KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAROMA KEPENTINGAN DALAM AGENDA TERSENDIRI oleh : Tonny Djayalaksana
18-Aug-2019, 15:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Upaya-upaya lawan Jokowi untuk menjatuhkannya sangat militan sekali. Sebagai pelengkap telah saya sertakan tulisan Denny Siregar yang menggambarkan bagaimana sebuah konspirasi dijalankan untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Namun akhirnya perlindungan dari Allah bisa menggagalkan semua itu. 

Semua
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
ROHANI

Batu Bertuah (2)
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 27-Apr-2019, 14:11:10 WIB

KabarIndonesia - Penjelasan Nasrudin yang begitu sederhana tentang energi dan tuah, sungguh membuka cakrawala berpikir Joko Kendal.  Pikirannya yang sempat begitu terkesan dengan istilah energi dan tuah, seketika runtuh menjadi serpihan-serpihan pemahaman yang sangat biasa.  Sebab kini ia melihat energi di mana-mana, juga melihat benda-benda biasa yang bisa begitu bertuah.

Ia telah melihat setangkai bunga mawar yang bisa membuat meleleh kekerasan hati seorang wanita.  Ia melihat selembar uang kertas lima puluh ribuan bisa menciptakan energi gerak yang begitu besar pada diri seseorang.  Ia melihat sebutir tablet bisa membangkitkan energi semangat yang begitu kuat pada diri seseorang.  Ia melihat energi dan tuah itu bertebaran di mana-mana.

Namun ia masih ingin mendengar lebih banyak lagi pembabaran Nasrudin.  Ia percaya sahabatnya itu masih menyimpan pesan dan pengetahuan lain baginya, agar ia tidak mudah terjerumus pada pemikiran dan kemelekatan yang berlebihan terhadap sesuatu yang biasa-biasa saja.  Maka ia membuka telinga lebar-lebar saat Nasrudin meneruskan kembali kata-katanya.

"Nah, kau telah menyadari bahwa energi dan tuah itu hal biasa dan tidak perlu terlalu berlebihan ditanggapi.  Sekarang kau hanya perlu melihat dan memperhitungkan manfaatnya bagi kehidupanmu, terutama bagi perjalanan Jiwamu mendaki puncak kesadaran sejatinya." Ujar Nasrudin mengawali kata-katanya.

"Sebentar, Nasrudin.  Bila benda-benda bertuah itu memberi manfaat untuk menambah keyakinan diri, membuat orang merasa tersembuhkan dari penyakitnya akibat dampak dari tuah dan khasiat benda tersebut, kenapa agama menyalahkan bila kita memanfaatkan benda-benda seperti itu?" Tukas Joko Kendal memotong penjelasan Nasrudin.

"Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah manfaat awal yang mungkin timbul akibat penggunaan benda-benda itu, kawan.  Namun efek samping akibat kecanduan oleh khasiat-khasiatnya, bisa menyisakan kemelekatan yang justru tidak lagi masuk akal terhadap tuah benda-benda seperti itu."

"Seringkali karena satu atau beberapa kesembuhan oleh benda seperti itu, seseorang bisa meyakini bahwa semua penyakit bisa disembuhkannya.  Akibatnya, benda itu bisa dipuja bagaikan benda yang maha sempurna dan maha penyembuh.  Lalu seseorang menjadi sangat mempercayai bahkan meyakini benda itu, melebihi keyakinan dan kepercayaan pada daya ajaib penyembuhan dalam dirinya sendiri."

"Apalagi bila kemudian manusia malah sampai diperbudak oleh benda-benda duniawi serupa itu.  Ia bisa kehilangan akal sehat dan lebih menggantungkan keyakinannya pada tuah kebendaan.  Ia akan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan telah menganugerahkan otak dan pikiran yang sangat potensial untuk digunakan dalam mengatasi masalah-masalah kehidupannya."

"Sama halnya seorang tentara yang hanya menggantungkan keyakinan dirinya pada senjata yang ia genggam, ia kehilangan kepercayaan diri bahwa tubuh dan pikirannya bisa menjadi senjata yang sangat berbahaya bila digunakan dengan cerdas."

"Semua benda material, entah disebut bertuah atau tidak, sesungguhnya hanyalah alat dan sarana manusia dalam mencapai kebutuhan, harapan dan doanya.  Maka alat itu akan bermanfaat dengan semestinya bila hanya dianggap sebagai alat.  Entah sebagai alat bantu secara fisik, ataupun alat untuk membantu menambah keyakinan diri, sehingga potensi diri seseorang bisa tampil keluar menunjukkan kemampuannya dari dalam."

"Namun saat alat dan sarana itu menjadi sumber kemelekatan dan ketergantungan, maka seseorang bisa diperbudak olehnya.  Begitu seseorang diperbudak oleh benda-benda duniawi yang ia yakini sangat bertuah, ia segera kehilangan potensi bertumbuhnya tuah titipan Tuhan yang sudah ada dalam dirinya sendiri."

"Intinya, apapun benda-benda material duniawi yang dipuja puji berlebihan, entah oleh energi ataupun tuahnya, kemelekatan terhadapnya akan mengikat kebebasan Jiwa untuk bertumbuh menjadi diri-Nya sebagaimana seharusnya.  Itu sebabnya sejak awal ajaran agama mencegah, mengingatkan manusia untuk menghindari pemujaan berlebihan terhadap benda-benda seperti itu.  Sebab agama tidak ingin umatnya terhalang mengalami kemajuan dalam perjalanan menuju keagungan dirinya sendiri."

Joko Kendal terdiam dan merenung.  Tak cukup baginya mencerna kata-kata Nasrudin dengan sekali kunyah.  Ia selalu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk benar-benar memahaminya.  Namun ia merasa serpihan-serpihan pemahaman telah jelas ditunjukkan oleh Nasrudin.  Ia meminta waktu untuk merangkai kembali keping-keping kesadaran itu.  Setidaknya, bayangannya telah menemukan suatu titik terang dari seluruh penjelasan Nasrudin.

Joko Kendal menyalami tangan sahabatnya dan meminta ijin kembali ke pondok bambunya untuk merenung.

"Jangan lupa kawan, tubuhmu sendiri adalah ciptaan sempurna dan penuh tuah dari Sang Maha Pencipta.  Percayalah. Jangan kau sia-siakan dan jangan lupa memuja, memuji dan merawat tubuh dan pikiranmu yang penuh tuah itu, melebihi kau memuja muji batu dan benda-benda bertuah lainnya." Nasrudin membekalinya dengan pesan terakhir sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Nasrudin yang tersenyum mengantarnya. Kuta, 27 April 2019.(*)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA? 17 Aug 2019 14:18 WIB


 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia