KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB



  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB






 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Cindai 19 Aug 2017 19:43 WIB

Lirih Rindu 19 Aug 2017 19:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Cinta dan Secangkir Kopi

 
CERPEN

Cinta dan Secangkir Kopi
Oleh : Sumala Djaya | 31-Okt-2010, 21:14:22 WIB

Seringkali Mang Ro'is dan Soleh nongkrong di warung depan kampung hanya untuk menunggu gadis itu lewat. Entah ketika berangkat atau juga pulang dari sekolah.

Banyak orang menyukainya, mulai dari tukang ojek yang sering berkumpul di perempatan, anak-anak muda bahkan bocah yang belum cukup umur. Kulitnya seputih terigu dan rambutnya sepekat malam. Siapa pun akan tersihir dan jatuh hati jika melihat parasnya yang cantik. Ialah gadis yang sedang populer dan digandrungi di desa saat ini.

Apa yang diperbincangkan Mang Ro'is dan Soleh bersama teman-temannya saat nongkrong memang tak kenal juntrungannya. Mulai dari masalah politik yang sangat pelik dan rumit, persoalan dapur rumah dan istri mereka dan ujung-ujungnya mereka juga selalu saja memperbincangkan kecantikan gadis yang sebenarnya tak mereka kenali itu.

Mang Ro'is adalah tukang ojek yang sudah malang-melintang dengan pekerjaannya. Sedangkan Soleh adalah seorang distributor TKW yang disegani dan dihormati karena paling kaya di kampung. Ia bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Bahkan ia juga mampu mempengaruhi kepolosan orang kampung untuk membantu bisnisnya. Banyak orang yang ia jadikan kacung.

Keakraban Soleh dan Mang Ro'is tidak lebih karena Soleh sering mengojek pada Mang Ro'is jika mobilnya sedang dibawa oleh bapaknya.

"Entahlah, aku merasa bahagia sekali meskipun hanya melihatnya dari jauh. Senyumnya seolah mengalihkan duniaku," tutur Mang Ro'is.

"Wah, puitis sekali, Kang. Suka baca-baca puisi ya, Kang?," tanya Soleh.
"Ah, aku cuma mengutipnya dari backsound iklan di TV ko," jawab Mang Ro'is.

"Ought...." gumam Soleh.
"Lalu bagaimana pendapatmu dengan gadis itu?," Mang Ro'is berbalik menanyai Soleh.
"Ah, biasa saja, Kang," ungkap Soleh.
"Apa kamu tidak menyukainya?," tanya Mang Ro'is lagi.
"Ya tidak lah, Kang," jawab Soleh.

Sebenarnya Mang Ro'is merasa tak enak hati jika ternyata Soleh juga menyukai gadis itu. Namun ia sudah cukup lega mendengar pengakuan Soleh. Ia tidak ingin jika suatu hari terjadi kesalahpahaman atau kecemburuan yang akhirnya membuat perselisihan antara mereka, apalagi itu disebabkan seorang wanita.

"Tahu tidak, Leh?," tanya Mang Ro'is.
"Tdak," jawab Soleh.
"Ya jelas tidak lah. Lah wong belum aku kasih tahu kok," tutur Mang Ro'is yang kemudian tertawa kegirangan.

"Memangnya ada apa sih, Kang?," Soleh mulai penasaran.
"Aku sudah dapat nomor handphone gadis itu. Bukan cuma itu. Aku juga sempat mengantarkannya pulang kemarin," papar Mang Ro'is karena girang.

"Ih, baru dapat nomor handphone sama nganter pulang saja seneng banget. Tukang ojek tetep aja tukang ojek. Tidak usah berkhayal, Kang," sungut Soleh yang kemudian membalikkan badan membelakangi Mang Ro'is. Ia pun pergi mengemudikan Kijang Super berwarna merah milik Bapaknya.

Suasana hati Mang Ro'is jadi tidak karuan. Perasaan kecewa dan kesal kini mendekam di benaknya. Nafasnya terhenti untuk beberapa saat. Ia sama sekali tidak menduga jika Soleh akan merendahkannya sedemikian rupa. Siang yang terik sama membakarnya seperti kata-kata Soleh yang sinis.

Mentari memancarkan cahaya kemerahan pagi ini. Mang Ro'is dan tukang ojek lainnya sudah duduk di warung untuk menunggu penumpang yang hendak pergi ke pasar hari ini. Tentu juga sambil menunggu gadis itu lewat. Berjam-jam lamanya Mang Ro'is menunggu namun tak ada satu pelanggan pun mengojek padanya.

Pun gadis yang ditungguinya tiap kali mangkal tidak juga lewat. Apa mungkin gadis itu tak masuk sekolah? Mang Ro'is membatin.

"Pagi-pagi gini kok ngelamun. Biarlah yang lalu lewat dengan sendirinya. Kita tatap hari esok yang lebih baik, Kang," tutur Soleh berjalan gontai menghampiri.
"Kamu bikin kaget saja, Leh. Lagi di rumah ya?," tanya Mang Ro'is kemudian.

"Ya nih, Kang. Gimana kalo kita ngopi aja?," tutur Soleh beramah-tamah.
"Boleh," jawab Mang Ro'is singkat.

Soleh pun masuk ke dalam warung menyedu kopi.
"Nah, ini untuk Kakang. Dan ini untuk yang lainnya," ucap Soleh sambil menyodorkan gelas berisi cairan hitam.
"Terimakasih, Leh. Kamu memang paling mengerti keadaan orang-orang kecil seperti kita," tutur Mang Roi's.

"Wah, Kakang nggak usah berlebihan seperti itu. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku atas kejadian kemarin. Aku sudah bicara tak pantas sama Kakang," papar Soleh.
"Tak apalah. Lagipula aku sudah tidak mengingat-ngingatnya lagi kok," jawab Mang Ro'is.

Mang Ro'is pun menyeruput kopinya. Demikian juga yang lainnya. Semua tampak menikmatinya. Hari yang melelahkan karena menunggu tumpangan yang tak kunjung datang hilang seketika. Tapi apa yang terjadi? Hanya beberapa menit setelah meneguk kopi itu, nafasnya menjadi tersengal-sengal. Tubuhnya kejang-kejang seperti orang kesurupan. Dan beberapa saat kemudian terbujur dengan mulut mengeluarkan busa.

"Ia sudah tak tertolong. Ia sudah.....," ucap salah seorang yang baru saja memegang nadinya dengan suara terputus-putus.
"Maksudmu, mati?," tanya yang lainnya.
"Ya ampun. Kenapa bisa seperti ini?," suara yang lain lagi.
"Seingatku, Mang Rois memang punya penyakit keturunan. Dan ia juga sering bercerita akan kematiannya yang tinggal menunggu hari. Aku tidak pernah mengira jika hari ini adalah hari terakhirnya," tutur Soleh tersedu. Kemudian Soleh pun berlalu.

Karena rasa ingin tahu, teman-teman Mang Ro'is memeriksa gelas kopi yang baru saja diminum Mang Ro'is. Dan dari sisa kopi itu tercium bau aneh hingga mereka menciumi bergantian. Semua terdiam dengan wajah dingin setelah menghirup bau aneh itu. Tidak salah lagi. Soleh yang membunuh Mang Ro'is, batin mereka.  (*)


25/3/2009



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia