KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top Reporter oleh : Admin
17-Aug-2019, 16:50 WIB


 
 
" width="" height="" border="0" align="left" />
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA
  • 1
  • 17-Aug-2019, 16:22:57 WIB




 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Cinta Pertama

 
CERPEN

Cinta Pertama
Oleh : Naufa Rafsanjani | 12-Mei-2019, 08:23:39 WIB

KabarIndonesia - Tepat dua bulan aku merasakan kesendirian ini, dan mencoba kembali untuk tidak mengingat apapun. Namun kisah cinta pertamaku kembali datang setelah aku sedikit siap untuk memulainya. Bagaimana tidak, dia yang dulu pernah menjadikannya seseorang yang nantinya menjadi milikku, namun aku harus melihatnya pergi tanpa berpamitan kepadaku. Jika ini dibilang jahat, sungguh dia jahat. Saat itu dia tidak pernah mencoba melihat kearahku. 

Ah, mengapa aku mempunyai pemikiran seperti itu. Ya, saat itu aku masih berumur 11 tahun dan perasaanku yang masih belum beraturan selalu menginginkannya. Namun itu sudah 7 tahun yang lalu. 

Tepat di umur 19 tahun, dia kembali datang memberi kabar kepadaku. Mengapa waktunya tidak tepat, hal ini membuatku sedikit menaruh hati terhadapnya. Bukankah ini sudah lama, iya memang ini sangat lama, namun karena dialah aku bisa sampai disini. Aku mengaguminya bukan karena parasnya, melainkan cara tindakan yang dia ambil pada saat itu. Jika ada yang masih mengatakan bahwa aku mengaguminya karena parasnya, itu tidak benar. Bahkan aku jauh lebih melihat seseorang dengan cepat mengambil tindakan itu. 

Jika dia memiliki paras yang bagus, anggap saja itu hanya bonus yang membuat hatiku semakin berdegub. Ceritaku tidak sampai disitu saja, disaat 2 tahun yang lalu dia kembali dan pada akhirnya dia mengetahui, jika aku tidak seperti saat ini. Dia berlahan menjaga jarak denganku. Tanpa aku sadar, aku juga mencoba jaga jarak dengannya. Karena pada saat itu, juga berfikir hal yang sama dengan apa yang dia fikirkan kepadaku pada saat itu.

Cinta pertamaku kembali hilang. aku harus segera melepaskannya dan melupakan yang telah seharusnya menjadi kewajibanku. Mengapa? mengapa aku harus memaksakan hal itu. Namun aku tidak langsung melupakannya melainkan mengikhlaskan keputusannya. 
Kala itu, aku sedikit takut dengannya. Bukan karena parasnya, melainkan kami beda level. Level? Apa level kehidupan? Bukan, itulah jawabanku ketika teman-temanku mencoba menanyakannya kepadaku. Laku level apa yang membuatmu menjadi takut dengannya? Cara berfikirku, itulah jawaban singkat dari mulutku. 

Ketika dia masih bisa kulihat dengan jarak dekat, justru aku tidak menemuinya, aku melihatnya dari jarak jauh. Aku tidak sama dengan temanku yang lainnya, bahkan aku sedikit pemalu untuk menyapanya. Bukan karena itu juga. Lalu? Hanya saja aku belum siap untuk mengatakan ya pada saat itu. Jadi, aku hanya bisa tersenyum ketika melihatnya tersenyum. Bukankah itu tidak masuk akal? 

Sungguh pada saat itu kodrat wanita hanya bisa menunggu sampai seseorang yang dia sukai sadar terhadap orang yang menyukainya. Namun, tidak untuk saat ini. Aku berusaha untuk tidak menjadi diriku saat itu. Aku mencoba memberanikan diri kembali memulai dan melakukannya untuk yang terakhir. Bahkan aku juga tidak mengetahuinya, mengapa aku bisa seperti ini. Setiap ucapan yang pernah aku katakan, cepat atau lambat ucapan itu akan terjadi. 

Kuberanikan diri mengetik tentang apa yang pernah aku rasakan pada saat itu, bahkan dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku mencoba mengatakan bahwa, waktu itu aku pernah menyukainya dan untuk saat ini aku telah kembali menyukainya. Tetapi aku tidak pernah menginginkan balasan buruk ataupun baik. Karena ketika aku memikirkan nya, dan ketika aku mencoba mengetik kalimat itu. Aku sudah tersenyum ikhlas dengan apa yang akan terjadi nantinya. 

Jika pada saat itu aku tidak memberanikan diri, mungkin sampai saat ini aku masih terkurung dengan dunia yang sama. Bagiku, hal itu bukanlah bencana. Melainkan, aku hanya mengatakan kejujuran sebelum penyesalan itu belum terjadi denganku. Kini, aku merasa bahagia. Karena aku sudah mencoba hal, terimakasih untukmu pada saat itu. Maafkan diriku, jika saat itu telah mengganggumu. Jakarta, Mei 2019.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA? 17 Aug 2019 14:18 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Apakah (Cukup) Anda Senang? 16 Aug 2019 11:04 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia