KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniUrgensi Mengemballikan Pelajaran PMP di Sekolah oleh : Adolf Roben Lanapu
17-Feb-2019, 21:19 WIB


 
  KabarIndonesia - Dalam satu dekade ini terjadi perubahan besar pada lingkungan budaya di masyarakat, yang dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan persaingan industri elektronik. Murah dan mudahnya memiliki gadget canggih seperti smartphone berperan merubah perilaku masyarakat yang awalnya lebih
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Diam Dalam Rasa 18 Feb 2019 13:56 WIB

Hujan Lakukan Padaku 16 Feb 2019 12:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Ironi Negara Islam dengan Masyarakatnya  yang Tak Islami, dan Fakta Sebaliknya? (2)

 
ROHANI

Ironi Negara Islam dengan Masyarakatnya yang Tak Islami, dan Fakta Sebaliknya? (2)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 21-Jan-2019, 10:25:11 WIB

KabarIndonesia - Melanjutkan cerita yang saya tuliskan pada tulisan "Ironi Negara Islam dengan Masyarakatnya yang Tak Islami, dan Fakta Sebaliknya? Di bagian (1), di bagian (2) ini saya pun ingin menceritakan pengalaman yang menarik lainnya.       

Suatu ketika saya mencari barang-barang suvenir yang memenuhi selera saya. Saya masuk ke sebuah toko, lalu memilih beberapa barang yang ingin saya beli. Selanjutnya saya tanyakan harganya. Seperti biasanya, kalau saya pergi ke toko manapun di belahan bumi ini, namanya jual beli tentu dibarengi dengan proses tawar menawar. 

Tapi berbeda di toko kota Mekkah yang saya masuki itu. Mereka tidak mau melayani penawaran saya. Karena saya bertanya terhadap beberapa jenis barang, akhirnya si pelayan toko yang sekaligus juga sebagai pemilik toko tersebut marah. Ia mengusir saya keluar dari tokonya.       

Tadinya saya berpikir, hari itu mungkin dia sedang ada masalah pribadi. Akibatnya saya kena imbasnya. Tetapi ternyata setelah hari ketiga ketika saya lewat tokonya, saya coba masuk lagi, rupanya dia masih mengenali saya. Langsung dia bilang ru..ru..ru sambil tangannya memberi isyarat agar saya keluar dari tokonya.       

Akhirnya saya tertawa sendiri dan berpikir dalam hati. Hampir semua toko yang ada di seluruh dunia menganut faham bahwa pembeli itu ibarat seorang raja. Ternyata pemahaman tersebut tidak berlaku untuk di kota Mekkah. Khususnya di satu toko yang telah mengusir saya sebagai pembeli (raja).       

Ada satu cerita lagi yang menurut saya sangat dahsyat. Cerita ini kebetulan dialami oleh sahabat saya, seorang petinggi di Republik ini. Sewaktu beliau pergi ibadah Umroh pada tahun 2015, selagi beliau menunggu istri dan para sahabat beliau yang bertempat di pelataran Masjidil Haram, persisnya di depan hotel Raffles, tiba-tiba beliau dihampiri seorang wanita muda yang berbicara pakai bahasa Inggris. Intinya wanita ini mengajak beliau ngamar bareng dia. 

Beliau pun sungguh tidak pernah menyangka akan ada yang berani "menjual dirinya" di tempat yang sangat suci dan sakral bagi umat islam tersebut. Termasuk saya pun kaget mendengar cerita itu. Tapi itulah memang sebuah realita yang tidak bisa dinafikan.       

Belum lagi cerita berberapa teman saya yang kehilangan uangnya ketika menjalankan ritual tawaf. Padahal uang tersebut disimpan di ikat pinggang yang biasa digunakan untuk mengikat kain ihram yang ada kantung dan reisletingnya. Ternyata tangan-tangan jahil yang beredar di sekitar Ka'bah itu sungguh canggih-canggih. 

Sampai-sampai ketika uang teman saya diambil, dia tidak merasakan apa-apa. Baru disadari ketika proses tawaf sudah selesai. Ketika dia ke toko hendak beli kurma, saat hendak membayar barula dia menyadari bahwa ikat pinggangnya sudah robek dan uangnyapun sudah hilang.       

Ada juga cerita beberapa teman yang kehilangan sandal. Tadinya saya berpikir bahwa pencurian sandal itu hanya terjadi di masjid Indonesia saja. Ternyata di Masjidil Haram yang notabene merupakan pusatnya agama Islam pun, ternyata sama saja.       

Saat merenungi dan membandingkan antara budaya kehidupan di Jepang dan Saudi Arabia, tiba-tiba spikiran saya melayang ke negara Macau yang saat ini dikenal sebagai Las Vegasnya Asia. 

Waktu berkunjung ke negara tersebut, saya baru mengetahui bahwa sesungguhnya kehidupan yang ramai dikunjungi orang-orang, baik itu yang mau berjudi ke Casino, atau mau melihat atraksi live show dengan beraneka macam hiburan, ramainya di waktu tengah malam sampai ke menjelang matahari terbit.       

Hal itu mengingatkan saya saat menunaikan ibadah Haji dan Umroh. Puncak kepadatan manusia yang Tawaf atau Sa'i waktu itu, juga tengah malam hingga selesai sholat subuh. Tiba-tiba saya seperti mendengar bisikan halus sekali yang bertanya kepada saya, "Apa kamu kira semua yang ada di Masjidil Haram tempat yang kamu anggap sangat suci dan sakral itu semua murni beribadah dan kenal sama Tuhannya? Lalu kamu pikir di tempat yang kamu anggap, tempat yang penuh dengan kemaksiatan itu tidak ada orang yang beribadah dan kenal dengan Tuhannya?"       

Saya serasa diguyur dengan air es. Jika mengacu pada cuplikan peristiwa yang sudah saya tuliskan di atas, tentu jawabannya memang tidak semua orang yang berada di tempat sangat suci itu murni ibadah karena Allah. Begitu juga sebaliknya, tidak semua orang yang berada di tempat yang kita anggap pusatnya kemaksiatan itu tidak ada orang yang tidak beribadah karena Allah.     

Sekali lagi Allah membuktikan bahwa di muka bumi ini, tidak ada seorang pun yang bisa serta merta berhak menilai, menghukumi dan mengetahui prilaku seseorang, kecuali DIRINYA SENDIRI.     

Berbekal beberapa peristiwa yang terjadi di atas, saya merenung untuk mencari jawaban, kira-kira apa penyebabnya negara yang notabene pusatnya agama Islam, tetapi mayoritas budaya kehidupannya sama sekali tidak menunjukan apa yang diajarkan atau dicontohkan oleh junjungan Nabi Besar Muhammad SAW alias tidak Islami?     

Sebaliknya, negara yang mayoritas penduduknya bukan pemeluk Agama Islam atau sebut saja Kafir, ternyata praktek budaya kehidupan mayoritas masyarakatnya sangat Islami. Cocok dengan ajaran Nabi Besar Muhammad SAW.      

Akhirnya saya pribadi menyimpulkan bahwa ajaran agama Islam yang diajarkan saat ini, hampir semua mengacu kepada reward and punishment, eksklusivitas dan selalu dibekali dogma-dogma rasa ketakutan. Takut dosa, takut neraka, dan yang terpenting adalah takut kepada Allah. Padahal Allah itu bukan untuk ditakuti. Justru malah seharusnya Allah itu dicintai. Jadi yang selama ini diajarkan agama itu hanya untuk memicu andenalin semata.     

Padahal Nabi Muhammad SAW diturunkan ke bumi ini salah satunya adalah untuk mengajarkan akhlak yang baik dan sesama manusia mengutamajan kasih sayang, seperti juga sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.      

Jika diuraikan, ada 3 teori motivasi berdasarkan KESADARAN tersebut : 1. Reward and punishment motivation: motivasi hadiah dan ancaman. Dimana sesorang mau melakukan sesuatu karena ada hadiah dan ancaman. Ini adalah tingkatan motivasi bagi orang-orang yang kesadarannya sangat rendah. Melakukan ibadah karena hadiah surga dan ancaman neraka adalah tingkatan ibadah bagi orang yang kesadarannya rendah.   

 2. Need motivation: motivasi kebutuhan. Dimana seseorang melakukan sesuatu karena dia membutuhkan apa yang dia lakukan. Ini memerlukan tingkat kesadaran yang lebih tinggi.     

 3. Love motivation: motivasi cinta. Dimana seseorang melakukan sesuatu karena dia mencintai apa yang dia lakukan. Hal inilah yang memerlukan tingkat kesadaran yang paling tinggi.     

Adapun maksudnya sifat eksklusivitas itu adalah, merasa dirinya atau kelompoknyalah yang terbaik dan merasa yang paling benar. Mohon maaf, kalau begitu apa bedanya dengan sifat Iblis, bukankah Iblis juga mempunyai sifat "AKU LEBIH BAIK DARI KAMU?"     

Hasil dari agama yang diajarkan saat ini, hanya meningkatkan ego dan kepentingan semata. Hasilnya berbanding terbalik dari misi Nabi Muhammad SAW.      

Sebagai kesimpulan akhir, mari kita bersama-sama meningkatkan kesadaran kita agar bisa mencapai puncak kesadaran yang paling tinggi. Dengan begitu, kita bisa lebih toleran, tidak terjebak lagi dengan dualitas Iman-kafir, benar-salah, menang-kalah dan sebagainya. Hingga pada akhirnya, kita bisa hening, merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa dan bukan siapa-siapa.     

Bukankah pada hakekatnya alam semesta beserta seluruh isinya adalah milik Allah semata? Dan di alam semesta ini semuanya adalah DIA ( ALLAH ), tidak ada satupun yang bukan DIA.   DIA YANG AWAL DAN DIA YANG AKHIR... 
Oleh: TONNY DJAYALAKSANA MUALLAF ZAMAN NOW (*)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Marc Marques Juara Dunia MotoGP 09 Feb 2019 02:01 WIB


 

 
 

 
 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia