KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Agama Itu Jalan, Bukan Kepercayaan (2): Mencintai Manusia Itu Harus Tanpa Syarat

 
ROHANI

Agama Itu Jalan, Bukan Kepercayaan (2): Mencintai Manusia Itu Harus Tanpa Syarat
Oleh : Tonny Djayalaksana | 31-Mar-2019, 15:16:21 WIB

KabarIndonesia - Pada tulisan "Agama Itu Jalan, Bukan Kepercayaan (1)", saya telah mengungkapkan kenapa justru di negara-negara Islam selalu saja terjadi konflik dan peperangan yang tak berkesudahan? Ternyata jawabannya ada pada pemahaman terhadap agama sebagai kepercayaan/keyakinan atau agama sebagai jalan. Karena itu, mari kita pelajari lebih dalam jawaban tersebut pada bagian (2) sekarang.

Jika sebelumnya kita banyak mengamati negara lain di dunia, saya juga ingin mengajak kita semua untuk melihat perkembangan sejarah negara kita sendiri, Indonesia. Sejak setelah kemerdekaan diproklamirkan hingga saat ini, hampir tidak ada henti-hentinya terjadi konflik di dalam negeri. Faktanya, di setiap terjadinya konflik tersebut, hampir tidak pernah lepas dari keterlibatan organisasi-organisasi keagamaan khususnya agama Islam.       

Boleh jadi itu bisa dimaklumi, karena negara kita memang memiliki penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia yang otomatis memiliki banyak organisasi-organisasi Islam dengan masing-masing paham yang berbeda. Akibatnya hal ini menimbulkan multi tafsir tentang makna yang terkandung di dalam kitab suci Al-Quran dan Hadits. Oleh sebab itulah maka tidak jarang terjadi konflik antara sesama pemeluk agama Islam.       

Hal itu bisa kita saksikan dengan kasat mata mengenai apa yang sedang terjadi saat ini di dalam negeri kita. Berita-berita finah, hujat, hoaks, berseliweran setiap hari. Saking masifnya hal-hal seperti itu terjadi, sehingga kadang kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar dan mana yang hoaks.       

Entah sejak zaman kapan nama Tuhan/Allah menjadi sebuah komoditi yang bisa diperjual belikan? Hal ini bisa kita saksikan dengan melihat kenyataan/realita dari cerita sejarah yang ada. Sudah bisa dipastikan bahwa yang namanya konflik dan peperangan yang melibatkan organisasi keagamaan, pasti membawa atas nama Tuhan/Allah.           

Dalam benak saya selalu menanyakan, "Untuk apa Tuhan/Allah menciptakan manusia lalu satu sama lain dibuat bermusuhan, selanjutnya diperintahkan untuk berperang dan saling membunuh?" Sungguh tidak masuk akal dan sangat bertentangan dengan niat Tuhan/Allah dalam menciptakan Alam Semesta ini, yang mana tujuan hanya satu yaitu AKU (ALLAH) ingin dikenal.       

Kenapa saya selalu mengulang-ulang ayat hadits Qudsy ini? Ini semata-mata agar kita (manusia) semua SADAR, tujuan Allah menghadirkan kita (manusia) di semesta ini tidak lain dan tidak bukan, hanya untuk mangabdi kepada DIA (ALLAH). Cocok dengan Firman Allah di QS Adz-Dzariyaat ayat 56: TIDAK KU JADIKAN JIN DAN MANUSIA SEMATA-MATA HANYA UNTUK MENGABDI KEPADA KU.       

Dan pada hakekatnya semua yang ada di alam semesta ini tidak ada yang bukan DIA (ALLAH). Semuanya adalah DIA (ALLAH). Seandainya semua penduduk bumi ini SADAR akan hakekat makna --masing-masing dihadirkan Allah itu hanya untuk kepentingan Allah semata-- niscaya tidak akan ada lagi yang berlomba-lomba mengejar tahta, harta dan wanita.       
Ada sebuah pelajaran yang sangat menarik dan inspiratif. Negara Republik Rakyat Tiongkok adalah salah satu negara yang menyandang gelar sebagai negara yang penduduknya memiliki paham Ateis (tidak percaya adanya Tuhan) yang paling banyak di dunia.      

Namun pada kenyataannya, sekarang ini negara tersebut telah menjadi salah satu negara yang mempunyai kekuatan ekonomi terkuat di dunia. Meskipun penduduk negara tersebut mayoritas berpaham Ateis, nyatanya pembangunan di segala sektor bisa maju pesat. Padahal mereka tidak pernah menggunakan doa untuk memohon kepada Tuhan/Allah.     

Coba dibandingkan dengan negara-negara yang paling religius, yang setiap saat tidak terlepas dari doa untuk memohon apa saja yang dikehendaki. Ternyata pada kenyataannya justru minim dari prestasi. Malah lebih parah lagi, banyak yang berkonflik, berperang dan saling bunuh.       

Dari semua cerita di atas tadi, sekali lagi Allah membuktikan bahwa sesungguhnya setelah selesai menciptakan alam semesta berikut seluruh isinya termasuk manusia, Allah sudah tidak ikut mencampuri lagi segala urusan yang ada di alam semesta ini. Pasalnya, semuanya sudah dibuat dengan sangat sempurna. Tidak ada satupun yang sia-sia. 

Hukum semesta sudah baku yaitu hukum "Dualitas" sebab-akibat, tabur-tuai, tarik- menarik, dan seterusnya. Termasuk semua peristiwa yang terjadi di alam semesta ini, "TERJADI MAKA TERJADILAH". Seperti peristiwa gunung meletus, tsunami, gempa bumi dan sebagainya.       

Seperti yang sudah sering saya ungkapkan pada beberapa artikel saya, bahwa semua pembangunan yang ada di alam semesta ini adalah berkat dari kekuatan pikiran. Bukan hanya berdoa, karena sejatinya semua kehidupan di semesta ini satu sama lain terhubung, saling terkoneksi, dan saling menjalin interaksi.       

Contohnya, smartphone bisa melakukan video call secara real time itu dikarenakan ada gelombang elektro magnetik yang terkoneksi sehingga bisa terjadi hubungan seketika. Selain itu tentu saja masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.         

Mencermati mengapa negara yang mayoritas penduduknya punya paham ateis ternyata negaranya bisa maju, aman, damai dan sejahtera, saya pernah mendengarkan sebuah nasehat bijak yang disiarkan di sebuah stasiun televisi di negara tersebut. Kira-kira terjemahan kata-katanya seperti ini: Di dunia ini yang mana yang milik Anda? Istri, apakah milik Andakah? Bukan, Istri kemungkinan bisa menemani hidup bersama, akan tetapi meninggal mungkin tidak bersama. Hidup sampai tua adalah sebuah harapan.       

Anak, apakah milik Anda? Bukan, walaupun diantara kalian ada ikatan darah, daging dan tulang, itupun paling bisa dinikmati kebahagiaannya dalam waktu yang singkat saja.       

Uang dan emas, perhiasan milik Andakah? Bukan, walaupun Anda rajin mengumpulkan harta di bank, punya banyak tabungan, itupun sifatnya sementara saja. Karena ketika lahir tidak membawa apa-apa, begitu juga pulang nanti tidak ada yang bisa dibawa.   Rumah dan kendaraan apakah milik Anda? Bukan, walaupun Anda punya tempat tinggal yang mewah, kendaraan juga mewah, tapi ketika Anda meninggal dunia, semua tidak terpakai lagi.       

Kalau begitu apa yang sebenarnya milik Anda? Jawabannya adalah tubuh Anda. Hanya tubuh Anda sendiri yang betul-betul milik Anda. Tubuh Anda inilah yang menemani Anda seumur hidup, dan menemani perjalanan hidup Anda hingga selesai. Tubuh/jasmani Anda yang bisa menemani diri Anda sendiri, hingga seluruh kemampuan tubuh Anda berhenti.     

Oleh karena itu, Anda harus bisa menghargai milik Anda sendiri. Tubuh/jasmani Anda harus menjadi yang paling berharga. Apabila Anda masih ada kesempatan hidup sehari itu harus disyukuri. Manusia melakukan kesalahan paling besar dalam hidupnya itu karena menukarkan kesehatannya dengan benda yang lain.        

Manusia banyak membuang waktu semasa hidupnya itu, hanya untuk menyelesaikan masalah yang diciptakannya sendiri. Manusia di zaman modern sekarang ini, sudah punya kesadaran yang tinggi untuk menjalani pola kehidupannya. Mereka harus bisa damai, senang, bahagia dan sejahtera. Menurut saya itulah hahekatnya ISLAM.        

Bagi saya nasehat bijak tersebut, sangat menyentuh, karena cocok dengan sebuah ayat dari hadits Qudsy yang sudah menjadi anker di dalam benak saya. Adapun kalimat hadits Qudsy tersebut adalah sebagai berikut: MAN ARROFA NAFSAHU FA QOD ARROFA ROBBAHU=BARANG SIAP KENAL DIRINYA MAKA SUNGGUH DIA KENAL TUHANNYA.       

Apakah ini sesuatu yang sifatnya kebetulan? Tentu tidak karena di semesta ini tidak ada yang kebetulan, semuanya sudah direncanakan.       

Jadi kalau kita memperhatikan nasehat bijak tersebut secara cermat, maka kita akan bisa menyimpulkan, walaupun mereka itu termasuk orang-orang ateis, tapi mereka juga SADAR sesungguhnya di semesta ini tidak ada yang milik kita (manusia). Kalau tidak ada yang milik kita, artinya ada pemilik sejati dari selain kita (manusia).        

Kembali kepada topik permasalahan, konflik dan perang yang tidak berkesudahan, menurut pemahaman saya, akar masalah yang paling inti adalah menjadikan Agama sebagai kepercayaan, bukan sebagai jalan. Dengan demikian itu, maka akan selalu terjadi konflik dan perang, karena masing-masing merasa yakin bahwa kepercayaannya itulah yang paling benar.       

Kenapa saya punya pendapat seperti itu? Ini karena saya telah mengalami sendiri. Sebelum saya belajar Ilmu Marifat secara Spiritualitas, ketika masih menggunakan Ilmu Syariat, pemahaman saya ketika itupun tidak ada bedanya dengan sahabat pengajian saya yang lain. Disinilah letak perbedaannya. Agama dengan Spiritualitas, agama sebagai kepercayaan itu ada ratusan pemahamannya, tapi Spiritualitas hanya satu. Karenanya bagi yang belajar Spiritualitas agama itu jalan. Adapun tujuannya adalah Yang Maha Memiliki.       

Jadi sering saya contohkan kalau kita dari Jakarta tujuannya mau pergi ke Surabaya, boleh memilih menggunakan jalan lewat tol, atau jalan lewat pantura. Bisa juga jalan lewat pantai selatan, yang penting sampai pada tujuan akhir. Tidak terjebak lagi harus atau wajib melalui jalan yang ditentukan. Kalau istilah leluhur kita yang telah populer sejak dulu ialah, BANYAK JALAN MENUJU ROMA.       

Jadi kesimpulannya, saya kita bisa mempelajari semua yang suci dari semua buku. Yang penting tujuannya sampai, kembali kepada Sang Maha Pencipta. Tanpa harus tersesat di tengah jalan. Seperti penggalan sebuah puisi dari seorang sufi Jalaludin Rumi yang berbunyi seperti ini: "Kau cari Tuhan, itulah masalahnya, Tuhan didalam dirimulah yang sedang mencari mu"       

Berapa kali kita meninggalkan Tuhan dalam hidup ini, tetapi Tuhan selalu mencintai kita tanpa syarat apapun.       

Mengejawantahkan cinta Tuhan inilah yang harus selalu kita upayakan. Bahwa mencintai manusia itu harus tanpa syarat. Baik apakah itu syarat suku, agama, ras atau pun golongan apapun. Jika hal ini bisa diterapkan tentu tidak ada teror dan pembunuhan atas nama Tuhan. (*)     

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now   
ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT www.djayalaksana.com       

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia