KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Cindai 19 Aug 2017 19:43 WIB

Lirih Rindu 19 Aug 2017 19:41 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PARIWISATA

Pariwisata dan Pengurangan Kemiskinan
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 25-Des-2008, 12:27:46 WIB

KabarIndonesia - Deklarasi yang pernah dicanangkan United Nations dan dikenal sebagai Millenium Declaration telah menemukan susbstansi bahwa pengurangan kemiskinan (poverty alleviation) adalah salah satu tantangan yang paling penting yang dihadapi dunia dalam menghadapi abad XXI. Pariwisata telah membuktikan diri sebagai salah satu penghasil devisa utama dan pencipta lapangan kerja di negara miskin dan negara berkembang.

Dari 100-an negara yang paling miskin itu, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang signifikan bagi hampir setengah negara dengan pendapatan rendah (low income countries) dan di hampir seluruh negara dengan pendapatan menengah ke bawah (lower-midle income countries).

Pariwisata merupakan ekspor utama (termasuk lima besar) untuk 83 persen negara berkembang. Delapan puluh persen penduduk miskin dunia dengan pendapatan kurang dari USD 1 perhari, tinggal di 12 negara. Pada 11 negara, pariwisata merupakan industri yang tumbuh atau industri yang signifikan. Negara-negara berkembang menerima pangsa yang makin meningkat dari kedatangan internasional, pada tahun 1973 mencapai 20,8 persen meningkat menjadi 40 persen pada tahun 2000.

Kenyataan juga membuktikan bahwa negara-negara yang paling kurang berkembang (least developed countries), mengalami pertumbuhan pendapatan per kedatangan internasional antara tahun 1990-2000 yang lebih besar dibandingkan dengan negara-negara OECD dan Eropa. Kenaikannya sebesar 45 persen sementara negara berkembang mengalami kenaikan sebesar hampir 20 persen, negara-negara OECD mengalami kenaikan 18 persen, sedangkan masyarakat Uni Eropa hanya mengalami kenaikan sebesar 7,8 persen. Pariwisata juga terbukti merupakan sumber devisa yang signifikan bagi 49 LDCs.

Namun demikian kenyataan juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu memberikan dampak bagi si miskin. Pengurangan kemiskinan hanya dapat dicapai apabila keuntungan atau manfaat pertumbuhan didistribusikan kembali kepada si miskin atau bilamana si miskin disertakan dalam kegiatan ekonomi, sebagai pekerja atau melalui pemberdayaan untuk menciptakan lapangan usaha.

Pariwsata dalam ini bukan/tidak hanya memberikan manfaat material bagi si miskin, namun juga membawa kebanggaan kultural, rasa memiliki dan pengendalian. Sebaiknya sebelum menggunakan pariwisata untuk pengurangan kemiskinan juga dibandingkan dengan sektor lain.

Perdebatan tentang apakah pariwisata merupakan kegiatan yang pro-poor atau tidak, jawabannya tergantung kepada situasi, dan harus dikaji kasus demi kasus. Yang penting sebenarnya adalah menjawab tantangan: bagaimana pariwisata dapat lebih atau makin pro-poor. Karena kenyataan menunjukkan ketergantungan masyarakat miskin kepada pariwisata, tantangannya adalah bagaimana masyarakat miskin dapat makin memperoleh manfaat yang lebih besar dan bagaimana mengurangi biaya yang menekan si miskin.

Banyak kajian yang menyatakan bahwa pariwisata, terutama pariwisata manca negara dari segi pandang ekonomi tidak mempunyai dampak tehadap pengurangan kemiskinan. Hal ini disebabkan karena kasus-kasus pembangunan pariwisata di berbagai tempat di berbagai negara, khususnya negara berkembang menunjukkan bahwa masyarakat setempat tak dapat berperan serta atau terlibat karena tak memenuhi syarat.

Masyarakat miskin seringkali tak memiliki kompetensi yang diperlukan untuk pengoperasian kegiatan kepariwisataan, alih-alih menggunakan peluang untuk berusaha secara mandiri. Bahkan banyak tulisan yang justeru menunjukkan tentang bagaimana kontras yang terjadi antara kawasan wisata di suatu tempat dengan lingkungan permukiman penduduk yang berada disekitarnya dan mempertanyakan tentang ketimpangan- ketimpangan yang terjadi.

Ketimpangan akibat pembangunan pariwisata dapat berbentuk ketimpangan kesempatan untuk menikmati sumber daya misalnya air atau akses ke pantai dengan keindahan yang dinikmati oleh wisatawan tetapi tertutup bagi masyarakat setempat karena hambatan fisik (pagar dan sebagainya) atau sosial. Permasalahan lain yang mungkin timbul adalah kenaikan biaya hidup yang menyulitkan masyarakat disamping dampak negatif lainnya.

Namun demikian dalam berbagai pustaka kepariwisataan sekarang muncul apa yang dinamakan pendekatan pro poor tourism, yaitu pariwisata yang memberikan manfaat masyarakat miskin, dalam arti manfaat ekonomi maupun manfaat sosial, lingkungan maupun kultural. Tak dipersoalkan dalam pendekatan ini mengenai distribusi manfaat tersebut, yang terpenting adalah bahwa masyarakat miskin memperoleh manfaat.

Pro poor tourism
ini merupakan pendekatan bukan merupakan suatu produk yang spesifik. Ada tumpang tindihnya dengan konsep lain seperti ekowisata, atau pembangunan berkelanjutan, namun ciri pro poor tourism ini adalah fokusnya kepada masyarakat miskin. Potensi pariwisata untuk ikut berperan serta dalam pengentasan kemiskinan didasari oleh kenyataan bahwa:
  1. Sebagai industri yang beragam, kemungkinan partisipasi makin luas, termasuk kenyataan bahwa sektor ini juga sangat memungkinkan partisipasi sektor informal.
  2. Wisatawan datang ke lokasi, asal ada peluang untuk keterkaitan ekonomi dengan usaha kepariwisataan lain, membuka peluang bagi masyarakat seperti penjualan cinderamata.
  3. Pariwisata berbasis kepada sumberdaya alam dan budaya yang dalam berbagai kenyataan dimiliki oleh masyarakat miskin meskipun mereka tak memiliki sumberdaya finansial.
  4. Pariwisata membuka peluang positif bagi partisipasi kaum perempuan.
Secara global telah terbukti bahwa pariwisata memegang peranan penting dalam pengurangan kemiskinan. Banyak negara dengan penduduk miskin menyatakan ketergantungannya kepada sektor pariwisata, dan meskipun pariwisata belum mampu untuk menghilangkan kemiskinan.

Namun berbagai kasus studi menunjukkan bahwa masyarakat miskin memperoleh manfaat yang sangat diperlukan. Manfaat seringkali kecil/sangat kecil diukur dari standar atau kebutuhan, namun kesempatan yang terbuka dan manfaat kecil tersebut sangat berarti bagi masyarakat miskin.

Manfaat yang dimaksud dapat berbentuk manfaat finansial dalam bentuk pendapatan individu maupun kelompok dan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan. Manfaat lain bervariasi mulai dari peningkatan ketersediaan prasarana dan sarana yang dibangun untuk pariwsata yang dapat digunakan oleh masyarakat, manfaat sosial (pengembangan organisasi masyarakat), dan yang terpenting adalah penemuan jati diri dan kebanggaan lingkungan kehidupan yang menjadi sasaran kunjungan. Dampak positif lainnya adalah kepeduliannya terhadap lingkungan yang menjadi sumber kehidupan, karena lingkungan tersebut menarik bagi wisatawan.

Kenyataan bahwa di Indonesia masih banyak kantong-kantong kemiskinan, maka pendekatan ini perlu diangkat ke permukaan untuk dimanfaatkan pada tiap kesempatan yang terbuka. Kenyataan seringkali menunjukkan ironi yang tak diinginkan atau ketimpangan-ketimpangan yang perlu dihindari. Misalnya saja keadaan masyarakat di perdesaan disekitar objek wisata.

Berkaitan dengan isu-isu tersebut maka pemerintah perlu untuk mengambil langkah-langkah konkrit. Pemerintah perlu untuk menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat dan khususnya masyaxakat miskin di kawasan yang mempunyai potensi bagi pengembangan pariwisata, agar mereka tidak termarginalisasi, namun terangkat.

Paling tidak berkurang tingkat kemiskinannya melalui berbagai kesempatan yang diatur melalui perangkat perundangan. Kasus-kasus keberhasilan di berbagai negara berkembang menunjukkan bahwa komitmen pemerintah dalam pengurangan kemiskinan di kawasan wisata ini sangat mendukung pencapaian tujuan jangka panjang. Perubahan kerangka pemikiran perlu dilakukan untuk meletakkan masyarakat lokal sebagai pusat perhatian, dan bukan pembangunan pariwisata untuk kepentingan pariwisata semata.

Sejauh ini masalah utama seperti: pengangguran, kemiskinan dan berbagai macam ketimpangan masih belum dapat diatasi. Ketimpangan antar daerah, antar kawasan dalam suatu daerah, dan antar golongan.

Kemiskinan yang seringkali dianggap sebagai akibat dari kebodohan dan kemalasan, sebenarnya juga merupakan sebab dari kebodohan karena tak mampu mengikuti pendidikan dan oleh karenanya juga menjadi sebab dari pengangguran karena tak memenuhi syarat, akibat dari tak berpendidikan. Dengan demikian masalah kemiskinan, kebodohan, pengangguran merupakan suatu lingkaran setan.

Oleh karenanya pemberdayan masyarakat sejogyanya merupakan upaya memutuskan rantai lingkaran setan ini yang bermuara pada pengurangan kemiskinan.  (*)

Blog:
http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com








 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Beda Hemat dan Pelit 15 Aug 2017 02:01 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia