KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahJokowi Duduk Bersama Korban Gunung Sinabung oleh : Jenda Bangun
17-Okt-2017, 02:24 WIB


 
 
KabarIndonesia - Tanah Karo, Inilah potret kebersahajaan Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Tanah Karo, Sumatera Utara, Sabtu (14/10). Jokowi masih sempat menghampiri rumah keluarga korban gunung Sinabung, Pak Surbakti. Mereka duduk di kursi depan rumah, bertiga dengan isteri
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB





 
BERITA LAINNYA
 

 
Maraknya Pencurian di Kampus 17 Okt 2017 01:31 WIB


 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Nasihat Seorang Gadis

 
CERPEN

Nasihat Seorang Gadis
Oleh : Sumala Djaya | 24-Okt-2010, 21:54:57 WIB

KabarIndonesia - Gadis itu sering meminjamkan buku paket pada Angga bila ada Pekerjaan Rumah (PR). Ia juga suka melarang Angga jika hendak membolos. Karena perhatian gadis itu, Angga jatuh hati padanya. Dialah Rochilah. Ketulusan hati dan keihklasannya membukakan hati yang tertutup. Tapi Angga tak pernah punya keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

Pada hari yang terik ketika liburan sekolah. Angin berhembus kian kemari meskipun mentari bersinar begitu terik. Burung-burung gereja melintasi angkasa seraya mendendangkan lagu sambil bercanda dengan kawanan burung lainnya. Angga tersenyum lebar. Ia tak mampuh menyembunyikan perasaan bahagianya, karena hendak berkunjung ke rumah kakak sepupu Rochila, Layla.

Setelah berganti pakaian dan merasa cukup matang untuk pergi sendirian, maka ia pun pergi. Sesampainya di rumah Layla, ia langsung berkenalan dengan Layla. Ternyata Layla adalah gadis yang mudah bergaul, terbuka dan tentu saja ramah. Angga merasa nyaman berbincang dengan Layla. Ia seperti mendapatkan dorongan spiritual saat berdikusi dengan Layla.

"Setelah aku membaca buku harianmu, aku mempunyai nalar bahwa kamu menyukai adik sepupuku," ungkap Layla.
"Aku memang menyukainya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menyatakannya," jawab Angga.
"Kamu kan laki-laki. Gentle sedikit dong! Kamu hanya akan menyiksa diri jika seperti ini terus. Apa kamu tak menyesal jika ada yang merebutnya?," lanjut Layla.
"Mudah-mudahan saja aku bisa," ucap Angga.
"Harus bisa!"

Ia tergugah dengan semangat Layla yang begitu besar. Ternyata Layla memperdulikannya. Layla tak ingin Angga menyiksa dirinya dengan cinta yang sia-sia.

Langit perlahan mulai gelap. Mentari tenggelam tersaput mega. Sedang bulan begitu memancarkan cahayanya yang teduh kala itu. Burung-burung yang semula bercanda sambil mencari makan di rawa pun berterbangan satu-persatu untuk pulang. Angga pun memutuskan untuk pulang

*

Angga duduk di atas kasur yang masih tergelar di lantai kamarnya. Kertas surat, buku harian serta catatan-catatan yang lainnya masih tergeletak di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memandangi ke sudut gelap kamar. Dilihatnya sosok gadis anggun berdiri mengenakan gaun berwarna merah jambu. Seketika ia terlempar ke alam fantasinya sendiri.

Beberapa jam kemudian ia beranjak dari kamarnya yang berantakan. Raut kusam dan tubuh yang kerempeng membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit. Duduk lah ia di teras rumahnya sembari dilihatnya orang yang lalu-lalang di jalan. Terbersit dalam benaknya untuk pergi ke rumah Rochila.  Akhirnya ia pun benar-benar pergi ke rumah gadis itu.

Sesampainya di depan rumah Rochilah, diketuknya daun pintu yang tertutup seraya mengucapkan salam. Tak seorang pun membalas salamnya. Ia memberi salam untuk ke sekian kali dan sedikit mengeraskan suara. Akhirnya Rochila pun membuka pintu rumahnya. Rochila pasti akan menyuruhnya masuk, pikirnya. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, Rochila mengusirnya.

"Pasti kamu habis main-main tak karuan. Lebih baik kamu pulang".

Mulanya ia mengira Rochila akan senang dengan kedatangannya. Mungkin Rochila merasa terganggu dengan kedatangannya. Atau ia memang datang di saat yang tak tepat. Ia merasa terpukul sekali atas perlakuan Rochila yang mengusirnya tanpa alasan. Akhirnya ia pulang menanggung rasa kecewa.

Di rumah, Angga langsung membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dipejamkan matanya untuk tidur. Namun kegelisahan hadir dan bergelayut dalam pikirannya. Diambilnya selembar kertas dan pena yang tergeletak di lantai kamar. Dan ditulislah apa yang berkecamuk dalam pikiranya pada selembar kertas itu.

Untukmu Selalu
Tak apalah kau usir aku dari rumahmu, asal jangan kau usir aku dari ingatanmu. Jujur, aku menyukaimu. Sebab kau mau membimbingku meskipun aku tak pernah memperdulikanmu. Banyak cara aku tempuh agar dapat menemuimu. Tapi kau mengusirku. Tidak  adakah rasa rindu di hatimu seperti aku yang sangat merindukanmu?

Tahukah bahwa engkau akan selalu menjadi hal indah yang akan selalu aku ingat. Biarlah hari-hari terus berganti. Karena cinta sejati tak akan pernah mati. Aku Yang Selalu mengagumimu

*

Ia berjalan gontai membelah pagi yang berkabut seraya bernyanyi kegirangan. Dilihatnya Rochila duduk di depan kios. Ia ingin memberikan surat yang ditulisnya semalam. Ah, biar jadi catatan pribadi saja, pikirnya. Akhirnya ia lebih memilih bergabung dengan kawan-kawannya di gang sekolah untuk nimbrung merokok dan menghirup kopi. Teman-temannya sering mencarinya jika ia tidak sekolah; meski pun suka nimbrung makan seenaknya, ia juga sangat bijak.

Di dalam kelas kerjanya hanya termangu memandangi Rochila. Ia berharap akan ada yang menyampaikan isyarat cintanya kepada Rochila.

"Aku biarkan bayangmu mengisi malam-malamku, sebagaimana cinta ini hanya bayang bagiku. Mungkin aku memang pengecut, karena tak sampai kuasa mengatakan cinta padamu.

Jika hanya dalam mimpi kau dapat kucumbui, maka biarlah aku tetap terlelap. Telah aku torehkan semua rasa. Namun selalu saja engkau mengabaikannya."

Meski ia duduk terdiam. Namun hati dan pikirannya terus berkecamuk. Tak satu pelajaran pun yang disampaikan oleh gurunya yang ia catat. Ia hanya berkutat dengan pikiran-pikiran kacaunya.

*

Dari speaker kantor sekolah terdengar jelas wali kelas memanggilnya untuk ke ruang TU (Tata Usaha).

"Kesalahan apa yang aku perbuat?," pikirnya. Ia keluar dari kelas. "Kenapa aku disuruh ke kantor ya? Mudah-mudahan saja tidak ada masalah yang serius," gerutunya kemudian.

Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban terus menghampiri. Ditatapinya kantor sekolah setajam pisau. Lalu ia beranjak dari tempat duduk. Ia hendak  menghadap wali kelasnya di kantor itu.

Wali kelasnya tengah menunggu sambil membaca koran.  Tampak  kursi kosong di depan meja yang sudah tentu disediakan untuk Angga.

"Kamu tahu kenapa dipanggil ke mari?," tanya wali kelasnya membuka perbincangan.
"Tidak pak," jawab Angga.
"Ya jelas tak tahu lah, lah wong belum bapak kasih tahu kok!" ucap wali kelasnya.

Angga menjadi geram. "Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Angga menundukan kepala.
"Tidak apa-apa kok. Bapak hanya ingin memberitahumu bahwa rapotmu tidak akan Bapak serahkan sampai kamu mau memanggil orang tuamu ke mari," tutur wali kelasnya.

"Pasti ada masalah serius ya pak?"
"Ah, tidak juga. Bapak hanya ingin ngobrol-ngobrol dengan orang tuamu. Kamu masih punya orang tua, kan ?"
"Masih, Pak!"
"Kalau begitu, pulanglah. Bapak tunggu di sini sampai kamu dan orang tuamu datang".

Angga keluar dari kantor itu. Ia berjalan dengan perasaan tertampar. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh wali kelasnya. Ia juga tak tahu harus berkata apa pada orang tuanya. Setelah berpikir cukup matang dan tekad yang sudah bulat akhirnya ia pun pulang diantarkan temannya.

Sesampainya di rumah, ia tak melihat bapak atau ibunya. Dicarinya kedua orang tuanya di sawah dan ladang belakang rumah. Tapi tetap tak ada. Ke mana mereka? Batinnya. Ia duduk menopangkan tangan di atas lututnya. Dilihatnya kakaknya baru pulang dari pasar. Dan disampaikannya kepada kakaknya bahwa bapaknya harus segera ke sekolah untuk mengambil rapotnya.

"Ya nanti aku sampaikan," ucap kakaknya. Angga pun berpamitan kembali ke sekolah.

Sekolah sudah tampak sepi. Angga duduk di teras kantor. Berjam-jam ia duduk menerawang dalam alam bawah sadarnya.
"Kok ngelamun sih, Ga?" ucap si bapak itu.
"Eh, mamang. Bakso buat siapa, Mang?" Tanya Angga.
"Buat bapak kepala sekolah," jawab si Mamang.

Ternyata bapak-bapak itu adalah mamang si tukang bakso langganannya yang suka nongkrong di depan sekolah.
"Sebenarnya ada masalah apa, sampai bapak disuruh kemari?" Tanya bapaknya. Angga terperanjat. Bapaknya sudah ada di sampingnya.
"Tidak tahu, Pak," ungkap Angga.
"Yo wis, ayo kita ke dalam."

Mereka berdua masuk ke kantor.
"Selamat pagi, Pak," Bapaknya menyalami.
"O, ya. Selamat pagi silakan duduk, Pak," jawab wali kelasnya.
"Kiranya ada masalah apa ya, Pak? Sampai saya disuruh kemari," "Apa anak saya membuat ulah lagi?" lanjutnya.

"Sebenarnya tidak juga. Hanya yang lebih menyesal ialah ia harus tinggal kelas," ungkap si wali kelas. Wajah bapaknya seperti mengeluarkan api mendengar ucapan si wali kelas.

"Kenapa bisa begitu? Ini mustahil. Anak saya tidak bodohkan, Pak?," bapaknya mulai kehilangan kontrol.
"Saya tahu betul itu, Pak. Ia anak yang cerdas. Banyak guru mengagumi kepandaiannya. Hanya saja terkadang ia melawan terhadap guru. Ia tak bisa dikendalikan. Karena itulah kami takut kelakuannya mempengaruhi teman-temannya di kelas 3 nanti," papar si wali kelas.

"Apa tak ada kebijakan lain, Pak?" tanya bapaknya.
"Maaf, Pak. Ini telah menjadi keputusan rapat dewan guru," jawab wali kelas. Diambilnya buku berwarna merah yang tak lain adalah rapot Angga.
"Ini rapot Angga, Pak"
"Terimakasih"

Bapaknya berjalan sangat tergesa-gesa hingga hampir menubruki orang-orang yang sedang lalu-lalang di jalan.

"Bagaimana kalau saya pindah saja, Pak!" ucap Angga yang membuntuti bapaknya.
"Kita bicarakan semuanya di rumah," jawab bapaknya sambil berlalu ke perempatan pangkalan ojek di samping sekolah.

Siang yang cerah seketika menjadi mendung di hatinya. Ia duduk di kursi belakang warung. Dihisapnya sebatang rokok yang disulutnya sebagai pelampiasan amarah yang tertahan. Apa mungkin kedua orang tuanya mau memaafkannya, pikirnya. Dilihatnya jam yang tergantung di bilik warung menunjukkan pukul satu.

"Betapa suatu ketika seseorang pasti pernah berusaha melarikan diri dari kenyataan. Namun melarikan diri tanpa menjadi pecundang bukanlah hal yang mudah."

Kata-kata Somerset Maugham yang pernah  ia baca pada sebuah kuota surat kabar itu terbersit dalam pikirannya. Ia tak hendak jadi pengecut, pikirnya. Akhirnya ia pun pulang.

Di rumahnya, duduklah ibunya di kursi halaman rumah. Hatinya menjadi rusuh. Ia yakin ibunya telah mengetahui semuanya. Turunlah ia dari sepeda motor yang ditumpanginya kemudian segera masuk ke dalam kamar. Didengarnya ibunya mengungkapkan kekecewaannya.

Hatinya menjadi trenyuh mendengar ibunya yang kemudian menangis. "Kapan kamu bisa membuat kami bangga, di sini orang kaya jauh lebih terhormat daripada orang seperti kita," keluh ibunya.

"Maafkan aku, Bu. Ibu jangan pernah merasa kerdil. Biarlah kita dihinakan orang-orang bodoh seperti mereka! Bukankah seseorang tidak dinilai maju hanya dari kekayaan yang mereka raih, Bu. Tapi dari kematangan mereka berpikir dan kebijaksanaan mereka menghadapi kesulitan hidup, seperti kita. Ya Bu, orang-orang seperti kitalah yang seharusnya tegak berdiri tanpa merasa kerdil!" ungkapnya penuh kelembutan.

Ia berusaha menyemangati ibunya. Sebab ia tak ingin menyakiti hati ibunya, apalagi membuatnya kecewa meskipun kenyataannya memang tak mudah diterima. Tapi seperti itulah kiranya hidup Hidup tak selalu berjalan lurus seperti cerita dalam sinetron.

*

Ia pergi ke sekolah untuk mengambil surat pindah. Sekolah tampak sepi karena masih libur. Ia tak melihat ada seorang guru pun di kantor. Maka ia memutuskan untuk menunggu wali kelasnya di luar. Diambilnya sebatang rokok kretek dari saku bajunya kemudian disulut dengan zippo butut pemberian sahabatnya.

Rokok di tangan hampir habis. Hari mulai siang. Dilihatnya wali kelasnya sudah duduk sambil membaca koran di ruang tata usaha samping kantor. Dijentikkannya rokok di tangan yang kini tinggal puntung itu. Beranjaklah ia dari duduknya.

"Selamat siang, Pak," ucapnya.
"Selamat siang, Ga," jawab si wali kelas.
"Kedatangan saya kemari....,"
"Sampaikan saja jika ada sesuatu yang bisa saya bantu. Kamu tak perlu merasa dibatasi," ungkap wali kelasnya.

"Terimakasih, Pak. Saya ingin Bapak membuatkan surat pindah untuk saya. Sebenarnya berat sekali rasanya meninggalkan sekolah ini, yang di dalamnya saya sudah mengenal baik guru-gurunya. Saya juga mengenal baik teman-teman di sini. Tapi aku yakin bapak juga mengerti mengapa saya lebih memutuskan untuk pindah," ungkap Angga melanjutkan.

"Bapak mengerti betul suasana hatimu. Ya, wis . Kamu tunggu di sini sebentar." Dibuka dan dipilah-pilahnya beberapa dokumen di rak kantor hingga diambilnya selembar kertas yang dimaksud.

Dimasukannya kertas itu ke mesin ketik. Sementara Angga hanya duduk menatapi lantai kantor. Sesekali dilihatnya wali kelasnya yang sedang sibuk mengetik; mengisi data surat pindahnya.

"Ini suratnya, Ga. Tidak dipungut biaya ko," tutur si wali kelas.
"Terimakasih banyak, Pak".
"Ya sudah. Semoga di sekolahmu yang baru kamu bisa jadi lebih baik"
"Kalau begitu saya mohon pamit, Pak," tutur Angga menutup perbincangan.

*

Menghitung hari, menjalani bulan demi bulan di sekolahnya yang baru membuatnya merasa jemu. Ia selalu mengira segalanya akan lebih baik jika pindah ke sekolah. "Aku baru menyadari bahwa seseorang akan terasa sangat berarti ketika ia telah tiada. Aku kira dengan menjauhimu perlahan dapat melupakan semuanya. Tapi ternyata aku merasa seperti ada bagian yang hilang dari diriku sejak berpisah denganmu," batinnya.

Banyak tugas yang ia kerjakan di sekolah. Matanya yang letih membuatnya terkulai. Tapi tiba-tiba saja ada suara memanggilnya. Dilihatnya dari kaca jendela Udin berdiri memegang amplop putih. Kemudian ia pun membuka pintu rumahnya mempersilakan kawan sekelasnya itu untuk masuk.

"Rochila menitipkan ini untukmu," ucap Udin. Dibukanya amplop itu perlahan. Dan ternyata isinya adalah sebuah surat. Angga  girang bukan main melihat tulisan di dalam surat itu. Ia tahu betul itu adalah tulisan Rochila.

Teruntuk : Angga
Mungkin ini semua salahku. Aku begitu memepedulikanmu. Tapi aku kira semua itu aku lakukan semata karena tak ingin kamu tinggal kelas. Dan semuanya sudah terlambat, karena apa yang aku takutkan benar-benar telah terjadi.

Aku harap di sekolahmu yang sekarang, kamu bisa berubah. Kamu harus merubah semua kebiasaan burukmu; membolos, dan merokok di sekolah. Aku harap kamu belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah yang sekarang. Jangan sampai kamu mengecewakan orang-orang dekatmu, termasuk orang tuamu tuk yang ke sekian kali. Sebagai sahabat aku kecewa dengan peristiwa ini.

Aku kira hanya ini yang dapat aku tuliskan untukmu. Maafkan aku jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati kamu, karena aku tak bermaksud demikian.
Sahabatmu Selalu:
Rochila


Seperti Ayub yang terasing karena penyakit yang dideritanya, ia merasa dihempaskan setelah membaca surat itu. Wajahnya yang semula merekah berseri menjadi merah padam. Diambilnya buku tulis dan pena di atas teve.

Untukmu
Aku tak ingin engkau menyalahkan dirimu sendiri. Memang segalanya terjadi diluar nalarmu. Tapi biarlah ini terjadi. Karenanya maafkanlah aku yang telah salah menerjemahkan kepedulianmu. Jujur, aku bahagia mempunyai sahabat yang begitu perhatian swperti dirimu. Maafkan aku juga jika aku membuatmu merasa kecewa, karena aku sendiri tak pernah bermaksud mengecewakanmu. Terimakasih atas kepedulian, perhatian dan kebaikanmu. Aku yakin apa yang kamu lakukan untukku bukanlah hal yang sia-sia.
Angga


Jika dengan perpisahan seseorang mampu melupakan orang yang dicintai, maka lain halnya dengan yang ia rasakan. Gadis itu masih saja mengganggu pikirannya. Seperti juga hidup, cinta terkadang tak selalu menyenangkan. Telah ia coba menjadi setegar karang dan sekuat baja. Namun tetap saja ia tak mampu menjalani hari-hari yang berat dan datar.


Ia duduk di bawah cahaya remang lampu 5 wat di kamarnya. Sementara Nocturne Carmen Suit No 2 masih berputar pada tape kompo miliknya. Hening dawai biola dari komposisi musik kesukannya itu melemparkannya ke alam hayal hingga tak beberapa lama pun ia terlelap.

*

Sudah beberapa hari ini Angga habiskan waktu belajarnya untuk berkumpul dengan teman-temannya di depan sekolah, sekadar untuk nimbrung minum kopi dan merokok. Ia tak akan diizinkan masuk ke kelas oleh gurunya. Karena ia belum melunasi uang SPP.

Banyak gadis lalu-lalang di depan warung. Tak ayal, ia pun sering menggoda mereka yang lewat atau berbelanja.

Sebenarnya apa yang ia lakukan tak lebih sebagai sebuah pelarian dari masa lalunya yang kelam. Beberapa kali menjalin hubungan dengan gadis sebayanya namun slalu kandas di tengah jalan, pun meski sedikit berbeda permasalannya, kasihnya yang tak sampai kepada Rochila kini menjadi bagian dari masa lalunya juga.


***

13/08/2010


*) Sumala Djaya, lahir 25 Maret 1985, adalah anak petani yang menggeluti sastra. Bergabung dengan Kubah Budaya (Komunitas untuk Perubahan Budaya) UNTIRTA. Cerpen dan Puisi dipublikasi di Fajar Banten (sekarang Kabar Banten),  Banten Muda Magazine (Bie-Em Magz), Radar Banten, Hai dan Harian Online http://rumahdunia.com, tinggal di Kragilan, Serang-Banten.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB


 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia