KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAROMA KEPENTINGAN DALAM AGENDA TERSENDIRI oleh : Tonny Djayalaksana
18-Aug-2019, 15:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Upaya-upaya lawan Jokowi untuk menjatuhkannya sangat militan sekali. Sebagai pelengkap telah saya sertakan tulisan Denny Siregar yang menggambarkan bagaimana sebuah konspirasi dijalankan untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Namun akhirnya perlindungan dari Allah bisa menggagalkan semua itu. 

Semua
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kafir Dalam Ilmu

 
ROHANI

Kafir Dalam Ilmu
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 02-Mei-2019, 14:27:28 WIB

Kabar Indonesia - "Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China". Kalimat ini sangat sering didengar oleh Joko Kendal dalam pergaulan sehari-harinya.  Kalimat itu memunculkan berbagai persepsi dalam dirinya.  Dan kenyataan yang selama ini didengarnya tentang kemajuan negeri China, memang membuatnya menganggukkan kepala bila mengenang kembali kata-kata itu.

Dalam banyak hal ia melihat kemajuan di negeri tirai bambu itu.  Film-film persilatan China sejak kecil sering ditontonnya dan membuat masa kana-kanaknya dipenuhi khayalan tentang ilmu kependekaran.  Belum lagi di saat ini, ada banyak sekali produk-produk teknologi yang berasal dari hasil karya bangsa China.  Ilmu filsafat, spiritual, yang banyak berkembang di dunia juga sebagian berasal dari sana.

Namun bukan semata-mata kemajuan negeri China yang membuatnya tersentuh oleh kata-kata itu.  Sebab selain China, banyak juga negara-negara lain yang memiliki kemajuan dan perkembangan teknologi yang tidak kalah canggih.  Namun pemilihan negeri itu sebagai rekomendasi tempat menuntut ilmu di masa lalu, membuatnya bertanya-tanya.  Makna apakah yang tersirat mendalam di balik kalimat tersebut?

Maka ia membawa pertanyaan ini untuk berdiskusi dengan Nasrudin. "Kawan, tahukah kau kenapa ada saran untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China?"

Nasrudin yang sekonyong-konyong disodori pertanyaan tersebut, tidak segera menjawab namun memilih untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Joko Kendal mengikutinya.

"Kawan, aku hanya memahami pesan itu sebagai sebuah ajakan untuk selalu terbuka dalam belajar. Sejauh manapun dari tempat berdiammu suatu ilmu baru mulai tumbuh, jangan takut untuk datang ke sana menimbanya.  Jangan peduli entah pada bangsa apa, agama apa, suku atau ras apapun suatu ilmu pengetahuan diturunkan, belajarlah kesana atau padanya."

"Sebab angkasa ini adalah perpustakaan pengetahuan yang tak terbatas dan akan turun sebagai ilmu di mana pun ilmu itu dibutuhkan.  Di gurun pasir mungkin akan turun ilmu tentang menemukan sumber air. Namun di kutub utara mungkin akan muncul ilmu tentang cara mengatasi suhu dingin.  Setiap ilmu itu diturunkan oleh Kecerdasan Semesta ini di tempat mana ia benar-benar dibutuhkan."

"Itu sebabnya aku sarankan padamu, jangan pernah menutup pikiranmu terhadap ilmu apapun yang memberi manfaat dalam kehidupanmu.  Termasuk dalam ilmu-ilmu agama, pastilah akan diturunkan dengan beragam wujud pengetahuan sesuai kondisi masyarakat dan lingkungan hidup di mana ilmu agama itu diturunkan."

"Jika kau menutup hati dan pikiran untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berbeda, kau hanya akan terkungkung dalam tempurung kepalamu sendiri.  Kau akan menjadi manusia yang tertutup oleh ilmu pengetahuan dan ajaran lain.  Ketertutupan terhadap ilmu itulah kafir dalam menuntut ilmu."

Kalimat terakhir ini sungguh menyentak batin Joko Kendal.  Ia tak menyangka kata kafir bisa bermakna seluas itu.  Maka ia meminta penjelasan lebih mendalam.

"Jadi, artinya ketika aku menutup mata, telinga, pikiran dan batin terhadap ilmu-ilmu baru hanya karena melihat dari mana atau siapa yang mengajarkan atau menebarkannya, itu tak ubahnya aku sedang menjadi aum kafir terhadap ilmu?", desaknya pada Nasrudin.

"Benar kawan.  Ilmu di alam semesta ini tak terbatas.  Sebab setiap ciptaan adalah wujud dari pengetahuan itu sendiri.  Ia terbaca oleh setiap umat manusia dari berbagai suku, ras, agama dan bangsa lalu dicatat sebagai kitab-kitab ilmu .  Selain itu, kemampuan otak manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan juga tak terbatas.  Namun kemalasan dan keengganan kita untuk belajarlah yang membatasinya."

"Barangsiapa berani mempelajari setiap ciptaan, sesungguhnya ia akan menemukan keagungan Sang Maha Pencipta di dalam semua itu.  Lagi pula, pengetahuan itu seperti air yang mengalir.  Akan selalu ada yang baru di setiap ruang dan waktu.  Apa yang dianggap baik dan benar di suatu masa, kelak akan dianggap sebagai pengetahuan yang keliru.  Maka biarkan pemahamanmu mengalir bersama tumbuhnya penemuan-penemuan ilmu pengetahuan di bumi ini."

"Apakah itu berarti aku boleh belajar dan berguru kepada siapa pun?", potong Joko Kendal.

"Tentu saja kawan.  Setiap guru akan memiliki keping-keping pengetahuan yang mungkin tidak dimiliki guru yang lain.  Persis seperti kau bersekolah, akan selalu memerlukan guru-guru yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemajuan pemahaman dan kecerdasanmu."

"Namun yang terpenting untuk kau ingat, belajar pada guru-guru yang berbeda hanyalah untuk mengumpulkan keping-keping pengetahuan yang mereka bagikan padamu.  Sama sekali bukan untuk membanding-bandingkan mereka.  Ketika kau mulai membanding-bandingkan, itu tanda-tanda kau telah melekat pada suatu ilmu.  Tepat saat itu, kau kembali menutup pikiran dan batinmu pada keping ilmu yang lain."

Joko Kendal menangkap maksud Nasrudin.  Namun ia tetap memiliki kebimbangan. "Lalu bila aku menemukan pengetahuan dan ajaran yang berbeda dari Guru sebelumnya, manakah yang mesti aku percayai sebagai kebenaran? Apakah ilmu yang lama ataukah ilmu yang baru?"

"Gampang. Bila kau menemukan pengetahuan atau ajaran yang tampak berbeda, perdalamlah lewat berdiskusi dengan Gurumu itu.  Karena pengejaran sebuah ilmu pengetahuan harus disertai dengan diskusi dan tanya jawab, agar ditemukan pemahaman yang lebih mendalam tentang hal itu."

"Tapi bagaimana bila Sang Guru menolak ditanyai apalagi untuk menjawabnya?" Joko Kendal kian semangat bertanya.

"Maka tinggalkan Guru itu untuk bertanya pada yang lain, agar kau tercerahkan.  Seorang Guru sejati akan menyukai murid yang bertanya, karena dengan itulah ia mengukur kesungguhan muridnya dalam belajar.  Bila guru itu tidak mau menjawab dan hanya memintamu untuk mempercayainya, maka kau sedang berhadapan dengan indoktrinasi yang akan mematikan akal pikiranmu."

Joko Kendal terdiam, mencoba mencerna kata-kata tegas terakhir dari sahabatnya. Kuta, 3 Mei 2019.(*) 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA? 17 Aug 2019 14:18 WIB


 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia