KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Agama Ular Tangga

 
ROHANI

Agama Ular Tangga
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 07-Feb-2019, 15:19:43 WIB

KabarIndonesia - Kesederhanaan kerap menyimpan banyak keajaiban.  Ia juga seringkali menyembunyikan pesan yang begitu mendalam.  Termasuk ketika dua anak kecil sedang menikmati dunia bermain mereka secara sederhana lewat semacam permainan ular tangga.  Mereka tiba-tiba menghadirkan cermin bening tentang kehidupan manusia dalam beragama dan menjalankan keyakinan dalam ajaran agamanya.

Medan permainan mereka yang dibentuk oleh sekumpulan kotak-kotak dengan gambar ular yang bisa membawa langkah mereka jatuh ke titik yang lebih rendah, atau gambar tangga yang bisa membawa langkah mereka maju jauh ke atas, serta dadu enam sisi berisi satu sampai enam takik, sungguh berbicara banyak tentang kehidupan beragama ini. 

Setiap anak memulai langkah mereka di sebuah kotak start awal, lalu dengan bantuan lemparan dadu yang memberi angka-angka mujur, mereka akan melangkah sebanyak nilai yang dimunculkan oleh dadu tersebut.  Siapa yang lebih cepat bisa mencapai kotak terakhir, akan menjadi pemenang dalam perjalanan itu.  Langkah mereka sangat tergantung pada nilai-nilai yang diberikan oleh lemparan dadu. 
Namun sayang, dengan adanya gambar ular dan tangga pada medan perjalanan itu membuat permainan tidak semudah yang dibayangkan. 

Besarnya nilai yang muncul pada sisi dadu, tidak serta merta akan memberi manfaat terbesar untuk mempercepat langkah seorang pemain agar tiba lebih dulu di titik akhir permainan.  Bila lemparan dadu memberi nilai yang tepat membawa langkah pemain ke kotak yang disambut kepala ular, maka ia harus mengikuti liukan ular itu hingga ke ujung ekornya yang ada di kotak lebih awal.  Pemain yang kurang beruntung ini akan turun ke kotak yang lebih di bawah, membawanya semakin menjauh dari kotak terakhir. 
Sebaliknya, meskipun dadu hanya memberi kesempatan untuk melangkah satu kali, bila satu langkah itu tepat menempatkannya pada pangkal tangga, maka ia berhak mendapat hadiah untuk menaiki anak tangga hingga ke kotak yang lebih di atas, mendekatkannya ke kotak terakhir.  Lagi-lagi keberuntungan pada dadu tidak terletak pada banyak atau sedikitnya angka yang dia munculkan, melainkan pada langkah yang diakibatkan selanjutnya. 

Permainan anak-anak ini tiba-tiba terasa sangat mirip dengan langkah-langkah manusia dalam kehidupan beragamanya.  Semua orang beragama memulai langkahnya di sebuah kotak kecil terbatas.  Kotak terbatas itu tidak saja dibentuk oleh adanya sejumlah sudut pandang yang menyebabkan manusia memulai kehidupannya dalam kotak-kotak pemisahan diri.  Mereka juga terpaksa harus mengikuti aturan untuk selalu melangkah dalam kotak-kotak yang lain, sampai tiba di sebuah kotak terakhir sebagai tujuan yang dijanjikan.  Entah kotak Sorga, Nirvana, Moksa atau nama-nama lainnya. 

Semua pejalan agama pasti memulai perjalanannya dalam sebuah keterbatasan sudut pandang.  Sebab sebagian besar mereka akan memulainya sejak kecil, bahkan sejak terlahir dari rahim sang ibu.  Keluar dari ruang rahim Ibu untuk memasuki kotak agama dan memulai langkah kehidupannya di bumi ini.  Bahkan bila pun mereka memulainya setelah usia dewasa, entah karena keharusan dalam urusan pernikahan, atau karena kesadaran sendiri, perjalanan kehidupan beragama itu selalu dimulai dari sebuah kotak keterbatasan. 

Lalu langkah-langkah perjalanan mereka menuju tujuan akhir yang dijanjikan oleh ajaran agamanya, mesti mengikuti aturan melangkah yang ditentukan oleh lemparan dadu para pemegang kekuasaan (para pemain agama).  Lemparan dadu itu mirip dengan tafsir-tafsir atas ajaran agama yang mesti mereka ikuti dengan patuh.  Tafsir-tafsir ajaran itu tentu saja tidak selalu sepenuhnya mengandung kebenaran hakiki, karena namanya saja hanya sebuah tafsir.  
Mungkin saja nilai tafsir itu mendekati kebenaran yang memang demikian dimaksudkan dalam ajaran aslinya, atau malah lebih dekat kepada pembenaran ego sang penafsirnya sendiri.  Apalagi bila mengingat bahwa sebuah pembenaran yang terlanjur disepakati secara terus menerus oleh kebanyakan orang, bisa saja akan menjadi suatu kebenaran yang diakui. 
Lebih dari itu, besar kecilnya nilai pengakuan sebuah tafsir (nila mata dadu), tidak selalu menjamin tingginya kualitas kebenaran yang akan membantu seorang pejalan agama untuk lebih cepat mencapai tujuan perjalanannya.  Seringkali tafsir yang diakui sebagai sesuatu yang benar oleh banyak orang, justru bisa membawa langkah spiritual seseorang mendekati kepala ular, yang akhirnya membuatnya jatuh terperosok ke kotak yang jauh lebih rendah, serta menjauhkannya dari pencapaian perjalanan kesadaran Jiwanya di kehidupan ini. 
Kepala ular dalam permainan ini memang sangat merugikan.  Ia serupa tafsir-tafsir ajaran yang siap menelan dan membelenggu umatnya ke dalam belitan harta, tahta atau cinta.  Ketika sebuah tafsir ajaran agama berkaitan dengan upaya meraih harta, merebut tahta atau mengundang cinta duniawi, bersiaplah untuk tertelan oleh rahang ular yang mampu membuka selebar mungkin (rakus, serakah), lalu terbelit oleh kemelekatan atas ajaran yang didasarkan pada tafsir pembenaran di dalam kotak pemahaman yang terbatas. 
Seperti ular yang memiliki taring berbisa, begitulah rahang para penafsir ajaran seperti ini tampak ber-bisa (memiliki kemampuan untuk meyakinkan pengikutnya), namun sesungguhnya ajarannya mengandung bisa (racun) yang mampu melumpuhkan, bahkan mematikan akal logika seseorang.  Sejak akal logikanya menjadi tumpul dan lumpuh, saat itulah para pengikut ajaran tersebut akan tercekoki oleh doktrin-doktrin pembenaran palsu yang menurunkan kualitas kesadaran Jiwanya sendiri, kembali ke kotak keterbatasan yang lebih rendah. 
Namun bila beruntung bertemu dengan penafsir ajaran agama yang pemahamannya mendekati kebenaran hakiki yang dimaksud oleh sang Guru Suci, dari situ langkah seseorang bisa menemui pangkal sebuah tangga pendakian yang membawanya naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. 
Ciri-ciri bahwa sebuah tafsir ajaran agama itu akan membawa kita ke sebuah tangga pendakian menuju kesadaran spiritual yang lebih universal, cukup mudah dikenali.  Penafsir ini akan mengajak kita mengenal tangga itu sendiri, yang terdiri dari pijak-pijakan dan dua buah pegangan.  Dua pegangan itu adalah simbolis ajakan untuk berani menerima dan memegang segala duaitas kehidupan ini dengan cara yang sama.  Sebab, penerimaan ikhlas terhadap dualitas kehidupan itu akan membantu kita aman saat melakukan pendakian spiritual tahap demi tahap melewati anak-anak tangganya. 
Jadi, kualitas kebenaran sebuah tafsir ajaran agama yang membawa kita menemui anak tangga keberuntungan itu, tidak selalu akan berkenaan dengan angka pengakuan yang besar.  Bisa jadi tafsir yang hanya diakui oleh sedikit orang, sesungguhnya adalah tafsir yang mendekati kebenaran itu sendiri.  Kapan saja sebuah tafsir ajaran agama membuat kita bisa ikhlas menerima perbedaan dalam dualitas kehidupan ini, tanda-tanda kita akan menemui keberuntungan untuk diangkat naik ke kotak pemahaman yang mendekati puncak pencapaian akhir kesadaran diri sejati. 
Permainan ular tangga ini sungguh menghadirkan pertanyaan mendalam kepada kita.  Apakah kita mau melangkah dalam kotak-kotak pemahaman yang terbatas untuk menemui rahang dan mulut ular berbisa, ataukah melangkah menemui anak tangga yang mengantar kita mendekat pada puncak perjalanan kesadaran?  Saatnya mengamati para pelempar dadu dengan akal pikiran dan hati yang penuh kesadaran dan kecerdasan.   
Kuta, 9 Pebruari 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kacang Panjang Terpanjang Tumbuh di Pennsylvania, USAoleh : Fida Abbott
21-Sep-2019, 10:58 WIB


 
  Kacang Panjang Terpanjang Tumbuh di Pennsylvania, USA Kacang panjang ini saya tumbuhkan dari biji saat musim panas di Coatesville, Agustus 2019, salah satu kota di negara bagian Pennsylvania, USA. Panjangnya mencapai 95 cm sehingga dapat dikalungkan. Tak ada perlakuan khusus dalam menanamnya, hanya cukup ditanam di tanah
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia