KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahJokowi Duduk Bersama Korban Gunung Sinabung oleh : Jenda Bangun
17-Okt-2017, 02:24 WIB


 
 
KabarIndonesia - Tanah Karo, Inilah potret kebersahajaan Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Tanah Karo, Sumatera Utara, Sabtu (14/10). Jokowi masih sempat menghampiri rumah keluarga korban gunung Sinabung, Pak Surbakti. Mereka duduk di kursi depan rumah, bertiga dengan isteri
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA

  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB






 
BERITA LAINNYA
 

 
Maraknya Pencurian di Kampus 17 Okt 2017 01:31 WIB


 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
CERPEN

Pelukis Wajah
Oleh : Ardy Kresna Crenata | 29-Des-2010, 02:37:52 WIB

Lagi-lagi, kau mendengar suara-suara yang semestinya tak ada. Ada yang memanggil-manggil namamu. Ada yang hanya berdesis. Ada yang bergumam entah apa, kadang dalam bahasa yang sama sekali tak kau pahami. Belum juga satu menit sejak kau memejamkan mata, suara-suara itu muncul, seperti sengaja ingin memaksamu tetap terjaga. Dan kini, sementara suara-suara itu semakin mengganggu, wajah demi wajah bermunculan, perlahan, muncul dari titik-titik yang gelap.

Kau terpaksa membuka mata. Kau percaya, semakin lama matamu terpejam, semakin cepat kau akan gila. Sebab wajah-wajah itu selalu muncul dengan sangat cepat ketika kau mencoba untuk tidur. Dan suara-suara itu, bagimu, seperti tangan-tangan yang menggerayangi setiap bagian tubuhmu. Kau tak sanggup membiarkan hal itu terjadi terlalu lama.

Bangkit dari tempat tidur, kau berjalan menghampiri cermin, mengamati wajahmu yang terpantul di sana. Hitam di bawah matamu semakin kentara. Entah sejak kapan persisnya, insomnia menyerangmu. Malam tak lagi bisa kau gunakan untuk tidur. Malam telah mengkhianatimu dengan membuat wajah-wajah yang pernah kau lukis seakan-akan hidup. Menjadi teror.

Kau sentuh wajahmu di cermin itu dengan tangan kanan, sementara wajah aslimu dengan tangan satunya lagi. Ada sesuatu yang rasanya asing. Aneh. “Saya sudah terlalu banyak melukis wajah orang lain,” gumammu. “Saya belum pernah melukis wajah saya sendiri.” Sambil terus merasakan lekuk-lekuk wajahmu sendiri, kau memejamkan mata. Kembali, suara-suara itu bermunculan, wajah-wajah itu bermunculan. Kali ini, kau sengaja membiarkan dirimu terganggu lebih lama.

Sudah hampir dua jam. Wajah di kanvas itu semakin mirip dengan wajah seorang perempuan di hadapanmu. Tinggal sedikit lagi. Kau hanya perlu menebalkan alisnya dan memberi warna gelap pada kedua iris di matanya. Ya, seperti itu. Persis. Sempurna.

“Selesai,” katamu. “Anda sudah boleh bergerak.”

“Ugh.. akhirnya,” perempuan itu menggeliat seperti kucing. Digerakkannya kepalanya ke kiri dan ke kanan. Disentuhnya lehernya. “Pegal juga ya ternyata,” katanya tersenyum. Senyumnya itu mengganggumu. Ya, senyumnya itu mengganggumu. Bukan karena perempuan itu jelek. Bukan pula karena ia cantik. Sebab bagimu, cantik atau tidak bukan lagi suatu masalah. Pelanggan tetap pelanggan. Objek tetap objek. Yang membuatmu terganggu adalah waktu-waktu setelah ini, setelah lukisan itu selesai dan perempuan itu pergi, sehingga kau seperti dibiarkan berduaan dengan lukisanmu itu. Dan, seperti malam yang sudah-sudah, kau akan merasa lukisan itu hidup. Mata hitam itu akan memandangmu, mengikuti setiap kali kau bergeser. Hidung itu, yang kecil dan runcing, di matamu akan tampak seolah-olah menghirup udara. Dan bibir itu, yang merahnya begitu muda, akan bergerak-gerak mengatakan sesuatu. Itu semua baru akan terjadi beberapa jam lagi. Namun saat ini pun, kau sudah mulai merasakannya.

“Wah, saya seperti sedang bercermin saja,” kata perempuan itu lembut. Ia kini begitu dekat denganmu. Kau bisa mencium parfumnya yang begitu wangi. “Entah kenapa, saya seperti merasa sedang diamati.”

“Oleh siapa?” katamu terkejut.

“Lukisan ini,” jawabnya enteng. Ia mencoba meraba wajahnya di kanvas. Ia terus bergumam tentang kehebatanmu, tentang kekagumamnya padamu. Ia katakan padamu bahwa ia akan sering berkunjung untuk memintamu melukisnya lagi. Sementara itu, kau tak begitu peduli pada ucapannya. Matamu hanya tertuju pada lukisan itu, pada wajah perempuan itu, pada matanya yang tajam menatapmu.

Dan seperti janjinya, perempuan mengunjungimu lagi dan lagi. Kadang-kadang ia datang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Pernah suatu kali, kau sedang melukis wajah seseorang ketika ia mengetuk-ngetuk pintu. Namun, alih-alih pergi, ia memilih menunggu sampai kau selesai melukis. Kau pun terpaksa membiarkannya masuk. Awalnya kau biarkan ia duduk di ruangan yang sama denganmu. Ia tak bicara sepatah kata pun, tak bergerak ke mana pun. Ia hanya duduk di kursi di dekat jendela, di arah jam satu, seolah-olah ia lah yang sedang kau lukis. Namun entah kenapa, meskipun ia begitu diam, kau merasa terganggu. Kau akhirnya membiarkan ia menunggu di ruangan lain di rumahmu. “Saya ingin melihat lukisan-lukisan Anda, Tuan Pelukis,” katanya. Kau sesungguhnya keberatan. Namun kau kabulkan juga keinginannya. Kau bawa ia ke ruangan khusus tempat lukisan-lukisanmu tersimpan.

Kau melihatnya terperangah saat memasuki ruangan itu. “Wah, banyak sekali,” katanya. Memang, ruangan itu sudah sangat penuh dengan lukisan. Sesak. Berjejalan. Sebagian kau gantung. Sebagian kau biarkan begitu saja, bersandar di dinding. Sebagian lukisan menghalangi lukisan lainnya. “Wajah semua,” katanya. “Ternyata rumor itu memang benar. Apakah Anda tidak pernah melukis objek lain selain wajah?” Ia menatapmu. Bisa dibilang, saat itu adalah pertama kalinya seorang pelanggan yang pernah kau lukis wajahnya, yang bukan seorang kolektor lukisan, berada di ruangan itu, mengamati satu per satu lukisanmu.

“Saya hanya pandai melukis wajah,” jawabmu. Sementara itu, dengan banyaknya lukisan wajah di ruangan itu, ke mana pun kau menoleh, selalu ada sepasang mata yang menatapmu. Khawatir terperangkap dalam ilusi, kau memilih untuk segera meninggalkan ruangan itu. “Silahkan Anda menunggu di sini. Saya masih harus melukis.” Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Senyum itu, lagi-lagi mengganggumu.

Kau pun kembali melukis. Pelangganmu saat itu, seorang perempuan gemuk, sempat bertanya tentang perempuan yang kau biarkan berada di ruang penyimpanan. Ia mengira ada sesuatu di antara kalian berdua. Kau hanya tersenyum. “Ia hanya pelanggan, “ katamu, “sama seperti Anda, seperti yang lainnya.” Namun sesungguhnya, di dalam hatimu kau terus bertanya-tanya tentang perasaan aneh yang mengganggumu sejak perempuan itu muncul. Tak salah lagi, ia berbeda. Kau pun ingat pernyataannya sehabis wajahnya kau lukis untuk pertama kali: Entah kenapa, saya seperti merasa sedang diamati.

Petang sudah membayang ketika perempuan gemuk itu pergi. Seperti kebanyakan pelangganmu, ia tak langsung mengambil lukisan wajahnya. Namun tentu saja, ia membayarmu hari itu juga.

Lukisan wajah terbaru itu belum kering. Dengan hati-hati, kau membawanya ke ruang penyimpanan. Di sana, kau menemukan perempuan yang sejak tadi kau pikirkan. Ia tampak serius mengamati sebuah lukisan wajah sebesar pintu. “Anda sepertinya lelah, Tuan Pelukis,” katanya tanpa menoleh. “Apakah saya bisa minta dilukis saat ini juga?” Sebenarnya kau ingin menolak, tapi seperti ada yang menggerakkan lidahmu begitu saja, “Tidak masalah. Mari ke ruangan yang tadi!”

Di ruangan itu, kau mulai melukis wajahnya. Bukan hal yang sulit bagimu. Terlebih lagi, kau sudah melukis wajah itu beberapa kali. Bahkan tanpa melihat wajah aslinya, kau merasa bisa membuat yang serupa.

“Anda sudah beberapa kali melukis wajah saya ini,” katanya. “Anda tidak bosan?”

“Sejujurnya iya,” jawabmu.

Tiba-tiba saja, perempuan itu melepas semua yang ia kenakan. Setelah ia benar-benar telanjang, ia kembali duduk.

“Apa yang Anda lakukan?” tanganmu berhenti.

“Supaya Anda tidak bosan, bagaimana kalau Anda melukis saya seutuhnya?”

“Tapi saya hanya melukis wajah…”

“Kenapa? Anda takut terjerat Undang-undang pornografi?” Kau memilih untuk diam sambil kembali melukis. “Siapa juga yang peduli pada Undang-undang absurd itu.”

“Apakah itu pembelaan? Sepertinya Anda senang bertelanjang seperti ini.”

Perempuan itu tertawa. “Bukankah Anda sependapat dengan saya?”

“Saya tak ingat pernah mengatakannya.” Kau mulai kesal sebab sementara tanganmu terus bergerak, lidahmu harus juga bicara.

“Sebagai seorang seniman, Anda tentunya merasa risau dengan diberlakukannya Undang-undang itu. Tapi jika Anda seorang pemuka agama, atau orang yang mengaku peduli pada agama dan moral bangsa, Anda mungkin akan memperjuangkannya. Kenapa perbedaan sikap ini bisa terjadi, Tuan Pelukis?”

“Anda akan menjawabnya.”

Ia tertawa. “Itu karena masing-masing mendefinisikan pornografi secara berbeda. Dan karenanya, hal-hal yang oleh pihak satu dianggap porno, oleh pihak lain dianggap sama sekali tidak porno. Perbedaan sudut pandang, Tuan Pelukis. Itulah yang terjadi.”

“Apakah Anda seorang seniman? Atau justru seorang pemuka agama?”

Ia tertawa lagi. “Bukan kedua-duanya.”

“Berarti Anda sok tahu.”

Ia kembali tertawa, lebih keras. “Bisa jadi. Dan jika Anda seorang seniman sekaligus pemuka agama, Anda mungkin punya sudut pandang lain terhadap pornografi.”

Percakapan tak terhenti sampai di situ. Sesungguhnya kau tak ingin mendengar lebih banyak. Kau sudah lelah. Namun sampai lukisan di hadapanmu selesai, kau terpaksa mendengar setiap kata-katanya. Dan ketika akhirnya lukisan itu selesai, kau menarik napas lega.

“Mengagumkan. Seperti biasa,” katanya saat berdiri di sampingmu, masih dalam keadaan telanjang. Kau terus menahan diri untuk tidak menoleh padanya. “Tapi apakah Anda tahu, Tuan Pelukis, wajah ini hanyalah topeng?” Kau tak mengerti apa yang ia ucapkan. Tiba-tiba saja, ia mengelupaskan kulit wajahnya dan muncullah wajah yang berbeda, dan kau yakin pernah melukisnya. “Dan ini pun hanyalah topeng,” katanya sambil mengelupaskan lagi kulit wajahnya dan muncullah wajah berbeda yang lagi-lagi pernah kau lukis. Ia melakukannya lagi dan lagi, berulangkali, sampai akhirnya ia tersenyum.

Sudah beberapa lama sejak kejadian itu, kau belum juga melukis lagi. Beberapa permintaan pelanggan kau tolak dengan alasan butuh istirahat. Kadang ponsel sengaja kau matikan beberapa hari. Berjam-jam di rumah, kau habiskan di ruang penyimpanan. Di sana, kau begitu serius mengamati setiap lukisan yang ada. Jangan-jangan wajah-wajah yang berbeda ini adalah dari orang yang sama, pikirmu. Dan dari sekian banyak wajah yang ada, barangkali hanya beberapa saja yang asli, yang bukan topeng. Semakin serius memikirkannya, kau semakin gila. Dan ketika malam akhirnya jatuh, seperti yang sudah-sudah, wajah-wajah di lukisan itu seperti hidup. Mata demi mata bergerak-gerak mencarimu. Telinga demi telinga seperti lapar pada kata-katamu. Mulut demi mulut bergerak-gerak. Suara-suara bermunculan menciptakan bunyi yang mengganggu. Kau mendengar namamu disebut. Berulang kali. Berulang kali.

Setiap hari selalu seperti itu. Kau mulai lupa waktu. Sering salah membedakan malam dan siang. Lama berada di ruang itu, kau seperti kesulitan menemukan pintu untuk keluar. Ponsel akhirnya kau aktifkan. Langsung saja, pesan demi pesan masuk. Tak lama kemudian, panggilan demi panggilan pun berdatangan. Kau biarkan saja ponselmu berdering sementara kau berjongkok, menunduk, menutup telingamu dengan kedua tangan, sampai akhirnya ponsel itu mati karena kehabisan baterai. Lalu hening. Dan kau merasa terasing. Saat itu sesuatu terpikir olehmu: semua lukisan wajah ini harus dimusnahkan.

Namun meski semua lukisan itu kau bakar, wajah-wajah itu masih saja bermunculan setiap kali kau memejamkan mata, membuatmu terpaksa terjaga semalaman hingga matahari akhirnya terbit dan ilusi itu lenyap. Seperti malam ini, ilusi itu memaksamu bangkit dari tempat tidur, lalu menatap dirimu di cermin, menatap wajahmu. “Saya sudah terlalu banyak melukis wajah orang lain. Saya belum pernah melukis wajah saya sendiri.” Cukup lama kau memejamkan mata, membiarkan wajah-wajah itu bermunculan. Lalu kau teringat pada perempuan itu, perempuan terakhir yang kau lukis wajahnya. Kau membuka mata, meraba-raba wajahmu, lalu berkata, “Barangkali, wajah ini pun hanya topeng.” Dan kau seperti orang gila, berusaha mengelupaskan kulit wajahmu sendiri. Meski terasa sakit, kau terus berusaha melakukannya. Ah, barangkali kau memang sudah gila. (*)


Bogor, 28 Desember 2010



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//




 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB


 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia