KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Cindai 19 Aug 2017 19:43 WIB

Lirih Rindu 19 Aug 2017 19:41 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PARIWISATA

Menghayati Proses Pariwisata Budaya
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 29-Des-2008, 15:49:37 WIB

KabarIndonesia - Mendefinisikan pariwisata budaya atau cultural tourism bukanlah merupakan hal yang mudah, karena definisi tersebut akan sangat terkait dengan definisi pariwisata atau kepariwisataan dan juga definisi budaya atau kebudayaan. Dari beberapa definisi pariwisata, dapat dimaknai bahwa pariwisata adalah sebagai aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang, ke luar dari lingkungan kesehariannya, menuju destinasi yang menarik dan didorong oleh berbagai motivasi orang atau sekelompok orang tersebut. Apapun motivasi orang atau sekelompok orang tersebut, ada kesamaan tujuannya yaitu memperoleh pengalaman, kesenangan dan kepuasan yang diperlukan mahluk sosial.

Mendefinisikan kebudayaan juga bukan hal yang mudah, tetapi pada intinya kebudayaan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, yang secara normatif dimiliki bersama oleh warga dalam satuan masyarakat. Sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia, kebudayaan tersebut dapat berwujud konkrit, setengah konkrit dan abstrak, atau dapat dikatakan juga bahwa menurut perwujudannya kebudayaan dapat dipahami dalam tiga aspek yaitu aspek material, perilaku, dan ide.

Kebudayaan dalam wujud material sangat mudah dikenali karena mencakup materi atau konkrit yang dapat dilihat sehari-hari seperti pakaian, peralatan hidup, makanan, bangunan, hasil-hasil teknologi dan lain-lain. Kebudayaan yang berwujud setengah kongkrit sedikit lebih sulit untuk digambarkan karena mencakup perilaku manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, yang mana perilaku tersebut dapat dilakukan sehari-hari juga dilakukan secara berkala.

Untuk mudahnya, kebudayaan dalam wujud perilaku dicontohkan seperti: upacara perkawinan, upacara ritual keagamaan atau kematian, pertunjukan, keterampilan membuat barang-barang kerajinan dan lain-lain. Sementara itu, aspek perwujudan kebudayaan yang paling sulit untuk diuraikan adalah ide, karena wujudnya yang abstrak, seperti: pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma dan keyakinan.

Berbagai wujud hasil cipta, rasa dan karsa manusia inilah yang kemudian menjadi daya tarik bagi pariwisata. Begitu besarnya daya tarik tersebut sehingga pada akhir tahun 1970-an mulai didapati adanya orang atau sekelompok orang yang secara khusus melakukan perjalananan wisata semata-mata hanya untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap wujud-wujud kebudayaan di suatu tempat tertentu. Daya tarik inilah yang menyebabkan wisatawan bersedia untuk mengeluarkan biaya sebagai imbalan untuk menpatkannya dengan berbagai cara.

Sejak saat itulah mulai dikenali adanya pariwisata budaya yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai salah satu produk kepariwisataan (Tighe, 1986 dalam McKercher, 2002). Awalnya produk tersebut dipandang sebagai suatu kegiatan khusus yang diminati oleh sejumlah kecil pelaku perjalanan yang berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda dari sekedar aman berlibur yang biasa mereka dapatkan, tetapi dikemudian hari pariwisata budaya ini dikenal sebagai aktivitas pasar masal dengan nilai jual yang tinggi.

Tidak hanya sampai di situ, keterkaitan kebudayaan dan pariwisata tidak terbatas pada timbulnya wisata minat khusus terhadap benda atau peristiwa budaya saja. Keterkaitan itu menjadi semakin nyata ketika disadari bahwa di dalam aktivitas perjalanan wisata --baik wisata budaya atau bukan wisata budaya-- telah terjadi interaksi antara manusia atau kelompok manusia yang datang (guest) dengan manusia atau masyarakat didatangi (host), atau antara manusia pengunjung dengan benda-benda atau pertunjukan budaya yang dikunjungi.

Dengan kata lain, aktivitas perjalanan itu sendiri sebenarnya sudah merupakan peristiwa budaya, setidaknya bagi orang atau kelompok rang bersangkutan, karena semua aktivitas yang dilakukan telah bersentuhan dengan berbagai aspek yang terkait dengan kebudayaan sehingga interaksi yang terjadi antara manusia pengunjung (guest) dan yang dikunjungi (host) sudah merupakan bagian dari peristiwa budaya.

Dengan demikian, dalam konteks pariwisata dan budaya perlu ditekankan bahwa makna pariwisata budaya dapat dipandang bukan saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Sebagai produk, pariwisata budaya dipandang sebagai daya tarik wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan. Jenis wisata ini memuat informasi atau pesan-pesan yang bersifat budaya. Daya tarik wisata ini dapat berupa barang kerajinan, peninggalan sejarah purbakala, pertunjukan kesenian, ritual keagamaan, dan lain-lain. Ada kalanya daya tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat dinikmati oleh wisatawan. Melalui kemasan tersebut diharapkan wisatawan dapat memperoleh pengalaman kebudayaan dengan cara melihat sesuatu yang dirasa unik, berbeda, mengesankan dan berbagai sensasi yang dibutuhkan untuk memperkaya kebutuhan spiritualnya.

Sebagai proses, pariwisata budaya dapat dipandang sebagai aktivitas pertukaran informasi dan simbol-simbol budaya antara pengunjung dan yang dikunjungi. Dalam pengertian inilah pariwisata memberikan sumbangan bagi dialog antar budaya dan sekalgus sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan saling pengertian dan perdamaian antar bangsa atau antar manusia.

Dalam kaitan ini pariwisata budaya juga memberikan sumbangan pelajaran bagi pengunjung (guest) dan tuan rumah (host). Pelajaran dari pengalaman menjadi pengunjung tidak akan pernah didapat oleh tuan rumah jika tuan rumah tersebut tidak pernah menjadi pengunjung, demikian juga sebaliknya. Pengalaman yang diperoleh pengunjung atau tuan rumah diharapkan akan penjadi pelajaran bagi kedua belah pihak bila pada suatu ketika posisi mereka berbalik.

Setiap pengunjung diharapkan akan pernah menjadi tuan rumah, dan setiap tuan rumah suatu ketika juga diharapkan akan pernah menjadi pengunjung. Karenanya pariwisata hendaknya dilembagakan (‘dibudayakan’) atau dijadikan ajang untuk saling menimba atau saling bertukar pelajaran dengan memanfaatkan interaksi atau pertemuan yang terjadi antara pengunjung dan tuan rumah atau antara pengunjung dengan unsur-unsur budaya yang dimiliki tuan rumah.

Dengan demikian budaya berwisata atau budaya pariwisata hendaknya terus didorong. Kesiapan yang diharapkan dari suatu destinasi bukan hanya kesiapan fisik prasarana dan sarananya tetapi juga kesiapan masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik. Di sisi lain masing­-masing daerah juga perlu untuk mendorong masyarakatnya melakukan perjalanan wisata, memperoleh pengalaman dan menarik pelajaran dari perjalanan yang dilakukannya sebagai bagian dari proses berbudaya dan sebagai bekal untuk menjadi rumah yang memahami kebutuhan tamu selama berada diluar tempat tinggalnya.

Selanjutnya, dari pertemuan dan pertukaran tersebut dimungkinkan diperolehnya pengalaman baru yang nantinya dapat mengakibatkan terjadinya perubahan baik pada pengunjung maupun pihak tuan rumah, bahkan mungkin juga dapat berakibat pada unsur yang dilihat atau dinikmati baik yang bersifat benda (tangible) maupun tak benda (intangible). Harus diakui, perubahan yang terjadi baik pada pengunjung, yang dikunjungi, maupun unsure-unsur yang dikunjungi dapat merupakan perubahan yang bersifat positif maupun negatif.

Selain itu perubahan yang terjadi tidak selalu diakibatkan oleh adanya pengaruh dari pihak luar (eksternal) tetapi dapat juga diakibatkan oleh kondisi yang ada di dalam (internal) tuan rumah itu sendiri seperti adat-kebiasaan, penampilan, bahasa, dlan berbagai aspek yang tampak melekat pada pengunjung yang jelas-jelas berbeda dengan apa yang dimiliki tuan rumah merupakan unsur yang paling jelas dapat membawa pengaruh baik maupun buruk. Bahkan ideologi, politik, teknologi, kreasi, ataupun cara hidup dalam kurun waktu tertentu dapat juga menggeser nilai-nilai budaya yang ada pada tuan rumah ke arah positif atau negatif.

Terhadap perubahan kearah yang positif proses tersebut dapat menjadi pertemuan atau pertukaran ide yang dapat memberikan sumbangan bagi tumbuhnya ide-ide kreatif, karena kreatiftas biasanya tumbuh karena munculnya pikiran-pikiran alternatif yang umumnya diperoleh dari luar (pengunjung). Perubahan ke arah negatif dapat terjadi bila pengaruh pengunjung itu diterima bukan sebagai pertukaran tetapi lebih sebagai suatu keharusan atau tekanan. Pengambil-alihan pengaruh pengunjung yang secara umum dan secara luas diketahui sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki tuan rumah juga merupakan contoh perubahan ke arah yang negatif.

Berkaitan dengan unsur-unsur yang dimiliki tuan rumah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan positif apabila pengaruh yang datang dari pengunjung dapat ditangkap untuk dikembangkan dan dimanfaatkan tanpa mengabaikan unsur-unsur yang perlu dilindungi sebagai kekayaan yang mereka (tuan rumah) miliki. Dengan demikian kemampuan tuan rumahlah yang diperlukan untuk melindungi dan mengembangkan berbagai wujud budaya yang mereka miliki agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Sayangnya tidak sedikit tuan rumah yang mau ‘mengorbankan’ unsur-unsur budaya yang mereka miliki semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan pengunjung/wisatawan. Dalam kaitan inilah diperlukan adanya ketahanan budaya sebagai kemampuan sebuah kebudayaan untuk mempertahankan jatidirinya. Kemampuan untuk tidak menolak begitu unsur asing yang datang tetapi menyaring, memilah dan jika diperlukan memodifikasi unsur-unsur yang datang tersebut sedemikian rupa sehingga tetap sesuai dengan karakter dan citra tuan rumah.

Dampak positif dan negatif juga bisa terjadi bila kebudayaan hanya dilihat sebagai sumber komoditi. Dampak positif yang biasanya langsung dan segera dapat dirasakan adalah dalam segi keuntungan ekonomi, tetapi sesungguhnya keuntungan tersebut hanya merupakan keuntungan jangka pendek dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Sementara dampak buruknya menimpa ekspresi dan eksistensi budaya yang dijadikan sumber komoditi tersebut. Peran penting pemanfaatan komoditi tersebut justru berada pada pemerintah atau pemilik modal dan tujuannya juga ditentukan dan terutama untuk kepentingan mereka. Sedangkan masyarakat hanya berperan sebagai obyek dan bukan sebagai subyek. Kondisi yang demikian juga dapat berakibat pada terkikisnya kualitas wujud-wujud kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakatpun tidak mengalami perbaikan.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Beda Hemat dan Pelit 15 Aug 2017 02:01 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia