KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniICTUS Kalung Emas Menjalani Waktu Kehidupan Tahun 2019 oleh : Danny Melani Butarbutar
19-Jan-2019, 15:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, esok adalah harapan. Ketiganya akan berjalan terus menerus tanpa dapat dihentikanm bergulir seiring perjalanan hidup jagad raya. Manusia menyebut ketiganya sebagai zona waktu, kemarin telah berlalu, hari ini sedang bergerak dan
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Filosofi Kopi 20 Jan 2019 01:57 WIB

Senja Kan Berlalu 19 Jan 2019 14:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 

Apa Yang Disebut Tuhan (Allah) Maha Adil? (1)

 
ROHANI

Apa Yang Disebut Tuhan (Allah) Maha Adil? (1)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 06-Jan-2019, 14:49:39 WIB

KabarIndonesia - Tuhan (Allah) menciptakan alam semesta ini untuk semua mahkluk, termasuk manusia dan ciptaan-ciptaan-Nya, semata-mata hanya ingin dikenal. Lalu mungkinkah Dia menciptakan manusia itu dengan pilih kasih sesuai ras, suku, bangsa dan agama?   

Seperti yang selama ini diajarkan kepada saya sebagai umat Nabi Muhamad SAW, hanya pemeluk agama islam (mukmin)lah yang diterima Allah, memiliki kesempatan masuk "surga" dan selamat dari neraka. Seperti yang difirmankan-Nya dalam QS. Al Imran : Inna Dinna Indallahil Islam = Sesungguhnya agama di sisi Allah Islam.   

Bertahun-tahun selama ini, pemahaman saya seperti itu. Tak jarang saya bertanya ke guru-guru ngaji (mubalig) saya, "Bagaimana kalau orang yang sudah tinggi kesadarannya dan selalu berbuat baik untuk sesama penghuni semesta ini? Semuanya itu bisa dibuktikan dengan nyata mengenai akhlak mereka tersebut. Jawaban yang baik menurut manusia belum tentu baik dimata Allah.   

Lalu saya tanyakan, apa yang menjadi ukuran baik, buruknya seseorang dimata Allah? Jawabannya adalah yang taat menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Saya berpikir hal itu memang masuk akal.   
Hanya saja masih ada satu hal yang menjadi ganjalan hati saya. Yaitu mengenai penjelasan bahwa orang muslim sekali pun salah masih bisa diampuni dosa-dosanya. Bahkan diujung nanti masih bisa mendapatkan syafaat (pertolongan) dari Nabi.   

Sebaliknya, orang-orang yang di luar agama Islam, sekalipun benar akan tetap dihukumi salah. Penjelasan inilah yang menjadi konflik koqnitif bagi saya. 

Bagaimana bisa ya, ada pemahaman seperti ini? Bukankah itu artinya Allah pilih kasih? Dimana letaknya keadilan? Bukankah Allah itu Maha Adil?      Untuk apa Allah menciptakan manusia bermacam suku bangsa dan agama, kalau memang pada akhirnya hanya yang beragama islam saja yang berhak masuk Surga? Apakah Allah menjebak manusia yang tidak beragama Islam? Mungkinkah Allah memiliki sifat seperti itu? Padahal dalam 99 nama sifat Allah, tidak ada satupun yang bersifat seperti menjebak.     


Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bertemu seorang guru yang bisa memberikan pencerahan sekaligus menjawab semua konflik koqnitif yang mengganggu pikiran saya selama ini. 

Awalnya, guru saya ini menjelaskan tentang hakekat makna dari ayat: "Inna Dinna Indallahil Islam" adalah sebagai berikut: Sesungguhnya agama bagi Allah itu pasrah, damai, sejahtera. Nah, bagi saya justru hakekat makna inilah yang jauh lebih koheren dan masuk akal. Artinya bukan hanya agama Islam saja yang diterima Allah. 


Semua agama, asalkan bisa pasrah dan menciptakan kedamaian serta kesejahteraan bisa diterima Allah. Menurut saya, ini baru adil dan cocok dengan salah satu sifat Allah yang Maha Adil.       

Kenapa saya bisa meyakini bahwa hakekat makna ayat tadi itu benar adanya? Ternyata ada banyak ayat-ayat Al Quran sebagai pendukung hakekat makna tersebut diantarannya: Qs 35:24, Qs 10:47, Qs 17:60 Qs : An Nas dan seterusnya. Jelas dalam ayat-ayat tadi diterangkan bahwa Allah itu meliputi segala manusia, dan Allah menurunkan utusan bagi setiap kelompok manusia, disesuaikan dengan bahasa kaumnya, agar mereka mudah mengerti.     

Terlihat dalam surat terakhir QS An-Nas, jelas sekali diterangkan, Allah meminta manusia mengatakan untuk berlindung kepada Tuhannya manusia. Tidak dikatakan berlindung kepada Tuhannya orang Muslim. Dan yang paling penting di ayat tersebut, jelas disebut Allah meminta manusia untuk mengatakan hakekat makna dari surat An-Nas tersebut.     

Pertanyaannya, siapa yang berhak mengatakannya? Sudah barang tentu bagi orang-orang yang sudah kenal dengan Allah. Tidak mungkin Allah akan menyuruh orang yang belum pernah mengenal-Nya.   

Sesungguhnya Islam itu diperuntukkan bagi seluruh umat manusia yang ada di dunia ini. Tidak membedakan suku, ras, bangsa dan agama. Karena itulah maka agama Islam juga disebut sebagai agama rahmatan lil alamin. Agama yang membawa rahmat untuk alam semesta beserta isinya.   

Sebelum mendapatkan pencerahan seperti sekarang ini, saya sering terjebak dengan dikotomi iman dan kafir. Selama ini saya diberikan pemahaman bahwa orang Iman itu adalah orang Islam yang sudah bersaksi bahwa "Tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah".  

Al Quran dan Al Hadits sebagai kitab suci pedomannya. Adapun pengertian orang Kafir adalah, pemeluk agama selain Islam.   Setelah mendapatkan pencerahan dari guru mursyid saya, hakekat makna kata "Iman" adalah terbuka.  

Artinya yang terbuka adalah mata qolbunya dan sudah mengenal Allah. Adapun hakekat makna kata "Kafir" adalah orang yang masih tertutup mata qolbunya dan sudah tentu belum kenal Allah.   

Alasannya jelas karena untuk belajar agama, awalnya itu harus mengenal Allah terlebih dahulu. Ini sesuai dengan dalil "Awaludin Ma'rifatullah". Bekal dasar inilah yang selama ini telah dipraktekan oleh para nabi dan para rasul. 

Penjelasannya adalah, awal kata pada kalimat syahadat berbunyi "Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah..." Jika ada kalimat aku bersaksi, itu berarti seharusnya telah ada proses menyaksikan/penyaksian terlebih dahulu. Karena jika tidak ada penyaksian, maka kata-kata "Aku bersaksi..." itu menjadi tidak bermakna.    

Untuk memperkuat argumen tersebut, bisa dilihat dari proses penciptaan manusia dari awal hingga saat ini yang sama sekali tidak ada perubahan. Setiap tahun populasi manusia di dunia ini bertambah. Jumlah yang awalnya relatif sedikit, hingga saat ini penduduk dunia sudah berada di angka 7 Milyar lebih. Dan bukankah setiap hari, di setiap penjuru dunia masih ada bayi yang dilahirkan?   

Itu tandanya bahwa Allah tidak memberlakukan hak yang eksklusif untuk salah satu kaum atau golongan saja. Jadi sudah bisa dipastikan, orang boleh memilih jalan yang mana saja yang penting tujuannya sampai. Inna lillahi wa inna illaihi ra'jiun : Asal dari Allah kembali kepada Allah.   

Analoginya adalah seperti kita pergi dari Jakarta ke Surabaya. Jika mengendarai kendaraan roda 4, bisa menggunakan jalan tol. Dan tentu saja boleh memilih untuk memakai jalur pantai utara, selatan dan sebagainya. Yang terpenting adalah sampai pada tujuan.    

Setelah kesadaran saya semakin meningkat, saya semakin meyakini bahwa, Allah menciptakan alam semesta ini hanya dengan satu tujuan yaitu agar melalui makhluk dan ciptaan-Nya, eksistensi-Nya bisa dikenal. (bersambung)     

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia