KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Kenali Dulu Tuhanmu, Barulah Memuja-Nya
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 06-Apr-2019, 14:13:13 WIB

Kabar Indonesia - Joko kendal duduk tepekur dalam keheningan.  Bibirnya tampak berkomat-kamit menandakan mantra-mantra terucap dalam bisikan doanya.  Ia tak menyadari Nasrudin datang dan memandanginya sedari tadi.  Usai menutup doa, baru ia tahu kalau sahabatnya itu telah ada di rumahnya. "Kau sedang apa kawan?", tanya Nasrudin seakan tanpa beban.

Joko Kendal tersentak, bukan kaget mendengar suara Nasrudin, melainkan kaget dengan pertanyaan itu. "Kenapa Nasrudin.  Apa yang terlihat aneh denganku? Bukankah kau sudah sering melihatku sembahyang? Ataukah doa-doaku yang terdengar aneh bagimu?" "Kepada siapa kau sembahyang, kawan? Kepada siapa kau panjatkan doa-doamu itu?" Nasrudin tetap santai bertanya. "Hahaha...tentu saja kepada Tuhan, Nasrudin. Apa mungkin aku memujamu dan memanjatkan doa-doaku padamu? Bahkan aku meminjam uang beberapa ribu saja kau tak memberiku, bagaimana mungkin aku berdoa padamu agar kau memenuhi isi doaku itu?" Kali ini Joko Kendal terbawa dalam kegelian. "Lalu, apakah Tuhan juga selalu memenuhi semua isi doamu?" Nasrudin tetap tak acuh dengan pertanyaannya. Joko Kendal menangkap sinyal lain, bahwa ada sesuatu yang ingin diajarkan Nasrudin padanya.

"Hmmm, tentu saja tidak selalu kawan.  Namun, kalau pun doa-doaku tidak dikabulkan-Nya, setidaknya aku telah selalu sujud untuk mengingat-Nya. Itu saja sudah cukup, bukan?" Joko Kendal mulai mencoba menjawab dengan serius.
"Lalu apa atau siapa yang kau pikirkan saat mengingat-Nya?  Sedang Dia tak berwujud dan tak pula pernah kau temui, bukan? Bagaimana caramu mengingat Dia yang tak berwujud?" Pertanyaan Nasrudin semakin mendalam. Joko Kendal mulai kelabakan.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang kubayangkan saat memuja-Nya.  Pikiranku sering kemana-mana. Kadang aku membayangkan nama-Nya sebagai sebentuk tulisan atau suara, kepada itulah aku mengingat-Nya.  Namun pasti kau akan mengatakan bahwa semua itu pun bukan Dia." Tiba-tiba Joko Kendal tertunduk lesu.

Ya.  Ia tersadar oleh pertanyaan Nasrudin.  Jika mau jujur, ia sendiri tak mengerti apa yang harus dibayangkan saat mengingat-Nya. Ia tak tahu apa yang harus dijadikan pusat konsentrasi pikiran saat mengingat-Nya.
"Betul kawan. Tidaklah mudah mengingat sesuatu yang tak pernah kau temui wujudnya. Tidaklah mudah mengingat suara yang tak pernah kau dengar nadanya.  Tidak pula mudah mengingat sebuah rasa yang tidak pernah kau rasakan." Nasrudin seperti memahami apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.
"Jadi, apa yang harus kulakukan, Nasrudin.  Aku tak pernah bertemu Tuhan, meski sejak kecil diajarkan dan diyakinkan bahwa Tuhan itu sungguh ada di semesta ini.  Aku ingin mewujudkan-Nya menjadi suatu bentuk yang ingin kuciptakan, sekadar untuk menyatakan-Nya ada agar mudah kujadikan ingatan akan diri-Nya.  Namun aku merasa bersalah, karena hal itu disalahkan oleh ajaran yang kuanut. Aku bingung kawan."

Joko Kendal merasa tenggelam dalam kehampaan batin.  Ia memang tidak akan kehilangan keyakinan akan keberadaan-Nya, namun kini ia seakan kehilangan keutuhan rasa tentang-Nya dalam ingatan, sejak pertanyaan Nasrudin tadi terngiang di kepalanya.
"Jadi aku harus bagaimana, kawan? Apa atau siapa yang harus kubayangkan saat memuja-Nya atau saat memanjatkan doa-doa kepada-Nya?  Aku harus membayangkan siapa saat mencoba mengingat-Nya yang tak pernah kutemui?." Ia kini berserah pada nasehat Nasrudin.
"Maka kenalilah Dia sebelum kau memuja-Nya, sebelum kau mengingat-Nya.  Kau boleh meyakini kebenaran akan keberadaan Tuhan, namun kau mesti mengenali lebih mendalam apa yang kau yakini itu.  Sebab tanpa pengetahuan dan pemahaman, itu akan bisa menjadi keyakinan yang membabi buta."
"Kau boleh meyakini bahwa durian itu bisa dimakan.  Namun tanpa mengetahui bagaimana cara memakan durian, kau mungkin hanya akan memakan kulitnya, karena hanya kulit itulah yang memiliki duri sehingga disebut durian.  Kau hanya akan memakan kulit rambutan, tanpa mengenali bahwa isinya yang tak berambut itulah yang sepantasnya dinikmati.  Meyakini Tuhan hanya di kulit luar, tidak akan memberimu kenikmatan mendalam akan kebenaran-Nya."

"Kenali Dia dalam segala ciptaan-Nya, agar kau tak perlu menciptakan apa-apa lagi untuk mewujudkan-Nya. Dengan cara itu kau akan mengenali keagungan-Nya yang tak berwujud, namun mewujud dalam segala keagungan ciptaan-Nya."
"Kenali Dia sebagai isi dari segala kekosongan di semesta ini, agar kau tak perlu membayangkan kekosongan saat mengingat-Nya, namun bisa membayangkan bahwa segala isi dari kekosongan alam semesta ini adalah diri-Nya."

"Kenali Dia dalam segala peristiwa suka duka kehidupan, agar dengan itu kau mengenali kehadiran-Nya dalam setiap berkah dan bencana di kehidupan.  Maka kau akan paham, bahwa dalam panjatan doamu yang mengharapkan berkah, seringkali kau justru dikunjungi oleh peristiwa yang kau sebut bencana.  Di situ kau akan mudah ikhlas, karena kau telah mengerti bahwa makna kehadiran cahaya terang selalu dimulai oleh hadirnya kegelapan."

Aliran kata-kata dari Nasrudin sungguh mengguyur dahaganya selama ini.  Joko Kendal tak menyahut saat Nasrudin berhenti bicara. Ia memilih menundukkan kepala dalam perenungan diri.(*)

Kuta, 6 April 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia