KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter HOKI Juni 2017: Menulis Untuk Kebaikan Indonesia oleh : Redaksi HOKI
21-Jun-2017, 07:52 WIB


 
 
KabarIndonesia - Terlahir pada sebuah kota kecil di lereng kaki Gunung Slamet yang tenang, tenteram dan damai, di Kecamatan Bumiayu, Brebes Jawa Tengah, tidak membuat sosok Rohmah Sugiarti menjadi pribadi yang anteng, kalem dan cepat merasa puas. Digerakkan
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB






 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Rahwana 15 Jun 2017 17:52 WIB

Luka Hati yang Tak Bertuan 08 Jun 2017 10:30 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
CERPEN

Doyong
Oleh : Sotya Renaning Wibi | 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB

“Bruk!” segepok uang seratus ribuan yang terlihat masih baru melayang dari tangan pria perlente itu dan mendarat tepat di permukaan meja di hadapanku. Pria berperawakan mirip anggota tentara itu kemudian bangun dari tempat duduknya yang bisa berputar-putar 360 derajat.

Ia mulai berjalan ke sekeliling ruangan kecil namun mewah itu. Sedang mataku masih belum beranjak dari segepok uang yang terkulai di atas meja. Kuamati uang itu dengan seksama Rp 25.000.000 tertulis dengan ukuran fon besar pada kertas yang melilit puluhan lembar uang seratus ribuan yang ada di hadapanku.

“Saya tahu Saudara sedang membutuhkan uang. Mengakulah, tak apa-apa, manusia memang sudah seharusnya saling bertukar pertolongan. Bukankah Tuhan juga mengajarkan dalam kitab-kitab suci? Ambilah, tak masalah,” ujar pria itu dengan nada lemah lembut seperti seorang kiai yang tengah menawarkan bantuan pada santrinya. Aku tetap diam.

Pria itu kembali ke kursinya yang bisa berputar, ia rebahkan punggungnya pada sandaran kursi, diputar badannya sehingga si kursi pun ikut berputar menyesuaikan penunggangnya. Dan kini, ia telah menghadapku, dari tempatku duduk, terlihat jelas tampilan wajahnya yang kalem dan penuh hormat.

Rambutnya yang masih hitam tersisir rapi mengarah ke belakang, kacamata tanpa frem bertengger anggun di pangkal tulang hidungnya, kata-katanya yang santun menambah nilai ke-gentleman-an dalam dirinya.

“Anda minta apa sebagai gantinya?” potongku. Aku mencium sebuah gelagat tidak beres dari arah pembicaraan ini. Pria itu menatapku tajam dari balik kacamatanya yang berkilat-kilat. Sebuah senyum sinis terkembang dari kedua belah bibirnya.

“Apa yang saya minta tidaklah setimpal dengan nilai uang yang saya tawarkan. Saya hanya minta Saudara Gempar menghentikan aksi seperti tadi siang.” Pria itu akhirnya mengatakan tujuannya padaku. Hal itu membuat sekujur tubuhku dingin dan merinding.


Jantungku yang semula berdetak tenang, kini berdegup kencang. Apa ini? Gumamku dalam hati. Penyuapan? Jam klasik di atas meja itu terus berdetak, suara gigi-giginya yang berputar dan bergesekan menemani kebimbangan yang mulai menggerogoti keyakinanku. Ini bukanlah pilihan yang mudah. Mengapa di saat seperti ini Tuhan mengulurkan tangan-Nya lewat begundal berpenampilan bak malaikat ini?

Embun pagi telah mengering, kabut sudah hilang tergantikan udara hangat dari matahari yang kian tinggi kian terik. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, sudah tidak bisa dikatakan pagi bagi anak sekolah seperti Larasati. Gadis 16 tahun itu seharusnya sudah berada di sekolah sebelum pukul 06.30 WIB tadi, tapi ia tak bisa berangkat karena aku yang harus memboncengnya dengan sepeda motor ke sekolah.

Gadis itu terlihat gelisah, berkali-kali ia melihat jam di arloji mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Iya Ziz, aku berangkat sekarang, iya, maaf aku kesiangan hari ini. Iya, kumpulkan massa dulu, nanti sebelum berangkat kita briefing dulu. Oke? Aku ke kampus sekarang,” kataku sebelum memutus telepon dari Aziz.

Kumasukkan ponsel ke dalam saku depan celanaku. Larasati adikku, memerhatikanku yang sedang memasang sepatu dengan kegusaran tergambar jelas di matanya. “Maaf ya Ras, mas kesiangan, kamu jadi telat,” ujarku.

Gadis itu hanya membalasnya dengan sebuah senyum setengah hati. Aku mafhum sekali atasnya. Usai bersepatu, segera kukeluarkan motor bebek model lama dari pekarangan rumah, sejurus kemudian kami sudah siap meluncur. Seperti pagi-pagi sebelumnya kami berkendara melewati gang-gang perumahan yang relatif sempit sebelum akhirnya melintas di jalan utama perumahan yang lebih lebar dan ramai.

Belum lima menit kami meninggalkan rumah, ponselku kembali bergetar-getar tanda panggilan masuk. Seketika kulepaskan pegangan tangan kiriku dari stang kendali sepeda motor dan mencoba merogoh saku celanaku. Ponselku terus bergetar, namun ponsel itu tak berhasil kuambil karena posisiku yang sedang duduk. Ponselku masih bergetar, membuatku berusaha lebih keras untuk merogohnya.

Saking sibuknya merogoh ponsel, tak kulihat sebuah batu besar seukuran kepala bayi terserak ditengah jalan dan menjegal ban motorku. Tanpa memegang stang kiri, motorku oleng. Dan “Brak!” sebuah mobil dari arah belakang menabrak motorku, aku terlempar ke samping kanan. Terdengar teriakan Larasati sebelum suara benturan keras.

“Laras!” teriakku sembari bangun dari jatuh terlempar, kubalikkan badanku dan kudapati Larasati tergeletak dengan darah mengucur dari pelipisnya yang robek dan dari bagian belakang tempurung kepalanya. Kuguncang-guncang badannya yang kurus seraya memanggil-manggil namanya, ia tetap bergeming.
“Laras, Laras...”

Luka di pelipis dan bagian belakang tempurung kepala gadis ABG itu usai dijahit, baju seragam abu-abu putihnya kini sudah ditanggalkan berganti dengan piyama. Ia terbaring di dalam sebuah ruangan serba putih lengkap dengan tabung oksigen dan tiang infus yang digantungi sebotol cairan infus dan sekantong darah.

Gadis itu terlihat tenang dalam tidurnya, entah aku tidak tahu apakah ia hanya tertidur karena obat bius atau karena sesuatu yang lebih parah daripada itu. ibu melarangku ikut ke ruang dokter untuk mendengar penjelasan tentang kondisi Laras, aku disuruhnya menunggui anak perempuan satu-satunya itu di kamar.  Ponselku kembali bergetar, kali ini sebuah pesan diterima. Dari Aziz.

Mas Gempar, bagaimana kondisinya? Sudah baikkah? Kami masih menunggu kedatang mas. Aku menghela nafas panjang, cukup lama kurenungkan isi pesan Aziz. Ia tahu bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan, walaupun diriku tidak mendapat cedera serius, tapi apakah pantas tetap menunggu kehadiranku untuk aksi hari ini? Ah!

Ini memang tentang profesionalisme, aku harus berangkat untuk sebuah perjuangan yang mungkin akan berdampak baik bagi hukum di negeri ini. Kubalas pesan Aziz.  Iya aku ke kampus sekarang.

Belum sampai tiga langkah aku meninggalkan kamar tempat adikku dirawat, sebuah suara yang sangat akrab di telinga menyapaku dari arah samping. Aku menoleh, ternyata ibu. Perempuan setengah baya berjilbab putih tulang itu melambai ke arahku sebagai isyarat untuk datang mendekat dan duduk di sebuah kursi panjang di tepian koridor.

“Gempar, kau telah melakukan sebuah kesalahan.” Ujar perempuan itu dengan air muka yang kaku. Kata-katanya menghujam tepat di jantungku.

“Apa yang terjadi hari ini, semua, tidak lain karena kealpaanmu...” ibu menghentikan deras kalimatnya yang menampar-nampar mukaku. Mungkin beliau ingin aku rehat sejenak untuk mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan.

“... ada darah yang menggumpal di kepalanya, 25 juta Gempar, 25 juta biaya operasinya!” lanjutnya dengan sebuah kehisterisan yang nyata.

Dan benar saja, kalimatnya seolah membuat jantungku berhenti. Aku tak percaya, aku telah membuat adikku sendiri mengalami hal yang mengerikan, menggumpalkan darah di kepalanya, dan harus pula membedah tempurung kepalanya.

“Darimana ibu mendapat uang sebanyak itu? Ibu bahkan tidak yakin bisa melunasi biaya UGD dan rawat inap hari ini. Sekarang, pergilah Gempar, kaislah apapun yang bisa kau gunakan untuk membayar kesalahanmu hari ini. Jangan pernah kembali sebelum semuanya lengkap!,” ibu beranjak meninggalkanku yang terduduk lunglai di bangku panjang itu.

Dalam benakku, ibu seperti sengaja meninggalkanku sendirian di atas kapal yang sedang dibombardir oleh badai dahsyat, sementara ia sendiri pergi dengan sekoci.

“Ibu tahu, ini pasti ada hubungannya dengan demonstrasimu di MA beberapa hari lalu.” Ibu menghentikan langkahnya, beliau mengatakan kalimat itu dengan tanpa menoleh ke arahku. Namun, hal itu membuatku heran, mengapa beliau menyangkutkan hal ini dengan aksiku kemarin? Apa ibu berasumsi bahwa kecelakaan pagi ini adalah rekayasa ‘orang atas’?

“Ya, itu pasti, dan kau tahu apa Gempar? Ibu tak ingin ada lagi yang celaka. Maka, kau pasti lebih paham tentang apa yang harus kau lakukan atas protes keras ibu ini!” lanjut Ibu, kali ini ia memandangku dengan sebuah tatapan tajam yang menunjukkan bahwa beliau tidak main-main.

Aku tercekat. Ini adalah cara ibu untuk menyuruhku keluar dari kegiatan keaktivisanku. Setelah mengatakan itu, ibu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tempat Laras dirawat. Satu hal yang kutahu, beliau serius dengan semua yang dikatakannya tadi.

Cukup lama aku termenung dengan dada kalut memikirkan dua hal yang dibebankan ibu padaku. Pertama, beliau ingin aku mendapatkan uang 25 juta untuk biaya operasi. Kedua, beliau ingin aku berhenti jadi aktivis. Bagiku, keduanya bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Aku tak bisa menemukan ide untuk mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat, karena Laras tak mungkin menunggu lama untuk operasi, aku tak boleh membahayakan nyawanya untuk yang kedua kali.

Aku juga tak mungkin serta merta menghentikan kegiatan keaktivisanku, apakah aku sanggup berdiam diri dikala hukum di negeri ini hilang wibawa di tangan para penjaja hukum? Apakah aku bisa menyaksikan mafia-mafia berbaju safari berongkang-ongkang kaki di sidang paripurna DPR RI? Tidak, itu hampir tak mungkin kulakukan. Ditengah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalaku, ponselku kembali bergetar.

Mas Gempar, cepatlah kami akan segera berangkat.
Pesan itu mengingatkanku bahwa pagi ini aku harus memimpin demostrasi di depan gedung KPK. Maaf bu, Kalaupun aku harus berhenti, maka tidak sekarang. Dengan dada yang masih sesak, kupaksakan untuk berdiri memimpin aksi.

“Seperti yang kita tahu, bahwa Saudara Lucas Tambunan diduga telah melakukan praktek makelar kasus. Kami, atas nama rakyat Indonesia, menuntut KPK untuk segera menangkap dan memeriksa Lucas Tambunan!”

“Kami yakin bahwa Lucas telah melakukan lobi-lobi busuk dengan berbagai pihak agar pencairan duit milik kliennya di Bank Siantury berjalan mulus!” teriakku menggebu-gebu hingga urat leherku keluar semua.

“... KPK juga harus menangkap semua markus yang merusak tatanan hukum di Indonesia!,” teriakku menutup orasi 30 menitku.
Orasi kali ini kurasa begitu menguras emosi mungkin karena pengaruh masalah yang sedang menimpaku. Kuluapkan seluruh kebingungan, kekalutan, dan rasa penyesalanku pada setiap kata yang kuteriakkan di depan kantor KPK dan yang disaksikan oleh ratusan massa mahasiswa yang juga terlihat sangat bersemangat.
“Usut markus!,” teriak seluruh massa berbarengan setelah orasiku selesai.

Perempuan setengah baya berkerudung putih tulang itu membenahi selimut Larasati yang masih terbaring koma di ranjang rumah sakit. Usai membenahi selimut, perempuan itu duduk tepat di samping ranjang putih sambil memandangi putrinya. Ada sebuah kesedihan mendalam yang tergurat di wajahnya yang mulai termakan usia. Tak lama, ponselnya berdering tanda sebuah pesan diterima.

Aku sudah transfer uangnya, semoga berguna. Doaku selalu menyertai kalian. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Sekulum senyum sedikit mencerahkan wajahnya yang tadinya sangat muram. Perempuan itu memegang tangan Larasati dengan penuh cinta dan kelembutan.

“Ibu sebenarnya tak bermaksud menyalahkan Gempar atas kejadian ini. Ibu hanya ingin ia belajar bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat. Dan, satu hal, ibu juga ingin ia segera meninggalkan kegiatannya sebagai aktivis. Ibu tidak ingin ia seperti ayah kalian yang sungguh bodoh itu. hidupnya tak pernah bahagia, bahkan untuk tinggal bersama keluarga sendiri saja tidak bisa.” Ibu Gempar meletakkan tangan Larasati, kini ia berganti mengusap-usap pipi gadis 16 tahun itu.

Malam belum turun, matahari masih manguasai belahan dunia sebelah timur dan orang-orangpun masih ramai berlalu lalang di seantero ibu kota. Namun, aku merasa seseorang sedang mengunntitku dari belakang. Keyakinanku bertambah tebal ketika kuhentikan langkahku, seseorang yang berada beberapa meter dari tempatku berdiri juga ikut berhenti. Aku mulai meningkatkan kewaspadaanku, namun seorang bapak-bapak bertopi hitam menyapaku dari arah depan.

“Maaf mas, mau tanya alamat ini,” katanya seraya menyodorkan secarik kertas putih bertuliskan alamat kepadaku. Perlahan kubaca tulisannya, namun belum sempat terselesaikan tiba-tiba hidung dan mulutku dibekap dengan selembar saputangan setengah basah yang berbau menyengat.

Diperlakukan seperti itu aku meronta-ronta untuk melepaskan diri, namun usahaku sia-sia karena bapak bertopi hitam tadi ternyata bekerja sama dengan seseorang yang membekap dan mengunci tubuhku dari belakang. Sekitar satu menit kemudian kepalaku terasa begitu pusing, penglihatanku mulai kabur, dan beberapa detik setelahnya semua menjadi gelap.

Udara dingin menyelimuti sekujur tubuhku, ketika kesadaranku kembali kurasakan diriku sudah didudukkan di sebuah kursi dengan bantalan yang cukup empuk. Kucoba membuka kelopak mataku dengan perlahan. Pusing masih terasa membelenggu kepalaku, sehingga agak susah untuk menegakkan kepala.

“Ah! Saudara Gempar sudah terbangun!” sambut sebuah suara seorang pria dewasa ketika aku mencoba mengumpulkan segenap tenaga dan kesadaranku kembali.

“Baiklah kiranya saya harus memperkenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Mufti Amir Pasha, saya adalah asisten pribadi Bapak Lucas Tambunan,” ujar pria itu dengan bahasa tubuh yang sopan dan lisan yang lancar.

Mendengar nama Lucas Tambunan, darahku berdesir-desir halus. Apakah yang ia maksud dengan Lucas Tambunan adalah si “markus” itu? aku belum begitu paham tentang apa dan siapa yang menyebabkan aku berada di sini sekarang ini. Namun, aku tak ingin terlalu antusias menanyakan perihal itu, karena aku belum tahu benar siapa lawan bicaraku saat ini.

“Saudara Gempar, saya atas nama Bapak Lucas ingin mengajukan sebuah tawaran saling menguntungkan”.

Mufti Amir Pasha melangkahkan kakinya menuju kursi kantor lain yang berada di seberangku, kursiku dan kursi itu hanya dipisahkan oleh sebuah meja kantor ukuran sedang dengan ukiran-ukiran yang rumit. Mufti duduk di kursi itu, ia menatapku tajam. Ditariknya laci meja yang berjarak sepenggapaian tangannya, ia terlihat sedang mengambil sesuatu dari dalam laci itu. Aku menahan nafas, menunggu apa yang ia ambil dari laci itu. Ingin kutahu apa yang diinginkan Lucas dari seorang mahasiswa sepertiku.

Ibu Gempar beranjak dari bangku di samping ranjang Laras, ia akan mengagendakan operasi untuk anak perempuan satu-satunya itu. Sebelum pergi ia sempat mengirim sebuah pesan singkat ke nomor ponsel Gempar. Gempar, kemarilah segera, ibu ingin bicara soal Laras.

Uang Rp 25 juta masih tergeletak di atas meja, mataku lekat memandanginya. Harus kuakui, ini bukanlah pilihan yang mudah, walau sekeras apapun aku menyangkal, kenyataannya aku memang butuh uang itu untuk biaya operasi Laras. Tidak hanya sekedar operasi yang menyembuhkan Laras, tapi juga upayaku untuk memulihkan kepercayaan ibu padaku yang kini sedang porak poranda diserang badai.

Tapi betapa kejinya aku membunuh idealismeku sendiri? Baru tadi pagi hampir putus pita suaraku meneriaki KPK untuk mengusut ‘markus’ di depan ratusan massa mahasiswa. Tapi sekarang tak mampu aku bersuara lantang menjunjung kebenaran di depan segepok uang 25 juta itu. Jika kuterima, maka apa bedanya aku dengan orang-orang yang mempermainkan hukum itu?

Dadaku masih berkecamuk ketika ponsel di saku celanaku bergetar, sebuah pesan telah diterima. Kurogoh sakuku, tertera nama ‘Ibu’ di layarnya. Ibu? Ada apa? Tanyaku dalam hati. Segera kubuka pesan itu.

“Bicara soal Laras? Pasti biaya operasi,” gumamku perlahan, rupanya Mufti Pasha mendengar gumamku. Ia pun mengambil kesempatan.

“Laras tak akan bisa dioperasi tanpa uang ini. Ambillah dan besok tak usalah Saudara Gempar berpanas-panas di depan gedung KPK, temani Laras yang sedang operasi,” katanya dengan nada suara rendah yang penuh simpati.

Aku tertunduk dalam, kurasakan diriku seperti melayang dan tiba-tiba aku sudah ada di dalam sebuah ruangan putih lengkap dengan tabung oksigen dan tiang infus, kulihat di atas ranjangnya ada sesosok tubuh adikku yang malang. Ia menangis dalam tidurnya, ia mengigau “tolong aku mas, tolong, aku sakit,” rintihnya.

Tak kuasa aku mendengar rintihannya, aku berlari menuju pintu. Namun, betapa terkejutnya aku ketika kubuka pintu yang kutemui bukanlah lorong rumah sakit, melainkan diriku sendiri yang sedang berorasi di depan gedung KPK. Semua massa larut dalam orasiku, dari tempatku berdiri kusaksikan diriku yang lain seperti sedang terbakar semangat.

Deretan kalimat bernada kritik meluncur begitu saja dari mulut diriku yang lain itu. namun, tiba-tiba diriku yang lain itu menatap mataku tajam seraya berkata, “Tak ada tempat bagi seorang penyuap dan yang disuap di muka bumi ini!” aku tercekat, kata-kata diriku yang lain itu begitu tajam menghujam tepat ke dadaku hingga tembus ke punggung. Begitu sakitnya hingga aku terjatuh tak sadarkan diri.

“Bagaimana Saudara Gempar?” suara Mufti Pasha menyadarkan diriku dari lamunan. Aku tak segera memberikan jawaban atas pertanyaannya. Agaknya Mufti Pasha sungguh menginginkanku menerima uang sogokan dari majikannya, Lucas Tambunan. Agar aku tak lagi mendesak KPK untuk mengusut kasus tuannya.

Tak, tik, tak ... Detik jam klasik itu kini memenuhi telingaku, mengiringi kelebat bayangan dalam lamunanku tadi.
Tak, tik, tak.

Aku bangun dari kursi tempatku duduk, Mufti Pasha bergegas menghampiri. “Anda setuju bukan?” tanyanya dengan antusiasme yang berlebihan. Aku tetap membisu tak mempedulikan pertanyaannya. Kutatap matanya dalam-dalam sebelum akhirnya kutinggalkan ia sendiri di ruangan itu bersama segepok uang 25 juta di atas meja.

Terik siang itu tak melelehkan semangat ratusan mahasiswa yang sedang menggelar aksi di depan gedung KPK. Mereka tetap memekikkan kata-kata untuk mendorong KPK segera menangkap dan memeriksa pengacara yang diduga mempraktikkan markus, Lucas Tambunan.

Pun demikian aku, tak hentinya aku mengepalkan tangan ke udara dan berteriak setuju dengan kalimat-kalimat orasi sang orator kali ini. Namun, satu yang kusayangkan dari aksi hari ini. Gempar Gumilang Angkasa, sang orator favoritku tak hadir. Posisinya digantikan oleh seorang mahasiswa semester 7 yang menurutku tidak terlalu vokal mengkritisi kasus Lucas ini.

“Tangkap Lucas!” teriakku bersama massa yang lain. Ponselku bergetar dua kali. Sebuah pesan diterima, dari mas Gempar.
Aziz, Maaf aku tak bisa datang, adikku Laras operasi siang ini. Jangan kira aku tak mendukung kalian, ingatlah bahwa bara penegak hukum selalu terbakar dalam dadaku. Tak pernah padam. Gempar.

Kumasukkan kembali ponselku, demonstrasi belum usai atau lebih tepatnya tak akan pernah usai karena hukum di negeriku masih doyong dan menghimpit ‘orang-orang kecil’ di bawahnya.  (*)


Malang, 12 oktober 2010,  Jam 20.33 WIB


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
1.752 Mekanik Andal Untuk Mudik Aman dan Nyamanoleh : Rohmah Sugiarti
22-Jun-2017, 14:18 WIB


 
  1.752 Mekanik Andal Untuk Mudik Aman dan Nyaman Presdir PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto (tengah), memakaikan helm kepada mekanik Astra yang bertugas dalam Astra Holiday Campaign (AHC) 2017 didampingi Direktur Independen PT Astra International Tbk Paulus Bambang Widjanarko (kiri), Direktur PT Astra International Tbk Johannes Loman (ketiga
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tentang Cinta 15 Jun 2017 18:49 WIB

Peran Teritorial dan Babinsa TNI 13 Jun 2017 12:37 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
Ramadhan 15 Jun 2017 05:55 WIB

 

 

 
Hari Media Social 2017 11 Jun 2017 04:40 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia