KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Agama Dan Tahta

 
ROHANI

Agama Dan Tahta
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 11-Apr-2019, 16:45:57 WIB

KabarIndonesia - Kenyataan hidup yang sungguh kontradiktif ini benar-benar membuat Joko Kendal  kebingungan.  Sejak lama ia membaca sejarah tentang pergolakan bangsa-bangsa dan negara yang berkenaan dengan agama.  Apa yang salah sebenarnya dalam kenyataan itu?  Negara berdiri untuk mengatur kehidupan suatu bangsa dengan kebijakan-kebijakan, namun yang sering tersisa justru adalah pertikaian antara bangsa dan negara.  Lalu di mana fungsi kebijakan itu untuk mendamaikan manusia?

Agama juga hadir di kehidupan ini dengan tujuan mendamaikan kehidupan manusia.  Ajaran-ajarannya diturunkan pada orang suci, disebarkan oleh para rohaniwan, kitabnya adalah kitab suci, tempat sembahyangnya disebut tempat suci, hari rayanya disebut hari suci, namun seringkali yang tumbuh di sana adalah pikiran-pikiran dan hati yang penuh noda kemarahan, kebencian dan benih pertikaian antar agama.

Joko Kendal sungguh tak mampu mencerna kenyataan ini.  Apalagi ketika agama yang suci dan negara yang penuh kebijaksanaan berkolaborasi untuk menciptakan suatu tatanan kehidupan berbangsa, justru yang tersisa adalah ksiah-kisah kehancuran.  Apa yang keliru dalam semua ini? 

Ketika Nasrudin mendengar keluh kesah sahabatnya itu, ia hanya tersenyum tipis sembari menunjuk pada sebuah mesin cuci di rumahnya.

"Lihatlah kawan, semua orang tahu mesin cuci itu dibuat dan digunakan untuk membersihkan pakaian kotor, agar setiap pakaian yang masuk ke dalamnya nanti akan keluar sebagai pakaian yang kembali bersih.  Namun kenapa pada mesin cuci itu, setiap baju kotor yang dimasukkan ke dalamnya justru saat keluarnya tetap tampak makin kotor dan bahkan penuh noda warna-warni?  Ternyata di dalam mesin tua itu ada lumut-lumut yang tak pernah dibersihkan.  Bahkan air yang dialirkan ke dalam mesin cuci itu pun adalah air kotor yang tak tersaring."

"Belum lagi bubuk detergen yang dimasukkan ke sana justru serbuk-serbuk pewarna beraneka macam, sehingga pakaian yang terendam di dalamnya justru menjadi penuh dengan noda-noda warna yang tak semestinya."

Joko Kendal menatap Nasrudin dengan tatapan masih kebingungan. "Lalu apa hubungannya dengan keluh kesahku pada kenyataan hidup itu, Nasrudin?"

"Sederhana, kawan.  Agama sebagaimana kau pahami sebagai suatu alat untuk mengembalikan Jiwa manusia kepada kesuciannya, meski dengan segala perangkat suci yang kau sebutkan tadi, malah menghasilkan banyak sifat-sifat manusia yang penuh noda.  Kenyataan itu tidak lain disebabkan oleh masuknya aliran pemahaman yang tidak lagi bersifat murni ke dalam ajaran-ajaran sucinya, persis air kotor yang mengalir ke dalam mesin cuci itu.  Tafsir-tafsir pikiran yang dipenuhi muatan ego dan emosi negatif telah menodai kesucian ajaran itu."

"Belum lagi masuknya berbagai warna-warni kepentingan duniawi; harta, tahta, cinta, ke dalam pelaksanaan ajaran agama tersebut, akan semakin menodai kemurnian suatu ajaran agama.  Muatan-muatan kepentingan yang sejak lama mengendap dalam ajaran tersebut, berkembang menjadi lumut-lumut yang mengotori suatu agama."

Perlahan Joko Kendal menangkap penjelasan sahabatnya. "Lalu kenapa agama bisa semakin menjadi buruk saat bersentuhan dengan kekuasaan, pemerintahan atau tahta?"

Nasrudin kembali tersenyum. "Manusia itu pada dasarnya serupa keluarga besar hewan di kehidupan ini.  Otak manusia yang terendah perkembangannya adalah otak reptil, yang membuatnya seringkali bersifat dan bereaksi seperti hewan pada umumnya.  Inilah disebut homo homini lupus. Manusia itu tak ubahnya serigala yang akan saling memangsa sesamanya."

"Dibawah pengaruh otak reptil itu, manusia cenderung haus akan kedudukan, wilayah kekuasaan dan cinta.  Sebab dengan itu ia bisa menjadi penentu dalam kehidupannya.  Bersyukur manusia juga memiliki otak yang cerdas, yang bisa membuatnya mampu mengendalikan dan mengarahkan dorongan sifat dari otak reptil itu.  Ditambah hadirnya ajaran-ajaran para Guru Suci masa lalu yang dilembagakan menjadi ajaran agama, di situ manusia kian terkendali."

"Namun manakala peran ajaran agama yang sebenarnya untuk mengendalikan sifat-sifat hewani dalam diri manusia justru berada di bawah kendali otak reptil, maka manusia malah akan menggunakan ajaran agama untuk kepentingan ego dan hasrat duniawinya.  Dari sinilah cahaya suci ajaran agama mulai meredup oleh kegelapan ego manusia penganut ajaran tersebut.  Ajaran suci tak lagi kuasa menuntun Jiwa manusia ke arah kebajikan, melainkan sifat gelap ego manusialah yang menjerumuskan ajaran agama menjadi tidak lagi memberi manfaat positif bagi kehidupan."

"Apalagi ketika agama hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan dan tahta, di situ agama telah menjadi kereta untuk dikendarai meraih tujuan ego.  Ajaran agama tidak lagi menjadi sais yang mendampingi pikiran manusia menuju sifat-sifat Jiwanya yang penuh berkah cinta kasih bagi kehidupan."

"Ketika usaha seperti ini berhasil mengantar suatu komunitas pada suatu tahta atau kekuasaan, maka kehancuran suatu negara sudah bisa diramalkan akan terjadi.  Namun bila kekuasaan dan tahta tetap diraih dengan penuh kejujuran, penuh cara-cara yang bijaksana karena dituntun oleh ajaran agama, di situ hal terbalik akan terjadi.  Negara dan bangsa tersebut akan bercahaya dalam kemakmuran, kedamaian dan kebahagiaan dalam segala aspek kehidupannya."

Joko Kendal terdiam mendengar penuturan Nasrudin.  Kini ia mengerti kenapa kolaborasi agama dan kekuasaan dalam kenegaraan sering menyisakan kehancuran.  Ternyata bukan karena kolaborasi keduanya yang salah, melainkan karena ketidak mampuan mengkolaborasi keduanya dangan cara yang benar adalah penentu kehancuran itu sendiri. Kuta, 12 April 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB


 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia