KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman, Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Jiwa Besar vs Jiwa Kerdil  (1)

 
ROHANI

Jiwa Besar vs Jiwa Kerdil (1)
Oleh : Syaiful Karim | 29-Jan-2019, 15:08:20 WIB

KabarIndonesia .- Di tulisan saya yang sebelumnya, saya sudah menjelaskan perbedaan Jiwa dan Ruh. Ruh wujudnya adalah Nur (Cahaya). Tetapi bukan Cahaya biasa, melainkan Cahaya di atas Cahaya atau Nur ‘ala Nur (Q.S 24:35). Ruh adalah Tuhan yang sedang berkarya di dalam tubuh manusia. Itu sebabnya manusia adalah makhluk spiritual. 

 Dalam semua tradisi agama yang saya pelajari dan saya alami, Ruh itu terdiri dari tiga unsur, yaitu : Nurullah, Nur Muhammad, Nur Insani (dalam tradisi Islam), seperti yang dijelaskan dalam Q.S 5:73. Dalam tradisi agama lain, penamaanNya berbeda-beda, tetapi hakikat yang dinamai adalah sama. Oleh karena itu Tuhan hanya Satu adanya yaitu Tuhannya Manusia (Qul A'udzu birobbinnaas ;Katakanlah aku berlindung kepada Tuhannya manusia

Model manusia hanya terdiri dari 2 unsur, yaitu jasad dan Ruh, apapun agama mereka, apapun bangsa mereka, apapun warna kulit mereka. Menjadi sangat aneh kalau banyak manusia memiliki sikap membeda-bedakan. Yang menciptakan perbedaan itu adalah Allah sendiri. Dalam tradisi Islam, Nur Insani itulah yang kemudian sering disebut Jiwa (Nafs). Kepada Jiwa itu telah diilhamkan dua pilihan dengan risiko yang harus dipikulnya untuk pembelajaran tentang kesadaran dan bekal untuk memasuki dunia dengan segala dualitasnya (Q.S 91:7-10): "Demi Jiwa dan Kesempurnaannya, maka Allah telah mengilhamkan kepada Jiwa kefasikan dan ketaqwaan, berutunglah mereka yang mensucikan Jiwanya, dan merugilah mereka yang mengotorinya.

"Agar Jiwa selalu mengambil pilihan ketaqwaan, maka kepadanya telah diberikan tutor atau pembimbing atau penjaga, yaitu Nurullah dan Nur Muhammad, sebagaimana dinyatakan dalam Q.S 86:4 :"Untuk setiap Jiwa selalu ada penjaganya." Akan tetapi ketika Jiwa mengambil pilihan kefasikan, Jiwa juga akan mengalami pengalaman berharga untuk pembelajaran kesadaran. Itu sebabnya keburukan itu tidak abadi. Kebaikan dan keburukan itu sesungguhnya adalah pasangan serasi. Tidak ada kebaikan kalau tidak ada keburukan. Tidak ada kanan kalau tidak ada kiri. Tidak ada siang kalau tidak ada malam. Tidak ada guru kalau tidak ada syetan. Namanya "pasangan" itu pasti berbeda dan saling melengkapi. Dan itulah yang disebut kesempurnaan. 

Agama tidak akan pernah bisa mengubah semua manusia menjadi beriman. Adanya manusia beriman itu karena adanya manusia yang tidak beriman. Bagaimana manusia beriman akan teruji keimanannya jika tidak ada yang tidak beriman. Dan itulah kesempurnaan. Bahkan kebaikan itu bisa jadi dilahirkan oleh keburukan. Ketika seseorang melakukan keburukan, kemudian dia menjalani risiko dari pilihannya itu, kemudian ia mengalami kesadaran dan berubah menjadi baik. Kesalahan itu tidak masalah, ketika kesalahan itu membuat manusia menjadi tambah bijaksana. Mengapa dalam kehidupan ini ada manusia yang berjiwa besar dan ada yang berjiwa kerdil? Ini juga pasangan serasi. Dan ini juga kesempurnaan.

Tidak ada orang yang berjiwa besar jika tidak ada yang berjiwa kerdil . Bagaimana kebesaran jiwa seseorang itu bisa terukur besar jika tidak ada orang-orang yang berjiwa kerdil. Bagaimana kita bisa mengukur seseorang itu sabar kalau tidak ada orang yang tidak sabar. Orang sabar dan tidak sabar sama pentingnya dalam kehidupan ini. Bagaimana kita bisa mengukur seseorang itu baik kalau tidak ada orang yang tidak baik. Ciri orang baik itu kelihatan justeru saat dia bersikap baik sama orang yang tidak baik Jadi orang yang tidak baik itu dibutuhkan untuk mengukur kebaikan seseorang. Dan ini juga pasangan serasi. Inilah kesempurnaan. Kalau seseorang itu bersikap baik sama orang baik, itu biasa, ini namanya sedang tukar-menukar kebaikan. Kalau kita biasa memberi sama orang yang suka memberi kepada kita, itu biasa. Yang luar biasa adalah kita bisa memberi banyak kepada orang-orang yang pelit dan tidak pernah memberi kepada kita. Jadi orang murah hati dan orang pelit sama pentingnya dalam kehidupan ini.

Berdasarkan logika ayat yang saya sampaikan di atas, orang yang berjiwa besar itu adalah orang yang Jiwanya selalu tunduk patuh kepada tutornya yang selalu membimbing dari dalam dengan sempurna yaitu Nurullah dan Nur Muhammad (yang memiliki sifat Siddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh). Sebaliknya orang yang Jiwanya kerdil adalah orang yang selalu mengabaikan bimbingan dari tutornya sendiri yang selalu memberikan bimbingan yang luar biasa dari dalam tanpa henti. Bimbingan itu tanpa kata, tanpa suara, tetapi amat sangat jelas. Tetapi karena terlalu sering diabaikan, akibatnya suara bimbingan itu semakin lama semakin lemah bahkan tak terdengar lagi. Dan inilah yang menyebabkan orang yang berjiwa kerdil makin bebal terhadap bimbingan ke arah yang baik.

Meminjam kata-kata Gary Zukav, seorang ilmuwan fisika yang telah menulis buku spiritual yang sangat luar biasa yang berjudul :"The Seat of The Soul", yaitu Buku tentang visi spiritual mengenai taqdir manusia, Beliu mengatakan bahwa :"Kejahatan adalah penyimpangan Jiwa dari Ruhnya." Ini berarti bahwa saat Jiwa tidak tunduk kepada Nurullah dan Nur Muhammadnya, maka Jiwa sedang memilih pilihan kefasikan, dan Jiwa akan mengalami risiko dari pilihannya. Maka disitulah Jiwa akan mengalami penyesalan yang dalam. Penyesalan Jiwa ini akan mengubah kesadarannya, dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi Jiwa.

Tubuh manusia adalah satu-satunya kendaraan yang dapat mempertemukan dan mempersaksikan Jiwa dengan Nurullah dan Nur Muhammadnya dengan penyaksian yang nyata senyata-nyatanya melalui pandangan Jiwa (Q.S 3: 6) . Inilah sesungguhnya prosesi syahadat yang sesungguhnya tanpa kata-kata, tanpa suara. Prosesi syahadat universal yang dapat dilakukan oleh seluruh ummat manusia tanpa terjebak oleh keterbatasan bahasa. Prosesi syahadat pada tingkatan "rasa". Prosesi syahadat semacam inilah yang akan menciptakan manusia-manusia yang berintegritas, yang koheren antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Yang di dalam dengan yang di luar sama adanya. Tidak ada pencitraan, apa adanya, natural, tidak main sinetron. Inilah prosesi syahadat yang akan mempersatukan Jiwa dengan Tutornya, memanunggalkan Jiwa dengan Pembimbing Sejatinya, Mentauhidkan Jiwa dengan Penjaganya. Mengizinkan Jiwa menyerap kembali sifat-sifat Nurullah dan Nur Muhammad, sifat-sifat Luhur dan Terpuji. Inilah yang disebut religare (re artinya kembali, dan ligare artinya menyatukan). Religare artinya mempersatukan kembali Jiwa dengan Nurullah dan Nur Muhammadnya. Religare menjadi Religi (agama), menjadi religius (bersifat keagamaan), menjadi Religion (keagamaan). 

Jadi seharusnya agama itu menjadi sarana mempersatukan kembali Jiwa dengan Sang Pemilik Jiwa itu sendiri. Biarkan agama itu membela dan menyelamatkan kita, bukan kita malah yang membela agama. Izinkan agama menata kehidupan kita. Izinkan agama membesarkan jiwa kita. Jangan kemudian salah menerapkan agama, malah justeru membuat Jiwa kita menjadi kerdil. Merasa paling benar dan menghakimi orang lain yang berbeda. Merasa paling hebat di hadapan Allah, bahkan Allah pun dimonopoli oleh kita dan kelompok kita sendiri. Bukankah Allah itu Robbul'Aalaamiin? Bukankah Allah itu Tuhan Semesta Alam? Lebih jauh lagi malah kita mulai mengatur-ngatur Allah agar tunduk dan patuh kepada segala keinginan-keinginan kita. Malah terbalik, harusnya kita yang berserah diri kepada Dia, ini malahan Dia yang disuruh berserah diri kepada kita.

Siapa yang jadi Tuhan sesungguhnya? Banyak manusia tidak sadar dalam keberagamaannya, malah Allah dijadikan hambanya dia, diatur-atur oleh dia melalui ritual do'anya yang keliru. Dan ketika Allah mengabulkan do'anya itu, dia merasa sudah berhasil menundukkan Allah, karena Allah telah berhasil dia atur-atur sesuai dengan keinginannya. Kapan manusia seperti ini bisa menyadari bahwa dia diciptakan oleh Allah untuk Allah? Kita diciptakan Allah bukan untuk kita, melainkan untuk Allah itu sendiri.
 
Tugas kita adalah berserah diri kepadaNya seutuhnya. Tugas kita adalah menjadi kepanjangan TanganNya untuk menebarkan Cinta KasihNya. Tugas kita adalah mengalir bersama KeinginanNya. Tugas kita adalah mengikuti "Pikiran"Nya. Tugas kita adalah menyerahkan sepenuhnya diri kita untuk diperankan dalam kehidupan ini olehNya.  Jauh sebelum kita ada di dunia ini, Dia sudah merencanakan tujuan keberadaan kita di sini. Dia sudah merencakan peran-peran yang akan ditugaskan kepada kita di sini

Itu sebabnya kita diajarkan memulai pekerjaan dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim- Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang. Atas Nama Allah berarti kita sedang mewakiliNya, menjadi kepanjangan TanganNya. Lalu kita diajarkan kalimat syukur Alhamdulillah-Segala puji Milik Allah. Segala Puji habis untuk Dia. Mengapa kita sering sakit hati ketika orang lain tidak memuji karya kita? Bukankah yang disebut karya kita itu hakikatnya adalah karya Allah melalui tangan kita? Bukankah yang berkarya adalah Dia? Mengapa kita ingin dipuji dan disanjung? Lalu kita diajarkan kalimat penyerahan Laa Haulaa Wa Laa Quwwata - Tidak ada daya tidak ada kekuatan. (Bersambung).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museumoleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museum Asia Society and Museum berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia