KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HiburanToko Boekoe Tempo Doeloe oleh : Kabarindonesia
04-Apr-2020, 09:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hampir setiap anak Tempo Doeloe senang baca komik, termasuk saya. Sebelum ada komik dalam bentuk buku, kami selalu membaca komik strip yang terdapat di koran ataupun majalah.

Misalnya, Put On yang terbit rutin di surat
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA









 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemunafik 05 Apr 2020 16:00 WIB

Rembulan di Celah Matamu 07 Mar 2020 15:27 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
UDAH BOSAN BINGIT EUUY! 06 Apr 2020 15:03 WIB

 
 
PARIWISATA

Pembangunan Kawasan Danau Toba Terasa Sulit Karena Krisis Kepemimpinan
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 02-Feb-2020, 11:16:07 WIB

KabarIndonesia - Sebagaimana dilansir Medanbisnisdaily.com bahwa upaya membangun pariwisata di Kawasan Danau Toba (KDT) dirasa begitu sulit. Salah satu penyebab hal ini terjadi karena unsur-unsur stakeholder belum berada dalam "frekuensi" yang sama. Pemerintah, masyarakat, pemerhati maupun pelaku usaha, mempunyai pendapat sendiri-sendiri. Alhasil, tenaga, waktu dan biaya yang dikeluarkan jadi tidak efektif. Sebaliknya justru kurang produktif karena tidak jarang menimbulkan persoalan baru.

Dikabarkan, kesimpulan ini menjadi salah satu poin yang mengemuka dalam diskusi "Membangun Danau Toba dari Beragam Perspektif", di Caldera Coffee, Jalan Sisingamangaraja, No 132, Medan, Jumat malam (31/1/2020).

Diskusi menghadirkan pembicara dari beragam latar belakang profesi. Antara lain, Martogi Sitohang (pemusik etnis Batak) Sutrisno Pangaribuan (politikus) Rosramadhana Nasution (akademisi/antropolog) dan dimoderasi Rico Nainggolan.

"Sebagai pemusik, istilah saya kita perlu menyamakan frekuensi. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, politisi, media, selama ini jalan sendiri-sendiri. Kalau tak sama frekuensinya, jadi beda-beda yang didengar," kata Martogi.

Martogi merasa yang terjadi adalah krisis kepemimpinan. Tidak ada yang bisa menjadi pemimpin dan dijadikan pemimpin.  "Kalau dalam musik, puncak kehebatan sebuah karya adalah ketika sampai menciptakan hening. Sunyi. Jadi intinya harus ada yang bicara, harus ada yang dengar, jadi frekuensinya sama," kata Martogi.

Sutrisno Pangaribuan mengkritisi pembangunan KDT menjadi begitu rumit, karena sejak awal konsepnya sudah salah. Ditambah lagi tidak ada riset yang dilakukan sebelumnya.

"Kita tahu Otorita Batam itu gagal, kenapa lagi dibuat badan semacam itu untuk pembangunan KDT. Belum lagi kalau dari sisi masyarakat yang tak diberdayakan. Infrastrukturnya dibangun, tapi masyarakatnya terusir," aku Sutrisno.

Dari sisi berbeda, antropolog yang juga akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Rosramadhana Nasution mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya, peran perempuan menjadi sangat penting diperhatikan dalam upaya mengembangkan KDT.

Selama ini, kata Rosramadhana, kelompok perempuan memegang kunci ekonomi di Tanah Batak. Merekalah yang paling sering berinteraksi langsung dengan turis. Termasuk di dalam keluarganya.

Sementara itu diperoleh kabar bahwa persoalan yang mengemuka di masyarakat kawasan danau toba sejak lama adalah masalah pencemaran air danau toba, penebangan kayu (hutan) serta terjadinya pembuangan sampah/limbah hingga danau terluas ini dijuluki "tong sampah raksasa"
Kehadiran perusahaan perikanan dan perusahaan kayu ditengarai menjadi sumber pencemaran.

Yang teranyar pemicu masalah adalah kehadiran BOPDT yang kurang komunikatif dan koordinasi dengan warga kawasan danautoba sebagai pemilik lahan (adat), hingga sering terjadi "penolakan" masyarakat terhadap kegiatannya. Seperti yang terjadi tahun lalu di kawasan Sigapiton, kaum perempuan berunjuk rasa kepada Pemerintah dalam hal ini BOPDT.

"Kalau mereka dilibatkan, diajak berdiskusi, dibina dan didengarkan pendapatnya, mungkin pintu masuknya sudah lebih terbuka. Tapi semua kepentingan harus diakomodir, jangan sampai pembangunan hanya untuk pengusaha dan penguasa," kata Rosmaradhana.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Saus Sate Indonesia Buatan Thailandoleh : Fida Abbott
22-Mar-2020, 03:07 WIB


 
  Saus Sate Indonesia Buatan Thailand Saus sate Indonesia ini saya temukan di toko kelontong daerah Chester, negara bagian Pennsylvania, AS. Harganya turun drastis dari $6.99 menjadi $0.99. Jumlahnya banyak sekali yang disetok di rak. Senang melihat salah satu saus terkenal Indonesia dijual di AS. Sayangnya,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Cara Mudah Mulai Investasi Saham 27 Mar 2020 16:14 WIB


 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia