KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniUrgensi Mengemballikan Pelajaran PMP di Sekolah oleh : Adolf Roben Lanapu
17-Feb-2019, 21:19 WIB


 
  KabarIndonesia - Dalam satu dekade ini terjadi perubahan besar pada lingkungan budaya di masyarakat, yang dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan persaingan industri elektronik. Murah dan mudahnya memiliki gadget canggih seperti smartphone berperan merubah perilaku masyarakat yang awalnya lebih
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Diam Dalam Rasa 18 Feb 2019 13:56 WIB

Hujan Lakukan Padaku 16 Feb 2019 12:08 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Agama Berbahaya dan Bahaya Beragama

 
ROHANI

Agama Berbahaya dan Bahaya Beragama
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 31-Jan-2019, 17:17:55 WIB

Kabar IndonesiaHomo homini lupus est, adalah kalimat dalam bahasa Latin yang bermakna bahwa "manusia adalah serigala bagi manusia sesamanya".  Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh  Plautus dalam karyanya berjudul Asinaria (195 SM).  Kalimat itu mewakili sifat sejumlah manusia yang seringkali tega menikam sesama manusia lain demi kepentingan hidupnya.  Istilah yang berbalik makna dengan kalimat tersebut adalah Homo homini socius yang berarti "manusia adalah sahabat bagi manusia sesamanya", yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes dalam karya berjudul De Cive (1651).

Bukan saja kedua karya sastra tersebut yang memahami potensi manusia dalam hubungan antar sesamanya di kehidupan ini.  Ilmu bio-psiko-sosio-spiritual juga memahami hal yang sama, bahkan memiliki penjelasan yang cukup detail.  Paul D Mclean seorang pakar neurosain dalam teori Triune Brain menyatakan bahwa otak manusia berevolusi melalui tiga fase: fase otak reptil, otak mamalia dan fase neokorteks.

Pada fase Otak Reptil, manusia sangat berpotensi untuk berperilaku mengedepankan sifat-sifat dasarnya sebagaimana layaknya mahluk yang tergolong hewan.  Otak reptil ini bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan tubuh atau bertahan dalam kehidupan ini.  Empat aspek dalam fungsi otak reptil ini sering dikenal dengan istilah 4F; Fight, Flight, Food, Fuck (mohon maaf).

Seperti halnya hewan-hewan di bumi, apabila otak reptil ini bereaksi terhadap suatu ancaman bagi kehidupannya, maka ia akan cenderung menimbulkan reaksi melawan dan menyerang (Fight) atau memilih kabur menghindar apabila merasa terdesak (Flight).  Pada manusia biasanya diwakili oleh sifat agresif (Fight) atau menghindar dari masalah kehidupannya (Flight).  Selain itu, manusia dan hewan-hewan akan berusaha dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam bentuk makanan (Food) serta kebutuhan untuk menjaga kelestarian generasi (maaf; Fuck).

Sejumlah ciri lain dari mereka yang terdorong oleh reaksi otak reptil adalah; persaingan, ketiadaan moralitas, ketiadaan etika dan tata krama, mementingkan diri sendiri terutama dalam kebutuhan tubuh, rakus atau serakah, tidak peduli pada lingkungan, tidak mudah merasa bersalah akibat tidak peduli terhadap nilai benar-salah, bersifat teritorial (gemar mengklaim suatu wilayah sebagai miliknya sendiri secara anti-sosial), mudah menyalahkan orang lain.  Serta berbagai perilaku hewani lainnya.

Sedangkan pada fase kedua, yang berkembang adalah otak mamalia yang berhubungan dengan berbagai perasaan atau emosional; marah, senang, takut, kecewa, jijik dan perasaan lainnya.  Fungsi sistem limbik ini juga untuk memastikan kelangsungan hidup seseorang serta mengontrol fungsi vital tubuh yang lebih kompleks.

Perkembangan otak manusia pada fase ketiga adalah berkembangnya bagian yang disebut neokorteks, di mana bertempat suatu kecerdasan yang bisa membuat perbedaan antara manusia dan hewan. Neokorteks sebelah kiri berfungsi untuk kecerdasan intelektual, sedangkan neokorteks sisi kanan berfungsi dalam kecerdasan spiritual.  Otak kiri berkaitan dengan pikiran analitik, evaluasi, logika, bahasa dan matematika.  Sementara otak kanan berhubungan dengan pikiran holistik, intuisi, kreativitas, seni dan musik.  Moralitas, kata-kata dan bahasa juga merupakan tanggungjawab dari fungsi neokorteks.

Mengingat neokorteks hanya ada pada manusia, maka inilah yang membedakannya dengan hewan-hewan lain di bumi.  Ketika seseorang membiarkan fungsi neokorteksnya mati, sesungguhnya ia sedang mengijinkan perilaku hewani berkuasa penuh dalam kepribadiannya.  Ketika manusia lebih mengedepankan respon otak reptil dalam menghadapi masalah-masalah kehidupannya, maka ia dikendalikan oleh apa yang disebut sebagai instinctive response.  Bila ia mengedepankan respon dari neokorteksnya, maka ia dikendalikan oleh intelectual response dalam dirinya.

Tampaknya pengetahuan ini telah cukup dipahami sejak dulu oleh para Guru Suci, meski dengan menggunakan istilah-istilah berbeda yang ada di jamannya.  Maka untuk mencegah manusia di jaman tersebut lebih banyak dikendalikan oleh sifat-sifat yang berasal dari kendali respon otak reptil di kepalanya, dirancanglah pengajaran-pengajaran moralitas, aturan-aturan dan norma etika.  Ajaran-ajaran yang berusaha untuk menumbuhkan kematangan fungsi neokorteks yang berisi kecerdasan intelektual dan spiritual manusia, agar mereka mampu mengendalikan dorongan otak reptil dan otak mamalianya, selanjutnya ditulis menjadi sejumlah kitab ajaran. 

Ketika ajaran-ajaran moralitas dan kesemestaan diri itu dilembagakan sebagai ajaran dalam suatu "organisasi" bernama agama, rupanya sejak itu kumpulan ajaran yang tertulis itu dijadikan sebagai kitab suci.  Sebagian ajaran yang tidak tertulis dalam kitab suci tersebut selanjutnya ditularkan dari generasi ke generasi lewat tutur-tutur moralitas.  Baik tersirat dalam bentuk cerita-cerita inspiratif, lagu, musik atau kesenian-kesenian serta hasil budaya lain yang bermuatan pesan-pesan moralitas. Semua cara berbeda itu tampaknya tetap bertujuan sama yakni menjaga keutuhan fungsi neokorteks otak manusia.

Dengan kisah perjalanan sederhana dari lahirnya kitab suci dan agama ini, rupanya kedua komponen tersebut sangat penting dalam kehidupan manusia yang bersifat Homo homini lupus ini, agar mereka bisa berkembang menjadi Homo homini socius, hidup damai dan saling tolong menolong antar sesama manusia, sehingga gelombang suka duka kehidupan ini bisa mereka lewati bersama.

Agama dan kitab suci hadir dan dihadirkan oleh kecerdasan semesta ke dalam kehidupan manusia, demi menjauhkan manusia dari berbagai bahaya yang muncul akibat ulah mereka sendiri, terdorong oleh rangsangan dan respon otak reptil (4F) dalam dirinya.  Dalam konteks awal ini bisa dengan mudah dipahami bahwa agama dan kitab suci itu lahir untuk melindungi manusia dari bahaya laten sifat hewani dalam dirinya sendiri.

Sayangnya, sebagaimana setiap hal selalu memiliki sisi lain, agama dan kitab suci pun bisa menimbulkan keadaan yang berbalik.  Meski di awal kehadirannya telah jelas bahwa tujuan agama dan kitab suci adalah untuk menjauhkan manusia dari bahaya kehidupan, tak bisa dipungkiri bahwa dalam perkembangannya justru ada yang memanfaatkan agama dan kitab suci untuk menciptakan bahaya serta rasa tidak aman dan tidak nyaman dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Agama dan kitab suci yang awalnya mencegah manusia agar tidak terlalu terjebak oleh godaan harta, tahta dan cinta yang didorong oleh faktor 4F dari otak reptilnya, justru menjadi terbalik; sejumlah manusia menggunakan agama dan kitab suci untuk mendapatkan harta, tahta dan cinta dalam kehidupannya.  Sejak itulah agama menjadi berbahaya, karena ia telah dikuasai oleh orang-orang yang berbahaya.  Agama dan kitab suci tidak lagi kuasa mengendalikan otak reptil manusia, sebaliknya manusia yang dikuasai otak reptilnyalah yang berusaha menggunakan agama dan kitab suci demi kepentingan duniawinya.

Dari sini, dengan mudah kita bisa mengamati dan mencermati.  Apakah ajaran agama yang dibabarkan pada kita sedang menjauhkan kita dari bahaya kehidupan dari dalam maupun dari luar diri, ataukah justru ajaran tersebut sedang menggiring kita ke jurang gelap yang berbahaya, karena telah dikuasai oleh orang-orang dengan sifat yang berbahaya.

Kapan saja kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual kita justru melemah oleh ajaran-ajaran yang diambil seseorang dari tafsir-tafsir kitab suci dan agama, itu pertanda pertumbuhan neokorteks kita sedang terancam memasuki kematiannya.  Saat kecerdasan pada neokorteks mati, maka respon otak reptil akan kembali menghadirkan sifat-sifat hewani dalam diri kita.  Dari situ, beragama menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan kita.

Jadi, mari lindungi diri kita dari bahayanya ajaran-ajaran yang merusak perkembangan neokorteks kita.  Kembalikan agama dan kitab suci sebagai bahan pengetahuan bernutrisi bagi perkembangan kecerdasan intelektual dan spiritual.  It's not about gun behind the man, but about the man behind the gunBeware of the man.(*)
Kuta, 2 Pebruari 2019

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Marc Marques Juara Dunia MotoGP 09 Feb 2019 02:01 WIB


 

 
 

 
 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia