KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKota Pintar akan Ciptakan Peluang Besar, Bagaimana dengan Indonesia? oleh : Rohmah Sugiarti
20-Mei-2017, 05:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sejumlah negara di dunia, menerapkan kemajuan teknologi informasi pada proses adaptasi untuk melahirkan model pendekatan pembangunan yang relatif baru yang disebut Kota Pintar (Smart City).

Kota Pintar didesain mampu meningkatkan produktivitas manusia yang tinggal di dalamnya,
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB






 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Nantikanlah Kedatanganku 25 Apr 2017 23:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
CERPEN

Mimpi
Oleh : Ardy Kresna Crenata | 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

Jam sepuluh, aku baru bangun. Aku memang baru tidur sehabis shubuh. Semalam waktu tidurku kukorbankan untuk menyelesaikan novelku yang hanya tinggal penutup. Setelah hampir tujuh bulan, akhirnya selesai juga. Dengan begini bisa kuikutsertakan dalam lomba menulis novel yang diadakan DKJ. Deadline-nya tinggal sebelas hari lagi. Cukuplah kurasa untuk mengeditnya seharian ini lalu mengirimnya besok atau lusa via email.

Ugh, otot-otot pinggangku pegal karena duduk lebih dari enam jam. Sambil menggeliat kubuka gorden dan langsung saja cahaya matahari membuatku silau. Dengan malas aku melangkah ke kamar mandi. Istriku rupanya sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan anak-anakku, Resa dan Alina, pastinya sedang terkantuk-kantuk di kelas karena tidurnya semalam banyak terganggu oleh teriakanku. Menyelesaikan novel tak pernah mudah. Sesekali aku lupa tokoh-tokoh yang kuciptakan, sesekali aku lupa adegan ini di hari apa, sehingga aku terpaksa membaca-baca lagi chapter-chapter awal. Sungguh merepotkan. Kalau sudah kelewat pusing, aku suka berteriak-teriak tak karuan. Bukan teriak karena marah. Tapi hanya sekedar melepaskan kesal.
Maka di rumah ini kini aku hanya berdua dengan si Maya kucing kesayanganku. Istriku nampaknya lupa memberinya makan. Ketika aku duduk di sofa dan menyalakan televisi untuk melihat kasus-kasus korupsi terbaru, si Maya langsung naik ke sofa. Kutunda dulu makanku dan kugendong si Maya ke belakang. Meskipun aku begitu menyayanginya, tak mungkin rasanya aku makan sepiring berdua dengan kucing. Bukan masalah jijik atau apa. Tapi penyakit. Maya bukanlah kucing yang seminggu sekali dimandikan di salon hewan terkenal. Bukan pula kucing yang rutin dibawa ke dokter untuk diperiksa kesehatannya. Maya hanya kucing biasa yang bahkan jarang kumandikan. Tak aneh jika di bulu-bulunya itu ada satu dua ekor kutu.

Aku sering heran dengan orang-orang yang suka mencium-cium kucingnya. Bahkan ada juga yang selalu membawa kucingnya ke tempat tidur untuk lelap bersama. Bukankah jika bulu kucing masuk ke hidung kita, bisa menyebabkan kita terkena toxoplasmosis, sejenis penyakit yang katanya bisa bikin mandul itu. Aku memang penyayang kucing, tapi aku memperlakukan Maya layaknya hewan, bukan manusia.

Di teras belakang Maya menungguku menurunkan sepiring nasi yang diaduk-aduk dengan ikan asin. Segera dia pun menyantapnya dengan lahap.

“Nasi ini lembek, nggak enak,” tiba-tiba aku seperti mendengar Maya bicara.

“Ikannya juga. Terlalu asin.” Kali ini aku yakin mendengarnya bicara dalam bahasa manusia.

“Beneran deh. Coba saja sendiri.”

Aku kaget dan terdiam. Maya dengan pelan menggeser piring itu ke arahku. Kulihat matanya menatapku. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi. Seekor kucing bicara, itu hanya di film-film. Ah, mungkin tadi aku cuma salah dengar, pikirku.

“Buruan dicoba!” teriak Maya sembari menyeringai.

Aku ambruk ke belakang. Kusaksikan Maya membesar dan membesar. Di depannya aku seperti tikus ketakutan. Maya menerkamku.

***

Aku bangun dengan keringat di tubuh. Rupanya cuma mimpi. Untunglah. Kulihat jam. Jam enam. Aku hanya tidur satu jam. Pantas saja kepala ini rasanya berat. Gorden kamar masih tertutup. Di kamar mandi kudengar istriku sedang bersenandung ria.

“Eh, Bapak, sudah bangun?” tanya Alina yang sedang mengoleskan blueband ke roti di tangan kirinya.

“Alina, makan tuh pake tangan kanan,” kataku. “Jangan kaya setan.”

Alina menatapku heran tapi kubiarkan saja. Kepalaku ini rasanya seperti guci yang kebanyakan air. Sesekali bergoyang. Bergoyang. Pusing.

“Kakakmu mana?” tanyaku tanpa berbalik.

“Mungkin di kamar,” jawab Alina.

“Belum bangun?”

“Udah,” jawab Resa yang kini telah siap berangkat. Dia kelihatan gagah dengan jaket kulit yang kubelikan di hari ulang tahunnya seminggu lalu.

“Untuk apa jaket itu dipake ke sekolah. Itu kan jaket mahal. Impor malahan.”

“Loh? Memang apa salahnya, Pak?” tanya Resa.

“Sekolah itu bukan tempat pamer,” ucapku.

“Kalo nggak dipake untuk apa dibeli?” timpalnya sambil berjalan keluar.

“Nggak makan dulu?” tanyaku.

“Nggak ah. Nggak laper.”

Resa berlari dan menghilang di pohon-pohon. Pohon? Sejak kapan di halaman rumahku tumbuh pohon-pohon tinggi. Dan lagi itu pohon cemara. Siapa yang kurang kerjaan menaruh pohon-pohon cemara di halaman rumahku.

Ketika aku berbalik untuk menanyakannya pada Alina, aku kaget melihat anak perempuanku itu begitu lahapnya makan dengan tangan kiri.

“Alina! Sudah bapak bilang makan tuh pake tangan kanan! Kamu mau jadi temen setan apa?!” aku jadi sedikit emosi.

“Ada apa sih, Pak? Pagi-pagi gini udah berisik,” istriku menyela. Dia hanya mengenakan handuk dari dada sampai lutut. Butir-butir air masih terlihat di kulit tubuhnya. Tak seperti biasanya. Biasanya istriku keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berbaju kaos. Pagi ini semuanya aneh, pikirku.

“Ini si Alina. Masa dia makan pake tangan kiri coba,” ujarku sambil menunjuk dengan tangan kiri.

“Ah, kan biasanya juga begitu,” timpal istriku enteng.

“Biasanya?” aku terhenyak.

Dari arah dapur tiba-tiba muncul si Maya kucing kesayanganku. Tapi bukannya berjalan dengan empat kaki, ia berjalan dengan dua kaki layaknya manusia. Dan aku lebih kaget lagi, karena ia mengenakan handuk dari dada sampai lutut layaknya wanita habis mandi. Sama seperti istriku. Aku pingsan.

***

Aku seperti terbangun dari mimpi buruk. Ya, barusan itu memang mimpi buruk. Aku menarik napas panjang-panjang. Tiba-tiba kurasakan dingin di kulit-kulitku. Ini jam berapa? tanyaku dalam hati. Masih gelap. Istriku juga masih nyenyak di sampingku. Ada apa ini? Bukankah aku baru tidur sehabis shubuh karena kupaksa menyelesaikan novel yang akan kuikutsertakan dalam lomba sebelas hari lagi? Apa benar sebelas hari lagi? aku seperti bertanya pada diri sendiri. Ini hari apa? tanyaku lagi dalam hati. Jangan-jangan aku sudah tertidur hampir dua puluh empat jam. Parah. Kenapa tak ada yang membangunkanku? Bukankah aku jadi kehilangan satu hari untuk mengedit novelku. Saat itu juga aku beringsut ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Lalu sampai matahari cukup tinggi, kuhabiskan waktuku di depan komputer.

Selesai mengedit tujuh chapter, aku menggeliat. Melelahkan juga ternyata menjadi editor novel sendiri. Apalagi jika harus mengedit buku tebal yang dibuat orang lain. Pastinya repot luar biasa. Makanya aku selalu salut dengan para editor yang buku-buku hasil editannya benar-benar bersih tanpa cela. Ya, kalau empat lima kata salah ketik sih anggap saja tak ada.

Aku butuh kopi. Kubuka-buka lemari gantung di dapur. Tak ada. Di kulkas juga tak ada kopi. Yang ada hanya berbungkus-bungkus mie. Akhirnya daripada tak ada yang masuk ke lambungku kuseduh sebungkus mie. Si Maya kucingku masuk dari pintu belakang yang terbuka. Kali ini ia berjalan dengan empat kaki layaknya kucing. Ia pun mengeong manja meminta makanan layaknya kucing. Aku jadi tertawa sendiri, teringat mimpiku tadi. Sambil menunggu air mendidih kuceritakan pada Maya tentang mimpiku itu. Si Maya mendengarkan ceritaku sambil mondar-mandir dan terus mengeong. Mungkin dia lapar. Tapi aku juga lapar. Biar mie ini matang dulu, baru kuberi dia makan, pikirku.
Ketika aku hendak memberinya makan, Maya sudah tak di dapur. Mungkin dia keluar cari makan sendiri, pikirku. Kutaruh semangkuk mie yang masih panas itu di atas piring melamin lalu membawanya ke kamar. Aku berniat menyantapnya sambil mengedit-edit lagi satu dua chapter. Lumayan untuk menghemat waktu dan tenaga.
Dari kamarku, aku mendengar suara orang mengetik. Siapa? tanyaku dalam hati. Apa istriku pulang cepat? Tapi apa juga yang dilakukannya dengan komputer di kamar? Jarang sekali rasanya ia berurusan dengan komputer. Kalaupun ada perlu menulis surat, proposal atau apa lah, biasanya ia menyuruhku menulisnya.

Ternyata bukan istriku yang duduk di kursi itu. Tapi Maya. Si Maya kucingku sedang asik mengetik kata demi kata. Ia tak membesar. Ia tetap kecil. Dan ia pun tak bicara. Ia hanya mengeong manja layaknya kucing. Ketika kulihat dinding kamar, kata-kataku menempel di sana, bergerak dan bergerak seperti ulat.

***

Jam sepuluh, aku dibangunkan istriku. Di bilang aku mengigau tak karuan, membuatnya khawatir. Aku pun bangun. Beringsut dari tempat tidur.

“Loh, Mama nggak ke sekolah?” tanyaku.

“Bapak ini gimana sih? Ini kan hari Minggu. Mana ada sekolah yang nggak libur.”

“Minggu?” tanyaku heran.

“Memangnya Bapak kira ini hari apa? Sabtu?”

Aku diam sejenak lalu berkata pelan, “Berarti aku tidur lima hari. Yang benar saja?!”

“Ngomong apa sih Bapak ini?” istriku balik keheranan.

“Ma, hari Senin malam itu kan Bapak begadang nyelesaiin novel. Harusnya ini hari Selasa.” Aku mengguncang-guncang bahu istriku. Membuat keningnya mengkerut.

“Apaan sih?” istriku perlahan melepaskan kedua tanganku dari bahunya. “Semalam tuh Bapak sama Resa nonton bola dan baru tidur habis shubuh. Apanya yang nulis novel? Tuh si Resa masih tidur.”

Aku makin gelisah. Jangan-jangan lagi-lagi ini mimpi. Kuhidupkan komputer dan kucek file novelku. Tapi tak ada. Kucari-cari lagi siapa tahu aku menyimpannya di tempat lain. Tak ketemu. Kugunakan fasilitas search. Tak juga ketemu. Aku mulai mumet. Aku mulai gila. Jika memang ini mimpi, aku ingin segera bangun. Tapi bagaimana jika justru ini realita dan aku malah menulis novelku dalam mimpi? Ah, aku kacau. Kepalaku pusing.

“Pak, nggak kenapa-napa?” tanya istriku sambil mengusap-usap punggungku.

“Maya!” ucapku tiba-tiba. “Mana Maya?”

“Maya?” istriku lagi-lagi keheranan.

“Kucing. Kucing kita si Maya. Mana dia?”

“Pak, kita nggak pernah punya kucing.”

Aku diam. Aku bisu. Kini aku tak bisa lagi membedakan mana mimpi mana realita.

***

Bogor, 2009-2010



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//



 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babeloleh : Rohmah Sugiarti
17-Mei-2017, 12:26 WIB


 
  Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babel Gubernur Babel Erzaldi Rosman (berdiri) menyemangati peserta Bincang Inspiratif SATU Indonesia Awards 2017 didampingi Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UI Emil Salim (kedua kiri) dan Wamen Diknas RI 2010-2012 Fasli Jalal (ketiga kanan), Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 Hardinisa
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia