KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKota Pintar akan Ciptakan Peluang Besar, Bagaimana dengan Indonesia? oleh : Rohmah Sugiarti
20-Mei-2017, 05:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sejumlah negara di dunia, menerapkan kemajuan teknologi informasi pada proses adaptasi untuk melahirkan model pendekatan pembangunan yang relatif baru yang disebut Kota Pintar (Smart City).

Kota Pintar didesain mampu meningkatkan produktivitas manusia yang tinggal di dalamnya,
selengkapnya....


 


 
BERITA CERPEN LAINNYA


  • Mimpi
  • 05-Des-2010, 01:37:30 WIB

  • Doyong
  • 28-Nov-2010, 04:24:21 WIB




  • MR X
  • 25-Okt-2010, 15:14:32 WIB





 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Nantikanlah Kedatanganku 25 Apr 2017 23:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
CERPEN

Berkunjung
Oleh : I Putu Gede Pradipta | 23-Okt-2010, 17:08:14 WIB

KabarIndonesia - Sebenarnya bukan karena waktu itu aku tak ingat waktu. Tapi mungkin karena aku terlalu memaksakan diri berkunjung ke tempatmu. Padahal sebelumnya, aku telah menyadari bakal diserang kantuk. Namun aku bersikeras berkunjung ke rumahmu. Dan akhirnya pamanmu memarahiku.
 
Begitulah nasibku ketika berkunjung ke rumahmu yang sudah entah kesekian kalinya. Sebelumnya kita sempat makan-makan, memesan beberapa bungkus tipat cantok di warung seberang. Kita bergurau panjang lebar, tertawa lebar dan berdiskusi panjang tentang pelajaran. Dan kau tersenyum-senyum bila pertanyaanku menjalar ke mana-mana. Sedangkan aku begitu girang setelah mendengar setiap penjelasan yang selalu hampir tak pernah tak masuk akal darimu.

Begitulah yang berlangsung selama ini, berkali-kali, berulang-ulang. Sampai aku ingat jelas warna cat tembok rumahmu yang kemungkinan tak akan diingat oleh pengunjung lain. Warna pink, seperti yang pernah kau sampaikan padaku. Aku masih ingat bagaimana kau menceritakan tentang usaha dan kerja kerasmu mengecat bagian demi bagian tembok, dari tembok satu ke tembok lainnya. Sembari sesekali selalu menyungging senyuman yang tak luput kuperhatikan tiap menitnya. Juga kerling cantik matamu yang beretina hitam lembut itu.

Aku juga ingat tentang muasal medali perak yang kau gantung di tembok kamarmu itu. Tembok kamar yang berwarna pink juga tentunya. Medali yang pas berada di sisi tembok bagian atas, tembok yang berhimpitan dengan ranjangmu yang juga berbalut warna pink, bersebelahan dengan komputermu yang untungnya tidak kuingat berwarna pink.

*  *  *

Malam itu, setiba di rumahmu, aku tahu kalau aku sudah mulai diserang rasa kantuk. Sesadar-sadarnya aku sampaikan niatku padamu.

"Dayu, aku mau berbaring sebentar."
Kupandangi wajahnya sejenak.
"Tolong bangunkan aku bila aku ketiduran ya...," tambahku.

Tak lupa kusisipi senyum seusai kukatakan maksudku padamu. Selain juga berharap bahwa kau tidak akan lupa membangunkanku dan kuyakini itu, andai benar-benar nantinya aku tertidur. Walaupun itu tidak mungkin kulakukan, tidak mungkin! Kalau pun seandainya tertidur pun kau pasti membangunkanku. Benarkan?

* * *

Aku pulas. Itu kusadari setelah pagi-pagi sekali, setelah seseorang mengetuk-ngetuk pintu dengan tergesa-gesa, seakan kesetanan. Suara ketukannya membangunkanku. Aku beranjak membukakan pintu. Tentu, aku dalam keadaan setengah sadar saat itu.

Lalu tanpa basa-basi atau sapaan selamat pagi, seorang lelaki paruh baya dengan semena-mena melontarkan kemarahannya di depanku. Tepat setelah kubukakan pintu dan belum sempat berkenalan. Kira-kira apa yang terjadi? Aku terbingung-bingung dengan kemarahannya yang mulai membabi buta seperti itu.

Kemarahannya makin menjadi-jadi, makin mencaci. Lalu menyinggung-nyinggung keberadaanku di tempatmu. Makin membuat gaduh suasana pagi. Mungkin ini yang dimaksud perkenalan yang tidak sengaja terjadi dan diharapkan tak terjadi. Sungguh! Makin tak memberiku ruang untuk menghela nafas atau bertanya apa yang sesungguhnya terjadi.

Dia terus memuncratkan kata-kata tanpa jeda begitu saja. Entah sudah sepanjang apa bila disusun. Ah, aku dibuat kalap juga mendengar kata-kata yang menyudutkanku itu. Serupa pancingan bagiku, yang tanpa sengaja dilakukan atau sebaliknya orang itu ingin menyerangku untuk mengetahui sampai sejauh mana kemampuanku sehingga sampai berani menginap di tempatmu.
 
Ya, aku mulai menyadari titik kesalahanku. Karena aku telah menginap di rumahmu yang menurut bahasa orang itu seolah meniduri anak gadis keponakkannya yang bagiku tak lebih dari temanku sendiri. Ternyata orang paruh baya itu pamanmu sekaligus pemilik tempat ini. Tempatku berteduh semalam.

Tanpa ijin, ilegal. Dianggap kriminal. Apa sudah boleh dikatakan aku penjahat? Tanpa menyadari kesalahanku yang kulakukan ini. Tanpa pernah terbersit kesengajaan. Juga tidak bermaksud mencuri-curi kesempatan. Aku tidak sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.

Mungkin, apa yang ada di pikiran pamanmu saat itu adalah aku ada serumah denganmu, bersama-sama dalam satu rumah. Ditambah persepsi negatif yang dipaksa melekat oleh keadaan. Terlebih telah sampai menginap semalaman. Terlebih lagi kau perempuan, Dayu. Ya, kau perempuan. Perempuan yang teramat baik sampai tak tega membangunkanku yang lelap malam itu.

"Kamu ini tidak tahu atau pura-pura lugu?" bentak pamanmu sungguh mengejutkan.
 
"Ini keponakan saya, berani-beraninya kamu, nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana? Hah!" dengan sorot mata tajam yang berkilat ke arahku.
"Kamu tahu nggak! Sampai ada yang melihat kamu, nanti rumah ini bisa-bisa dilempari orang-orang," lagi-lagi dengan membentak.

Aku sempat membela diri. Sebagai perilaku alami untuk mempertahankan diri makhluk hidup. Akan tetapi pamanmu tetap tak memberi celah.

"Iya, saya ketahui itu, tapi...sebenarnya,"
"Ah, kamu besok-besok tidak usah kamu kemari lagi!"

Sejenak aku memilih diam bukan berarti tak memiliki jawaban. Tapi sebisanya tak memperkeruh suasana. Suasana yang telah terasa sangat tidak baik bila aku menjeda kemarahan pamanmu.

Pamanmu masih menceramahiku bila tak ingin kusebut seperti memergoki maling yang ketahuan mencuri kepunyaannya yang paling berharga. Suaranya bak air bah tak sanggup dibendung dan terbendung apapun. Termasuk ketika kulontarkan alasan paling tak masuk akal sedunia ketika nyaliku yang sudah ciut makin dibuat keriput.

"Iya saya salah, tapi...kunci saya belum ketemu," dengan nada yang konyol agak membentak.

Pamanmu masih saja berkoar-koar, tak surut-surut. Aku yang sudah makin sadar dari sisa-sisa kantuk mulai berpikir logis dan lumayan berani untuk beradu pendapat dengannya.

"Sekarang kamu pulang, cepat pulang". Sungguh berambisi pamanmu untuk memaksaku lenyap dari sini.
"Entar malah ada yang lihat kamu nginep disini!," dengan suara yang tak kalah tinggi.

Lalu, pamanmu tak henti-henti, terus-menerus menyuruhku cepat-cepat pergi. Mengusirku semena-mena, tata cara dan bahasa yang dipakai terasa lebih buruk dari mengusir seekor anjing kepunyaan sendiri yang kedapatan memasuki halaman pura dan sekalipun membuang kotorannya dengan sembarangan di sana.

"Pergi, pergi, pergi!," pamanmu terus berseru.

Aku bergegas keluar rumah. Menstater motor. Aku dongkol bukan main. Seiring matahari yang mulai beranjak menganga, aku pacu motor meninggalkan rumahmu. Tak terpikirkan lagi apa sudah sempat kuucap pamit pada pamanmu itu atau menyampaikan terima kasih atas tumpangan yang teramat berkesan darimu, Dayu.

* * *
 
Kini masih terngiang jelas kata-kata pamanmu, "jangan pernah datang ke sini lagi!". Dan apa yang pamanmu ucapkan itu sudah aku penuhi, sampai kau kini mendapatkan gelar Sarjanamu. (*)

 
Denpasar, Oktober 2010


*) Kejadian ini adalah kisah serupa dengan sebuah kejadian yang pernah menjadi nyata.




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babeloleh : Rohmah Sugiarti
17-Mei-2017, 12:26 WIB


 
  Gubernur Babel Yakin Ada Pemenang SIA dari Babel Gubernur Babel Erzaldi Rosman (berdiri) menyemangati peserta Bincang Inspiratif SATU Indonesia Awards 2017 didampingi Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UI Emil Salim (kedua kiri) dan Wamen Diknas RI 2010-2012 Fasli Jalal (ketiga kanan), Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 Hardinisa
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia