KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiJerman Bahas Larangan Berjilbab buat Anak TK dan SD oleh : Kabarindonesia
24-Mei-2019, 14:50 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jerman bergulat dengan fenomena jilbab di kalangan siswa taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Kebiasaan tersebut dinilai mempersulit proses integrasi. Tapi apakah larangan serupa di Austria adalah langkah bijak?

Perdebatan tentang larangan jilbab di sekolah dasar di Jerman
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB


 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Mengenang Peristiwa 21 Mei 1998 22 Mei 2019 14:14 WIB

 

Dimanakah Kerajaan Tuhan Itu? (1): Mengintip Konsep Tuhan dalam Buddha

 
ROHANI

Dimanakah Kerajaan Tuhan Itu? (1): Mengintip Konsep Tuhan dalam Buddha
Oleh : Tonny Djayalaksana | 04-Mei-2019, 13:15:32 WIB

KabarIndonesia - Alam Semesta diciptakan oleh Tuhan (Allah) dengan penuh misteri. Akibatnya sampai saat ini, masih timbul banyak yang mengundang banyak perdebatan. Baik perdebatan dari kalangan ilmuwan ataupun dari kalangan rohaniawan. Hal itu dikarenakan banyaknya persepsi atau tafsiran yang berbeda (multitafsir). Ada dua keterangan dari sumber yang berbeda, tapi makna dari materi keterangannya hampir sama.

Ada satu keterangan dari seorang ahli fisika dunia yang belum lama meninggal dunia yaitu Stephen Hawking. Ia dalam keterangannya menyatakan bahwa Alam Semesta bukan diciptakan oleh Tuhan, akan tetapi sudah tercipta dengan "SENDIRINYA". Sedangkan dari sumber yang satu lagi adalah konsep ketuhanan versi agama Buddha. Adapun konsepnya adalah sebagai berikut.         

Sekilas mari kita lihat  "Konsep Tuhan dalam Agama Buddha" yang dianut saudara kita umat Buddha. Ini saya copas dari FB saudara Winston Zippi Johannes: Membingungkan dan Tidak Jelas! Ya, itulah kesan awal banyak orang termasuk saya saat mencoba mengenal konsep Tuhan dalam Agama Buddha.           

Wajar saja jika akhirnya banyak yang Gagal Paham dan akhirnya menggolongkan para penganut Buddha sebagai atheis, yang tidak percaya pada Tuhan.          

Lalu benarkah Agama Buddha tidak bertuhan? Berikut ini ulasannya. Namun, sebelum memulai ada baiknya Anda benar-benar mengikuti tips berikut ini.         

Tips: Untuk memahami konsep Tuhan versi Buddha maka ada baiknya Anda melepaskan dulu sejenak Konsep Bayangan umum dan "Imajinasi" Anda tentang Tuhan.          

Sudah? Baiklah, mari kita lanjutkan. Pertama-tama, Tuhan dalam agama Buddha bukanlah Sidharta Gautama.          

Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam Agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh sosok Tuhan yang maha kuasa dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal itu.         

Ajaran Buddha tidak mengenal adanya sosok "Dewa Pencipta" atau pun "Sang Pencipta Dunia". Sama seperti pemikiran ilmiah modern saat ini, umat Buddha percaya bahwa Alam Semesta dengan segala isinya diatur oleh hukum kosmis universal yang dikenal dengan nama Niyama Dhamma.          

Hukum ini berlaku di semua alam kehidupan. Baik di bumi, seluruh tata surya, maupun semua galaksi di jagat raya ini terikat pada hukum ini. Dengan demikian, ada atau tidak ada Buddha, hukum abadi itu akan tetap ada sepanjang zaman.          

Konsep Tuhan dalam ajaran Buddha adalah sebagai berikut:        
1. Tuhan tidak punya nama Tuhan menurut versi Buddha adalah tidak memiliki nama. Jadi kalau Anda mencari nama baku untuk nama Tuhan dalam agama Buddha, jawabannya jelas tidak ada.       
2. Tuhan tidak beragama Kalau anda percaya bahwa Tuhan adalah memiliki agama, menciptakan agama, sayang dan mengasihi hanya kepada pemeluk agama ciptaanNya saja dan membakar serta menyiksa manusia yang tidak percaya pada agama ciptaan-Nya itu, maka Tuhan dalam agama Buddha jelas dianggap tidak ada.       
 3. Tuhan tidak memihak.  Tuhan tidak berbentuk dan juga sekaligus tidak memihak (netral) serta tidak memiliki sifat seperti layaknya manusia seperti pengasih, penyayang, pengampun, memberikan pahala atau hukuman. Tuhan juga tidak dianggap sebagai pencipta alam, pemelihara alam dan juga tidak dapat memusnahkannya.         

Bingung bukan? Penjelasannya sederhana dan logis.         

Buddha bukanlah ajaran tentang Tuhan tetapi ajaran tentang perilaku manusia. Umat Buddha percaya dengan berperilaku yang baik maka keberadaan Tuhan akan bisa ditemukan.          

Umat Buddha percaya, semua orang yang berbuat baik pasti bertuhan, tetapi orang yang mengaku bertuhan belum tentu berbuat baik. Itulah mungkin inti dari Ajaran Buddha tentang Tuhan.          

Kenyataan di masyarakat juga sepertinya sudah sangat jelas. Masyarakat yang mengaku percaya kepada Tuhan, seringkali perilakunya tidak berbanding lurus dengan perbuatannya.         

Jadi apakah pemeluk Buddha tidak bertuhan?         

Sekali lagi tergantung pada pemahaman Anda tentang Tuhan. Mungkin saja Anda berpendapat seperti itu. Namun untuk mengatakan ajaran Buddha sebagai Atheis sangat tidaklah tepat.          

Sosok Tuhan yang tidak terlihat, tidak disebutkan dan tidak memiliki sifat bukan berarti tidak ada.         

Konsep Ketuhanan menurut Buddha adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang, yang artinya: "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Bersifat Mutlak".          

Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Esa dalam ajaran Buddha adalah sosok yang yang tidak dapat dipersonifikasikan, tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun, dan memiliki keberadaan yang mutlak, dan tidak terikat dengan kondisi apa pun (asamkhata).         

Sama seperti umat beragama lainnya, umat Buddha juga memiliki hari raya, yaitu Hari Waisak.         

Dirayakan pada Bulan Mei pada waktu Terang Bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 peristiwa penting bagi umat Buddha, yaitu Kelahiran Pangeran Siddharta, Pencerahan Siddharta Gautama menjadi Buddha pada usia 35 tahun. dan wafatnya Sang Buddha pada usia 80 tahun pada tahun 543 SM.         

Perayaan Hari Raya Waisak bukanlah sebuah ritual semata bagi umat Buddha. Perayaan ini dimaksudkan menjadi sebuah penyambutan kelahiran jiwa yang baru.           

 Sabbe satta bhavantu sukhitatta. (Bersambung)     

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Air Danau Toba Tercemar Berat 24 Mei 2019 15:17 WIB


 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia