KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Bersama-sama Melawan Perbudakan Modern
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 05-Apr-2017, 19:14:04 WIB

KabarIndonesia – Tarutung, Perbudakan sepertinya tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia, baik yang menjadi objek maupun pelaku dari perbudakan tersebut. Dalam sejarah kehidupan manusia, sejak manusia diciptakan, manusia sudah mengalami dan melakukan hal itu. Hingga saat ini, di zaman modern dan serba maju ini perbudakan justru semakin merajalela dalam berbagai bentuknya.

Segala bentuk perbudakan manusia merupakan dosa yang paling mengerikan, melanggar kehendak bebas dan integritas setiap manusia yang diciptakan di dalam rupa Allah. Hal ini dinyatakan oleh Forum tentang Perbudakan Modern, yang bersama-sama diorganisir oleh Patriarkat Ekumenis dan Gereja Inggris di Istanbul pada 6-7 Februari 2017. Disinilah Pimpinan gereja-gereja menyatukan suara mereka untuk melawan perbudakan modern.

Dengan judul “Dosa di Depan Mata Kita”, forum ini memuji usaha-usaha yang dilakukan oleh komunitas internasional dan disetujui oleh Protokol PBB untuk mencegah, menekan dan menghukum, perdagangan manusia, secara khusus perempuan dan anak-anak. Tujuan dari pertemuan/perkumpulan ini adalah untuk membawa bersama-sama 'para sarjana, praktisi dan pembuat kebijakan’ yang berbeda-beda dari seluruh dunia untuk mendiskusikan perbudakan modern dan menekankan perlindungan terhadap martabat dan kebebasan manusia sebagai suatu hal yang sangat vital bagi gereja dan juga bagi agama-agama di seluruh dunia dan komunitas-komunitas HAM.

Pada saat forum tersebut, Patriakh Ekumenis Bartholomew dan Archbishop of Canterbury Justin Welby menandatangani sebuah deklarasi bersama, mendesak komunitas-komunitas agama dan gereja, dan juga semua orang dengan kehendak yang baik “untuk menjadi terdidik, meningkatkan kesadaran, dan beraksi dalam hubungannya dengan semua tragedi perbudakan modern, dan berkomitmen untuk bekerja dan berdoa secara aktif untuk pemberantasan momok terhadap kemanusiaan”. Mereka juga mendorong para pemimpin negara untuk menemukan cara yang tepat dan efektif untuk menuntut semua orang yang terlibat dalam perdagangan manusia, mencegah semua bentuk perbudakan modern, dan melindungi para korbannya di dalam komunitas-komunitas masyarakat dan mempromosikan pengharapan dimanapun orang-orang dieksploitasi.

Dalam pidato utamanya, Yang Mulia Patriakh Ekumenis Bartholomew mengatakan: ”Apapun yang dikatakan Gereja, apapun yang dilakukan oleh Gereja, adalah dilakukan di dalam nama Tuhan dan untuk kepentingan martabat manusia dan takdir abadi umat manusia. Merupakan suatu hal yang mustahil bagi gereja untuk menutup matanya terhadap kejahatan, menjadi acuh tak acuh terhadap tangisan orang-orang yang membutuhkan, yang tertekan dan tereksploitasi. Iman yang benar adalah sebuah sumber perjuangan yang tetap terhadap kekuasaan kebiadaban.”

Archbishop Welby mengatakan bahwa perbudakan lebih merajalela sekarang ini daripada masa manapun di dalam sejarah manusia, dan dia menyebutnya suatu “yang sangat dibenci/ bertentangan terhadap martabat manusia”. Tidak ada dasar atau pembenaran agama untuk sebuah praktek pengkomersialan manusia. Semua pemimpin agama perlu berbicara melawan praktek seperti itu dan menantang semua nabi palsu yang berusaha menyalahgunakan teks-teks suci untuk membenarkan perbuatan mereka yang bengkok. Dia juga mengatakan bahwa tahun lalu, jumlah orang-orang yang terlantar melebihi 60 juta - dan penyelundupan manusia yang terlalu mudah bisa berubah menjadi perdagangan manusia.

Skala migrasi sekarang ini sudah menjadi suatu daratan makanan yang alami untuk para tuan/majikan dari para budak dan para pedagang manusia. Para migran didekati oleh orang-orang asing dengan tawaran-tawaran pekerjaan atau perkawinan. Beberapa dari mereka ditawari uang untuk organ-organ tubuh mereka. Sangat memilukan hati ketika kita memikirkan bahwa ribuan yang melarikan diri dari kengerian Daesh (istilah untuk seseorang yang menghancurkan sesuatu di bawah kakinya) telah memiliki pengharapan untuk sebuah masa depan yang lebih baik, hancur di atas pantai Eropa melalui desakan kejahatan orang-orang yang mendapat keuntungan dari perdagangan yang menjijikkan itu.

Sebanyak 10.000 anak-anak yang terdaftar sebagai pengungsi sekarang belum ditemukan, dimana 5000 hilang di Italia dan 1000 di Swedia. “Hal ini merupakan suatu keadaan yang tidak bisa diterima dan memalukan dimana pemerintah dan badan-badan PBB yang relevan harus meresponnya sebagai suatu masalah urgensi, kata Archbishop Welby.

Dewan Gereja se-Dunia (WCC) diwakili oleh Dr Katalina Tahaafe-Williams, Eksekutif Program untuk Misi dan Evangelisme WCC dan Dr Fulata Lusungu Moyo, Eksekutif Program untuk Komunitas Adil Perempuan dan Laki-laki. Dr Katalina dalam refleksinya mengatakan bahwa ini merupakan sebuah isu yang sangat krusial yang perlu dibahas secara urgen dan gereja-gereja harus membuat suatu respons yang kuat untuk itu - kenyataannya semua agama harus membawa suatu respons yang kuat dan kompak dalam pernyataan dan aksi. WCC bergabung dalam usaha yang terpadu ini yang dilakukan oleh Patriarkat Ekumenis dan Archbishop of Canterbury terhadap perbudakan modern kalangan atas sebagai suatu dosa yang harus dilawan.

Menurut estimasi Organisasi Buruh Internasional dan Indeks Perbudakan Global yang dipresentasikan pada saat forum tersebut, antara 20 dan 45 juta orang di dunia berada di bawah satu atau bentuk lain dari perbudakan, dan sejumlah yang signifikan dari mereka yaitu perempuan dan anak-anak mengalami eksploitasi seksual.

Dr Fulata mengatakan bahwa “perbudakan adalah suatu dosa terhadap kemanusiaan, dan perdagangan manusia mengubah manusia yang diciptakan di dalam rupa Allah menjadi komoditi untuk eksploitasi seksual, buruh murahan dan pencabutan organ”. Dia juga menambahkan bahwa sangat penting untuk membangkitkan satu suara gereja yang bersatu bahwa itu merupakan sesuatu yang salah. Pada waktu yang sama, forum tersebut juga memberikan pengharapan “bahwa deklarasi bersama yang sudah ditandatangani bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi komitmen untuk melakukan aksi untuk mengakhiri perbudakan”.

Sebagian dari para pelaku perbudakan dan eksploitasi itu pasti ada orang Kristen, yang tahu bahwa Tuhan sendiri melarang hal itu dan mengajarkan untuk berbuat kasih. Dalam Ulangan 8:14 dikatakan, “jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan”. Ketika kita melupakan bahwa Tuhan sendiri yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, dan Dia melalui kematian Yesus telah membebaskan kita dari perbudakan dosa dan kematian, dan Dia sendiri melarang perbudakan itu, bisa saja memang kita menjadi pelaku perbudakan itu. Akan tetapi secara tidak sadar, ketika ada orang yang melakukan hal itu, dia juga sedang dalam perbudakan dosanya sendiri.

Tidak mudah menghapuskan perbudakan itu di zaman sekarang ini, tetapi ketika ada komitmen mulai dari pribadi, keluarga, gereja, masyarakat, negara dan dunia ini, maka apapun bisa terjadi ketika kita bersama dengan Tuhan yang telah membebaskan kita dari pebudakan itu. Perbudakan yang bisa terjadi dimana saja, dalam keluarga, gereja, agama dan masyarakat, bisa terhapus ketika semua memiliki komitmen yang sama dan satu suara. Gereja pasti akan tetap menjadi bagian penting dari perjuangan melawan perbudakan modern saat ini. Selamat berjuang! (redaksi: Ditulis : Pdt.Merry Simarmata, Sekretaris Mitra HKBP) *)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia