KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilEyang Dokter dan Kemenangan Kehidupan oleh : Kabarindonesia
22-Mei-2019, 08:38 WIB


 
 
KabaIndonesia - Bagi sebagian besar orang, menulis narasi kehidupan dalam bentuk autobiografi adalah percuma dan membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa hidup terlalu biasa untuk dituliskan menjadi sebuah autobiografi. Tidak ada yang menarik dalam kehidupan, begitulah anggapan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
24 Tahun Tenggelamnya KMP Gurita 18 Mei 2019 04:40 WIB

 

BOM SORGA

 
ROHANI

BOM SORGA
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 15-Mar-2019, 14:03:02 WIB

KabarIndonesia - Ledakan dahsyat itu tidak saja mengguncang seisi kampung. Namun yang lebih terguncang adalah batin si Joko Kendal. Ia yang selama ini belajar agama dan sering mendapatkan tutur bahwa Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang, menjadi semakin bingung dengan kenyataan yang ada.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan tindakan keji terhadap dirinya sendiri, keluarga, orang lain, bahkan terhadap kemanusiaan itu sendiri, namun dilatarbelakangi suatu ajaran agama?  Mungkinkah kebenaran ajaran agama menyebabkan orang menjadi seperti itu? Apakah betul Roh mereka akan mendapatkan kebahagiaan sorga di atas penderitaan orang lain di bumi?"

Joko Kendal benar-benar terguncang oleh kontradiksi antara pengajaran yang diterimanya, dengan kenyataan yang tak masuk dalam akal budinya.  Maka ia mendatangi Nasrudin yang selalu mampu memberinya jawaban menenangkan.

"Sahabatku, Nasrudin. Coba terangkan dan tenangkan batinku dari guncangan pemahaman ini.  Apakah mungkin kebenaran ajaran agama menciptakan manusia yang berani melakukan tindakan bom bunuh diri karena alasan agama itu sendiri?"

Nasrudin menyadari kegundahan perasaan batin sahabatnya.  Maka ia mencoba menjelaskan dengan pelan.

"Kawan, pada setiap inti ajaran agama manapun, menjadi mahluk cinta kasih adalah tujuan utamanya.  Sebab ajaran agama diturunkan melalui orang-orang suci yang tentu saja telah memenuhi syarat kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual yang tinggi.  Dengan kesadaran Jiwa yang matang dan tinggi tersebut, tentu ia tidak akan mengajarkan pemahaman-pemahaman yang berasal dari pembenaran ego, melainkan dari kebenaran hati nurani."

"Namun sayang, seiring perjalanan ruang dan waktu, seringkali ajaran-ajaran kebenaran dalam kehidupan yang diturunkan Sang Pencipta alam semesta ini menyimpang menjadi ajaran pembenaran.  Ajaran suci dan murni dari hati nurani itu perlahan mengalami perubahan, dikotori oleh muatan-muatan ego negatif dari bisikan setan dalam diri.  Ajaran yang sesungguhnya hanya pembenaran itu kemudian dianggap sebuah kebenaran."

"Tapi kenapa orang-orang tidak begitu mudah menyadari bahwa ajaran pembenaran itu bukanlah kebenaran sejati?  Kenapa mereka malah begitu yakin bahwa semua itu adalah kebenaran?" Joko Kendal masih belum memahami proses tersebut.

"Ketika pikiran seseorang tidak memiliki sifat kritis, tidak memiliki keyakinan diri yang kuat, maka ia mudah terombang-ambing oleh ajaran orang lain.  Persis seperti saat seseorang terhanyut di tengah arus sungai yang deras, bahkan dahan berduri yang menjulur di tengah sungai pun akan dipegangnya sebagai pelindung dari tarikan arus." Nasrudin mencoba memberinya pemahaman.

"Begitulah seseorang yang terjebak dalam kebingungan, yang diawali oleh rasa takut akan siksaan neraka dan penuh harapan atas kebahagiaan sorga, maka ia akan mencoba meraih harapan keselamatan pada orang-orang yang bisa dipercayainya sebagai pembimbing dalam kehidupan.  Syukur bila orang yang dijadikan pembimbing adalah orang yang tepat.  Namun seringkali, dalam gelapnya pikiran yang bingung, mereka pun tidak mampu memilih mana orang yang benar dan tepat untuk dijadikan penuntun kehidupan."

Joko Kendal perlahan mulai melihat pintu pemahaman yang terkuak.  Maka ia terus menggali sumur air segar dari Nasrudin demi memuaskan dahaganya.

"Lalu bagaimana membedakan dan mencari orang yang benar-benar tepat menuntun dengan hati nurani, Nasrudin?"

"Sederhana sesungguhnya, kawan.  Orang yang sedang dalam kebingungan oleh gelapnya ketidaktahuan pikiran, semestinya meminta perlindungan dan tuntunan kepada orang yang berhati malaikat, bukan orang yang berhati setan di kehidupan ini.  Bila malaikat identik dengan makhluk cahaya, maka tentu bimbingannya akan membawa kita keluar dari kegelapan menuju terang pemahaman."

"Sebaliknya, bila kita digiring oleh setan yang identik dengan makhluk dari alam kegelapan, tentu kita akan dibisiki pemahaman-pemahaman yang justru menggelapkan kehidupan.  Ciri-ciri kita dibawa memasuki hidup yang gelap adalah kita akan mudah berbenturan dengan orang lain, sebab kita berjalan dalam gelap dan mata hati yang buta."

"Dan tidaklah sulit untuk membedakan tindakan-tindakan yang menciptakan kegelapan dalam kehidupan karena digiring oleh pemahaman dari makhluk kegelapan.  Kekerasan, kekejaman, kekejian, kehancuran dan penderitaan dalam kehidupan, adalah hasil dari tindakan yang dibimbing oleh bisikan kegelapan setan dari luar dan dalam diri.  Bagaimana bisa mendapatkan sorga dari tindakan seperti itu, kawan?"

Semakin ke sini, batin Joko Kendal semakin merasakan terang pemahaman.  Namun masih ada keraguan dalam batinnya.

"Baiklah, Nasrudin.  Aku mulai melihat cahaya pemahaman di situ.  Namun aku ingin tahu, apa sesungguhnya yang terjadi pada Roh mereka yang melakukan tindakan kekerasan dan bom bunuh diri itu?"

Nasrudin tersenyum dengan pertanyaan ini.  Ada kebenaran yang kini harus disampaikan.

"Begini, kawanku.  Betapa pun juga tidaklah masuk akal bila seseorang menciptakan neraka di bumi, maka dalam kematian kelak Rohnya akan mendapatkan kebahagiaan sorga.  Bukankah tidak ada ajaran agama sejati yang mengajarkan manusia untuk melakukan tindakan bunuh diri, apa pun alasannya?  Dari sini saja sudah jelas apa yang akan terjadi pada mereka."

"Selain itu, Roh-Roh yang dalam kehidupannya di bumi terlalu sering atau pernah melakukan tindakan yang sangat buruk pada kehidupan, melakukan kekejaman atas kemanusiaan dan kehidupan, kelak di alam kematian Rohnya akan diliputi penyesalan mendalam, atau Roh itu akan diisolasi untuk mendapat kesempatan menyadari kekeliruannya selama menjalani kehidupan."

"Sebab, melakukan kekerasan, kekejaman, kerusakan pada kehidupan, atau pun prilaku dan tindakan buruk lainnya pada kehidupan, bukanlah tujuan setiap Roh terlahir dalam tubuh manusia.  Setiap Roh atau Jiwa terlahir dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran diri dan pemahaman akan kesemestaan melalui kesempatan hidup dalam setiap peran di bumi ini.   Ketika ia menyimpang dari tujuan kelahirannya, itulah dosa dalam kehidupan baginya."

Mendengar penuturan Nasrudin, Joko Kendal tercekat.  Ia membayangkan bahwa Roh-Roh pelaku tindakan kekejaman dalam kehidupan, termasuk pelaku bom bunuh diri itu, sedang berdiam di sebuah tempat terkucil, gelisah dalam penyesalannya sendiri.  Belum lagi Roh-Roh para korban yang merasa kesempatan hidup serta peran kehidupan mereka di bumi ini terhenti dengan paksa oleh tindakan buruk tersebut, akan turut memberi suasana derita neraka pada Roh sang pelaku.

Joko Kendal pun merinding.  Sungguh kini ia mengerti.  Tak ada bom bunuh diri yang membawa Roh sang pelaku akan sampai ke alam kebahagiaan sorga.  Tak akan ada Roh yang pernah menciptakan kegelapan penderitaan di kehidupan bumi, justru akan mendapat tempat terang penuh cahaya indah dan kebahagiaan di sorga.

Joko Kendal memeluk erat Nasrudin.  Batinnya terisi oleh pemahaman baru yang lebih masuk akal.  Hukum tabur tuai, hukum Karma atau konsekuensi atas tindakan, tidak mungkin keliru di alam semesta ini.  Kini ia melihat betapa penting memilih penuntun yang benar dan berhati malaikat dalam kehidupan.  Sebab setan kerap berjubah malaikat dalam kehidupan ini, untuk menggiring mereka yang bingung agar terperosok ke jurang kegelapan.   
Kuta, 16 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Persiapan Puasa Sahur Dahulu 19 Mei 2019 15:43 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia