya menyisakan perasaan mual pada sebagian orang, karena melihat perilaku terbalik yang muncul darinya."     

"Ada pula obat yang ketika diminum malah menimbulkan reaksi alergi, kulit merah, gatal-gatal dan ingin menggaruk. Seperti itu pula ajaran agama yang membuat seseorang menjadi alergi terhadap kaum lainnya. Kulit mereka memerah oleh kebencian, lalu muncul rasa gatal ingin menggaruk kaum yang tidak mereka sukai."     

"Ada sangat banyak efek samping, kontraindikasi dan perhatian khusus dalam pemberian suatu obat. Karena itu tidak boleh sembarangan memberikan obat tanpa pemahaman yang benar. Sama halnya dengan pengajaran agama. Bila sang pengajar tidak benar-benar paham efek samping agama, maka dia hanya menjual ajaran agama seperti halnya pedagang obat pinggiran jalan. Mereka hanya perlu jualannya laris, tanpa memikirkan efek buruk obat itu karena diberikan tidak sesuai dosis, takaran dan cara pemberian yang benar."     

"Jadi, tidak semata-mata obatnya yang salah, melainkan cara obat itu diberikan tanpa proses pemeriksaan dan penjelasan yang benarlah, maka obat mujarab bisa menjadi racun yang mematikan. Begitu pun keadaannya dalam pemberian ajaran agama kepada mereka yang memerlukan tuntunan dalam kehidupan."     

"Peracik obat yang hanya mementingkan larisnya penjualan, tak ubahnya penafsir ajaran agama yang hanya mementingkan hasrat duniawinya. Dia tidak benar-benar peduli apakah obatnya akan bermanfaat positif atau tidak kepada orang-orang."       

"Jadi, kawanku. Kita tidak boleh semata-mata menyalahkan agama. Karena agama sama pentingnya seperti obat-obatan. Namun ajarkanlah pada anak cucumu, agar berhati-hati membeli obat atau mencari pemahaman ajaran agama pada orang yang kurang tepat. Salah-salah ajaran itu menyisakan gejala penyakit lain yang lebih buruk karena efek sampingnya. Apalagi bila itu menimbulkan reaksi alergi."       

Sampai di sini Nasrudin menghentikan uraiannya, berharap Joko Kendal akan memahami maksudnya. Sengaja ia menjelaskan dengan bahasa yang membuat Joko Kendal mesti berpikir dengan akal sehat. Sebab emosi hanya bisa diredam oleh pikiran yang mulai sibuk bekerja mencerna kata-kata.          

Manakala Nasrudin melihat senyum mulai merekah tipis di sudut bibir Joko Kendal, maka ia pun berlalu meninggalkan sahabatnya dalam perenungan.          
Jogja, 3 Mei 2019          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Air Danau Toba Tercemar Berat 24 Mei 2019 15:17 WIB


 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia