KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit, dan Tol Media (Sebuah Kesaksian untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

DUNIA PANGGUNG SANDIWARA (3): Berserah Kepada Semesta yang Membimbing Jalan Kita

 
ROHANI

DUNIA PANGGUNG SANDIWARA (3): Berserah Kepada Semesta yang Membimbing Jalan Kita
Oleh : Tonny Djayalaksana | 08-Sep-2019, 13:37:55 WIB

KabarIndonesia - Pada tulisan "Dunia Panggung Sandiwara" bagian (1) dan (2), saya telah membedah makna dari analogi yang dihadirkan oleh-Nya dalam lirik-lirik lagu "Panggung Sandiwara" yang ditulis liriknya oleh Taufik Ismail dan digubah oleh musisi legendaris Ian Antono.

Lalu, sebagai penutup dari serial artikel mengenai hal ini, bolehlah saya lampirkan sebuah tulisan yang bersumber dari cerita yang diceritakan oleh sahabat saya. Inilah tulisan yang saya tuangkan dari cerita teman tersebut:     

Rejeki Yang Tertukar        

Kalau mengingat-ingat perjalanan kehidupan yang saya alami hingga mencapai kepala 7 saat ini, saya selalu tersenyum sendiri. Pasalnya setiap membayangkan Romantika Hidup yang pernah saya alami tersebut, ternyata mirip seperti cerita legenda dari Bagdad "1001 Malam".     Ternyata kehidupan di Semesta ini hanyalah Lelucon atau Sandiwara belaka. Persis seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 64: "Dan tiadalah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui".       

Saya pernah mendengar sebuah cerita menarik dari sahabat saya. Bahwa ada sepasang suami istri muda di sebuah kota di Cina. Ketika mereka baru lulus dari Universitas, mereka langsung mendapatkan pekerjaan dari sebuah perusahaan besar yang mumpuni dengan masing-masing mendapatkan jabatan sekelas Manager.       

Karena merasa memiliki pemasukan yang cukup lumayan, maka suami istri ini pun memutuskan untuk membeli sebuah town house dengan pemandangan menghadap ke laut yang indah. Kira-kira harga rumah tersebut -/+ seharga RMB ¥ 20 juta, dengan syarat mereka nyicil selama 20 tahun.        

Melihat rumahnya yang cukup luas dan mewah, maka mereka memutuskan untuk mempekerjakan seorang satpam sambil ditemani seekor anjing penjaga sebagai sekuriti. Mereka juga memperkerjakan seorang pembantu rumah tangga, untuk membantu membereskan dan membersihkan rumah, karena suami istri ini pagi hari kerja dan pulang malam hari. Boleh dikatakan hampir tidak ada waktu untuk merapihkan rumahnya tersebut. Dengan adanya beban cicilan rumah, maka terpaksa suami istri ini menambah jam kerja agar cicilan rumah tersebut tidak menjadi masalah dan bisa cepat dilunasi.          

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata satpam dan pembantu rumah tangga mereka tersebut telah menjalin tali cinta kasih hingga sampai ke jenjang pernikahan. Setiap pagi dan sore, satpam yang ditemani seekor anjing penjaga itu pun selalu mengelilingi rumah. Ia mengontrol dan memastikan ke amanan rumah. Adapun sang istri, sebagai pembantu rumah tangga dengan tak kalah rajinnya selalu merawat rumah tersebut. Maka setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua pun bisa menikmati town house dengan keindahan pemandangan lautnya, sambil menikmati suasana mata hari terbenam. Adapun suami istri yang notabene merupakan pemilik rumah tersebut, karena setiap pagi hari kerja pulang malam, justru tidak punya waktu untuk menikmati rumah mereka kecuali hari libur. Itupun jika mereka tidak lembur.          

Seiring berjalannya waktu, maka pasangan suami istri pemilik rumah itu pun mempunyai seorang anak laki-laki. Begitu juga pasangan satpam dan pembantu rumah tangganya. Mereka mendapatkan anak perempuan. Kedua anak tersebut sehari-harinya diurus oleh pasangan satpam dan pembantu rumah tangganya. Mereka semua tinggal di town house. Dikarenakan pasangan satpam dan pembantu rumah tangga tersebut sangat rajin dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya, hal itu membuat pasangan pemilik town house itu merasa sangat puas. Bahkan mereka menjadi sayang terhadap mereka. Gaji bulanannya dinaikan dan ditambah dengan bonus tahunan, agar mereka lebih betah dan rajin kerjanya.          

Tidak terasa waktu sudah berjalan hingga 20 tahun lebih. Akhirnya anak-anak mereka yangg sudah dewasa pun saling jatuh cinta dan dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Saat itu, kewajiban cicilan rumah ke bank pun sudah selesai. Harga rumah mereka naik menjadi RMB ¥ 60 juta   .   Selang beberapa tahun kemudian, sang pemilik rumah yang laki-laki pun jatuh sakit. Konon ini karena sewaktu muda ia terlalu giat bekerja keras, sehingga kesehatannya kurang diperhatikan. Sampai akhirnya, ia pun meninggal dunia. Selang satu tahun kemudian, sang pemilik rumah yang perempuan pun menyusul meninggal dunia juga. Kasusnya sama seperti yang menimpa suaminya juga. Akibat waktu muda bekerja terlalu keras, sehingga kurang memperhatikan kesehatannya.           

Singkat cerita rumah tersebut akhirnya menjadi milik anak mantu, satpam dan pembantu rumah sebagai istri satpam tersebut. Suatu ketika, pasangan satpam dan pembantu rumah itu pun duduk-duduk sambil menikmati pemandangan yang indah. Lalu mereka berdua pun merenung seraya bernostalgia tentang perjalanan hidup mereka.         

Mereka berdua terlahir dalam kondisi perekonomian yang kurang beruntung sehigga harus melamar bekerja menjadi satpam dan pembantu rumah tangga di sebuah rumah mewah, seumur hidupnya. Mereka berdua hanya bisa bermimpi serta menghayal, kapan mereka bisa mempunyai rumah seperti yang dimiliki majikannya itu?           

Mengingat profesi mereka yang hanya sebagai satpam dan pembantu rumah tangga, maka bias beruntung mendapatkan pekerjaan seperti saat ini saja, sudah kewalahan syukur. Apalagi mengingat mereka berdua memang terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Di benak mereka hanya ada satu tekad yang sama, bekerja dengan jujur, amanah, ikhlas dan penuh tanggung jawab, disertai rasa syukur secara terus menerus. Urusan masa depan, mereka serahkan semuanya ke Semesta yang akan membimbing jalannya.           

Berkat kekuatan pikiran, kejujuran ketulusan serta keikhlasan yang ada, mereka berserah diri kepada Semesta. Hasilnya, seperti yang sudah kita ketahui bersama. Pada akhirnya Semesta bisa membantu mewujudkan impian mereka.          

Dari cerita di atas tadi, saya memahaminya, bahwa hidup itu sesungguhnya sangat sederhana. Yang bikin ribet itu kembali lagi, semata-mata hanya karena pikiran dan ego diri kita sendiri. Karena kita membiarkan pikiran dan ego kita untuk menjadi majikan yang menguasai tubuh kita dan membiarkan kesadaran Jiwa kita terkubur. Tubuh sebagai kendaraan Jiwa di kuasai oleh pikiran dan ego untuk memenuhi segala keinginannya, sehingga kita lupa akan tujuan sebenarnya dihadirkan di Semesta ini.            

Padahal bagi Jiwa-Jiwa yang sudah bangkit, serta mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi, cukup dengan menentukan niat. Lalu kita bekerja dengan penuh tanggung jawab, jujur, amanah, tulus, ikhlas dan menghindari semua perbuatan-perbuatan yang kurang baik, yang bisa mengakibat KARMA buruk dikemudian hari. Adapun urusan selanjutnya kita serahkan kepada Semesta untuk membimbing jalannya.          

Seperti yang sudah kita ketahui akhir dari cerita di atas. Semesta telah melancarkan jalan yang sesuai dengan niat kita, sehingga bisa berhasil meraih apa yang kita cita-citakan sebelumnya. Itulah bukti keberadaan sebuah KEKUATAN PIKIRAN (MINE POWER).          

Cerita-cerita yang sejenis dengan cerita di atas, jumlahnya sangat banyak. Kalaulah kita cermati dengan seksama, maka perjalanan kehidupan setiap Manusia yang ada di Dunia ini memang layak diibaratkan sebagai pemain Sandiwara. Karena sejatinya kehidupan itu sifatnya sementara dan tidak ada satupun yang Kekal-Abadi. Persis dengan judul dari lagu yang kita kupas di atas yaitu: DUNIA PANGGUNG SANDIWARA.          

Sudah selayaknya, kita para penduduk bumi menyadari akan hakekat makna Kehidupan di Semesta ini. Agar tidak mengumbar ego dan hawa nafsu yang penuh dengan keinginan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya semata.          

Akhir kata, melalui tulisan ini, saya berharap para pembaca bisa lebih meningkatkan Kesadarannya, agar bisa hidup lebih nyaman, damai dan bahagia. Aamiin. (*)      

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com            

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia