KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Jakarta,  Saat ini Indonesia dalam keadaan darurat ekologis yang mengancam kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu Walhi bersama rakyat pengelola sumber daya alam, organisasi masyarakat sipil, dan unsur lainnya mendesak pemerintah kini dan ke depan menjalankan dan
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB



  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB






 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Lelaki Pencuci Piring

 
CERPEN

Lelaki Pencuci Piring
Oleh : Sumala Djaya | 31-Okt-2010, 21:12:22 WIB

Udara terasa sejuk pagi ini. Para pedagang kelontongan menjajakan kue-kue buatannya. Begitu juga Sukma. Aku melihat Sukma sudah ada di sekolah sejak subuh tadi. Ia tak hendak belajar atau juga mengajar di sana. Akan tetapi ia memang bekerja sebagai penjaga sekolah. Mang Sukma. Begitulah bocah-bocah SD memanggilnya.

Sukma sebenarnya pernah bekerja di salah satu pabrik swasta sebagai karyawan kontraktor dan hanya bertahan 1 tahun.

Sejak dipecat ia merasa hidupnya terlunta-lunta. Atas tawaran temannya yang menjadi Guru Bantu Sekolah (GBS) di SD tersebutlah, akhirnya ia menjadi penjaga sekolah.

Pekerjaannya sehari-hari di sekolah ialah mencuci piring dan gelas-gelas kotor, menyapu kantor sekolah yang penuh puntung rokok dan plastik-plastik bekas guru-guru yang suka merokok dan ngemil yang juga suka sekali membuang sampah sembarangan. Sebenarnya siapa pun tidak diperbolehkan merokok di lingkungan sekolah, tak terkecuali dewan guru.

Ia sangat menyayangkan sikap mereka yang seenaknya itu, karena mempunyai kedudukan yang lebih tinggi merasa berhak melakukan segala sesuatu sekehendak hatinya. Namun tindakan-tindakan mereka yang memang tidak lazim itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Sukma di tempatnya bekerja.

Seperti guru-guru yang duduk seenaknya sambil menumpangkan kakinya dan Kepala Sekolahnya yang lebih suka ngerumpi ketimbang mengisi jam pelajaran di kelas.

Ia tak ubahnya peziarah tersesat yang menanti petunjuk dari Tuhan. Ia ingin sekali memberontak, namun tak punya kekuatan. Kini ia hanya mesti bersabar menghadapi itu semua.

Kantor sekolah yang semula riuh penuh kelakar dan gelak tawa guru menjadi senyap. Semuanya sudah pulang kecuali Sukma. Ia masih di sana untuk menyelesaikan pekerjaannya. Usai mencuci gelas-gelas sisa kopi disiraminya pepohoan dan bunga-bunga yang memang ia tanam sebagai penghias pagar sekolah dan teras kelas sebagaiman berkat kerja kerasnya lah sekolah itu tampak indah dan bersih.

Entah motivasi apa yang membuat hatiku tersentuh hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk menemaninya siang ini.

Di kantor sekolah aku duduk di kursi empuk milik si kepala sekolah kemudian memilah-milah buku-buku dan majalah yang ada di atas meja untuk kubaca. Tapi tidak ada satu bacaan pun yang cocok untuk aku baca, tidak ada bacaan yang mendidik.

"Dulu sekolah ini hampir ambruk. Kelas-kelas yang bocor di sana-sini tidak nyaman lagi untuk kegiatan belajar mengajar," tuturnya memecah hening.

Sambil membuka pintu belakang ia pun melanjutkan, berkat kerjasamaku dengan Komite Sekolah akhirnya dana rehabilitasi sekolah diturunkan. Semua kami lakukan semata untuk kesejahteraan sekolah dan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik pada masyarakat. Tapi apa yang dilakukan kepala sekolahku setelah dana itu diturunkan?

Aku hanya terdiam mendengar penuturannya. Lalu ia melanjutkan lagi. Ia malah membeli keramik dan beberapa sak semen untuk memugar rumahnya sendiri. Tentu saja hal ini menjadi semacam kegelisahan bagi masyrakat. Tak sedikit yang beranggapan bahwa ia korup, menyimpangkan dana sekolah untuk kepentingan pribadi.

Sukma menyeret kursi plastik yang tadi ia duduki menjauhi meja tempatku duduk. Dari sorot matanya yang tajam namun teduh itu nampak ada sesuatu yang mengganggu. Di kantor inilah tempatnya sehari-hari menahan rasa muak dan amarah dari tingkah penghuninya tiap jam sekolah. Dan bukan aneh jika tidak ada seorang guru pun yang menjadi teman karibnya.

Karena itu tidak jarang juga ia mengajakku ke kantor ini untuk sekedar berbagi keluh kesah sembari menikmati segelas kopi. Meskipun barusan aku tidak begitu mengkhidmati kata-katanya tentu tak berarti aku sama sekali tidak merasa simpati terhadap kesabaran dan semangatnya untuk mewujudkan cita-cita.

Sukma mengangkat kepalanya kemudian mengarahkan pandang ke luar pintu. Matanya kini menjadi berkaca-kaca. Mungkin barusan ia menangis, dalam hati.

"Sudahlah, Suk. Semuanya telah berlalu. Kau tidak boleh larut oleh masa lalu kelam sekolah ini. Lihatlah sekarang sekolah ini tampak bersih dan tidak kalah bagusnya dengan sekolah-sekolah yang ada di kota meskipun para tukang bangunannya baru mendapat separuh bayaran dan beberapa barang materialnya belum dilunasi pasti nanti ada yang mempertanggungjawabkannya," tuturku mencoba memberinya motivasi.

Namun ia masih tampak murung bahkan mungkin ia sama sekali tidak mendengarkan kata-kataku. Aku pun kembali berusaha menyemangatinya.

"Aku yakin suatu hari engkau akan mendapatkan apresiasi dari masyarakat setelah mereka mengetahui apa yang telah kamu lakukan untuk mereka. Jujur saja aku juga bangga punya teman sehebat engkau."

"Yang aku sayangkan dari kepala sekolahku adalah mengapa ia bisa menjadi sepicik itu. Bertahun-tahun ia mengabdikan diri sebagai pegawai negeri (guru) namun ia malah merusak kepercayan masyarakat dengan menguntit dan bangunan sekolah.

Aku tak pernah lupa ketika masih SD ia juga sering menyemangatiku agar mendapatkan peringkat satu di kelas. Namun kini rasa hormatku kepadanya sudah berubah menjadi benih-benih kebencian.

"Bukankah gaji guru sudah naik sekarang. Meskipun tidak seberapa, aku kira cukuplah untuk kebutuhan keluarga kecilnya," papar Sukma.

Aku alihkan pandanganku ke pintu depan kantor yang memang sejak tadi terbuka. Di luar terhampar luas halaman sekolah dengan lapangan bulu tangkis di atasnya. Di sebelah kanan lapangan itu berdiri kokoh tiang bendera yang baru dipugar karena seminggu yang lalu pondasinya hampir rubuh.

Dan di atas tiang itulah berkelabat gagah sang saka merah putih. Dan aku umpamakan bendera itulah sukma yang tetap tegar dan berjiwa besar meski banyak guru-guru di sekolahnya tidak menyukai sikapnya yang menurut mereka sok pahlawan. (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia