KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman ,Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

AGAMA Vs ATHEIS

 
ROHANI

AGAMA Vs ATHEIS
Oleh : Dr I Wayan Mustika | 22-Mar-2019, 16:46:09 WIB

Kabar Indonesia - Sudah sejak lama kaum atheis berdebat dengan kaum beragama.  Perdebatan mereka tidak pernah berakhir dengan mudah.  Terkadang mereka hanya jeda sesaat untuk kembali melanjutkan perdebatan yang sama keesokan harinya.

Para kaum beragama yang percaya adanya Tuhan, mencoba untuk membuat para kaum atheis percaya dan yakin bahwa Tuhan itu ada.  Namun saat kaum atheis meminta penjelasan ilmiah dan bukti keberadaan Tuhannya, para kaum beragama seringkali tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan akal para penganut atheis. Mereka hanya bisa berkata bahwa keyakinan itu tak bisa dijelaskan dengan akal pikiran.

Maka berseberanganlah mereka dari waktu ke waktu. Para kaum beragama bermain di ruang rasa, sedangkan kaum atheis bermain di ruang rasio.  Mereka tak mampu membangun jembatan penyeberangan di antara keduanya.  Para atheis menolak menyeberang ke rasa, para kaum beragama enggan menyeberang ke ruang rasio.

Dan Joko Kendal merasa gundah melihat kenyataan itu. Maka ia menemui Nasrudin untuk sekadar mendapat pemahaman yang bisa menghibur gelisah batinnya.

"Nasrudin, kawanku.  Engkau pasti juga sering mendengar perdebatan kaum agamawan dan kaum atheis.  Aku sendiri gundah melihat keduanya.  Sebab argumen masing-masing tampak benar saat aku mendengarnya.  Lalu mana yang harus kuyakini sebagai kebenaran?"

"Apakah penjelasan kritis kaum atheis yang seringkali lebih masuk akal itu harus kuakui sebagai kebenaran bahwa Tuhan itu tiada? Sedangkan aku sendiri percaya bahwa dengan banyaknya pengikut agama-agama di dunia, pasti memang benar ada sesuatu yang disebut Tuhan di alam semesta ini."

"Aku sendiri sering berpikir, bila Tuhan itu memang benar-benar ada, kenapa Dia tidak hadir saja di hadapan mereka untuk mengubah cara berpikir kaum atheis agar mengenali-Nya sungguh-sungguh ada?  Namun aku juga maklum, bahkan para kaum beragama sendiri tidak yakin bahwa mereka pernah benar-benar melihat kehadiran Tuhan secara nyata."

Nasrudin menepuk punggung Joko Kendal. Ia tersenyum penuh makna.

"Kawan, jangan lupa bahwa segala sesuatu di dunia ini akan menyisakan dua atau lebih sisi pandang.  Panas matahari sendiri bisa mengeringkan dan bisa membasahkan.  Pakaian yang basah akan dikeringkannya, tubuh yang kering akan dibuatnya basah oleh keringat."

"Cahaya matahari bisa membuat segalanya terlihat terang oleh mata, namun ia juga bisa membutakan mata hingga tak bisa melihat apa-apa lagi.  Angin bisa membelaimu dengan lembut, namun ia juga bisa menerbangkan bahkan menghancurkan kehidupanmu.  Hujan bisa menjadi berkah sekaligus bisa menjadi bibit bencana."

"Maka tak heran bila keberadaan "Sesuatu" di semesta ini yang kemudian disebut Tuhan pun akan menyisakan perbedaan sudut pandang.  Akan ada yang memercayai-Nya ada, sebagian lain akan memilih untuk tidak meyakini-Nya ada."

"Orang yang meyakini Tuhan itu ada, lebih mengedepanklan rasa. Orang yang tidak meyakini Tuhan itu ada, mereka lebih mengedepankan rasio.  Tentu saja perbedaan kacamata untuk memandang ini akan selalu menyisakan perdebatan."

"Bagaimana mungkin dua orang yang berdebat tentang kopi dan gula akan bisa menemukan kesatuan rasa, kecuali bila mereka mau bersatu.  Satu pihak berbicara tentang pahitnya kopi, satunya lagi bicara tentang manisnya gula.  Lalu mereka bertengkar karena berpegang pada rasa mereka masing-masing."

Joko Kendal tertawa mendengar perumpamaan yang disampaikan Nasrudin. "Tetapi tidakkah ada cara yang bisa membuat mereka menemukan kesatuan dalam rasa itu, kawan?"

Nasrudin melanjutkan dengan tenang.

"Tentu saja ada kawan.  Bahkan terangnya cahaya matahari yang membuat dunia tampak indah, bisa dinikmati tanpa mesti membuat mata berisiko buta oleh cahayanya.  Manusia bisa memakai kacamata agar bisa melihat dengan aman."

"Keyakinan dalam rasa dan pemahaman dalam rasio itu sesungguhnya bisa disatukan dengan mudah.  Syaratnya hanya satu, bahwa mereka harus tahu bahwa di kepala mereka tersimpan otak yang mampu memberi mereka kemampuan untuk menyadari rasa dan memahami dengan rasio."

"Bukankah otak manusia memiliki dua belahan? Satunya memberi kecerdasan spiritual, satunya lagi memberi kecerdasan intelektual. Sayangnya, kebanyakan manusia cenderung lebih senang bertumbuh hanya di satu sisi.  Ada yang hanya senang dalam keyakinan rasa, ada yang hanya senang bermain dalam pemahaman rasio."

"Kaum beragama kebanyakan tidak mau mencari penjelasan tentang Tuhan lewat jalan pengetahuan bagi akal pikirannya. Mereka merasa bahwa keyakinan itu tidak bisa dijelaskan dengan akal pikiran. Sebaliknya, kaum atheis berpikir bahwa pengetahuan akal pikiran tidak bisa membawa mereka menemukan Tuhan dalam rasa."

Alis Joko Kendal terangkat. Ada sesuatu yang ditangkapnya dari penjelasan Nasrudin.  "Lalu di mana titik temu keduanya, kawan?"

Kali ini Nasrudin terkekeh.  Ia sudah pernah menjelaskan hal ini pada Joko Kendal, namun rupanya sahabatnya itu melupakan benih-benih pengetahuan tersebut.

"Bukankah pernah kujelaskan dulu padamu tiga aspek Tuhan? Pertama, Dia sebagai Kecerdasan Semesta Tak Terbatas yang mengisi segenap ruang kosong di semesta tak terbatas ini.  Lalu Dia juga sebagai Energi Semesta dan Materi Semesta.  Energi adalah kemampuan-Nya untuk menunjukkan kuasa kecerdasan semesta-Nya, sedangkan Materi adalah wujud pemampatan Energi itu sendiri."

"Sebagai Kecerdasan Semesta, Dia bersifat abstrak, sehingga tentu saja tidak bisa lagi dijelaskan. Dalam aspek ini, Dia hanya perlu diyakini ada.  Ketika Dia yang abstrak sebagai Kecerdasan Semesta itu mulai menunjukkan aspek diri-Nya sebagai Energi dan mewujud menjadi Materi Semesta, baru di sini Dia mulai bisa diukur dan dijelaskan secara pemahaman nyata dengan akal pikiran."

"Nah, keberadaan-Nya sebagai Kecerdasan Semesta dipelajari oleh kaum beragama dan penggiat metafisika. Di sini mereka bermain dalam keyakinan dan rasa. Sedangkan dalam keberadaan aspek-Nya sebagai Energi dan Materi Semesta, Dia bisa dipelajari oleh penggiat ilmu fisika.  Di sini mereka bermain dalam pemahaman dan rasio akal."

"Kapan saja mereka mau membangun jembatan penyatuan bagi kedua ilmu, di situ mereka akan berjumpa pemahaman dan kesadaran bahwa keduanya sesungguhnya satu jua.  Rasa dan rasio itu menyatu,  Rasa kopi bisa dijelaskan kenapa ia terasa pahit. Rasa gula bisa dijelaskan kenapa ia terasa manis."

Joko Kendal tak sanggup lagi berbicara.  Kali ini ia merasakan sesuatu dalam kepalanya mulai bergerak-gerak mencari jalan penyatuan.  Keduanya pun terdiam.(*)   Kuta, 23 Maret 2019    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia