KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

Wahai Kekasih Allah 21 Mar 2019 15:22 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Evolusi dari Jiwa Menuju Ruh

 
ROHANI

Evolusi dari Jiwa Menuju Ruh
Oleh : Syaiful Karim | 02-Jan-2019, 16:19:37 WIB

KabarIndonesia - Kajian universal tentang Jiwa dan Ruh yang akan saya rinci pada tulisan ini memiliki kesamaan di semua keyakinan dan agama, mohon dimaklumi bila saya banyak menggunakan istilah dan idiomatik yang dipengaruhi oleh JALAN yang sedang saya tekuni dalam kelahiran saya yang sekarang ini.

Agama adalah Jalan, Kitab Suci adalah Petunjuk Jalan, dan Guru-Guru Suci adalah Penuntun Jalan. Untuk mencapai Tujuan yang sama, tentu saja boleh memilih jalan yang berbeda, yang penting tekun memperhatikan Petunjuk Jalan yang sedang dilalui, dan bakti serta khidmat kepada Penuntun Jalan yang sedang mendampingi perjalanan kita. Seorang Penuntun Jalan yang sejati adalah dia yang sudah mampu menerima dan menghargai perbedaan.

Sudah saatnya kita saling menghormati Jalan yang berbeda,  tanpa saling menyalahkan dan saling membenci. Agar hal ini bisa kita capai, saatnya kita mengizinkan Jiwa kita berevolusi menuju Ruh yang kekal abadi. Pengenalan terhadap Ruh menjadi sangat penting, karena disanalah kita akan menemukan cinta, belas kasih, dan kearifan. Sehingga kita mulai dapat tersenyum dengan mata kita, bukan tersenyum dengan mulut yang dihiasi kepura-puraan, melainkan tersenyum dengan mata yang penuh dengan persahabatan dan tanpa penghakiman.

Merujuk pada Q.S 3:49, tugasnya Para Guru-Guru Suci yang menjadi Utusan Tuhan adalah membimbing Para Pencari Tuhan (Bani Israil , Kaum atau kelompok yang sedang berjalan menuju Tuhan) untuk membebaskan diri dari 3 jenis penyakit : Penyakit Kebutaan Mata Sarwa Indera (multi-sensory), Penyakit Kulit (mengerti sesuatu hanya kulitnya saja, tidak mengerti isi, tidak mengerti essensi), dan Penyakit kematian kesadaran. 

Ketika penyakit pertama  masih menghinggapi seseorang, maka dia hanya melihat sesuatu dengan panca indera (five sensory), maka dia akan diliputi oleh rasa takut dan emosi kekerasan yang telah menjadi ciri keberadaan manusia yang masih dalam level jiwa (nafs).     

Di level inilah adanya kemarahan, ketakutan, kebencian, balas dendam, kepedihan, rasa malu, penyesalan, ketidakacuhan, frustasi, kesinisan, dan kesepian. Bahkan di tempat ramai sekali pun, dia tetap merasa kesepian, karena dia hanya sibuk denga  panca inderanya, tanpa melibatkan sarwa indera.

Ketika seseorang menderita penyakit kulit atau penyakit luar, dimana dia hanya mengetahui sesuatu dari aspek eksternalnya saja, ini menjadi sangat berbahaya. Dia akan merasa diri paling tahu, padahal sesungguhnya dia tidak tahu, cuma dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu, sok tahu, dan tidak mau tahu, akhirnya dia menjadi orang yang paling tidak tahu karena cenderung menutup diri dari segala informasi yang datang padanya.     

Bahayanya, dia mulai melakukan proses penghakiman kepada orang lain. Dan penyakit kulit ini mudah sekali penyebarannya karena menular. Apa pun yang dibaca lewat buku, lewat sumber-sumber informasi, tetap saja bernilai "KATANYA", sepanjang itu belum menjadi pengalaman pribadi. Lebih bahaya lagi ketika sesuatu yang bernilai "KATANYA", kemudian dikatakan lagi.   

Penyakit yang ketiga adalah penyakit kematian kesadaran. Nabi Muhammad saw bersabda:" Demi Allah, bukanlah kamu seorang yang beriman, jika kamu tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara tetanggamu gak bisa tidur karena kelaparan".     

Kehilangan kepekaan dan cinta kasih kepada sesama menjadikan manusia menjadi egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Manusia akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia yg harusnya menjadi kepanjangan Tangan Tuhan untuk menyebarluaskan Cint dan Kasih Sayang Tuhan kepada semesta.

Dalam Al-Qur'an, kata Jiwa (nafs) dengan kata Ruh memiliki dimensi yang berbeda. Makanya ada pernyataan, berbahagialah mereka yang mensucikan jiwanya, bukan Ruhnya. Ruh adalah sumber kehidupan otentik sebagi bagian dari percikan DiriNya Yang Maha Suci yang telah ditiupkan sesaat setelah proses penciptaan raga manusia dalam rahim seorang Ibu telah mencapai kesempurnaan. Jiwa sesungguhnya adalah bagian dari Ruh yang terkoyak. 

Kita sedang berevolusi dari spesies yang mengejar kekuatan eksternal menjadi spesies yang mengejar kekuatan otentik. Kita sedang meninggalkan pencarian dunia fisik sebagai alat tunggal evolusi. Alat evolusi beserta kesadaran yang terbangun melalui panca indera, sudah tidak memadai untuk membangun keberadaan kita. 

Kelima panca indera kita membentuk sistem sensori tunggal yang dirancang untuk menangkap realitas fisik. Ketika kita beralih menjadi manusia sarwa indera, maka persepsi yang terbangun akan melampaui realitas fisik, hingga ke sistem dinamika yang jauh lebih besar daripada realitas fisik. Dan wilayah ini tak terlihat oleh manusia panca indera. 

Dalam wilayah tak terlihat inilah asal-muasal ditemukannya nilai terdalam kita. Dari wilayah inilah munculnya motivasi sadar untuk mengorbankan diri untuk sebuan tujuan yang jauh lebih besar. Semua Guru-Guru Suci dapat dipastikan sebagai manusia sarwa indera. Makanya mereka senantiasa membangkitkan kemampuan kita untuk mengenali KEBENARAN.

Bagi manusia panca indera, dunia fisik merupakan pemberian tanpa penjelasan dimana secara tak sengaja menemukan diri kita, kemudian kit berusaha menguasainya untuk bertahan hidup. Bagi manusia sarwa indera, dunia fisik adalah lingkungan pembelajaran yang diciptakan bersama oleh Ruh-Ruh yang mendiaminya, dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya sebagai pembelajaran.

Ruh adalah bagian dari diri kita yang bersifat kekal. Setiap orang mempunyai Ruh. Tetapi Jiwa yang persepsinya dibatasi oleh panca indera, tak menyadari keberadaan Ruhnya, sehingga jiwa tak mengenali pengaruh-pengaruh dari Ruhnya. Tatkala Jiwa menjadi sarwa indera, intuisi atau firasat  dan perasaan halusnya menjadi penting baginya. 

Jika kita berhasrat untuk mengenali Ruh kita, langkah pertamanya adalah menyadari bahwa kita memiliki Ruh. Langkah berikutnya adalah membiarkan diri kita berpikir: Ruh kita ini untuk apa? Apa yang diinginkan oleh Ruh kita ini?  Bagaimana hubungan Ruh kita dengan kita?

Disinilah kita memerlukan seorang Penuntun Jalan. Karena meniti ke dalam diri walaupun kelihatannya dekat, akan menjadi sangat jauh kalau tidak dibimbing oleh orang yang tahu. Siapa orang yang tahu itu? Yaitu orang yang tahu bahwa dia tahu. Tahu karena sudah mengalami, bukan tahu karena sudah membaca ribuan literatur.        

Jangan berguru kepada mereka yang tidak tahu, yang suka mengaku-ngaku tahu, padahal dia itu tidak tahu, cuma dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Semesta ini dirusak oleh orang-orang yang terbuka mulutnya tetapi pikirannya masih tertutup. Keseimbangan semesta ini sering diganggu oleh orang-orang yang terbuka mulutnya sementara mata qolbunya masih tertutup. (*)      

Penulis: Pembina Perguruan Spiritual Itsbatul Yaqiin          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia