KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Internasional oleh : Tonny Djayalaksana
24-Aug-2019, 15:51 WIB


 
 
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Jiwa Besar VS Jiwa Kerdil (2)

 
ROHANI

Jiwa Besar VS Jiwa Kerdil (2)
Oleh : Syaiful Karim | 30-Jan-2019, 09:45:05 WIB

KabarIndonesia- Menjadi manusia yang berjiwa besar itu bukanlah sebuah warisan, melainkan memerlukan ketekunan dan kesungguhan untuk melatih diri ke dalam dan keluar. Melatih diri ke dalam berarti memerlukan metode yang tepat untuk meniti ke dalam diri agar Sang Jiwa selalu terhubung dengan Sang Maha Jiwa dibawah bimbingan seorang master, seorang murshid yang sudah ahli dan terbukti keahlianya. Melatih diri ke luar berarti selalu menjadikan setiap ruang adalah ruang belajar, setiap waktu adalah waktu belajar, dan setiap peristiwa adalah guru-guru pembelajar. Selalu eling dan waspada, menjaga pikiran, kata-kata, dan perbuatan agar selalu selaras. 

Dalam tradisi leluhur kita di Nusantara, agama adalah pelajaran  dasar menempa diri untuk membentuk tatakrama serta kelembutan hati nurani agar seseorang memiliki budhi pekerti yang luhur dan terpuji . Agama adalah sebuah pertahanan untuk melindungi diri dari kejahatan diri kita sendiri. Tidak ada yang berbahaya di luar diri kita, karena yang paling berbahaya justeru diri kita sendiri. Semua penderitaan manusia tidak diakibatkan oleh orang lain, melainkan diundang oleh dirinya sendiri. Itu sebabnya semua Nabi, semua Rasul, Para Bijak, Para Suci, selalu menekankan bahwa perubahan itu akan terjadi kalau dimulai dari diri kita sendiri.

Pelajaran agama yang telah diberikan oleh Para Leluhur kita berupa bimbingan mengenai tata cara mengalahkan diri pribadi agar ia tidak mendapatkan kesulitan untuk menemukan jati dirinya, yaitu mengenali kelembutan dan kehalusan Jiwa, melatih ketajaman rasa,  belajar mengendalikan daya cipta, memahami daya skala dan daya niskala yang Maha Besar, serta mengerti arti kehidupan. Kelak hasil bimbingan dan penempaan diri pribadi itu akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari .

Seseorang yang sungguh-sungguh sudah menyelam ke dalam, akan memperagakan diri dalam perilaku sopan santun, berbicara dengan tutur kata yang halus dan tidak menyakiti, menjadi pribadi yang sangat menyenangkan, dan setiap orang yang bertemu dengannya tidak akan berkurang kebahagiaannya sedikitpun, malah justeru semakin berambah. Paling tidak, kalau tidak bisa membantu orang lain, jangan pernah menyakiti. 

Manusia yang sudah menemukan jati dirinya cukup mudah untuk dikenali melalui bahasa yang dipertunjukkan dalam kehidupan sehari-harinya. Dia akan kelihatan sebagai orang yang ramah, sopan santun, berbudhi pekerti luhur dan terpuji, lemah lembut ketika bertutur namun tegas dalam pendiriannya, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, mencintai tanah airnya, serta semesta kehidupan tanpa memilih golongan, agama, tidak menjajah dan tidak mau dijajah. Menjadi gambaran paripurna dari sosok manusia yang telah mencapai puncak kesadaran. Sebagian besar daya kehidupan mereka diserahkan demi terbentuknya kehidupan yang tenteram damai sejahtera. Selalu menjaga persatuan dan kesatuan, menghargai dan menerima perbedaan.

Sebaliknya manusia yang belum sampai pada pengenalan akan jati dirinya, walaupun kelihatan sibuk beragama, sibuk menjalankan ritual agama, dia akan kelihatan sebagai orang yang tidak ramah, tidak memiliki sopan santun, berbudhi pekerti rendah  dan tercela , kasar dan tidak berperasaan ketika bertutur, dan tidak  tegas dalam pendiriannya, merendahkan nilai -nilai kemanusiaan, merusak tanah airnya sendiri, serta semesta kehidupan. Selalu membeda-bedakan manusia berdasarkan  golongan, agama,  dan senang menjajah . Inilah  sosok manusia yang sangat rendah kesadarannya. Sebagian besar daya kehidupan mereka diarahkan demi tercapainya ambisi pribadi dan golongannya . Selalu merusak  persatuan dan kesatuan, tidak bisa menghargai dan menerima perbedaan. Bahkan semua itu dilakukannya atas nama agama dan tuhan yang dia yakini. 

Manusia-manusia yang telah tersambung Sang Jiwa-nya dengan Dia Sang Maha Jiwa, akan memiliki Jiwa Besar. Sebaliknya mereka yang belum tersambung Sang Jiwa-nya dengan Dia Sang Maha Jiwa akan memiliki Jiwa yang kerdil. Mereka yang memiliki Jiwa yang besar dan Jiwa yang kerdil sangat mudah dikenali perbedaan karakter dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Mereka yang berjiwa besar, mudah sekali mengakui kesalahan ketika ia melakukan kesalahan. Tidak pernah mencari kambing hitam. Bahkan berani mengakui kelemahannya sendiri. Selalu bersikap sportif , dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sebaliknya mereka yang berjiwa kerdil, selalu menyembunyikan kesalahan, senang mencari kambing hitam, tidak memiliki keberanian untuk mengakui kelemahannya sendiri, sikapnya tidak sportif dan tidak jujur,  mudah sekali membenci  dan menyimpan kesalahan orang lain. Dan mereka itu sulit sekali memaafkan kesalahan orang lain. Selalu mendendam, bahkan menebarkan dendam dan kebenciannya itu kepada pihak lain. 

Manusia yang berjiwa besar, memiliki sikap rendah hati, tidak banyak berbicara tentang apa yang telah dicapai oleh dirinya, bertanggung jawab terhadap apa yang dikatakan dan dilakukannya, memiliki sikap percaya diri, dan tidak pernah membanding-bandingkan, selalu tenang dalam segala situasi, termasuk dalam situasi buruk sekalipun. Mereka berani mengambil risiko, bahkan berani mengalami kegagalan, karena kegagalan bagi mereka adalah pelajaran yang sangat berharga. Lihatlah manusia yang berjiwa kerdil, memiliki sikap yang sombong dalam segala hal, selalu membicarakan kesuksesan dan ketercapaiannya di setiap ruang dan waktu, sering lari dari tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan dan dikatakannya, terkadang ragu pada dirinya sendiri, selalu membanding-bandingkan, selalu terburu-buru, tidak tenang.

Dalam situasi baik, dia menjadi semakin sombong, dan dalam situasi buruk mudah sekali terpuruk. Mereka tidak berani mengambil risiko, tidak berani mengalami kegagalan, selalu ingin berhasil, karena kegagalan bagi mereka adalah akhir dari segalanya. Manusia yang berjiwa besar selalu optimis dan selalu menatap masa depan dengan penuh harapan dan sukacita. Menjadikan hambatan sebagai tantangan. Bersikap tegas ketika membela hak-haknya. Menerima dan tidak alergi terhadap perbedaan. Tidak pernah merasa terganggu oleh pro dan kontra. Tidak pernah membesar-besarkan hal kecil. Tidak pernah dipusingkan dengan hal-hal yang sepele. Mampu menerima orang lain apa adanya.

Lihatlah orang-orang yang berjiwa kerdil. Selalu pesimis dan mencari-cari alasan untuk tidak berbuat. Menatap masa depan dengan keluhan dan duka cita. Mudah sekali melakukan protes atas apa yang tidak disukainya. Ketika mendapatkan hambatan, mudah sekali mengeluh dan terpuruk. Tidak memiliki sikap yang tegas ketika membela hak-haknya. Sangat alergi terhadap perbedaan ,dan selalu menolaknya. Mudah sekali berpihak secara membabi buta ketika ada pro dan kontra. Selalu membesar-besarkan hal kecil dan sepele. Ingin agar semua orang seperti yang dipikirkan olehnya, sehingga tidak mampu menerima orang lain apa adanya. 

Manusia yang berjiwa besar, selalu melihat kebaikan dan keistimewaan orang lain. Tidak menjadi buruk ketika diperlakukan buruk oleh orang lain. Selalu ingin membantu orang lain sekalipun dirinya susah. Selalu bergembira atas keberhasilan orang lain. Mampu menghargai pendapat dan keyakinan orang lain yang berbeda. Tidak memiliki sifat picik dan merasa dirinya yang paling benar. Mampu menerima kritik dengan lapang dada. Melihat kritikan sebagai hadiah berharga untuk memperbaiki kualitas dirinya. Mampu menyelesaikan konflik dengan bijaksana. 

Lihatlah orang-orang yang kerdil Jiwanya. Dia selalu melihat keburukan dan kelemahan orang lain. Selalu menjadi buruk ketika diperlakukan buruk oleh orang lain. Selalu ingin dibantu, dan marah ketika orang lain tidak memberikan bantuan kepadanya. Bahkan tidak pernah mau merasakan kesusahan orang lain, yang penting dirinya senang. Ketika orang lain mengalami keberhasilan, dia selalu sedih dan iri hati. Selalu merasa pendapat dan keyakinan dirinya saja yang paling benar, sehingga sulit untuk menghargai perbedaan . Pikirannya selalu picik, dan merasa dirinya dan golongannya saja yang paling benar, dan cenderung meremehkan dan menihilkan pihak lain. Menganggap kritikan dari pihak lain sebagai serangan bagi dirinya. Menyelesaikan konflik dengan konflik. 

Manusia yang berjiwa besar, selalu berpikir dan bercita-cita besar. Berbeda dengan manusia-manusia yang berjiwa kerdil, pikirannya kecil dan cita-citanya kerdil. Pertanyaannya sekarang, dari semua uraian saya diatas, apakah kita termasuk yang berjiwa besar atau berjiwa kerdil? Yang paling tahu diri kita tentu saja hanya diri  kita sendiri. Silahkan masing-masing pembaca memberikan jawaban atas pertanyaan ini dengan jujur. Lalu, selanjutnya kita mau apa? (*)
(Penulis: Syaiful Karim , Pembina Perguruan Spiritual Itsbatulyaqiin) 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
DI ATAS LANGIT ADA LANGIT 23 Aug 2019 14:03 WIB


 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia